Opinion

Sejarah Orang Indo di Indonesia

Photobucket(to english reader: this is translation of this article)

Beberapa waktu ini saya memulai lagi membaca literatur mengenai eurasia dan orang Indo di Hindia Belanda.

Seperti yang saya tulis di artikel terkait mengenai eurasia, saya sedang mengadakan penelitian pribadi mengenai Indo di Hindia Belanda untuk memuaskan rasa penasaran. Nyaris semua saudara dari oma saya telah meninggal. Yang tertua sedang hidup di Belanda, dan mengalami kepikunan karena usia lanjut. Anaknya (sepupu mama saya) tidak terlalu tahu tentang sejarah keluarga kami, sekarang saya satu-satunya yang mau menginvestigasi.

Kakak saya ada rencana untuk studi ke Belanda, tapi tidak dalam waktu dekat, dan saya benar-benar khawatir kalau saya akan kehilangan sumber informasi terakhir. Teman saya mengatakan hal menarik, gereja di eropa mengdokumentasikan semua catatan pernikahan di masa lampau, artinya orang-orang bisa menyelidiki catatan keluarga mereka sampai 300 tahun yang lalu. Ini berita baik dan berita buruk, karena nama keluaga belanda saya, de Wilde adalah nama yang sangat pasaran di eropa, bisa dibandingkan dengan nama Li, Tan, Wu, Wang atau Smith.

Bulan lalu saya membaca jurnal dengan titel “The Eurasian Minority in Indonesia”, ditulis oleh Justus M. Van Der Kroef, pertama kali ditulis di American Sociological Review. Artikelnya berjumlah 10 halaman, mungkin akan membosankan untuk banyak orang, tapi sangat berguna bagi orang-orang yang berminat pada sosiologi dan eurasia. Artikel ini menjabarkan hidup minoritas eurasian sampai pada 1949.

Masa Kolonial: Kurangnya Data
Sang penulis mengatakan bahwa masalah keberadaan orang Indo adalah kurangnya data. Tidak ada data tepat akan populasi orang eurasia. Pada 1854 9,000 dari 18,000 orang eropa di jawa memiliki “warna kulit khusus”, dan 5,600 orang yang tidak memiliki sifat seperti ini juga dianggap eurasia. Secara hukum, orang eropa menganggap orang eurasia sebagai orang eropa. Hal ini akan menjadi kompleks saat orang eurasia menikah dengan penduduk lokal Indonesia, dan keturunan mereka dianggap sebagai penduduk lokal. Pada 1941, diperkirakan jumlah eurasia sekitar 300,000, dan ada sekitar 8-9 juta orang yang memiliki keturunan eropa.

Bahkan sebelum orang Belanda datang, telah ada orang Eurasia portugis yang datang dari Bengal, India. Ada juga orang Filipino spanyol. Orang-orang eurasia tersebut nantinya akan ditangkapi orang belanda sebagai budak, pedagang, karena mereka dianggap lebih baik dibandingkan orang lokal.

Pada 1617, orang kulit putih dilarang untuk menikah dengan orang lokal, atau mereka mengambil resiko terbuang dari masyarakat, dan nantinya ini akan diperpanjang ke kaum eurasia., Pada abad ke-19, diskriminasi terhadap orang Eurasia meningkat. Status orang eropa harus “dibuktikan”, kebanyakan bekerja sebagai PNS kelas bawah.

Diskriminasi Orang Belanda terhadap Orang Indo
Fasilitas pendidikan untuk eurasia sedikit, dan sedikit yang mendapat pelatihan di eropa. Orang eurasia masih hidup sebagai penduduk kelas dua, dan sering menjadi bahan ledekan dari orang belanda karena berbicara dalam bahasa belanda yang patah-patah. Mereka mengadopsi kultur yang khas, campuran dari lokal dan eropa. Mereka bagian dari penduduk lokal, tapi tidak penuh, mereka lebih mirip ke eropa, tapi dianggap sebagai penduduk kelas dua terlepas legalitas sebagai orang “eropa”. Banyak juga yang hidup sebagai penduduk miskin di kampung.

Pada abad ke 19, struktur dari komunitas eurasia mulai terlihat.

Yang paling atas adalah orang-orang eurasia yang kaya karena menjadi enterpreneur. Sedikit menjadi elit di pemerintahan dam militer, namun kebanyakan hasi dari simpati atasan.
Pada kelas menengah adalah kebanyakan orang eurasia yang bekerja sebagai PNS kelas bawah, dan hanya sedikit yang bisa bersekolah sampai melebihi sekolah dasar. Mereka hanya eropa di nama.
Di kelas bawah, adalah orang-orang eurasia yang terindonesianisasi. MEreka orang-orang yang hidup di kampung dan terkadang bagian dari kriminalitas terorganisir.

2 grup terakhir memiliki kecemburuan sosial pada orang eropa totok. Pemerintahan belanda juga menunjukkan diskriminasi rasial. Kelompok Indo menjadi hinaan karena bahasa Belanda yang buruk, namun mereka tidak dibantu dengan pendidikan bahasa. Struktur sosial membuat mereka inferior pada orang elit eropa.
Pada abad ke-20, polaritas ini makin berkembang. Orang eropa di Hindia Belanda makin eropa, dan membedakan eurasia dari komunitas eropa. Jumlah imigran eropa dan jumlah orang eurasia membuat kompetisi pada pekerjaan. Kelompok Indo juga harus bersaing dengan orang Indonesia asli (sebagi hasil dari politik etis)

Pada 1919, para Indo mulai bersatu, mementuk Indo Europeesch Verbond. Dibuat untuk mempromosikan emansipasi terhadap minoritas Ido dan unifikasi orang Eropa dan Indo. Namun gagal, walau menjadi bagian terbesar dari parlemen Volksraad (DPR). Pada awalnya orang eropa mendukung, tapi eropanisasi membuat mereka membedakan diri mereka dari eurasia.

Generasi Ketiga Orang Indo: Apa Kata Anda?
Setelah membaca sejarah bangsa Indo di INdonesia, saya kemudian mulai berpikir, kenapakah reaksi orang Indo generasi ketiga di Indonesia sangat berbeda dengan di Belanda? Pada saat ada cultural revival di Belanda, kenapa orang-orang indo generasi ketiga tidak tertarik untuk menemukan dan melestarikan kembali kultur mereka yang hilang?

Orang Indo mirip seperti orang Tionghoa. Mereka mengalami genosida budaya. Generasi pertama mengalami diskriminasi dari orang Indonesia dan Belanda, generasi kedua diberitahukan untuk tidak memperlihatkan ke-Indo-an mereka karena identitas “Indo” di masa lampau dianggap rendah, generasi ketiga tidak tahu sama sekali, tapi tidak sedikit diantara mereka yang tahu “sedikit” mengenai darah indo mereka, tapi tidak tertartik untuk mengetahuinya lebih lanjut.

Sebagai akibatnya, mereka mungkin merasa bingung dengan identitas mereka sebagai generasi ketiga, mereka mungkin terkadang tidak merasa nyaman karena memiliki darah campur eropa, tapi tidak berani menanyakannya pada orang tua atau kakek mereka karena sudah dianggap “tidak relevan dengan jaman”.

Salah satu yang cukup mengganggu juga adalah mitos bahwa orang Indo = Eropa. Tidak, ini kurang tepat. Ada mitos kuat bahwa orang Indo di jaman belanda dianggap sebagai orang Eropa oleh pemerintah belanda, tapi melihat deskripsi sejarah yang sudah disebutkan sebelumnya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Orang Indo memang terbantu dengan status legal mereka sebagai orang eropa, tapi pada prakteknya, penuh dengan diskriminasi.

Yang lebih meresahkan lagi adalah mitos bahwa orang Indo identitik dengan selebriti dan keglamoran. Hal ini dikarenakan artis-artis Indo di Indonesia kebanyakan adalah generasi kedua yang ayahnya ekspat dan ibunya orang Indonesia (tidak boleh dilupakan, rasio pernikahan laki-laki caucasian dan perempuan asia jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki asia dengan perempuan barat). Saya tidak akan kaget kalau ada orang Indo yang merasa takut mengaku “Indo” karena papinya tidak bule, dan mereka tidak merasa layak mengambil identitas “Indo” karena secara fisik tidak terlihat.

Mitos diatas menurut saya sangat mengkhawatirkan, karena itu membuat pemahaman yang salah pada identitas generasi ketiga orang Indo di Indonesia.

Tidak ada yang salah dengan menjadi keturunan campur dan mengakui bahwa darah Indo anda adalah bagian dari diri anda. Sangatlah manusiawi untuk merasa takut akan identitas Indo, karena sejarah telah memperlihatkan, bahwa Indo telah menjadi korban genosida budaya secara tidak langsung.

Sejarah yang hilang, genosida budaya
Saya saat ini membandingkan generasi ketiga Indo dengan generasi ketiga Tionghoa. Seperti yang kita ketahui, sejarah Tionghoa di Indonesia penuh dengan darah. Orang Tionghoa di Indonesia adalah contoh nyata hasil genosida kultural yang paling sukses, karena sebagian besar generasi ketiga tidak bisa bicara dengan bahasa nenek moyang mereka. Hal ini disebabkan tekanan pemerintah untuk meng-Indonesiakan penduduk Tionghoa.

Cara paling gampang tentu saja, larang budaya mereka, buat mereka lupa bahwa mereka orang Tionghoa. Beberapa dekade kemudian, penduduk Tionghoa yang sudah sangat Indonesia dan lebih mencintai Indonesia, tidak bisa menggunakan bahasa nenek moyang mereka untuk melakukan bisnis ke China yang padahal pada akhirnya menguntungkan juga untuk negara Indonesia.

Tapi ada yang menarik, dengan meningkatnya toleransi dan berkurangnya diskriminasi pada suku Tionghoa, generasi ketiga Tionghoa mulai menggunakan nama marga mereka yang tidak diindonesiakan pada profile mereka di social networking. Ya, karena secara legal, nama keluarga yang terdaftar di akte lahir dan ktp bukanlah nama marga mereka, sehingga paling aman adalah menggunakannya sebagai identitas di social networking macam facebook dan friendster.

Tapi hal yang sama tidak terjadi pada kaum Indo yang masih memiliki hak untuk menggunakan nama keluarga eropa mereka. Seorang teman saya menceritakan, ayahnya adalah keturunan Belanda-Yahudi, dan masih memiliki nama keluarga eropa, tapi tidak dipakai karena takut terdaftar WNA sehingga bisa mempersulit hidup disini. Teman saya sekarang menggunakan marga mamanya, karena lebih “Indonesia”.

Seperti yang kita lihat, belum ada atmosfier aman bagi orang Indo untuk mengakui identitas mereka, bahkan setelah era reformasi. Trauma sejarah mereka bisa dikatakan setara atau mungkin lebih parah daripada penduduk Tionghoa, karena ada stigma kuat bahwa orang Indo adalah orang Belanda alias penjajah, padahal tidak demikian, mereka juga didiksriminasi pada era pemerintahan kolonial. Di buku sejarah pun sangat sedikit pembahasan akan kaum Indo. Edward Douwes Dekker bahkan mengatakan agar orang Indo melupakan identitas mereka sebagai Indo.

Tadinya saya juga berpikir bahwa identitas Indo ini sudah tidak penting. Seperti yang saya bilang, saya terlihat terlalu Chinese untuk mengaku sebagai Indo. Tapi pemikiran seperti itu salah karena saya juga termasuk orang yang berpikir “kalau tidak terlihat seperti orang eropa, jangan ngaku Indo”. Jelas, dalam pemahaman saya, orang Indo adalah orang Eropa, padahal orang belanda sendiri tidak menganggap orang Indo sebagai Eropa.

Bahkan definisi Indo pun agak membingungkan, dan terkadang sulit untuk mengkategorikan orang-orang Indo di Indonesia sebagai identitas homogen karena misalnya:
1. Adanya golongan Indo generasi ketiga yang keluarganya mengalami diskriminasi sejarah
2. Adanya golongan Indo generasi kedua yang lahir dari jaman setelah kemerdekaan dan dilahirkan dari keluarga ekspat barat dan tidak melulu dari Belanda.
3. Golongan orang Indonesia yang bercampur dengan Arab/India/penduduk luar kecuali Chinese sering dikategorikan Indo, namun bukan eurasia
4. dan kasus2 lain dimana seluruh darah campur asing dilabelkan “Indo”

Tapi saat saya mendengar bahwa generasi ketiga orang Indo di Belanda mulai mencari akar sejarah mereka, lalu saya pun mulai mencari tahu tentang eksistensi orang Indo di luar negeri, dan pengalaman hidup mereka. Ini seperti menemukan keluarga dan identitas yang hilang. Mereka juga sama seperti generasi ketiga Indonesia, keluarga mereka juga mengalami diskriminasi serupa oleh pemerintah Belanda di masa lampau, tapi mereka mau mencari identitas mereka yang hilang.

Jadi… kenapa tidak? Jika anda yang membaca artikel ini adalah orang Indo, apakah anda tertarik untuk mencari tahu sejarah keluarga anda dan mengakui bahwa Indo adalah bagian dari identitas anda?

Atau menurut anda, ini hal yang sangat tidak penting, dan biarkan saja lenyap bersama waktu?

2 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields