Google
 

Cindy

Calvin Michel Sidjaja on October 18th, 2005

Cindy

 

I

Tahun ini. Pikirku. Akhirnya aku akan pergi tempat ini, tempat brengsek yang tak kubutuhkan beserta orang-orang tolol didalamnya.

Hari ini hatiku kesal luar biasa. Walau aku tahu kekesalan yang kurasakan itu hanyalah sebuah suntikan hormon yang akan hilang setelah beberapa waktu berlalu. Tapi aku tidak rela, aku tidak rela kemarahan itu hilang begitu saja. Mereka harus merasakannya, mereka.

Sudah berapa lama waktu berlalu semenjak kami berempat bertemu dan selalu bersama? Pikirku sambil memandangi koper yang sudah berisi baju dan barang-barang yang akan kubawa. Kupikir aku sudah menemukan itu, ternyata bukan. Mungkin itu ada di tempat lain. Bukan disini.

 

II

Aku bertemu dengan tiga itu orang tahun lalu.

Halo, sapa yang berambut panjang padaku. Aku harap kita berteman baik, katanya.

Sama-sama, kataku. Mulai hari ini kita akan jadi teman, aku melanjutkan. Apa kalian yang kucari selama ini? Aku bertanya dalam hati.

Lalu aku berkenalan dengan seorang lagi. Si kulit coklat. Dia juga mengatakan hal yang serupa seperti si rambut panjang. Dan dia selalu tersenyum untukku. Gadis terakhir, memiliki nama yang sama dengan para pelayan Tuhan. Kata-katanya tak jauh berbeda dengan yang lain.

Dan hati kecilku berbisik, akhirnya kamu menemukan yang kamu cari.

….

…Benarkah?

III

Tahun ini aku menyambut usiaku yang berkepala dua. Tinggal seminggu dari hari ulangtahunku, dan semakin dekat hari itu, semakin aku merasa dunia dan teman itu adalah suatu yang brengsek yang tak mungkin ditemukan.

Senyuman dan tawa yang kami lalui itu palsu, aku menuduh mereka dalam hati. Kenangan-kenangan manis dan indah yang kami buat itu hanyalah ilusi bohong yang akan segera dilupakan otak.

Mereka bertiga brengsek, pikirku. Mereka tidak ingin aku ada, itu sebabnya aku ditiadakan. Buat saja aku menjadi tembok! Buat saja aku menjadi batu di jalan! Teriakku dalam hati saat tidak bersama mereka.

Aku marah. Marah pada fakta bahwa aku membutuhkan mereka, fakta bahwa aku tak bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Aku menyalahkan diriku karena aku bergantung pada mereka. Aku tak ingin ditinggal, tunggu aku! Aku berteriak pada bayangan mereka bertiga yang berjalan tanpaku.

Aku lalu mulai berpikir. Mereka bukan yang kucari, mereka bukan itu. Aku akan mencari itu ditempat lain, pikirku.

 

IV

Sudah tiga hari kami tidak bertemu. Biarkan saja, toh aku tidak dibutuhkan. Untuk apa mencari orang yang bahkan tidak menganggapmu tidak ada?

Lalu telepon genggamku berdering. Aku mengambilnya dari meja dan menjawab panggilan itu. Kudengar suara familiar yang tidak dimiliki salah satu dari mereka bertiga.

Mau apa kau. Aku bertanya pada si penelpon.

Apa kau marah kepada mereka? Tanya si pemilik suara di ujung telepon.

Tidak, untuk apa marah jika tidak kesal? Aku menjawab.

Lalu kenapa kau menutup diri, dia bertanya padaku.

Kau jangan berkata bodoh, aku tidak pernah menutup diri karena aku tak pernah membuka diriku di hadapan mereka,  aku menjawab dengan kesal.

Kau yang bodoh, kata suara di telepon.

Apa maksudmu? Aku bertanya.

Kau meraskan marah dan kebencian kan?

Jangan ngomong seenaknya— Suara itu memotong kata-kataku.

Kau tolol, kau paradoks. Kau membenci mereka karena kau menyayangi mereka. Kau pikir kenapa manusia marah pada seseorang? Itu karena mereka ingin merubah orang yang mereka sayangi dengan cara tolol.

Aku terdiam. Paradoks, katamu?

Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Dia melanjutkan pertanyaannya.

Aku mau pergi, aku akan meninggalkan tempat brengsek yang penuh mimpi ini. Aku akan meninggalkan mereka untuk mencari yang ingin kucari, jawabku dengan kesal.

Itu… jangan tolol. Bukankah kau sudah menemukan itu disini?

Itu sudah keputusanku, kau tak berhak untuk mengomentari tindakanku. Selamat malam dan terimakasih atas tips brengsekmu.

Aku mematikan telepon genggamku.

Menunggu empat hari saja lama sekali.

 

V

Buat saja aku tak ada bedanya dengan udara di sekitarmu, pikirku sambil menghindari tegur sapa basa-basi yang melambai di sekitarku. Aku tak butuh itu semua, realitas palsu.

Kami akan menunggumu di pintu gerbang, kata si rambut panjang.

Hmph, dengusku mendengar pernyataan retoris itu.

Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu ditunggu, kataku.

Kenapa kau berkata begitu? Kata si kulit coklat. Apa kau marah pada kami?

Tidak, untuk apa marah jika tak ada alasan untuk memulai kekesalan?

Kau jangan berkata begitu, bukankah kita sah— aku memotong kata-kata temanku yang namanya sama dengan pelayan Tuhan.

Pikirlah yang ingin kau pikir. Selamat siang.

Tiga hari. Lama sekali untuk menunggu pergi dari sini. Aku lalu berjalan menuju pintu gerbang itu sendiri. Mereka bertiga berdiri di belakang, melihat punggungku menjauh dari hadapan mereka. Menyedihkan, pikirku. Aku bisa berjalan sendiri, tanpa kalian bertiga.

Lalu telepon genggamku berdering.

Halo?

Kenapa kau ingin  untuk berdiri sendiri? Tanya suara di telepon.

Aku tersenyum sinis, agar kau tak perlu jatuh saat yang lain jatuh. Aku langsung mematikan telepon genggam itu. Dan melangkah ke tangga. Dua hari lagi aku akan pergi dan kembali mencari itu, yang dulu kucari dan kukira kutemukan disini.

 

VI

Sebentar lagi kau akan merayakan hari terpentingmu, apa yang kau inginkan? Tanya si rambut panjang padaku suatu kali, saat kami bertemu di suatu tempat makan.

Kami akan mempersiapkannya,  yang paling kau sukai, tambah si kulit coklat.

Tidak usah. Aku menjawab. Dua kata sudah cukup untuk membuat mereka diam. Keinginanku cuma satu. Anggap saja aku tak akan ulang tahun, kataku sambil meninggalkan mereka.

Tunggu! Teriak suara si pemilik nama yang sama dengan pelayan Tuhan.

Kenapa kau begitu pada kami? Apa kami salah sesuatu padamu?

Tidak, aku menjawab. Kalian tidak pernah salah padaku. Begitu pula aku pada kalian. Pikirkanlah apa yang ingin kalian pikir, dan tidak usah menanyakan pertanyaan sama terus menerus.

Satu hari.

Telepon genggamku berbunyi lagi.

Halo.

Kau akan pergi besok? Mencari apa yang belum kau temukan? Kata suara di telepon.

Tentu. Yang kucari tidak ada disini. Itu ada di tempat lain, jawabku.

Kau memang bodoh.

Apa?

Apa kau tidak tahu, yang kau cari tidak dapat ditemukan, karena kau harus membuatnya. Carilah ke seluruh ujung dunia. Dan aku akan senang jika kau bisa menemukannya tanpa membuatnya terlebih dahulu.

Tutup saja mulutmu. Jangan absurd. Aku yakin aku bisa menemukan itu di tempat lain, hardikku di telepon.

Kau bodoh dan akan selalu bodoh. Ingat kata-kataku, seorang sah— aku memotong kalimat itu dengan mematikan telepon genggamku. Besok, aku akan pergi dari sini. Tahun ini.

 

VII

Akhirnya hari ini datang juga.

Aku membawa koperku menuju tempat keberangkatan. Semua orang mengiringi kepergianku. Dan mereka bertiga juga.

Kenapa menangis untukku? Simpan air matamu, pada si rambut panjang.

Ini hari ulang tahunku, dan hari kepergianku. Jadikan ini hari terbagus untuk kalian, karena aku akan segera menghilang.

Kami punya kado untukmu, kata si kulit coklat.

Tidak perlu, jawabku langsung.

Tidak akan kami beri padamu sekarang, tambah si pemilik nama yang sama dengan pelayan Tuhan.

Apa? Pernyataan retoris yang aneh. Untuk apa kau mengatakan itu padaku?

Kami hanya ingin mengatakan, kadomu ada di tempat pertama kali kita bertemu. Kau bisa mengambilnya kapan saja kau ingin melihatnya, dia melanjutkan.

Tidak akan, aku tak butuh kado dari kalian. Selamat tinggal.

Lalu aku pergi dari tempat itu, mencari yang selalu kucari selama ini.

 

VIII

Sudah berapa lama waktu berlalu? Aku mencari dan terus mencari, namun aku tidak berhasil mendapatkannya. Hatiku diliputi keraguan. Adakah itu di dunia ini? Aku bertanya. Aku pergi ke berbagai tempat, bertemu berbagai orang, dan aku masih tidak bisa menemukannya. Aku menjadi kesal pada diriku sendiri. Dimana itu, yang kucari selama ini!

Aku tak tahan lagi untuk berdiri sendiri, dan akhirnya aku menangis.

Brengsek, brengsek, dan brengsek. Aku benci air mata. Pada saat yang bersamaan, telepon genggamku berbunyi.

H-Halo?

Ini aku, suara itu, suara si rambut panjang.

Apa kau baik-baik saja? Kenapa suaramu parau?

T-tidak apa-apa, aku… aku sedang tidak enak badan saja, jawabku.

Sungguh?

Bibirku nyaris menjawab “tidak”, tapi sebaliknya, aku berkata “ya.”

Apa kau berhasil  menemukan yang kau cari?

Pertanyaan bagus. Kenapa kau menanyakan itu padaku?

Karena kami ingin kau mengambil kadomu jika kau tak berhasil menemukannya.

Kadoku? Kado yang kalian berikan itu? Kenapa kalian masih mengingatnya?

Karena kami tidak ingin kau lupa bahwa kau punya kado yang sedang menunggu untuk diambil, dia menjawab.

Telepon genggamku mati.

Hadiah ulang tahun yang terlupakan. Tahun lalu.

 

 

IX

Tempat ini, tempat kita pertamakali bertemu…

Daun-daun di pohon itu menari-menari menyambutku. Bebungaan berwarna-warni disekelilingku seakan menyanyi karena kedatanganku.

Dimana kado itu? Aku bertanya dalam hati.

Tak ada kotak apapun disini. Apa mereka menyembunyikannya di antara bunga rumput dan pohon-pohon?

Aku menggali tanah-tanah disini dengan kedua tanganku. Aku menggali, menggali, dan terus menggali. Dimana kado itu? Dimana?

Akhirnya beberapa jam telah berlalu, dan akupun kelelahan.

Tidak ada apa-apa. Apa mereka membohongiku?

Kau mencari apa? Sapa suara familiar di sampingku.

Kursi, seseorang duduk disana. Aku bisa melihat dia, yang mengatakan diriku paradoks.

Aku mencari kado yang disembunyikan teman-temanku, jawabku.

Dia melihatku dengan pandangan bingung. Mencari kado? Untuk apa kau mencarinya?

Karena mereka menyembunyikannya.

Bodoh, kau mencari hal yang sudah ada didepan matamu. Lihat kebelakang, perintahnya padaku.

Aku menoleh ke kursi di belakangku yang tak kusadari ada disana semenjak aku mencari kado itu. Si kulit coklat, si rambut panjang, dan si pemilik nama yang sama dengan pelayan Tuhan.

Hai, sapa suara si kulit coklat.

Kalian, semenjak kapan disini? Aku bertanya.

Semenjak kau datang dan menggali tanah-tanah itu, kata si rambut panjang.

Apa yang kau cari di tanah? Tanya pemilik suara yang memiliki nama sama dengan pelayan Tuhan.

Bukankah kalian menyembunyikan kado untukku? Tanyaku pada mereka.

Mereka lalu berdiri dan berjalan ke arahku.

Kau memang bodoh. Kami tak pernah menyembunyikan diri, kata si rambut panjang sambil memelukku.

Sahabat tidak perlu dicari. Mereka ada didepan matamu, kata si kulit coklat ikut memelukku.

Tidak perlu kau cari di ujung dunia, di tanah maupun dimana-mana, kami sebuah ada di sebelahmu, kata pemilik suara yang memiliki nama sama dengan pelayan Tuhan.

A-apa maksudnya? Aku tak tahu kenapa, tapi air mataku menetes. Kenapa? Kenapa ada perasan ini…

Selamat ulang tahun. Kami sayang padamu, kata mereka bertiga.

 

Aku memang bodoh. Aku mencari yang selama ini di depan mataku. Pantaslah aku tidak menemukannya dimana-mana. Tidak perlu mencari, persahabatan diciptakan. Kau sudah memilikinya tanpa mencari ke tempat lain.

Mataku basah oleh air mata. Bibirku pun akhirnya bergerak.

Akhirnya kutemukan kado itu.

Aku sayang kalian juga.

 

Bandung, 18 Oktober 2005

 

 

Popularity: 4% [?]

Tags:

Related posts

Subscribe to this blog's RSS feed

Free Web Hosting

~Sajak-Sajak Bibir Bunga~

Calvin Michel Sidjaja on September 14th, 2005

~Sajak-Sajak Bibir Bunga~
…Yang lebih indah dari mawar merah…
 
~Sajak Pertama: Acacia, Tarian Anggrek dan Kupu-Kupu~
Pada saat kamu lahir, ayah berpikir bahwa kamu pasti memiliki suara seperti malaikat, pastilah suaramu akan seperti nyanyian surgawi. Begitulah kata ayah kepadaku suatu kali, di rumah kami yang dikelilingi pohon cemara dan lautan bunga mawar. Ayah sering mengatakan bahwa dia sangat [...]

Popularity: 6% [?]

Continue Reading...

…Mimpi-Mimpi Bintang Cassiopeia

Calvin Michel Sidjaja on June 8th, 2005

…Mimpi-Mimpi Bintang Cassiopeia

Mimpi Kesatu ~ Tatapan Cinta si Gadis Berambut Panjang ~
Siang hari itu langit secerah biasanya, sebiru laut yang selalu kuingat dan dihiasi oleh awan-awan berwarna putih. Aku menatap jendela di sebelah kiri ruangan dan melihat lukisan-lukisan yang menghiasi langit siang melalui pigura kecil itu.
Membosankan, pikirku sambil mengamati jam, berharap waktu yang menjemukan ini [...]

Popularity: 3% [?]

Continue Reading...

~Di Sepinya Dunia~

Calvin Michel Sidjaja on April 18th, 2005

~Di Sepinya Dunia~

Aku mengguling-gulingkan badanku di kasur. Hari ini begitu menjenuhkan, dan seperti biasa, aku tidak tahu harus pergi kemana. Namaku Sherry, dan sudah beberapa waktu aku mengalami perasaan jemu dan kemuakan yang luar biasa pada hidupku.
Kelulusanku dari SMU lantas membuat orang tuaku cukup bergembira karena nilaiku termasuk tinggi untuk ukuran rata-rata. Mereka [...]

Popularity: 5% [?]

Continue Reading...

Anjing Berkaki Dua

Calvin Michel Sidjaja on January 4th, 2005

Anjing Berkaki Dua

~Untuk seorang gadis yang tak pernah kukenal~

Gadis itu sekarang lebih suka mengurung diri di gubuk reot. Gubuk yang tak jauh dari rumahnya sederhana. Tempat yang dinamakan gudang oleh orang-orang sekitarnya.
Dia menundukkan mukanya. Mukanya yang berparas manis dan cantik. Usia gadis itu masih 16. Usia dimana dia masih bisa bersenang-senang, usia dimana [...]

Popularity: 4% [?]

Continue Reading...