Terkadang saya geleng-geleng kepala dan mengelus dada kalau melihat birokrasi Unpar yang tampaknya cukup menyaingi pemerintah dalam hal kelambanan. Ceritanya begini, di Unpar ada yang namanya program beasiswa Dana Lestari. Program beasiswa ini bisa diajukan oleh murid-murid yang merasa kurang mampu atau berniat menyelsaikan tugas akhir. Nilainya mencapai tiga juta rupiah. Saya sendiri baru pertama kali mengambil pada semester akhir.
Saya mengirimkan lembar aplikasi saya pada administrasi sekitar bulan Desember, menjelang akhir dari semester 7, setelah mengisi formulir dengan telepon, email, nilai, dan tetek bengek yang diperlukan, saya disuruh melihat pengumuman sekitar satu minggu lagi. Oh oke.
anomali pertama: buat apa kita disuruh menuliskan email dan nomor telepon di formulir kalau ujung-ujungnya harus ngeliat pengumuman di kampus?
Okelah itu gak masalah, nama-nama yang lolos pada seleksi pertama harus berkumpul di depan gedung Humaniora untuk briefing pada tanggal 10 jam 10. Saya akhirnya pulang ke Tangerang dan menghabiskan liburan disana.
Menjelang awal-awal Januari, muncul gosip berseliweran. Teman saya meng-sms bahwa kita harus ke kampus pada tanggal 7 untuk meminta dispensasi pembayaran, teman lain mengatakan kita harus ke kampus untuk melihat pengumuman. Lalu pada saat saya menanyakan mereka kapan pengisian Formulir Rencana Studi dilakukan, ada yang bilang tanggal 11, ada yang bilang tanggal 14. What the??
anomali kedua: semua mahasiswa harus ke kampus untuk meminta informasi.
Saya sampai di Bandung pada tanggal 7, menemui administrasi Fisip untuk menanyakan perihal dispensasi. Ooh ternyata, untuk mahasiswa semester akhir yang hanya ambil skripsi atau kurang dari 10 SKS harus meminta dispensasi pembayaran karena mahasiswa tidak boleh membayar kurang dari 10 SKS. Dispensasi ini bisa dilakukan pada saat perwalian dengan dosen pada tanggal 15… hah??
Anomali ketiga: sistem pembayaran dimana mahasiswa harus bayar uang pembangunan+10 SKS. Di luar itu, harus minta dispensasi.
Anomali keempat:mereka tidak kenal teknologi email
Oke, jadi buat apa intinya saya ke Bandung sekarang kalau cuma harus berbicara dengan petugas administrasi selama 10 menit untuk mendapatkan informasi itu?
Tapi ya sudahlah, pikir saya dalam hati, masih ada briefing untuk beasiswa Dana Lestari yang dilakukan pada tanggal 10, pikir saya, ngga mungkin ini ditunda kan walau ini sebenarnya hari cuti bersama?
TING TONG
Anomali kelima: mereka tidak kenal teknologi email/telepon/sms
Tanggal 10. Hari Cuti Bersama. Cuaca cerah. Saya berjalan ke depan gedung Humaniora. Ada sekitar 10 mahasiswa selain saya menunggu di depan gedung humaniora, menunggu kedatangan petugas administrasi atau siapapun yang katanya bertanggung jawab memberikan briefing pada kami. Tapi 30 menit menunggu, tidak ada yang datang. Setelah menanyakan orang rektorat, katanya psikotes diundur sampai tanggal 14.
OH OKE! @#$#^$*%
Anomali keenam: MEREKA TIDAK KENAL TEKNOLOGI EMAIL/TELEPON/SMS/INTERNET
Menurut saya ini ketarlaluan sekali deh, apa mentang-mentang kami mahasiswa, lantas kami diping-pong ke sana sini dan tidak berhak mendapat fasilitas yang memadai? Okelah WC Unpar emang banyak yang bau, sabunnya sering kosong, dan kalau berisi pun paling sabun cuci piring, tapi ini sih keterlaluan. Kami membayar sekitar 1,5 - 2 juta untuk biaya pembangunan, 141 rb lebih per SKS-nya tiap semester, dan inikah perlakuan yang kami dapat? Please deh.
Bagi mahasiswa di kampus lain, apa ada yang pernah mendapat pengalaman serupa dan seburuk Unpar? Atau cuma di Unpar yang birokrasinya separah ini?
iCapeD™ (iiiCapeDee)
Popularity: 17% [?]
Tags: College, UNPAR

















Using
katrok banget ya Unpar. belum high tech
Using
jadul kuadrat!
Using
lah kok situ mau kuliah di sono..he..he..he…
Using
Sebelum nyemplung kedalam, siapa sih yg tau, kl segitunya birokrasi di Unpar. Emang cukup mengesalkan kl begitu caranya, udah jauh2 anak mhsiswanya dateng, hanya utk mendapatkan informasi yg berlangsung 10 menit. Jaman gini, koq ada akademisi yg belum make use of email communication.