
Wah-wah, pagi ini saya menemukan berita menarik sekali dari International Herald Tribune. Berita ini mengatakan bahwa Amerika secara rahasia telah mengijinkan Ethiopia membeli perlengkapan perangnya untuk melawan Somalia.
Apakah Amerika sebetulnya serius dalam menangani isu nuklir Iran maupun Korea Utara? Pada kasus Iran, Amerika tidak terlihat serius dalam memberikan kebijakan pada Iran, sejauh yang saya baca di berita selama ini, hanya terjadi megaphone diplomacy antar pejabat tinggi Amerika maupun Iran. Saya seringkali tersenyum sendiri saat melihat Ahmedinejad memberikan pernyataan-pernyataan provokatif pada lawannya.
Karim Sadjapour� dari International Crisis Group menganalisis bahwa Ahmedinejad sebetulnya sedang melakukan struggle of power, dia membuat suatu sosok kontroversial dan sesungguhnya, sudah melangkahi aturan dalam birokrasi Iran yang teokratis.
Bagaimana dengan Korea Utara? Belajar dari kasus Iran, negara yang sebetulnya termiskin di dunia ini, tampaknya tidak takut dengan ancaman dari Amerika dan Jepang. Korea Utara mengaku tetap menjalankan program senjata nuklirnya, walau generasi muda� mereka butuh gizi, bukan nuklir.
Mungkin jika Amerika melakukan normalisasi hubungan seperti yang dilakukan Rusia kepada Korea Utara pada tahun 2000.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Korea Utara sebetulnya menggunakan isu nuklir ini untuk menarik perhatian Amerika, dan bertujuan untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Washington. Apapun alasannya, Korea Utara tampaknya tidak akan bertindak bodoh untuk melakukan serangan nuklir pada tetangganya. Kenapa? Tentu saja untuk alasan ekonomi. China, Korea Selatan, dan Jepang merupakan pasar utama ekspor Korea Utara. Ekonomi Korea Utara yang sangat lemah dapat hancur jika hubungannya dengan ketiga negara itu terganggu.
Popularity: 11% [?]
Tags: Diplomacy, Essay, North Korea, Nuclear, Six Party TalksIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Recent Comments