Google
 

Selamat Ulang Tahun ke-62, Indonesia

Calvin Michel Sidjaja on August 17th, 2007

Tak terasa republik ini sudah berumur 62 tahun. Jika dibandingkan negara-negara lain, tentu umur negara kita masih sangat� muda. Kita masih berada dalam masa transisi dari negara otoritarian menuju negara demokrasi, sehingga wajar saja jika masalah yang kita hadapi tampak banyak sekali.

Yang perlu kita diskusikan mungkin mengenai rasa patriotisme warga negara terhadap negara ini. Saya pernah diceritakan oleh famili saya, mengenai patriotisme negara Amerika. Semenjak masih kecil, anak-anak selalu berdoa sebelum memulai pelajaran kepada lambang negara dan bendera amerika, sehingga menimbulkan patriotisme dalam diri mereka. Yang lebih hebat lagi, famili saya yang anaknya masih kecil ini sempat merasa bingung akan nasionalisme-nya karena dia memanggil dirinya seorang Amerika.

Apa mungkin hal ini disebabkan karena pemerintah Amerika yang secara efektif menyatukan rakyatnya melalui ketakutan? Pada umumnya, orang-orang bersatu jika memiliki musuh bersama. Dalam konteks Amerika, pemerintah membuat orang Amerika merasa ketakutan dengan terorisme, sehingga menimbulkan patriotisme yang sangat tinggi.

Saya tidak tahu apakah cara tersebut lebih baik diterapkan pada negara kita atau tidak. Saya sudah cukup kenyang mendengar opini bahwa nasionalisme kita sangat rendah. Banyak dari orang Indonesia bahkan merasa malu memiliki identitas sebagai warga negara Indonesia. Tapi sekali lagi, tanya kenapa. Saya sendiri mencintai negara Indonesia, dan saya senang memiliki identitas sebagai warga negara Indonesia, setidaknya itu memberikan saya identitas unik di tengah masyarakat yang semakin terglobalisasi. Namun saya sangat merasa malu dengan perilaku kleptokrat di pemerintah yang sangat elitis dan membuat negara kita seperti negara lemah (weak state).

Namun tentu saja tidak adil jika menyalahkan birokrat terus menerus, menurut saya jika kita ingin berubah jadi negara kuat, kita harus merubah diri sendiri terlebih dahulu, lalu mengubah orang lain, dan perlahan-lahan mengubah negara ini. Itulah yang sekarang sedang saya lakukan dan akan saya tetap lakukan, karena saya cinta negara ini. Merdeka!

Popularity: 7% [?]

Tags:

Related posts

3 Responses to “Selamat Ulang Tahun ke-62, Indonesia”

  1. Setelah menonton Padamu Negeri di Metro TV mengenai topik kemerdekaan ini, saya baru ngeh kenapa semangat nasionalisme saya sangat buruk.

    Dalam acara itu, Anies Baswedan, Rektor Univ.Paramadina, mengatakan bahwa acara peringatan kemerdekaan, kemenangan timnas RI di Piala Asia memang terbukti meningkatkan gairah kebangsaan kita. Tapi ingat, itu hanya sesaat. Simbolisme nasionalisme tidak akan bertahan lama apabila tidak ditopang dengan fondasi ekonomi dan politik yang bagus. Kesejahteraan rakyat intinya.

    Mau peringatan kemerdekaan beratus-ratus kali dilakukan, Timnas RI menang di Piala Dunia, tetap akan muncul isu disintegrasi apabila perilaku birokrat yang korup dan bodoh. Pemerintah daerah merasa tidak diperdulikan oleh pusat. Kemana semua DAU? Papua dan Aceh masih melarat. Apa makna kemerdekaan apabila 60 juta rakyat Indonesia masih belum bisa beli beras?

    Saya kira birokrat memang perlu dipersalahkan. Kita harus mengingatkan mereka terus-menerus. Karena keadaan kita akan bergantung pada satu kata: POLICY!

  2. @verdinand
    hmm bagaimana yah verdinand, birokrat memang layak dipersalahkan karena merekalah yang menentukan arah kemana negeri ini menuju, dan sialnya, kita sebagai warga negara biasa tidak (atau belum) menjadi bagian dalam decision making process kebijakan negara kita.

    Saya sendiri agak susah2 gampang jika mau menyudutkan birokrat, karena menurut saya, sangatlah gampang jika kita mencaci maki, namun bagaimana kalau kita sendiri menjadi bagian dari birokrat itu dan mau berusaha melawan sistem yang sudah berjalan selama 62 tahun? Saya rasa tak akan gampang.

    Saya pernah mengdiskusikan ini dengan beberapa teman sesama mahasiswa HI, dan mereka setuju, mungkin karena budaya timur yang mengedepankan “kekitaan”, individu2 yang mau merubah pemerintah juga menjadi terhalang karena mereka hanyalah setitik noda debu dalam roda sistem.

    Oh ya, satu hal yang menarik didiskusikan, kenapa publik umumnya menggunakan kata “bangsa Indonesia”? Kalau yang saya tangkap, kata bangsa (nation), adalah sekumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan sejarah, kultur, fisik, dan kalau tidak salah ingat, identik dengan homogenitas. Entah kenapa saya merasa kata “bangsa Indonesia” mulai harus dipertanyakan konteks penggunaannya, karena kalau ditilik dari sejarah, “Indonesia” adalah nama yang dipakai untuk menyatukan teritori negara yang terpisahkan oleh lautan ini. Tapi untuk menyebut kata “bangsa”, saya mulai merasa hal tersebut agak aneh, karena Indonesia terlalu heterogen dengan suku-suku yang beraneka ragam, dan hanya memiliki bahasa Indonesia sebagai penyatunya (yang sebenarnya merupakan rumpun bahasa melayu).

    Mungkin saya saja yang agak sok-sok kritis mengenai kata “bangsa Indonesia”, tapi entah kenapa mau tak mau saya mulai mempertanyakannya. Adakah yang namanya “bangsa Indonesia?”

  3. Setuju deh!

    Emang sering terasa generalisasi yang berlebihan dalam beberapa statement gw.

    Hidup Bangsa Indonesia!
    (kalo ini boleh lahh..haha)

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>