Google
 

Indonesia Follows China: The Great Firewall and Sexuality Control

Calvin Michel Sidjaja on April 13th, 2008

Indonesia, just like China, just has recently begun its internet censorship. Unless you aware already, China actually has so-called “Great Firewall of China”, a jargon used to indicate the heavy censorship toward values that aren’t allowed by Communist Party.

Anyway, Indonesia also more or less, will start its own firewall. On 11 April 2008, Ministry of Communication and Informatic of Indonesia has asked google to remove content that are considered forbidden according to the perception of Indonesia’s government. Yes, please distinguish between civilians and government. Government has value that they want to force to be put on civillians, religion and sexuality control are the keywords.

This is after all, country with moslem majority, it wouldn’t be surprising if there democracy here, is still limited. Religion has been long issue and source of criticism because its perfect uselessness. Religion has been long time a tool of justification toward repression for most of people here. Let’s say for example, you’re agnostic, you’re good man and you want to marry with another agnostic person. Sadly my friend, it’s surrealistic dream. The law explicitly forbids and doesn’t acknowledge atheist or agnostic. In cultural root it is worse. Call yourself atheist or agnostic here, and there is good chance you will be considered as devil, satan or some lost lamb.

What about sexuality control? Well it’s also bad news, since Indonesia is patriarchal country, they always percept is woman is source of pornography. There is unclarity what is considered pornography and I doubt they will make plan to distinguish homo/hetero/pornography very soon. Sexuality, in my opinion, is personal matter, and I think government shouldn’t touch this area, it’s violation of private space if you ask me.

These conservatives, they all should living in asexual community. Is it too hard to accept fact that sexuality is a private thing? Instead to repress others with baseless value, why don’t they instead, control the content to protect possibility of child pornography and pedophilia? I think this is more important issue than sexuality control. Also you should noted that sexuality control itself, is amelioration of sexual repression. I don’t use the word sexual repression in this post the condition is much better in Indonesia compared to the woman in Arab.

_________

Salah satu yang menarik dari perkembangan internet di China adalah adanya penyensoran content yang bertentangan dengan nilai-nilai partai komunis China. Topik yang dianggap tabu di internet misalnya adalah Tiananmen 1989 dan Demokrasi. Pengguna internet, bahkan di warnet juga diminta untuk melakukan registrasi agar mereka bisa dilacak dan dapat diminta pertanggungjawaban saat mengakses atau menyuarakan protes kepada pemerintah China.

Keadaan itu mungkin akan kita rasakan kalau Soeharto masih memerintah kita sekarang. Pembatasan konten atas nama stabilitas, pemaksaan nilai dari elite kepada penduduknya.

Nah, ini perkembangan yang menjengkelkan dari internet Indonesia, seperti yang juga dibahas mas sigit. Menkominfo ternyata meminta Google untuk memblokir akses-akses situs yang dinyatakan terlarang oleh pemerintah Indonesia.

(11 April 2008)

Jakarta, 11/4/2008 (Kominfo-Newsroom) – Perusahaan layanan pencarian
data terbesar dunia, Google menyatakan bersedia bekerjasama dalam upaya
pemblokiran akses situs-situs yang dinyatakan dilarang oleh pemerintah
Indonesia.
“Google telah mengirimkan surat resminya
semalam (Kamis,10/4) yang ditujukan ke Menteri Kominfo,” ujar Menteri
Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh kepada pers, Jumat (11/4), usai
sholat di Masjid Al-Makmur Klender, Jakarta Timur.

Ada dua hal pokok kerjasama yang ditawarkan Google, pertama adalah
kesediaan untuk memblokir atau tidak mengizinkan siapapun mengakses
dari Indonesia situs-situs yang dinyatakan dilarang oleh pemerintah.

Kedua, Google juga menyatakan bersedia bekerjasama untuk melakukan
pemblokiran siapa saja yang akan mengunggah (upload) film atau
tayangan-tayangan berbentuk video yang melanggar peraturan perundangan
di Indonesia.
“Termasuk film Fitna yang telah mengiris hati umat Islam,” kata Menkominfo.
Sebelumnya,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (31/3), secara resmi telah
menyatakan pencekalan terhadap Geert Wilders, anggota parlemen Belanda
sekaligus pembuat film Fitna ke Indonesia.
“Presiden
juga secara resmi telah meminta film tersebut sebagai film terlarang,”
kata Menkominfo menambahkan. (T.tr/mul/toeb/b )

Untuk sementara ini mungkin kita bisa tidak peduli karena semua masalah ini toh hanya masalah film Fitna yang membuat marah umat muslim di seluruh dunia, tapi bagaimana kedepannya? Kita tidak pernah tahu.

Dikasih hati minta jantung, itu yang saya pikirkan. Pemblokiran situs internet atas nama film Fitna mungkin baru langkah awal dari penyensoran-nyensoran lain, karena kita tahu betapa tingginya moral pemerintah kita. Pada saat saya membaca artikel ini, ada dua hal yang terpikir di benak saya: agama dan seksualitas. Bukankah selama ini agama menjadi dasar untuk pengontrolan seksualitas penduduk negara ini? Kita boleh mendapat kebebasan informasi, tapi dalam masalah seksualitas, tampaknya kita harus dikontrol.

Mungkin pandangan ini didasari pada pemikiran “tingkat pemerkosaan berbanding lurus dengan jumlah pornografi”. Mungkinkah? Saya kurang tahu juga, tapi yang pasti pemerintah mau mengontrol seksualitas dan menjadikan penduduk negara ini bebas pornografi. Agak sulit dimengerti. Menurut saya hak mengeksplorasi seksualitas, pornografi, baik itu hetero/homo/pornografi adalah kebebasan tiap orang. Kalau tak mau tidak usah dilihat.

Daripada ribut-ribut mengenai pornografi, lebih baik pemerintah membuat undang-undang untuk membuat pembatasan konten pornografi itu sendiri, seperti pelarangan adanya konten child pornography. Menurut saya ini lebih konstruktif daripada melarang akses ke pornografi itu sendiri, karena itu adalah sesuatu yang tidak realistis. Perlukah seksualitas masyarakat dikontrol negara?

Perempuan-perempuan di negara Arab konservatif adalah contoh bagus kontrol seksualitas dari negara, anda tentu tahu perempuan-perempuan dinegara tersebut memakai cadar nyaris di seluruh tubuh supaya “aurat” mereka tidak dilihat oleh orang lain. Tapi tentu saja, itu kembali kepada mereka semua, apakah mereka merasa tertindas dengan kontrol tersebut? Apakah mereka merasa tertindas? Itu poin pentingnya. Kalau mereka bahagia dengan kontrol tersebut ya sudah tidak apa-apa. Saya memandang ini dari sudut pandang manusia biasa.

Begitu juga dengan orang-orang Indonesia. Ada sekelompok minoritas orang yang mendukung kontrol seksualitas terhadap penduduk negara ini, tapi saya sebagai orang normal, menentang keras kebijakan seperti ini. Jika mereka ingin hidup di masyarakat dengan seksualitas yang terkontrol, mendingan mereka hidup di lingkungan yang mendukung, bukan di negara Indonesia yang pola pemikiran sebagian penduduknya cukup moderat.

Tidak perlu memaksakan nilai yang menurut mereka benar kepada mayoritas, dan membuat oposisi biner seolah penduduk Indonesia adalah kumpulan orang-orang tak bermoral yang seksualitasnya harus dikontrol ketat.

Apakah kita akan bahagia dengan kontrol seperti ini? Tanyakan saja pada diri masing-masing. Apakah ini penindasan atau malah hal yang positif? Itu semua tergantung dari sudut pandang yang melihat.

_____

Popularity: 15% [?]

Tags: , ,

Related posts

Subscribe to this blog's RSS feed

Free Web Hosting

Your Ad Here

What is Complex Interdependence?

Calvin Michel Sidjaja on February 16th, 2008

On the past several weeks, I’ve been researching a little about complex interdependence for my thesis, that’s why I become so lazy to put anything international-relations-related. My brain was too busy to think whatever outside the thesis. Primarily, I proposed idea to analyze conflictual pattern of Japan-China relations in 2001-2007, but my professor said to […]

Popularity: 20% [?]

Continue Reading...

Drama Defisit Perdagangan AS

Calvin Michel Sidjaja on December 14th, 2007

Ekonomi AS sedang mengalami defisit perdagangan besar dengan China. Defisit perdagangan sendiri bisa diartikan sebagai kondisi dimana impor melebihi ekspor suatu negara. Pada saat ini, defisit perdagangan AS sudah� mencapai 230 Triliun dengan China pada tahun 2007.
Salah satu yang menjadi sumber permasalahan AS adalah murahnya nilai tukar Yuan pada Dollar, sehingga produk AS menjadi kalah […]

Popularity: 14% [?]

Continue Reading...

Aspek Sejarah Dalam Perpolitikan Asia Timur

Calvin Michel Sidjaja on August 26th, 2007

Kawasan Asia Timur memiliki tiga negara yang menjadi kekuatan ekonomi berpengaruh di dunia, yakni China, Korea Selatan, dan Jepang. Dalam hubungan ekonomi, ketiga negara memiliki interdependensi yang sangat tinggi. Jepang dan Korea Selatan menggunakan China sebagai basis produksi mikrokonduktor mereka, China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Jepang.
Namun salah satu yang paling menarik dari pola […]

Popularity: 21% [?]

Continue Reading...

Perang Irak dan Perang Dagang Amerika Serikat-China

Calvin Michel Sidjaja on May 9th, 2007

Ada supply, ada demand. Perekonomian Amerika sedang lesu saat ini,
khususnya karena menghadapi gempuran dari produk murah China.
Apresiasi mata uang tidak selalu berakibat positif. Jika mata uang terlalu kuat, masyarakat umumnya akan menjadi lebih gemar membeli produk impor, dan mengakibatkan kelesuan bagi produk lokal. Itu sebabnya bank sentral selalu berupaya menjaga agar mata uang negara mereka […]

Popularity: 20% [?]

Continue Reading...