Tanatos
Di dunia ada bulan dan bumi. Air dan api. Hidup dan mati. Gadis kecil ingin mati.
Dia tidak tahu tahu ada alam semesta, tapi dia tahu oposisi biner. Dia tahu baik dan jahat.
Dia sudah melihat di televisi bagaimana yang jahat menindas yang baik, dan yang baik selalu yang lemah.
Gadis kecil melihat dunia dengan mata yang bisa berbicara. Memiliki otak yang selalu lebih lapar dari perut. Tapi gadis kecil tahu dia lebih baik tidak berbicara pada kedua orang tua. Mereka berdua sibuk berbicara dengan bahasa hewan, saling bersumpah serapah pada siapa yang salah. Itu sebabnya gadis kecil selalu mencari Crita.
*
Gadis kecil lahir di sebuah keluarga aneh.
Ayahnya selalu di rumah, dan ibunya selalu menonton televisi. Itu sebabnya gadis kecil tidak pernah mau di rumah, karena dia akan menjadi bodoh. Untunglah ada kakak berkacamata di sebelah rumah. Kakak di sebelah rumah tersenyum pada gadis kecil pada saat mereka pertama kali terjumpa.
Gadis kecil, gadis kecil, kau mau kemana? Kau tahu satu tambah satu sama dengan dua?
Gadis kecil menggeleng. Dia tidak tahu angka. Dia tidak bisa berhitung.
Gadis kecil, gadis kecil, tahukah kau kalau kau berbicara dengan lima huruf vokal dan dua puluh satu huruf konsonan?
Gadis kecil menggeleng. Dia tidak tahu huruf. Dia tidak bisa membaca.
Masuklah gadis kecil. Kau perlu buku. Aku akan beri kau buku.
Gadis kecil tahu bagaimana cara melafalkan kata buku. Tapi dia tidak bisa menulis buku. Kakak sebelah rumah mengenalkan gadis kecil pada sembilan angka dengan temannya yang bernama nol, dan dua puluh enam huruf yang berkumpul di sebuah rumah bernama abjad.
Gadis kecil sekarang sudah bisa membaca dan menulis angka maupun huruf. Ibu dan ayah masih belum beranjak dari kamar. Ayah masih berpikir untuk meminta uang siapa, sedangkan ibu masih sibuk memikirkan mau menonton acara apa.
Gadis kecil masuk mengendap-ngendap, menunggu makan malam. Tapi makan malam tidak kunjung tiba untuk gadis kecil. Karena ayah dan ibu masih tidak beranjak dari tempat mereka duduk. Gadis kecil merasa lapar. Lebih lapar dari otaknya.
Dia mencoba bersuara, meminta makan. Tapi ibu mengatakan tahan laparmu. Ibu juga lapar.
Tapi ibu menggigit apel, tanpa membagi gadis kecil. Ibu lapar, katanya.
Gadis kecil berjalan keluar. Dia menemui kakak sebelah rumah.
Gadis kecil kenapa? Kau lapar? Apakah kau mau makan?
Gadis kecil mengangguk. Setelah kakak sebelah rumah memenuhi lapar di kepalanya dengan memberinya makan angka dan huruf, dia memberikan gadis kecil makanan. Gadis kecil suka kakak sebelah rumah.
*
Gadis kecil sehari-harinya melihat jendela.
Terkadang ayah dan ibu pergi dari rumah. Entah kemana.
Gadis kecil tidak menunggu mereka pulang, tapi menunggu kakak berkacamata pulang.
Kakak sebelah rumah tidak keberatan untuk membagi jatah makanannya, dan memberi makan otak gadis kecil dengan tulisan.
Gadis kecil, kau pintar sekali. Umurmu berapa?
Gadis kecil menggeleng. Dia tidak tahu arti kata umur.
Umur adalah usiamu. Gadis kecil, apa gadis kecil tahu mengenai waktu?
Gadis kecil menggeleng. Dia tidak bisa membaca jam. Gadis kecil tidak baca kalender. Hari itu kakak sebelah rumah mengenalkan gadis kecil pada kalender.
Gadis kecil, kau harus pulang, ayah dan ibu akan marah, kata kakak sebelah rumah.
Gadis kecil menggeleng. Kenapa ayah dan ibu harus marah? Bukankah kakak mengisi lapar di perut dan otak saya?
Gadis kecil, kamu harus pulang. Kalau lapar kamu boleh datang lagi. Tapi sekarang kamu kenyang, jadi kamu harus pulang.
Gadis kecil lalu menatap pintu besar. Di balik pintu itu, ada kakak yang baru saja mengusirnya keluar.
Gadis kecil duduk di depan pintu. Dia berharap lapar lagi.
*
Gadis kecil ingkar janji. Dia datang pada saat dia kenyang. Kakak sebelah rumah tidak tahu gadis kecil tidak lapar. Tapi otak gadis kecil ingin makan tulisan. Karena itu dia membaca buku. Pada saat otak gadis kecil sedang memakan tulisan-tulisan di buku mengenai oposisi biner, gadis kecil bisa mendengar gedoran pintu.
Kakak membuka pintu, dan mendapat tonjokan di mata kanan.
Gadis kecil mendengar ayah bersumpah serapah, mengutuk kakak sebelah rumah karena memberi makan perut dan otak gadis kecil saat dia sudah kenyang. Gadis kecil ketakutan. Kakak sebelah rumah terlihat bingung.
Gadis kecil dipaksa keluar dari pintu kakak. Tapi di tangan gadis kecil ada buku tentang oposisi biner. Pintu itu lalu tertutup. Gadis kecil lalu tidak pernah bertemu dengan kakak sebelah rumah.
Ayah dan ibu menaruh dia di sebuah teralis kasat mata bernama ketakutan. Gadis kecil tidak boleh keluar kalau tidak ingin mendapat tamparan. Karena itu gadis kecil diam saja dan membaca buku mengenai oposisi biner.
Otak gadis kecil tidak merasa bosan setiap harinya memakan tulisan yang sama. Karena gadis kecil sudah mengerti oposisi biner, kedua matanya mulai bisa berbicara. Mata kiri membantu gadis kecil melihat hal yang membandingkan. Mata kanan membantu gadis kecil melihat yang dibandingkan.
Gadis kecil jadi mengerti bagaimana melihat dunia.
*
Pada suatu ketika gadis kecil sudah muak melihat ruangan.
Dia ingin keluar, berhenti memakan tulisan mengenai oposisi biner. Tidak boleh, kata ibu yang tak pernah berhenti menonton televisi. Otak ibu lapar sampah. Otak ibu lapar lumpur. Itu sebabnya ibu menjadi seperti yang ada di televisi. Demi menjaga gadis kecil, ibu tidak pernah beranjak dari televisi. Dia tidak mau gadis kecil jauh-jauh darinya. Karena itu ibu tidur dengan mata terbuka, agar otaknya terus menerima sampah, dan isi kepala ibu sama seperti kotoran di kakus. Ibu lapar sampah, ibu tak mau makan tulisan. Ibu hanya mau menonton televisi, pikir gadis kecil.
Gadis kecil bosan. Dia lalu membuka lemari. Berharap ada tulisan yang bisa dimakan otaknya.
Ada buku, pikir gadis kecil bahagia, melihat buku-buku dongeng yang sudah lapuk dan tidak pernah dibaca. Gadis kecil berkenalan dengan bajang, peri, dan warga hutan.
Gadis kecil berharap ada di buku, bukan di dunia, karena itu dia membuat Crita.
*
Crita menemani gadis kecil berkenalan dengan alam semesta. Crita mengajak gadis kecil bertemu dengan si baik dan si jahat. Si cantik dan si jelek. Si tampan dan si buruk rupa. Si pemenang dan si pecundang.
Mata kiri dan mata kanan gadis kecil tak berhentinya memakan pemandangan-pemandangan yang diceritakan Crita. Gadis kecil sekarang mengerti dia apa.
Dia lalu melihat cermin.
Mata kiri memberitahukan gadis kecil bahwa ibu dan ayah adalah orang tua, dan mata kanan mengatakan bahwa gadis kecil adalah anak. Hubungan gadis kecil dan ayah ibu adalah orang tua-anak. Itu sebabnya gadis kecil mendapat perlakuan seperti ini.
Gadis kecil tidak merasa nyaman. Gadis kecil menjadi oposisi biner. Ternyata ayah ibu adalah penindas. Gadis kecil ternyata ditindas.
Gadis kecil sesekali mencicipi sampah-sampah yang ditelan otak ibu. Untung otak gadis kecil tidak suka, jadi otak mengais sisa-sisa sampah itu, masih ada saripati. Walau sedikit, otak gadis kecil menelan saripati. Dan rasanya lezat, karena gadis kecil sudah tidak bisa bertemu dengan kakak sebelah rumah.
*
Suatu ketika gadis kecil melukai tangan kanannya. Ada rasa sakit.
Tapi tiba-tiba Crita hilang.
Crita? Crita dimana? Tanya gadis kecil.
Crita tidak ada dimana-mana. Di ruangan hanya ada ibu yang tertidur dengan mata terbuka.
Crita tidak mungkin bersama ibu. Crita tidak suka makan sampah yang ditelan ibu.
Crita? Crita? Dimana kau?
Crita hilang. Crita tidak ada. Gadis kecil sedih.
Tapi rasa sakit masih tetap ada. Lalu dia berbicara.
Siapa? Tanya gadis kecil.
Rasa sakit itu lalu berkata.
“Nama saya Tanatos.”
*
Gadis kecil tidak suka Tanatos. Tanatos membuat gadis kecil tahu bahwa ia terluka. Tapi mata gadis kecil melihat tangan kiri dan tangan kanan. Ada oposisi biner, kata mereka.
Ada rasa sakit dan tidak sakit. Ada hidup dan mati.
Hidup dan mati? Gadis kecil bertanya.
Tanatos menjawab bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak terpisahkan. Jika ada yang hidup, maka harus ada yang mati.
Gadis kecil mulai berpikir. Dia lalu melihat ayah dan ibu. Jika orang tua-anak adalah oposisi biner, siapa yang harus hidup? Siapa yang harus mati?
Gadis kecil mulai berpikir dari apa yang dibacanya. Ada yang baik ada yang jahat. Ada anak yang baik, ada orang tua yang jahat. Gadis kecil tidak makan sampah, makanya gadis kecil tidak jahat. Tapi ayah ibu suka makan sampah. Otaknya seperti sampah. Mereka buruk. Gadis kecil yang baik. Jadi gadis kecil tidak boleh ditindas.
Tanatos, tanya gadis kecil, kenapa saya ditindas ayah dan ibu?
Tanatos menjawab singkat.
Mungkin karena ayah dan ibu tidak merasa menindas. Bagi mereka, ini tidak ada bedanya dengan kegiatan bernapas.
Gadis kecil memikirkan kata Tanatos.
Tanatos memperkenalkan gadis kecil pada hidup dan mati. Gadis kecil sekarang harus memilih.
Hari itu siang. Ayah dan ibu tidur siang. Ayah tidur dengan mata tertutup. Ibu tidur dengan mata terbuka. Otaknya masih memakan sampah.
Lalu gadis kecil akhirnya memutuskan. Dia tidak mau ditindas. Dia mau hidup.
*
Orang-orang menatap gadis kecil dengan heran.
Dia bisa mendengar telinga memakan kata-kata mereka.
Mereka heran kenapa gadis kecil, dengan tangan berlumuran darah, bisa tersenyum-senyum.
Mereka terheran-heran.
Gadis kecil memindahkan Tanatos ke ayah dan ibu. Dia berharap ibu dan ayah sekarang lebih menghargai hidup, dan tidak melulu menindasnya.
Saat ditanya, gadis kecil menjawab, dia tidak mau menjadi oposisi biner.
Gadis kecil tidak ingin ditindas.
Karena itu dia heran kenapa ayah dan ibu boleh menindasnya. Kenapa ayah dan ibu tidak memberi makan otak saya? Perut saya lapar, otak saya lapar, tapi ibu tidak memperkenalkan saya pada abjad dan angka. Saya tak mau ditindas. Ayah dan ibu jahat. Saya tak mau menjadi oposisi biner. Saya hanya tak mau ditindas.
*
Gadis kecil sekarang ada di tempat lain. Disini ia dikurung dengan teralis putih. Tapi gadis kecil tidak keberatan. Disini ada buku dan Crita.
Disini gadis kecil tidak pernah kelaparan, dan dia tidak kesepian karena ada Crita. Orang-orang bilang dia akan keluar nanti. Tapi gadis kecil tak peduli. Disini otak gadis kecil bisa makan sebanyak yang ia mau.
Gadis kecil bersyukur bertemu dengan Tanatos. Jika tidak, mungkin ia selamanya menjadi objek, bukan subjek.
Bandung, 20 Maret 2007
Popularity: 6% [?]
Tags: Cerpen







Leave a Reply