Google
 

Kepentingan Dollar AS Dibalik Isu Nuklir Iran

Calvin Michel Sidjaja on February 24th, 2007

Salah satu isu keamanan yang cukup mencolok sepanjang tahun 2004-2006 mungkin adalah internasionalisasi isu nuklir Iran. Amerika menuduh bahwa Iran hendak mengembangkan senjata nuklir yang dapat merubah keamanan kawasan. Sedangkan, Israel yang sampai sekarang dicurigai memiliki senjata nuklir tidak digubris sama sekali oleh Amerika.

Hal ini tentu berkaitan dengan keadaan dalam negeri Iran itu sendiri. Hubungan Iran dengan Amerika memburuk semenjak tahun 1979, karena perubahan konstitusi negara yang membuat seorang supreme leader memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Iran menjadi negara teokratis. Disini kita bisa menemukan kepentingan Amerika dalam bidang keamanan, khususnya timur tengah, dimana AS memiliki kepentingan untuk mengamankan suplai minyaknya yang melalui teluk persia. Instabilitas kawasan akan mempengaruhi arus suplai impor minyak mentah Amerika dari timur tengah, AS juga khawatir karena Iran dinilai sebagai negara berbahaya yang dapat menyerang negara lain dengan nuklir, setidaknya menurut George W. Bush.

Namun disisi lain, kita bisa memakai perspektif kepentingan ekonomi dalam melihat masalah ini, dan dalam hal ini, minyak bukan satu-satunya faktor paling berperan. Amerika membutuhkan minyak, tapi dia juga menginginkan agar dollar tetap berkuasa.
Pada tahun 2000, Saddam Hussein mengkonversi cadangan dollarnya ke Euro, dua bulan setelah AS menginvasi Irak, Program Oil for Food dihentikan, dan cadangan Irak dikembalikan ke Dollar. Pada tahun 2004, Iran mengumumkan untuk membentuk Bursa Minyak Iran dengan menggunakan euro sebagai nominalnya

Pada saat ini, 70 persen transaksi minyak di dunia menggunakan dollar. Hal ini juga bisa ditelusuri melalui sejarah, dimana pada tahun 1971 diciptakan Bretton Wood system yang menjadi pijakan hegemoni dollar dalam transaksi internasional. Seluruh pembayaran pada institusi-institusi Bretton Woods seperti IMF dan World Bank harus menggunakan dollar sebagai mata uang yang sah. Faktor ini juga didukung karena Amerika merupakan pemenang dari PD II dan satu-satunya negara yang tidak rusak oleh perang besar tersebut. Amerika pada dasarnya merasa terancam akan keberadaan bursa minyak berbasis Euro yang akan dibangun Teheran, melebihi bahaya nuklir itu sendiri. Amerika tidak memiliki kepentingan ekonomi secara langsung karena tidak memiliki hubungan dagang resmi dengan Iran.

Pada 16 Juni 2003 Iran mengumumkan bahwa mereka menuntut Euro sebagai alat pembayaran dalam transaksi kepada negara yang tergabung dalam Asian Clearing Union (Bangladesh, Burma, India, Iran, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka) walau dollar masih dipakai sebagai indikator harga minyak. Euro digunakan menggantikan dollar dalam ekspor minyak bumi Iran ke Eropa dan Asia.
Tahun 2004 Iran mengumumkan akan niatnya membangun bursa minyak Iran di Teheran yang diprediksi akan menjadi pesaing bagi Londons International Petroleum Exchange (IPE) dan New York Mercantile Exchange (NYMEX), dua bursa minyak yang dimiliki perusahaan Amerika.

Dengan didirikannya bursa minyak berbasis Euro, maka akan mengurangi hambatan yang dialami negara-negara yang sudah menggunakan euro sebagai alat transaksinya. Pembeli juga dihadapkan pada dua pilihan dalam membeli minyak, yakni yang ditawarkan IPE dan NYMEX yang seharga 50 dollar, dan minyak yang ditawarkan Bursa Teheran yang bisa berkisar 39-40 Euro.

OPEC sendiri menyambut positif akan perkembangan petroeuro. Javad Yarjani, eksekutif OPEC mengatakan pada tahun 2002 bahwa Euro akan dilirik sebagai alat pembayaran dalam OPEC jika Norwegia, dan Inggris telah menggunakan Euro sebagai mata uang mereka, dan jika terbukti bahwa Euro akan mengalami apresiasi dibandingkan dollar. Javad Yarjani menunjukkan keuntungan yang dapat diperoleh dengan penggunaan Euro dalam perdagangan minyak, yaitu mengecilnya risiko harga minyak dan risiko kurs yang positif bagi negara-negara pengimpor maupun pengekspor minyak.

Hal ini bisa menjelaskan kenapa terjadi perpecahan dalam dewan keamanan. Rusia danChina bersikap lebih lunak terhadap Iran, sedangkan Amerika bersikap sebaliknya. China National Offshore Oil Corp telah mengadakan kontrak sebesar 12 triliun euro (16 triliun dollar) untuk mengembangkan ladang minyak Northern Pars dengan Iran. Sanksi menjadi tidak efektif karena Rusia dan China tidak memiliki persepsi yang serupa dengan Amerika.

Pernyataan-pernyataan provokatif Ahmedinejad juga lebih baik tidak dianggap serius karena dia tidak mewakili suara Iran. Terdapat tiga kelompok yang memiliki pandangan berbeda dalam masalah nuklir iran.

Pertama adalah kelompok konfrontasionis, yang lebih memiliki sikap konfrontasi dengan AS dalam masalah nuklir. Kelompok ini memiliki sikap keras terhadap komunitas internasional dan tidak segan-segan memutuskan hubungan diplomatis ataupun menggunakan instrumen minyak untuk mencapainya, walau ini berarti membuat keadaan jadi lebih buruk. Ahmedinejad bisa dikategorikan dalam kelompok ini.

Kedua adalah kelompok yang cukup anti barat, namun memilih jalan diplomasi dalam kasus nuklir. Mereka meyakini jalan terbaik untuk kasus nuklir iran adalah mengikuti keinginan internasional, walau hak memiliki nuklir adalah mutlak. Ali Larijani dan Rafsanjani berada di kelompok ini.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang berpandangan bahwa kepemilikan senjata nuklir merugikan Iran, dan lebih baik dicegah untuk menghentikan kerugian potensial. Kelompok ketiga ini memiliki pengaruh yang tak terlalu signifikan, namun sudah mulai terlihat pengaruhnya dalam perkembangan terakhir. Mantan presiden Iran Mahmoud Khatami dan pemimpin tim negosiasi nuklir Iran, Hassan Rohwani bisa dikategorikan dalam kelompok ini.

Pada dasarnya, Ahmedinejad tidak memiliki kekuatan yang terlalu berarti di tubuh pemerintahan Iran. Dia membuat suatu sosok anti-barat karena memiliki motivasi untuk diakui sebagai kekuatan politik dalam negeri. Status presiden Iran sesungguhnya tidak memiliki kekuatan berarti dalam pemerintahan, karena yang berkuasa tetaplah Supreme Leader. Sikap konfrontantif Ahmedinejad dan pernyataan-pernyataan kerasnya akan Israel sesungguhnya diktritik oleh elitis Iran, bahwa dia telah melangkah terlalu jauh.
Yang harus dikhawatirkan oleh Amerika adalah pernyataan Davoud Danesh Jafari pada Desember 2006, bahwa Iran akan mulai mengurangi transaksi penjualan minyaknya dengan nominal dollar secara bertahap, dan meningatkan penggunaan Euro.

Secara cerdik, media tidak meliput isu ini diantara derasnya pemberitaan mengenai program nuklir Iran. Amerika berhasil menyembunyikan bahwa hegemoni dollarnya sedang terancam, dan Iran adalah ancaman paling serius yang dapat melakukannya. Pada tahun 1975, dollar menjadi 76% cadangan negara-negara anggota IMF, jumlah ini menurun menjadi 65% pada tahun 2005, dan diperkirakan, trend penurunan dollar akan terus terjadi kedepannya. Jika itu terjadi, Amerika harus memikirkan cara untuk membiayai defisit perdagangannya, perang Irak, pembiayaan pangkalan-pangkalan militernya di seluruh dunia, sebelum Amerika mengalami imperial overreach seperti emporium Roma.

Referensi:
The Real Reasons Why Iran is the Next Target: The Emerging Euro-denominated International Oil Marker

Popularity: 23% [?]

Tags: , , , ,

Related posts

Subscribe to this blog's RSS feed

Free Web Hosting

Your Ad Here