Selamat Ulang Tahun Ke-63, Indonesia

By Calvin Michel Sidjaja | Aug 17, 2008
   Show Original   
Selamat ulang tahun yang ke-63 Indonesia tercinta! Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, ini kesempatan baik untuk mengposting sesuatu yang berbau nasionalisme karena ini hari kemerdekaan kita.

Di usia yang ke-63 ini Indonesia jauh dari kata sejahtera. Kebangaan sebagai penduduk negara ini merosot, dan yang aneh, orang-orang malu karena imej “negara terkorup di dunia padahal penduduknya muslim terbesar dan salah satu negara yang paling religius”. Keberadaan departmen agama yang mengontrol keberadaan agama di Indonesia juga menambah ironi ini karena mereka juga adalah salah satu departmen terkorup di Indonesia (apa mereka berdoa dulu sebelum korupsi?).

Nah mari kita taruh sejenak hal-hal jelek mengenai Indonesia. Ingat, budaya korupsi, korupsi dalam tubuh pemerintahan bukanlah kesalahan kita, tapi kesalahan pemerintah.

Mereka memiliki akses ke uang rakyat, kesalahan merekalah yang membuat kita citra jadi jelek, bukan kita. Sebenarnya kita malu bukan karena kesalahan kita, tapi kesalahan pemerintah, tapi gawatnya, seakan-akan seluruh orang disini mendapat citra sebagai koruptor.

Saya rasa tidak demikian, apakah anda koruptor? Apakah anda dengan sengaja mencuri uang rakyat? Saya rasa tidak seluruh orang disini kotor, ada orang-orang yang mau merubah diri sendiri agar bisa merubah orang lain dan negara.

Jika kita berbicara mengenai Indonesia dan krisis kepercayaan diri, tidak lengkap rasanya membuka diskusi mengenai “apa kebanggaan anda sebagai orang Indonesia?”. Jawaban tiap orang bisa beragam, yang paling umum mungkin adalah “keberagaman” dan juga “makanan”. Tapi pilihan saya jatuh ke…

“Bahasa Indonsia”. Ya, di waktu luang saya suka membaca artikel-artikel mengenai bahasa di internet, saya memiliki ketertarikan pada sosiolinguistik dan bagaimana bahasa dan masyarakat saing mempengeruhi satu sama lain.

Bahasa Indonesia memiliki sejarah yang unik sampai akhirnya menjadi bahasa ibu kita. Bahasa Indonesia pada dasarnya adalah rumpun dari bahasa melayu, dan menjadi lingua franca di Hindia Belanda pada jaman kolonialisme.

Menarik juga membayangkan proses transformasi bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, karena kalau mau, bapak pendiri negara ini bisa memilih bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Tapi untungnya hal tersebut tidak dilakukan, karena mungkin melegitimasi dominasi budaya Jawa di Indonesia.

Kenapa bahasa Indonesia merupakan identitas terunik kita? Karena pada dasarnya bangsa Indonesia itu sebelumnya tidak ada, negara kita terdiri dari berbagai suku yang memiliki latar belakang dan bahasa berbeda-beda. Tapi keunikannya, kita semua disatukan oleh satu bahasa ibu yang sama, yakni bahasa Indonesia.

Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan rumpun bahasa melayu, namun perkembangan sejarah kolonial yang berbeda membuat bahasa Indonesia memiliki identitas dan ciri khas sendiri yang tidak ada di masa melayu yang dipakai malaysia. Kenapa kita harus bangga menjadi penutur bahasa Indonesia? Tentu saja karena jumlah penutur bahasa Indonesia merupakan terbesar di ASEAN.

Pernah seorang Thailand mengatakan dalam acara summer course yang saya ikuti tempo hari bahwa bahasa Indonesia berpotensi menjadi lingua franca ASEAN. Dia mengatakan sebenarnya dia tidak bisa membedakan apa bedanya bahasa melayu dan bahasa Indonesia. Cukup logis, mengingat bahasa melayu dituturkan di Malaysia, Singapura, Timor Timur, dan Brunei Darussalam. Andaikan ada upaya standarisasi bahasa oleh dewan regulator masing-masing negara, mungkin ke depannya kita bisa berkomunikasi lebih mudah dengan tetangga kita.

Diplomasi bahasa adalah salah satu bagian dari hegemoni intelektual. Simbol dominasi kultur tertentu bisa dilihat dari penggunaan bahasa oleh penduduk suatu negara. Pada periode ini, kita bisa melihat Amerika sebagai negara yang mendominasi kultur.

Di Indonesia kita bisa menemukan banyak sekali orang-orang yang lebih suka berbicara Indonenglish (menyelipkan bahasa inggris di tengah berbicara bahasa Indonesia, meme yang paling populer tentu Cinta Laura Kiehl), atau lebih memilih bahasa Inggris sewaktu berkomunikasi dengan penutur bahasa Indonesia lainnya.

Tapi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu pun memiliki dampak negatif, salah satunya adalah lunturnya penggunaan bahasa daerah dan tulisan non-latin milik Indonesia. Kita tentunya masih mengingat sistem tulisan Pallawa (Bugis), Hanaracaka (Jawa), Carakan (Bali).

Sekarang, hanya sedikit orang yang tertarik mempelajari sistem tulisan kuno tersebut. Minat pada paleografi sangat rendah. Karena kita tidak bisa bergantung pada pemerintah untuk melakukan renaisans kultur, saya rasa itu semua harus kembali pada pribadi masing-masing. Apakah anda menyukai kultur Indonesia? Apakah anda ingin menjaga kelestarian bahasa yang sudah mau punah karena dominasi bahasa Indonesia?

India sudah melakukan renaisans dengan membuat bahasa Sansakerta menjadi bahasa nasional mereka. Di mesir, bahasa yang terancam punah adalah bahasa Koptik, penutur bahasa koptik di dunia ini kurang dari 300, hal ini terjadi karena dominasi bahasa arab.

Bahasa Ibrani juga memiliki sejarah unik, karena sebelum negara Israel didirikan, bahasa Ibrani hanya berfungsi sebagai bahasa tulis. Selama berabad-abad bahasa Ibrani hanya berfungsi sebagai tulisan, namun tiba-tiba bangkit menjadi bahasa ibu untuk memberikan identitas pada orang-orang keturunan Yahudi.

Saya sendiri secara pribadi menjadi tertarik mempelajari sistem tulisan kuno karena kehilangan dua bahasa ibu dari keluarga saya, yakni bahasa Belanda (dari keluarga mama) dan bahasa Hokkien (dari keluarga papa) karena pada jaman Soeharto, penggunaan bahasa tersebut “tidak dianjurkan”.

Tapi sekali lagi, saya kehilangan dua bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi tersebut bahkan sebelum saya memilikinya, jadi tidak masalah. Saya tumbuh menjadi orang yang tidak terikat pada kultur tertentu dan menjadi senofil (menyukai budaya di luar budaya sendiri).

Jika ada orang bertanya, apa yang paling kamu banggakan dari Indonesia? Saya akan menjawab “Bahasa Indonesia”, karena bahasa ini telah menyatukan 200 juta penduduk dari latar belakang bahasa dan kultur yang berbeda-beda di negara kita tercinta. ;)

Selamat ulang tahun ke-63, Indonesia!

Popularity: 17% [?]

Tags: , , ,

Related posts

4 Comments so far
  1. Tephy August 19, 2008 9:33 am

    Pippppppiiiin!!!!

    Sori gw OOT tapi gw mau request!!!! Tutorial bikin blog pake domain sendiriii! Kabulkan!

  2. Calvin Michel Sidjaja August 19, 2008 1:06 pm

    OOT abis loe teph, padahal ada yang namanya shoutbox tuh di kanan sono.

    gw akan coba bikin, tapi ga janji ya dalam waktu sangat cepat ya, soalnya gw lagi nulis hal lain.

  3. hapsarisekaradi August 19, 2008 4:47 pm

    Saya juga cinta dan bangga sama Bahasa Indonesia. Apalagi setelah baca buku penulis-penulis Indonesia seperti GM dan SGA, romantis-in a way-hahahahahaha.

  4. D.K November 25, 2008 11:27 am

    auk deh, gak tau lagi apa yang kubanggakan sebagai bangsa indonesia semuanya sudah samar2, bisa jadi aku sepakat dengan anda yaitu bahasa indonesia. karena sampai sekarang saya masih berbicara dengan bahasa indonesia dengan kawan-kawan semua :) jadi saya masih seorang Indonesia.

    saya salut dengan nasionalisme dan pemikiran anda

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes