Book, Misc

Wawancara Radio Mustika FM dan Progres Novel Kedua

Sebenarnya ini berita cukup lama, tapi berhubung momennya lagi tepat, saya putuskan untuk mengposting. Beberapa waktu yang lalu (sebenarnya berbulan-bulan yang lalu) saya mendapat kesempatan untuk diwawancarai oleh Mustika FM, Bandung.

Masih ingat mengenai Road Show dengan Gagas Media di Cirebon (yang jadi tak terlupakan karena mabok di jalan)? Ini sebenarnya bagian dari acara Gagas Media untuk mempromosikan penulis-penulis mereka, makanya saya sengat antusias, kapan lagi bisa merasa jadi kaya selebriti? =)) (agak berhungan dengan itu, saya pernah diwawancarai Jakarta Post, walau muncul cuma seiprit)

Berikut ini adalah hasilĀ  wawancaranya.

==========

Teman Mustika, di Twilight Road (23/06), Tasya ditemani oleh
Calvin Michel Sidjaja, penulis novel “JukstaPosisi: Cerita tuhan
Mati”. Hm, berikut obrolan mereka seputar novel menarik ini.

Sore..

Sore…

Apa nich aktivitasnya sekarang?

Ya, saya baru aja lulus kuliah. Dan sekarang lagi ngelanjutin bikin
dua novel berikutnya.

Oya, bicara novel yang sudah rilis, Juksta Posisi, itu apa ya
artinya?

Artinya kurang lebih membandingkan beberapa hal untuk
mengetahui perbedaan dan persamaannya. Maknanya sendiri
mungkin bisa kita dapatkan setelah baca buku ini. Alasan
pemilihan judul ini tentu juga ada pertimbangan komersial dan
biar catchy…hahhaa…

Bisa diceritain mengenai apa novel ini?

Konsepnya bercerita bahwa tuhan itu adalah seorang gadis kecil.
Dimana gadis kecil ini harus menjadi Tuhan untuk
mengembalikan mimpi menjadi relita dan realita menjadi mimpi.

Dan mengenai kalimat “cerita tuhan mati” tidak takut nanti akan
menimbulkan mispersepsi?

Sejauh ini saya belum mendapat fatwa ya..hahhaha…Saya hanya
mencoba membuat makna baru dengan menggunakan huruf kecil
pada kata “tuhan”.

Kalau di cover-nya kan ada jam pasir, itu apa maknanya?

Sebenarnya yang bikin cover itu bukan saya. Walaupun dibuat
tanpa saya, tapi saat saya melihat covernya, saya pikir ini luar
biasa, karena mewakili seluruh isi bukunya. Jam pasir yang
terbalik dimana pasirnya ada di atas, melambangkan ada sedikit
pembalikan makna.

Lalu genre novel ini apa?

Surealisme. Karena pas saya menulis ini, saya memang ingin
membuat novel surealisme. Membuat cerita tentang mimpi
dengan adanya simbol dan imajinasi.

Ada berapa tokoh di sini?

Cukup banyak ya… Ada Ashra Trivurti, Kalla, Bhumi, dan
lain-lain.

Tokoh yang paling disukai?

Ashra. Saya mencoba membuat dia sosok yang tidak jahat tapi
juga tidak baik. Sekalipun dia adalah tokoh protagonis tapi di
beberapa bagian dia memiliki sisi jahat.

Apa jenis alurnya?

Agak sulit ya untuk dijelaskan… Cuma kalau ceritanya sendiri
tentang imajinasi, bagaimana jika hidup ini sebenarnya adalah
mimpi, dan yang bermimpi akan bangun, sehingga mimpi itu
menjadi hancur dan hidup pun akan berakhir. Nah, Ashra
mencoba untuk menghentikan itu, dan mempertahankan
kehidupan yang sudah ada ini. Begitu kira-kira.

Oya, novel ini juara 3 dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian
Jakarta. Bisa diceritain sedikit tentang ini?
Sebenarnya saya ga tau persisnya bagaimana ya. Mungkin karena
saya menulis ceritanya unik dan tidak sama dengan nuansa novel
kebanyakan. Sehingga novel ini bisa memenangkan sayembara
itu.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat novel ini?

Tadinya novel ini mau saya arahkan ke cerita romantis, sekitar
tahun 2005, saya ingin ikut sayembara waktu itu. Pengennya tiga
bulan jadi, tapi gagal. Hahhaa… Lalu ada sayembara novel lagi,
dan jadilah cerita ini, pembuatannya sekitar satu setengah
tahun.

Inspirasi membuat novel ini darimana?

Saya dari kecil suka baca cerita seperti mitologi, legenda, dan
tertarik dengan kebudayaan yahudi, filosofi bahasa, serta segala
pertanyaan tentang hidup. Akhirnya saya tertantang untuk
membuat novel yang ada di luar kerangka berpikir saya.

Ada pengalaman pribadi yang dimasukkin dalam novel ini?

Saya rasa secara ga langsung, saya memasukkan momen dimana
saya kehilangan nenek saya. Dalam cerita ini Ashra, tokoh
utamanya, juga kehilangan neneknya.

Apa kesulitan saat menulis novel ini?

Karena novel ini memiliki beberapa sudut pandang, kadang jadi
bentrok dengan sudut pandang yang lain. Sedikit pusing sendiri
seiring makin berkembangnya cerita ini, hehehhehe…. Tapi
biasanya saat kita menulis, biasanya ada tokoh yang mengalami
perkembangan sehingga bisa saja membuat ide awalnya jadi
berbeda dengan perkembangan cerita itu.

Bisa diceritain tentang karya Anda yang lain?

Ini novel pertama yang dirilis. Sebelumnya pernah bikin dua novel
dan belum dirilis. Novel pertama novel psikologi dan yang kedua
novel parodi. Keduanya ga menang sayembara.

Apa bedanya novel berikut yang sedang dibikin dengan yang
sudah rilis ini?

Novel berikutnya adalah fantasi ringan. Ada hubungannya dengan
Juksta Posisi, tapi bahasanya lebih ringan dan tidak seribet di
novel sebelumnya.

Judul novel ini sangat menjanjikan rasa ingintahu dengan
harapan orang tenggelam dalam alur cerita dan juga target
pasar. Bagaimana tanggapan Anda?

Judul itu kan menggambarkan isi novel. Karena isinya berbeda,
maka saya bikin judul yang juga berbeda dan juga catchy.
Pengarang dan novel yang mempengaruhi Anda dalam menulis?
Dewi Lestari dengan “Supernova” dan Neil Gaiman dengan
“Anansi Boys”. Yah, buku-buku yang membuka cakrawala berpikir
menurut saya.

Bagaimana proses penerbitan buku ini?

Agak susah ya. Beberapa kali saya kirim ke beberapa penerbit.
Tapi ditolak, sampai akhirnya saya kirim ke Gagas Media. Dan
akhirnya diapprove. Setelah editing 3 bulan, barulah diterbitkan.

Awalnya buku ini berjudul “Puisi-Puisi Hujan Waktu”, kenapa bisa
berubah?

Ya, awalnya novel ini memang genrenya romantis. Sebelum saya
mengikuti sayembara, saya ganti judul karena saya pikir saya
gagal membuat cerita romantis, dan akhirnya jadilah cerita ini.

Apa benar novel ini juga direkomendasikan oleh Ayu Utami?

Saya sempat dapat sms dari editor, dia bilang novel saya
direkomendasikan oleh Ayu Utami. Saya juga ga nyangka.
Mungkin Ayu Utami melihat tulisan saya unik dan dalam rangka
mendukung para penulis muda juga.

Ada tips gimana supaya cerita saat kita menulis bisa mengalir
terus dan ga mentok?

Kalau mentok, saya akan menghapus bagian-bagian yang bikin
saya mentok, dan seandainya relevan untuk digunakan dalam
bagian cerita yang lain, maka akan saya gunakan, atau kalau ga,
ya dibuang sama sekali.

Punya niat untuk membuat cerita nonfiksi?

Hahaha…saya pikir untuk membuat nonfiksi harus memiliki
kapasitas yang cukup besar. Dan saya pikir saya belum cukup
memiliki kapasitas untuk membuat buku nonfiksi.

Kenapa akhirnya bisa membuat novel?

Pas kelas 2 SMU, saya ditugaskan untuk membuat cerpen dan
cerita saya dibilang plagiat, padahal tidak. hahaha…jadi
pengalaman tersendiri dan memotivasi saya untuk membuat
cerita berikutnya.

Apa pesan yang ingin disampaikan lewat novel ini?

Saya ingin menyampaikan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu
yang absolut melainkan relatif. Saya ingin mencoba berpikir
dengan cara yang berbeda. Selama ini saya agak terdoktrin
bahwa cuma ada satu kebenaran di bumi ini, dan saya merasa itu
tidak adil serta tampak dipaksakan. Karena itu saya ingin
menyampaikan bahwa kebenaran yang kita ketahui selama ini
bersifat relatif.

Menurut Anda apa syarat yang perlu dimiliki untuk membuat
novel?

Punya imajinasi dan mimpi.

Mungkin ga novel diterbitin di internet?

Sejauh ini setahu saya ada situs, dimana kita bisa posting tulisan
dan diberi komentar oleh orang lain. Tapi itu ga dibayar ya…

Apa obsesi Anda ke depan?

Saya ingin bisa menulis dalam Bahasa Inggris dan meraih
pasarnya sendiri.

Apa pesan bagi penulis pemula?

Saya juga penulis pemula ya, jadi kalau boleh berbagi, saya pikir
tidak ada salahnya mulai menulis dari hal-hal kecil seperti cerpen
dan tanyalah orang terdekat tentang penilaian mereka terhadap
tulisan kita. Jangan lupa untuk ikut mi-list dan forum diskusi
agar tahu informasi soal sayembara-sayembara.

======

Kayanya saya salah jawab pada saat ditanya mengenai bagian personal yang mempengaruhi penulisan. Mungkin dia mau bertanya apa mungkin setting sekolah St. Lucas terinspirasi dengan sekolah saya (emang bener sih, saya terpengaruh sekolah St. Ursula BSD yang gedungnya segi enam, walau kantinnya jauh dari kesan cafe). Tapi ya sudahlah tidak apa-apa :)

Dan mengenai bahasa inggris, saya ingin memulainya, tapi benar-benar berbeda yah tulisan bahasa inggris akademik dan bahasa inggris untuk literatur. Saya pusing dengan penggunaan grammar. Apa mungkin harus minta bantuan orang inggris yang fasih bahasa indonesia *melirik ke seorang teman yang pernah tinggal lama di Inggris*

Oh ya, untuk laporan, saya mendapat kabar bahwa Jukstaposisi sudah terjual sekitar 888 kopi. Tidak bisa dikatakan best seller, tapi tidak buruk bukan untuk karya pertama? Profil saya dan halaman mengenai Jukstaposisi sekarang sudah ada di Wikipedia Indonesia.

Dan tenang saja, novel kedua sudah selesai dan sedang dipersiapkan. Cerita dan judulnya dirahasiakan karena alasan yang lebih baik tidak diceritakan disini. Saya sudah membagikannya secara terbatas kepada teman-teman saya. Saya senang karena sebagian besar memberikan komentar dan masukan positif (Khususnya Ivan karena mengproofread novel saya real time ampe jam 1 pagi), terus neng Sari, Mya, Yuli, Anasoe, Aris, Maisha, Patrick, Cecil, Dwika, Santhi, Vida.

Thanks banget yah guys, masukan kalian akan gw pake dalam ngedit novel ini setelah waktu yang ditentukan. :D

Tidak lupa saya juga berterima kasih pada teman-teman yang sudah memberikan masukan pada novel Jukstaposisi, seperti Sari, Atri, Cecil, Angga, Stebby, Retta, Ivan, Abmi, mbak Windy sang editor, mas Christian yang sudah baca, teman-teman di gagas media seperti Amel, Resita juga teman-teman yang sudah memberikan komentar di postingan ini (ada yang belum disebut?). Tidak lupa juga, orang-orang yang sudah memberikan review mengenai jukstaposisi. Saya sangat senang saat bisa mengetahui perasaan orang pada apa yang saya tulis :D (siapapun pasti demikian kan?).

Sekedar curhat saja, sebetulnya saya sangat senang dengan terpilih jadi Finalis KLA 2008, kenapa? Soalnya saya baru saja lulus dan blom dapat pekerjaan, jadi sedikit merasa minder karena makan gaji buta. :( Berita ini membuat percaya diri saya jadi sedikit terangkat, karena saya masih dalam proses melamar kerja, mudah-mudahan segalanya lancar.

Di waktu luang, saya melanjutkan menulis Enshao Anadi, saat saya menuis ini baru 107 halaman dengan 23> adegan lebih yang dibuang, plus sekitar 120 halaman yang ditaruh belakangan agar tidak berbenturan dengan berbagai perkembangan plot yang tidak terduga sebelumnya. Paling cepat 1.5/2 tahun baru selesai, karena saya amat berhati-hati agar percakapannya tidak “norak”.

Saya mengakui selain terpengaruh oleh literatur2 klasik, sastra, mitologi, psikologi, etc tapi saya juga terpengaruh manga dan anime Jepang, dan ini bisa berakibat fatal karena gaya bahasa terjemahan manga jepang tidak cocok dengan novel Indonesia. Kalau yang saya lihat, gaya bahasa manga akan menurunkan estetika suatu novel, entah kenapa percakapan tersebut tidak bisa mengalir dengan bagus jika ditaruh dalam format novel.

Daripada keren, percakapan macam itu malah terlihat norak, apalagi kalau salah satu karakternya menyerang sambil teriak nama jurus (“Spirit Bomb!” “Moon Tiara Action!”, “Death Slash!”… atau… “KAMEHAMEHA!”), aduh. Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi. Kombinasi bahasa inggris separuh-paruh juga membuat segalanya tambah norak (misalnya nama gua, dan tempat itu dikasih nama Cave of Darkness tanpa di-italic), ini salah satu penggunaan bahasa inggris dalam novel Indonesia yang lumayan salah.

Karena sudah terlanjur terpengaruh, yang paling bisa saya lakukan adalah mereduksinya ataupun menyesuaikannya agar sesuai dengan konteks sastra Indonesia, karena banyak juga novel-novel fantasi dalam bahasa inggris, tapi entah kenapa noraknya tidak terlalu terasa, apa mungkin karena kita kurang novel fantasi? Rasa-rasanya Harry Potter tidak senorak itu, walau dari awal sampai akhir semuanya menggunakan sihir yang disebut.

Penggunaan konsep sihir dalam novel fantasi, khususnya Indonesia mungkin akan menjadi terbentur karena kita ingin menggunakan sihir barat, apa mungkin karena kata mantra, di Indonesia terlalu erat kaitannya dengan dunia perklenikan dan persantet-an? Kalau dalam bahasa sanskertanya, entah kenapa posisi mantra jauh lebih tinggi daripada kata sihir.

Pemeran utama Enshao Anadi adalah Noah Saintclear, yang menjadi karakter minor di Jukstaposisi. Jukstaposisi memberikan kontribusi besar dalam cerita Enshao Anadi, dan saya tidak menyangka, bisa melengkapkan yang saya pikir selama ini tidak bisa lengkap (karena plot novel ini terus menerus di otak saya semenjak SMP, dan yah… plotnya tampaknya berubah tiap detik, saya yakin bukan cuma saya yang mengalami hal seperti ini). Jukstaposisi adalah surealisme, Enshao Anadi inginnya adalah “fantasi modern”, walau mungkin bisa berubah. Faktor bahasa akan menjadi sangat penting dan tidak cuma menjadi penguat plot seperti percakapan para tuhan dalam juktaposisi.

Semenjak membuat Jukstaposisi dan memikirkan plot novel ini, saya juga mengelaborasikannya ke cerpen-cerpen saya. Saya menggunakan satu universe untuk semua cerita saya, sehingga cerpen-cerpen maupun novel tersebut bisa memiliki hubungan tidak langsung sehingga bisa berdiri sendiri.

(bagi yang sudah membaca novel kedua pasti ngeh dengan maksud saya :D)

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman saya yang sudah membaca Jukstaposisi maupun yang belom, apalagi yang udah dapat gratisannya tapi belum dibaca. Bagi teman-teman yang sedang berupaya menjadi penulis, jangan menyerah. Saya juga, sekitar 2 tahun yang lalu belum jadi siapa-siapa, tapi saya mau mengambil kans yang ada, dan mengambil sikap: jangan menyerah sebelum berperang. Misalkan ada lomba cerpen atau lomba menulis apa, kalau memang cocok dengan minat, saya akan coba ikut. Belum tentu menang, tapi setidaknya kita sudah berusaha kan?

5 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields