Google
 

Gerakan Kritisme Kekristenan Dalam Media

Calvin Michel Sidjaja on May 30th, 2007

Semenjak Da Vinci Code diterbitkan, tampaknya telah muncul sebuah aliran baru dalam genre film, sastra, dan novel abad ini, yakni kritisme terhadap kekristenan, salah satu agama tertua di muka bumi kita, dan dianut sekitar 2/3 populasi dunia.

Karya-karya ini umumnya menitikberatkan pada cerita mengenai fakta yang ditutupi gereja, seperti konsep historical Yesus, ataupun hermeneutika dalam simbol-simbol yang sudah ada.

Paling populer tentu saja Da Vinci Code, yang akhirnya melahirkan banyak klon dengan struktur penyampaian novel konspirasi. Tambahkan bumbu-bumbu penyedap seperti Priory of Sion, Morivingian Dynasty, lalu masukkan plot hole disana-sini untuk membuat best seller. Bisa dikatakan, ada trend untuk membuat novel konspirasi bertema hermeneutisme terhadap kekristenan.

Jika anda penggemar genre-genre semacam ini, atau seorang agnostik yang melihat berbagai agama dengan objektif, mungkin anda mau mencoba video game Shin Megami Tensei atau membaca novel His Dark Materials milik Phillip Pullman.

Shin Megami Tensei adalah salah game bertema occult yang dipublish pada tahun 1992 di SNES, dan pada tahun 2005, game ini diterjemahkan secara underdground oleh Aeon Genesis, 13 tahun semenjak perilisinnya. Ceritanya sendiri memusatkan pada situasi apokalipstik, dimana sebagai pemeran utama, pemain harus memutuskan menjadi messiah dan anti-messiah.

Tergantung pilihan pemain ingin berada di pihak mana, Chaos, Neutral, atau Law. Cerita game ini tergolong tidak biasa dan terlalu berani, sehingga belum tentu disukai oleh banyak orang, bahkan game ini secara eksplisit memasukkan YHVH dan Lucifer sebagai salah satu bos terakhirnya. Benar-benar mengejutkan, dan dapat dipahami kenapa game ini tidak pernah berhasil menembus pasar eropa dan Amerika yang memang didominasi oleh agama katolik dan kristen. (Jika anda mau memainkan game ini, anda lebih baik mengunjungi halaman ini untuk mendapatkan translasinya, dan halaman ini untuk mengunduh emulator SNES)

Namun sekali lagi, Shin Megami Tensei adalah game yang tidak diperuntukkan bagi casual gamer yang gemar dengan RPG konvensional seperti Final Fantasy, karena tingkat kesulitannya yang luar biasa tinggi. Saya sendiri sampai sekarang belum bisa menamatkannya karena merasa buntu. Namun jalan ceritanya yang luar biasa kreatif, menantang, dan menyegarkan, bisa menjadi pesona sendiri bagi anda.

Pada tiga hari terakhir, saya juga menghabiskan waktu untuk membaca trilogi His Dark Materials karya Phillip Pullman karena film-nya baru saja selesai dibuat, dan saya lebih memilih untuk membaca sebelum melihat film ini. Impresi saya adalah, novel ini memang cukup gelap dan suram untuk ukuran bacaan anak-anak, plot yang disampaikan terstruktur dengan rapi, walau terkadang deskprisi atmosfir novel bisa membuat bingung, namun semua itu tertutupi dengan alur cerita yang cukup kompleks, filosofis, dan sangat menantang gereja. His Dark Materials memusatkan tema bahwa manusia hendak menentang gereja dan surga. Ketimbang membuat Kerajaan Surga (Kingdom of Heaven), manusia lebih memilih untuk membuat Republik Surga (Republik of Heaven) yang lebih demokratis dan adil.

Jika anda sedang mencari bacaan atau games dengan cerita berbobot untuk mengisi waktu, saya menyarankan untuk mencoba His Dark Materials dan Shin Megami Tensei. Kedua-duanya bisa menambah dan memperluas cakrawala berpikir anda di tengah munculnya gerakan fundamentalis dan kekerasan atas nama agama.

Powered by ScribeFire.

Popularity: 13% [?]

Tags: , , , ,

Related posts

Subscribe to this blog's RSS feed

Free Web Hosting

Your Ad Here