Beberapa waktu yang lalu saya sempat blowalking dan menemukan blog menarik, namanya Warungfiksi. Yang membuat saya senang membaca isi blog ini adalah isinya yang berkaitan dengan sastra Indonesia dan ditulis dengan gaya yang ringan dan mudah dicerna. Nah, kebetulan ada sedikit diskusi di pengumuman Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 di blog tersebut.
Nah, berhubung deadline tinggal 4 bulan lagi, saya mau membagi tips untuk menulis dalam kompetisi. Belum tentu 100% manjur, tapi siapa tahu dapat anda pertimbangkan dan bisa berguna dalam proses penulisan novel.
Sebelum mulai menulis lomba, ingatlah baik-baik: kita berkompetisi, ada juri, dan mereka juga manusia. Bayangkan jika anda menjadi juri, tidak mungkin kan seluruh energi anda bisa terdistribusikan dengan adil dan meng-check entry yang masuk satu persatu dengan tingkat ketelitian yang sama?
Menurut saya, lomba novel, cerpen, fiksi apapun tidak ada yang 100% objektif. Selera subjektif juri lebih berpengaruh dalam menentukan pemenangnya. Apakah juri tersebut melihat karya dari segi sastra atau segi komersil? Itu juga menjadi faktor penting.
Tampil Mencolok: Buat Yang Unik!
Nah disinilah menurut saya kita harus tampil mencolok. Dalam suatu kompetisi novel, ide unik adalah hal paling dicari-cari oleh juri.
Disini, bisa terjadi dua kemungkinan agar karya kita mencolok:
1. Menggunakan tema yang fresh dan unik dan jarang muncul dalam dunia perfiksian kita
2. Menggunakan tema yang sudah ada, dan memberikan polesan berbeda agar cerita tersebut menjadi unik
Jika kita berlomba, tentu harus kita perhatikan juga faktor lain-lain, misalnya: siapa yang menjadi jurinya? seberapa kuat kemampuan kita menulis cerita? Bagaimana cara mendapatkan inspirasi?
Menurut saya itu faktor-faktor yang harus kita perhatikan selagi kita menulis mengejar deadline.
Jika lomba novel ini diselenggarakan oleh penerbitan novel yang berbau pop, maka buatlah novel yang berbau pop. Kalau anda tahu nama juri-jurinya (biasanya disembunyikan) maka lihatlah profil mereka. Apakah gaya yang dominan dalam karya-karya mereka? Selera sastra mereka seperti apa? Dengan demikian anda bisa mengetahui kualitas karya apa yang harus anda kirimkan.
Daya Tahan dan Konsistensi
Daya tahan dan konsistensi menulis cerita juga menjadi faktor penting dalam menyelesaikan novel. Kita harus memiliki deadline psikologis dan memiliki komitmen “saya tidak mau kalah sebelum berperang”. Kita harus bisa mengetahui waktu-waktu terbaik kapan inspirasi kita mengalir, dan mengetahui prioritas. Tidak usah memaksakan diri jika menulis tiba-tiba menjadi beban.
Saya selalu berusaha sebisa mungkin menyelesaikan karya yang dilombakan dua minggu sebelum deadline, biar ada waktu untuk mengedit, mengprint, dan mengkopi karena biayanya kadang tidak murah-murah amat.
Farida sempat bercerita di blognya mengenai “stuck” dalam menulis novel keduanya. Saya yakin ini semua gejala yang sering kita alami dalam proses penulisan. Rasanya ingin sekali karya kita selesai hari itu juga, tapi kok kayaknya jauuuh banget.
Kalau tips dari saya: sabarlah! Nikmatilah!
Kita memiliki cukup waktu di dunia ini, tidak ada yang memaksa kita menulis dengan terburu-buru (kalau tidak ada deadline tentunya, dan kita menulis karena hobi). Tapi kalau kita menulis novel untuk mengejar deadline, nah itu lain cerita, anda harus memeras imajinasi anda karena kita “tak boleh kalah sebelum berperang”.
Kalau boleh curhat sedikit, saya sendiri biasanya paling susah “ngedit bagian stuck”. Kalau udah membuka Open Office dan disuruh mengedit bagian stuck, rasanya gimanaaa gitu, berat banget. Tapi menurut saya, kita harus melewati tembok itu, kalau tidak, kita tidak akan maju-maju. Inspirasi saya biasanya muncul pada jam 10 malam, dan kalau abis baca komik. Rasanya energi saya terisi abis baca komik cewek
.
Buat Kerangka, Draft, Edit Nanti
Menurut saya ide bagus juga untuk menulis novel kita sampai selesai, setidaknya tema besarnya sudah diceritakan walau hanya berbentuk kerangka dan draft kasar karena dapat diedit belakangan. Dengan demikian kita tidak membuang-buang waktu berjalan di tempat. Saya yakin tidak sedikit yang stuck karena harus memikirkan kelanjutan suatu adegan. Saya sih ngikutin tips-nya mbak Yenni , dia pernah mengatakan, daripada stuck di satu poin, mendingan dia nulis apa yang muncul di benaknya saat itu juga, dan menyambungkannya nanti. Ide bagus, supaya ide kita tidak menguap belakangan.
Dan yang paling penting: harus selesai dan anda kirimkan. Ini wajib.
Setiap kali saya down dan merasa ”ngga usah ikut deh, lain kali aja pas ada lomba lain” saya langsung mengingat pengalaman saya dulu, pada saat ada lomba menulis. Saya menyerah di tengah jalan dan menyesal karena kalah tanpa berjuang. Menurut saya lebih sakit rasanya jika kita kalah oleh diri sendiri sebelum berperang, karena kita bisa menang.
Kalau anda belum menang di lomba yang anda ikuti, itu bukan berarti anda kalah, karena sekali lagi, juri juga manusia. J.K. Rowling saja berusaha ke 12 penerbit sebelum Harry Potter terbit!
Faktor yang tidak boleh dilupakan adalah: pembaca. Saya suka membuat cerpen dan novel, dan sebelum saya mengirimkannya ke lomba, saya biasanya membagi-bagikannya ke teman-teman saya yang memang demen baca.
Kritik dan masukan dari mereka merupakan hal yang sangat berharga, dari sana anda bisa mengetahui apa yang harus kita perbaiki dan bisa menjadi kelemahan cerita kita. Mungkin gaya ceritanya bikin ngantuk? Mungkin terlalu biasa? Klise?
Teman-teman anda, orang-orang di dekat anda akan sangat membantu anda menemukan hal-hal tersebut, jangan takut menerima kritik atau merasa malu karena anda membuat cerita fiksi! Kadang-kadang kita tidak bisa tahu bahwa orang-orang di sekitar kita ternyata punya hobi yang sama dengan kita.
Mungkin itu saja tips yang bisa saya share, moga-moga berguna untuk anda semua. Deadline DKJ adalah 31 Agutus 2008, selamat berjuang bagi yang ikut! (saya sih mau ikut, tapi skripsi oh skripsi)
Popularity: 16% [?]
Tags: Writing







Using
Yeah, masukan yg bagus nih buat aku. Emang banyak yg bilang kenali dulu jurinya (termasuk karya2 mereka), lalu sesuaikan dg karya yg akan kita ajukan. Tp kata “sesuaikan” itu yg sering diabaikan oleh orang2 keras kepala mcm aku. Jd satu2nya pilihan kalau jurinya “beda idealisme” dg aku adalah: Aku nggak ikut sekalian, bukannya menyesuaikan (tuh kan, sombong banget :P
. Daripada capek2, hayo?
Eh, btw, dulu waktu Lomba DKJ 2006, kamu udah tahu profil juri2nya kah?
Using
@brahm
wngga kok mas, juri DKJ umumnya tidak diberitahukan, makanya pas iklan mereka selalu mengatakan “kirimkan x rangkap” -> dengan asumsi, x = jumlah juri.
Using
wah… thx ya bwt tips2nya. mudah2an berguna. jd ada spirit bwt nulis lagi nih! btw kalo udah bisa nulis novel/ cerpen, skripsinya pasti bisa deh! aku juga dulu kayak gitu. sambil bikin skripsi aku nulis cerpen juga. ga pernah dipublikasiin sih. tp lumayan drpd stresss…
Using
@rie yanti
makasih. masalahnya bikin skripsi harus mikir ekstra plus baca bahan sih. hehehe. good luck ya