Opinion

The Ugly Facts of Chinese Indonesians’ Stereotypes

(english translation is below)

Beberapa waktu yang lalu saya membeli buku berjudul WNI Keturunan Tionghoa Dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik Indonesia. Buku ini merupakan disertasi dari DR Ir. Justian Suhandinata, SE. Untuk buku bermutu dengan 428 halaman harganya dibandrol seharga… Rp. 35,000 saja. Berhubung saya sedang memiliki minat tinggi pada sejarah etnis Tionghoa, saya memutuskan untuk membelinya. Saya belum selesai membacanya, tapi saya bisa meyakinkan pembaca bahwa ini buku yang sangat penting untuk dibaca bagi seluruh WNI keturunan Tionghoa yang mengalami genosida budaya seperti saya.

Buku ini memberikan fakta-fakta pahit yang lebih baik diketahui oleh WNI keturunan Tionghoa, agar kita tidak amnesia sejarah. Penulis buku ini menulis dengan narasi sederhana, namun dengan detail riset sangat lengkap, dijelaskan bagaimana penduduk Tionghoa pertama datang dari China jauh sebelum Belanda datang dan akhirnya berasimilasi dengan penduduk setempat. Pada akhir abad ke-19, muncul lagi gelombang imigrasi (yang umumnya berasal dari Fujian) dan mendatangkan penduduk Tionghoa yang disebut totok, karena mereka masih mempertahankan keunikan budaya mereka dibandingkan peranakan yang sudah berasimilasi dengan pribumi.

Seluruh bagian buku ini menarik, tapi yang lebih menarik lagi adalah bagaimana sang penulis berhasil mendapatkan kesimpulan dari kuesioner dan memperlihatkan citra orang Tionghoa kepada penduduk pribumi.

Lihatlah kutipan dari halaman 364-365:

Upaya bersama antara Justian Suhandinata dan Divisi R&D harian Media Indonesia dilakukan media Indonesia dilakukan melalui wwww.mediaindo.co.id dari 27-29 maret 2002, dimana mayoritas responden setuju dan mendukung upaya tersebut.

Jika WNI keturunan Tionghoa diperlakukan secara setara dan diberi kebebasan untuk terjun di profesi lain selain bidang bisnis, termasuk angkatan bersenjata, pegawai negeri, pendidikan politik, dan sebagainya:

Mereka akan merasa 100% sebagai orang Indonesia

Mereka akan mempunyai rasa nasionalisme yang lebih tinggi

Mereka tidak harus memaksakan diri untuk terjun di kegiatan bisnis

mereka akan masuk dalam angkatan bersenjata menjadi pegawai negeri pendidik politis, profesional, dan terjun ke profesi lain yang tidak terkait dengan bisnis

mereka akan dapat berintegrasi dan berasimilasi dengan WNI pribumi jauh lebih cpat

Friksi sosial dan politik akan lebih stabil

semakin banyak WNI pribumi yang berkesempatan untuk terjun di dunia usaha

sedikit demi sedikit di masa mendatang indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling kompetitif di dunia dalam hal efisiensi ekonomi dan persaingan internasional, khususnya di komoditas ekspor

Halaman 365-367 bahkan lebih menarik lagi, karena memberikan gambaran bagaimana stereotype orang Tionghoa:

Untuk mendukung tesis ini, sebuah kuesioner disebarkan mulai dari 31 Mei – 5 Juli 2002. Pada dasarnya kuesioner tersebut menanyakan responden tentang apa perilaku terbaik, cara hidup, kegiatan sehari-hari dari WNI keturunan Tionghoa untuk mendukung dan mempercepat proses integrasi dan asimilasi dengan WNI pribumi:

Sebaiknya WNI keturunan Tionghoa yang dapat berbicara bahasa Mandarin atau dialek bahasa Tionghoa lainnya untuk berbicara dalam bahasa tersebut di lingkungan terbatas dengan keluarga atau di daerah pecinan dan tidak menggunakannya di tempat-tempat umum, setidaknya untuk sementara waktu

Sebaiknya WNI keturunan Tionghoa yang kaya untuk hidup sederhana (tidak memamerkan kekayaan mereka) mengingat kebanyakan WNI pribumi masih banyak menghadapi masalah dan hidup miskin

Sebaiknya WNI keturunan Tionghoa yang mampu membantu kaum miskin melalui organisasi kesejahteraan sosial yang tepat, atau secara langsung kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Sebaiknya WNI Keturunan  Tionghoa bersikap renda hati dan tidak angkuh dan tidak bersikap bahwa semua dapat dibeli dengan uang. Mereka harus bersikap ramah dan jangan melanggar hukum dan peraturan

Sebaiknya WNI keturunan Tionghoa ikut melibatkan diri dalam kegiatan sosial yang beraneka ragam

Sebaiknya generasi muda WNI keturunan Tionghoa secara suka rela melibatkan diri dalam berbagai kegiatan itnegrasi dan asimilasi seperti kegiatan persahabatan, aktif di kegaitan sosial, menikah dengan kelompok etnis lain, dan sebagainya

WNI Keturunan tionghoa yang mempunyai perusahaan atau yang menduduki eksekutif puncak di perusahaan harus tidak berlaku diskriminatif pada kelompok etnis lain, dan sebagainya

Sebaiknya generasi muda WNI keturunan Tionghoa tinggal di daerah heterogen atau daerah yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis

Adalah penting baghwa siswa WNI keturunan Tionghoa yang memenuhi persyaratan dipilih menjadi anggota tip pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) pada perayaan hari kemerdekaan, dilibatkan dalam acara TV,dsb, sehingga mereka merasa sama dengan etnis lain

Peran media masa sangat penting. Mereka harus menerbitkan berita secara proporsional, seperti berita tentang bintang olahraga, pengacara terkenal, akademisi, aktris/aktor, pelawak, ketua mahasiswa, dan sebagainya dari keturunan Tionghoa, dan tidak hanya memuat berita utama tentang WNI keturunan Tionghoa melakukan kejahatan

Media harus secara proporsional menulis sisi positif dan negatif orang keturunan tionghoa tertentu, dan bukan hanya membesar-besarkan sisi negatifnya. Dalam banyak kejadian, media bahkan menuliskan nama sebelumnya (nama Tionghoa), tetapi jika WNI keturunan Tionghoa melakukan jasa baik kepada masyarakat dan negara, mereka tidak pernah menyebutkan nama Tionghoa tersebut.

Jika saya boleh berpendapat jujur, semua stereotype itu agak sedikit menampar saya pribadi, sebagai keturunan Tionghoa. WNIKT masih dipandang sebagai “etnis minoritas kaya yang gemar pamer kekayaan, tertutup, dan tidak mau berasimilasi dengan etnis pribumi”. Jelas itu salah, saya bisa mengatakannya karena saya memiliki darah Tionghoa, Belanda, Jawa, Makassar, dan Manado. Teman-teman terdekat saya berasal dari berbagai etnis, jawa, batak, sunda, bali, tionghoa, dll, dan percaya atau tidak, kami sama sekali tidak mempermasalahkan perbedaan etnis kami. Saya malah senang memiliki berbagai teman dari latar belakang beragam, karena itu membuat saya bisa memahami orang lain dan menjaga agar tidak terlalu mengalami culture shock.

Tapi bagaimana pendapat pembaca sekalian yang mungkin berasal dari Tionghoa, apakah stereotype tersebut menggambarkan anda?

Kultur: Overrated

Salah seorang teman saya pernah mengatakan bahwa suku dan budaya adalah sesuatu yang overrated. Apakah masih relevan membicarakan seseorang dari suku mana di jaman globalisasi dimana kita semua hanya terbatas pada geografi dan tempat lahir? Pada era globalisasi ini, seseorang bisa menjadi xenophile kapan saja. Saya sendiri seorang japanophile, saya lebih tahu kultur, budaya, produk pop, dan bahasa jepang dibandingkan pengetahuan saya pada kultur yang melekat pada saya. Lalu suatu ketika saya bertanya, kenapa saya lebih menyukai kultur jepang dibandingkan kultur yang berhak saya miliki? Kenapa saya tidak lebih memilih mendengarkan musik dalam bahasa mandarin, belajar bahasa belanda, atau belajar bahasa jawa? Apa yang membuat saya teralienasi dari budaya saya sendiri?

Setelah cukup lama merenung dan membaca berbagai literatur tentang Tionghoa, saya lalu menyadari apa yang terjadi pada diri saya. Saya adalah contoh nyata hasil genosida budaya. Saya dan beberapa juta generasi muda WNI keturunan Tionghoa lain adalah contoh nyata orang-orang yang kehilangan identitas etnis mereka. Kami merasa teralienasi dari budaya kami sendiri, dan mungkin malah membencinya, karena kami sendiri sejak lahir membawa stereotype “pelit, serakah, mata duitan, eksklusif, tidak nasionalis.”

Kebijakan orde baru untuk melakukan asimilasi budaya memiliki dampak positif dan negatif. Di satu pihak kami merasa tidak berbeda jauh dengan etnis pribumi, karena banyak sekali WNI keturunan Tionghoa yang tidak bisa berbicara bahasa mandarin, sehingga sehingga bahasa ibu mereka adalah bahasa Indonesia. Kesamaan bahasa ibu membuat kami tidak terlalu merasa ada gap dengan penduduk setempat. Namun sisi negatifnya? Saat kami ditanya kami orang apa, kami dengan agak kurang nyaman akan menjawab “Tionghoa”. Perasaan malu juga mungkin ada karena walau kami Tionghoa, kami tidak bisa berbicara bahasa Mandarin atau sudah tidak tahu keunikan budaya dari etnis kami. Ironi yang hebat.

Saya sendiri cukup beruntung, karena selama ini tidak pernah mengalami perlakuan diskriminatif yang agak parah. Saya sendiri merasa tidak memiliki afeksi dengan Republik Rakyat China, karena dari lahir saya dibesarkan di Indonesia, dan keluaga saya sendiri cukup multikultur. Namun yang menyedihkan adalah, ternyata persepsi yang ada di kepala saya dan di kepala mayoritas penduduk pribumi berbeda. Kami masih dipandang sebagai etnis ekslusif, mata duitan, angkuh, tukang pamer, tukang sogok dan lain sebagainya. Hal ini menurut saya tidak adil, karena kami tidak kurang Indonesia dibandingkan etnis lainnya.

Tionghoa yang lebih Pribumi daripada Pribumi?

Dari hasil genosida budaya ini, saya juga menemukan beberapa WNI Keturunan Tionghoa yang membenci budaya mereka sendiri. Mereka menyesal lahir dengan mata sipit, kulit tidak sawo matang, dan bahkan membenci bahasa mandarin, hal ini dikarenakan ada orang-orang yang tumbuh di lingkungan dimana budaya Tionghoa dijadikan antagonistik, sehingga dia merasa malu menjadi seorang Tionghoa.

Mungkin kondisi ini mirip dengan orang Indonesia yang malu jadi orang Indonesia karena pemberitaan negatif tentang skandal korupsi terlepas dari fakta mayoritas penduduk negara ini sangat religius, kekerasan atas nama agama, dan budaya buang sampah di sungai, dll. yang membuat orang Indonesia terkadang menjelek-jelekkan negara mereka ke warga negara lain ketimbang memperlihatkan keunikannya. Lingkungan eksternal membuat persepsi yang salah pada diri kita sendiri. Jika ada orang Tionghoa yang membenci budaya Tionghoa, bahkan menolak budaya Tionghoa, selamat, berarti orang-orang tersebut sudah sukses mengalami antagonisasi dan alienasi dari budaya yang seharusnya jadi milik mereka. Sama seperti orang Indonesia yang tumbuh membenci budaya Indonesia dan malu mengakui mereka orang Indonesia.

Saya juga merasa miris saat membaca berita bahwa mulai ada kepanikan saat ada beberapa bahasa lokal yang terancam punah, namun kenapa pemerintah tidak pernah mengkhawatirkan kepunahan etnis Tionghoa, atau tidak mengkhawatirkan generasi Tionghoa yang kehilangan bahasa mandarin/dialek Tionghoa mereka? Mungkin pemerintah berpikir bahwa penduduk RRC toh ada satu milyar lebih, beberapa juta generasi muda kehilangan kultur mereka tidak masalah, karena stoknya masih terlalu banyak di dataran sana.

Karena hilangnya kemampuan bahasa mandarin pada generasi muda, Tionghoa Indonesia tidak bisa memanfaatkan kebangkitan ekonomi China secara optimal. Penguasaan bahasa mandarin di RRC sangatlah penting, karena orang china umumnya hanya bisa bahasa mandarin dan inggrisnya amat sangat buruk. Penguasaan bahasa mandarin merupakan nilai tambah, dan pemerintah terlambat menyadarinya, mereka mencoba memperbaiki ini dengan memasuki kurikulum bahasa mandarin pada sekolah. Namun ini tidak mengubah kenyataan bahwa ada generasi hilang.

Masih perlukah istilah WNI Keturunan dan WNI Pribumi? WNI keturunan Tionghoa tidak kurang Indonesia dibandingkan WNI pribumi. Bahkan kalau boleh jujur, istilah WNI Keturunan Tionghoa dan Pribumi sangat menyebalkan. Sadar tidak sadar, ini membuat gap antara kedua etnis. Apakah Tionghoa terlalu asing untuk dikategorikan untuk masuk ke kategori Pribumi? Kenapa sampai sekarang masih ada istilah WNI Keturunan dan WNI pribumi? Kenapa tidak ada istilah WNI Keturunan Jawa, WNI Keturunan Padang, Batak, Riau, Palembang, Bali, dll? Bukankah pada dasarnya Indonesia adalah negara dengan berbagai etnis yang disatukan dengan identitas kolektif bernama Indonesia?

Pada akhirnya masalah identitas kembali ke pribadi masing-masing. Saya tahu ada kalangan generasi muda Tionghoa yang tidak peduli dengan identitas dan kultur mereka. Mereka bahkan merasa saya mengatakan hal absurd. Untuk apa memperlihatkan ke-Tionghoa-an kita? Apa saya ingin menjadi attention whore dengan cara memperlebar jarak antara saya dan orang lain dengan memberi cap bahwa saya berbeda?

Beberapa orang mungkin berpendapat saya sedang melakukan viktimisasi, saya sedang berusaha mencari perhatian dengan membesar-besarkan isu yang sudah lewat, sama seperti orang Yahudi dituduh oleh neo-nazi melakukan  viktimisasi agar mendapat simpati dari masyarakat internasional dengan membesar-besarkan angka holocaust.

Tapi faktanya adalah, genosida budaya terjadi,  banyak generasi muda Tionghoa bingung dengan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Mereka merasa diri mereka Indonesia, tapi mereka dipanggil Tionghoa, atau WNI keturunan Tionghoa. Mereka dapat identitas Indonesia, tapi tidak penuh, dan tampaknya hal ini tidak akan pernah berubah. Jadi mungkin, tidak ada salahnya menerima kenyataan bahwa kita berbeda?

English

Some time ago I purchased a book entitled Chinese Descent:Economy & Politic of Indonesia. This book is a dissertation of DR Ir. Justian Suhandinata, SE. This book is pretty cheap, considering it’s 428 pages and only priced for only Rp. 35.000 ($3.5 even less). I haven’t finished reading it, but I can assure readers that this book is essential reading for all chinese Indonesians, especially for these who experienced cultural genocide.

This book exposed bitter facts in history that is better known and be remembered by chinese Indonesians there so they wont be amnesiac and alienated with their own history. This book is written with simple narration, with a very detailed supporting data, like how the chinese first arrived from China long before the dutch arrived, assimliating with local natives. by the end of 19th century, there was another immigration wave which adding totok (pure) chinese to the ethnic tribes.

This book is worth for its price, and I think it’s kinda underpriced, considering the writer actually wrote this book from dissertation. There was a lot of questioners and polling which describes the chinese Indonesians stereotype to pribumi:

There was Joint effort between the Justian Suhandinata and R&D of Media Indonesia which is done through www.mediaindo.co.id from 27-29 March 2002, where the majority of respondents agree and support these efforts.

If WNI Chinese descent were treated equally and given the freedom to dive in the professional field other than business, including the armed forces, civil servants, political education, and so forth:

-They will feel as 100% Indonesias

-They will have higher sense of nationalism

-They do not need to focus solely in the business field

-they will be included in the armed forces, political officer of educators, professionals, and dive to the other profession unrelated to the business field

-they can assimmilate with WNI faster

-Social and political friction will be more stable

-There will be more chance for WNI to dive in the business world

-Slowly in the future indonesia will become one of the most competitive country in the world in terms of economic efficiency and international competition, particularly in the export commodity

Page 365-367 even more interesting. again, it provides interesting insight of chinese indonesians stereotypes:

To support this thesis, a questionnaire distributed from 31 May – 5 July 2002. Basically, the questionnaire aske the respondents about best behaviour, way of life, day-to-day activities of Chinese descent WNI to support and accelerate the integration process and assimilation with indigenous WNI:

It is suggested that WNI Chinese descent who can speak Mandarin/Chinese language or dialect to not using it in public places, at least for a while

Rich WNI of Chinese descent should live humbly since most indigenous WNI are poor

WNI of Chinese descent should be helping the poor through social welfare organization the right, or directly to the people who need help.

WNI of Chinese descent should be careful and stop think that everything can be purchased by money. They must be friendly and do not violate laws and regulations

WNI of Chinese descent should involve themselves in the social activities

We suggest that the younger generation of WNI descendant of Chinese to voluntarily be involved in various activities to promote integration and assimilation such as friendship, activity in social life, marriage with other ethnic groups, etc.

WNI of Chinese descent of top executive in a company should not be discriminatory against ethnic groups, and so forth

The role of mass media is very important. They must publish news proportionally, such as news about the sports stars, famous lawyers, academics, actress / actor, comedian, the head of the student, and so forth from the descendants of Chinese, and not only covering news about the descendants of Chinese commit a crime

Media must be proportional to write the positive and negative people descendants of Chinese-specific, and not only exaggerate the negative. In many instances, the media writing the name (Chinese name) in negative news, when WNI of Chinese descent do good service to the community and country, they never mentioned the name in Chinese.

in my honest opinion, all these stereotypes kinda slap in face, chinese indonesians still being seen as “rich ethnic minority who love exeggrating their fortune, exclusive and don’t want to assimilate with local natives”. It is wrong, or at very least, not completely true, I could say because I have chinese, dutch, javanese, makassar and manado. My closest friends are from different ethnic, like javanese, sundanese, bali, chinese, and we do not fret our difference. I actually love being surrounded by multicultural friends, it helps me understanding other people’s culture better.

Culture: Overrated

One of my friend said that ethnic and culture are overrated. Is it still relevant showing ethnic identity in globalized era where we are only different because the place we were born? In the globalized era, anyone could be xenophile anytime. I’m myself is a japanophile, I know japanese culture, language, pop culture better than my culture. Then I begin to ask, why do I like japanese culture better than my etnic culture? What makes me feel alienated to my own culture?

After reading the literature of chinese indonesians, I begin to aware what’s really happening. I’m simply culturally genocided. It’s situation faced by many chinese indonesians. It is effect of the anti-chinese legislation in the past. Many chinese indonesians are alienated from their own culture, and some might actually hate their own culture, because they grew, carrying the negative stereotypes.

The New Order policy’s was best known for forcing the chinese indonesians to change their name and banning the use of chinese language. It is double edged sword, in fact, many chinese indonesians feel now they are indifference to pure indonesians, but whenever someone ask chinese Indonesians about their culture or ethnic heritage, they might uncomfortable with it, since they lose many of their heritage already and feeling ambivalent of what their identity is. I know a lot of chinese indonesians who are more javanese than javanese. Growing in javanese environment, practicing javanese values, and oblivious to their own culture. This situation is kind of similar to the indische experienced in the past: they feel they are indonesians, but their european physique alienated them from getting equal right. It’s always skin color.

Chinese Indonesians that are more Pribumi than Pribumi

It’s kinda strange to find that there are actually hate their own culture. They regret born with slanted eyes, not having tanned skin, and even hating chinese language. All because they grew in situation where chinese culture being positioned as antagonistic. It’s similar to how average Indonesians hate Indonesia because too much news coverage over corruption scandals, terrorism, violance in the name of religion, etc. They master to demise Indonesia to foreigner, instead of promoting the uniqueness of our country. The external environment creating false perception toward oneself.

Children do much better than job than adults do, they don’t discriminate their friends by skin color. But it couldn’t be denied that we are a multicultural community, repressing certain culture is out of question, it’s much better to accept we are different no matter how much we want to call ourself “Indonesia”, in fact, we are made of different tribes, which constitute the whole of “Indonesia”.

Is it still necessary for using term of “WNI Keturunan” and “WNI Pribumi? By keep differentiaing Chinese Indonesians as separate entity from local natives, it creates identity of “us” and “them”. It can’t be helped, after all, chinese indonesians are just different from pribumi.

Why only Chinese Indonesians are used with prefix to differentiate them with other etnic? Surely we could call other ethnic as Javanese Indonesians, Padangnesse Indonesian, Sundanesse Indonesians, Bataknesse Indonesians. Why Chinese Indonesians couldn’t be considered as part of native as well?

Maybe we should accept the fact Chinese indonesians, no matter how much they want to be treated indifferently, they are just too different and distinguishable from other ethnic tribes?

5 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields