Sancti
*
Suatu ketika, dunia ini hancur. Hancur tak bersisa. Hanya dia tersisa. Sebuah makhluk mirip seperti perempuan. Tapi mungkin dia bukan perempuan, dan bukan makhluk yang berasal dari dunia ini.
Namanya berarti Suci.
*
Dia membuka matanya, tidak mengerti kenapa. Di sekelilingnya adalah daratan gersang, tanpa rumput, tanpa pohon, langit yang tak berhias bintang, tanpa bulan, dan tanpa matahari. Dunia sudah lupa, disini pernah ada air, api, angin, dan tanah.
Namun mereka sudah hilang. Selamanya.
Dunia yang begitu sepi.
Mungkin inilah tempat tergersang di alam semesta.
Dia mulai melangkah di dunia asing itu, tidak tahu dirinya dimana atau kenapa dia ada di tempat itu. Kenapa dia hidup, tapi yang lain mati?
Dimana ingatannya?
Kenapa dia tidak bisa mengingat apapun? Apakah dia kehilangan ingatan atau baru lahir?
Dia berjalan ke dalam pikirannya. Tapi disana hanya ada kegelapan tanpa ujung.
Mungkin ingatan itu sudah hilang karena terlalu lama tidak ia lihat.
Dia mencari, mencari, dan terus mencari.
Tapi tidak ada apa-apa di sana selain kehampaan. Tidak ada yang bisa ia ingat.
Siapa dia? Kenapa dia disini? Kenapa ia lahir? Kapan ia lahir?
Lalu dia kembali ke dunia gersang itu. Ada rasa takut dalam hatinya.
Takut kepada kehampaan dunia dan kehampaan ingatannya.
Sendiri. Tanpa makhluk lain, dan tanpa dirinya. Kenapa tubuhnya hanya terasa seperti badan kosong? Kenapa dia tidak membawa setitik ingatan pun? Pertanyaan terus menerpanya. Dia ingin mencari jawaban.
Kakinya melangkah tanpa tujuan. Dia berjalan lama sekali.
Dia mengelilingi dunia yang gersang itu. Begitu lama. Begitu lama.
Lalu dia berhenti menghitung. Karena semakin lama, dia menghitung dengan deretan angka tak berhingga.
Satu tahun? Seribu tahun? Sepuluh ribu tahun? Dia lupa.
Tanpa ia sadari, ternyata dia sudah selesai mengelilingi dunia yang gersang itu dan kembali ke tempat semula ia berdiri. Tapi tetap tidak ada apa-apa disana kecuali tanah tanpa kehidupan.
Di dunia gersang itu, dia menyadarinya. Disana ada satu objek raksasa setinggi langit. Sebuah kawah. Kawah yang berada di pusat dunia. Dia selalu melihatnya, dimanapun dia berada.
Mungkinkah ada seseorang disana? Tanyanya dalam hati.
Mungkin ya, mungkin tidak. Karena dia sudah lama mengelilingi dunia, dan dia sadar. Dia mungkin hanya sendiri di dunia itu.
Mungkin disana juga tidak ada apa-apa.
Tapi dia ingin kesana.
Perjalanan itu jauh.
Jauh dan sulit.
Kawah itu bukan terbuat dari tanah atau batu. Tapi tubuh. Matanya melihat gunungan mayat setinggi langit. Ada banyak tubuh seperti miliknya disana. Tapi mereka semua saling menempel.
Ada yang telanjang, ada yang memakai kain, tapi mereka semua kehilangan mata. Kenapa demikian? Kenapakah semua makhluk sepertinya mati seperti itu?
Dia ingin tahu, maka ia memanjat gunung mayat itu.
Dia ingin melihat puncak kawah itu. Dia ingin tahu apa yang ada disana.
Waktu kembali berlalu, dan ia sudah lupa kembali berapa lama ia memanjat. Saking lamanya, ia lupa tujuannya. Dia terlalu banyak melihat mayat sampai-sampai lupa bahwa ia hidup.
Lama. Lelah. Capai. Begitulah pikirnya.
Tapi ada harapan di atas sana. Di atas gunung mayat itu, ada sebuah kegelapan yang bercahaya disana. Mungkin disana ada sesuatu, pikirnya.
Ya. Dia mendaki gunung itu.
Begitu lama, namun akhirnya sampai juga.
Mulut kawah raksasa. Di atasnya ada kegelapan yang begitu pekat.
Hanya kegelapan, tak ada yang lain. Kenapa kegelapan itu ada disana? Dia melihat kebawah, ke arah sumber kegelapan. Disana ada kegelapan tak berdasar, sumber kegelapan yang ia lihat itu.
Lubang hitam yang seolah adalah isi alam semesta.
Kenapa ada lubang itu disini? Pikirnya.
Disana, di lubang itu, ada sebuah kegelapan yang tertidur.
Dia berteriak.
Berteriak memanggil kegelapan.
“Ánléive! Ánléive! Ivánú! Ivánú! Olé vedí shëllói! Vaimo twäer oimtwäer Vashälédí?”
Kegelapan! Kegelapan! Bangun! Bangun! Katakan padaku! Dunia apa ini?
Itulah kata-kata yang terucap dari bibirnya. Susunan kata bahasa agung yang ia kira sudah ia lupakan.
Tapi kegelapan hanya tertidur disana.
Tidak terusik siapa-siapa. Tidak terusik apa-apa.
Seolah dunia itu hanyalah ia sendiri.
Tapi dia ingin tahu ada apa di balik kegelapan itu. Karena itu dia melempar dirinya kedalam kegelapan.
*
Kegelapan, kegelapan tak berdasar.
Dia jatuh lama sekali.
Terlalu lama, sampai-sampai ia merasa telah mati dan menyatu dalam kegelapan.
Waktu berlalu seperti abadi. Kesadarannya perlahan akan terlarut dalam kegelapan. Andai ia tidak melihat sesuatu di sana.
Dia melihat sesuatu, seperti Chhya.
Ada sesuatu di titik kegelapan itu. Apa itu? Dia bertanya-tanya.
Di balik kegelapan yang bersinar, cahaya yang gelap. Suatu kontradiksi yang tidak bisa ia mengerti. Semakin lama dia akhirnya mendekati kegelapan itu.
Ada satu yang menutup mata disana. Mungkin mati, mungkin tertidur, dia tidak tahu.
Lalu dia melihat sekelilingnya, dan dia tahu dimana.
Dia berada di dalam Segalanya.
Tempat dimana segala Ada dan Tiada menyampur menjadi satu. Sebuah Nihil.
Ada dan Tiada. Dia tahu keadaan itu. Dia ingin tahu kenapa dunia ini begitu sepi, hanya ada dirinya, dan suatu sosok yang tertidur di kegelapan itu.
Lalu dia memutuskan, untuk meleburkan dirinya bersama Ada dan Tiada.
*
Mata itu melihat waktu-waktu yang terlampaui. Waktu yang dulunya ada dan kembali ke Nihil. Waktu-waktu yang Manusha sangka, tak pernah kembali lagi. Tapi waktu itu Ada didalam Nihil.
Imaji-imaji dunia yang gersang berputar mundur. Berputar-berputar, begitu indahnya. Tumpukan masa lampau yang hilang kembali ke tempatnya. Begitu indah sampai ia lupa bahwa mereka sudah tidak ada. Begitu indah sampai ia menyesali kenapa mereka sudah tidak ada.
Lalu dia kembali titik awal segalanya. Dia melihat kapan ia lahir, kenapa ia datang, dan kenapa dunia ini hancur.
Ia begitu menyesalinya. Harusnya dia tidak ada di dunia.
Harusnya dia tidak ada.
*
Di dunia ada sebuah titik dimana segala Ada adalah Tiada, dan Tiada adalah Ada.
Namanya Nihil.
Dari titik di Nihil, lahirlah mereka, makhluk yang disebut tuhan.
Waktu berlalu, dan tuhan pun bermimpi, hidup sebagai Manusha. Karena dunia itu hancur, karena tidak ada yang mau terbangun. Dunia yang tercipta di mimpi itu terlalu indah.
Lalu ada satu tuhan yang tak tertidur. Dulunya ia disangka pencipta dunia. Dulu ia disangka sebagai pencipta alam semesta. Tapi dia ternyata sama dengan tuhan lainnya.
Dia takut sendiri. Dia tidak merasa bahagia dengan dunia itu. Dia ingin ikut bermimpi bersama yang lainnya.
Lalu dia menyusul, ke mimpi tuhan yang tertidur. Tapi pintu itu tertutup untuknya. Hanya untuknya.
Dia tuhan terlalu besar, terlalu transendal. Mimpi itu tidak bisa membuatnya menjadi Manusha. Tidak cukup indah untuk membiusnya dan membuatnya tertidur dan bermimpi menjadi Manusha.
Dia terlalu agung, karena dia adalah ciptaan dan pencipta alam semesta.
Dia tidak bisa masuk ke mimpi itu. Dia terlalu agung untuk menjadi nyata.
Tapi tuhan itu kesepian. Dia juga ingin hidup sebagai Manusha.
Lalu dia memaksakan diri. Ia marah karena tidak bisa masuk ke dalam mimpi itu.
Tangannya mulai merobek pintu mimpi itu, merobek mata sang pencipta mimpi. Dia memasukkan dirinya dengan paksa ke mata itu.
Mata itu begitu sempit, begitu susah ia lalui. Tapi ia ingin ikut bermimpi, dia tidak tahan kesepian. Dia tidak tahan menjadi berbeda. Hanya itu yang ia pikirkan. Ia tidak peduli walau ia sebetulnya tidak boleh masuk ke dalam mata itu.
Tapi betapapun ia memaksakan dirinya, tubuh itu tidak akan masuk. Karena itu ia meninggalkan tubuhnya, dan jiwanya melayang-layang di atas mata itu.
Tanpa tubuh tuhan-nya, dia bisa masuk ke mata itu dengan mudah.
Lalu jiwa itu sampai di sebuah lorong yang panjang.
Mata itu adalah jembatan yang menghubungkan dunianya dengan dengan dunia mimpi. Jiwa tanpa tubuh itu berjalan, berjalan, dan berjalan. Begitu jauh, begitu lama, karena tidak bisa tertidur.
Andaikan ia bisa tertidur dan bermimpi, ini semua akan begitu cepat, pikirnya, tapi dia tidak bisa tertidur, karena dia tuhan yang tidak boleh tertidur. Karena dia pencipta dan ciptaan alam semesta. Sama seperti alam semesta, dia tidak boleh tidur.
Jalan yang begitu jauh. Di ujung jalan itu ada sebuah replika pohon kehidupan. Namanya Sefira. Sepuluh jalan untuk menjadi tuhan, dan menjadi Manusha.
Malaikat mengatakan, tuhan, kembalilah ke duniamu. Tempatmu bukan disini.
Tapi tuhan itu tidak peduli. Dia lalu masuk ke jalan itu, tanpa meninggalkan cahaya agung-nya.
Dia bisa melihat, melalui sepuluh mata yang tergantung di pohon itu. Sebuah dunia yang begitu indah. Dalam bahasa Manusha, namanya “Bhumi”.
Dia ingin masuk. Dia ingin masuk.
Tapi lagi-lagi, dia merasakan penolakan.
Ya, dunia menolak dia untuk masuk. Ini dunia Manusha. Dia bukan Manusha. Disini adalah dunia tanpa tuhan. Dunia dimana dia harusnya tak ada. Dia tuhan, karenanya dia tidak bisa masuk ke dalam sana.
Tapi dia ingin kesana. Dia tidak mau kesepian di dunia itu. Dia lalu memaksakan dirinya lagi. Dia berusaha menjadi nyata, dia berusaha menciptakan tubuh baru tanpa tertidur.
Dari cahaya yang terbentuk itu, lahirlah kepala. Lahirlah badan. Lahirlah Tangan. Lahirlah kaki. Lahirlah kaki. Dia sekarang sempurna. Tubuh itu sekarang lima.
Tapi dia lupa memasang mata. Dia lupa memasang wajah.
Dan dia tidak bisa melihat, pada saat lima itu terbentuk, dunia tidak siap menerimanya. Dia tidak tahu bahwa pada saat dia bermaterialisasi, ada Manusha yang melihatnya. Mereka lalu tahu bahwa ada yang namanya tuhan. Dia masih Tiada tapi disangka Ada.
Seribu tahun. Sepuluh ribu tahun. Seratus Ribu Tahun. Satu juta tahun.
Lalu sampai akhirnya, bermilyar-milyar tahun. Wajah itu belum juga muncul.
Manusha mengira tubuh yang tidak berbentuk sempurna itu adalah dirinya yang sempurna. Mereka mengira suara yang keluar dari tubuh itu adalah suara agung-nya. Tapi itu hanya suara angin, karena tuhan itu belum bisa berbicara.
Tapi Manusha tidak tahu itu. Mereka berperang, berperang karena setiap orang merasa diri mereka paling benar dalam mengerti suara kosong tanpa arti itu. Mereka mengira mereka bercakap-cakap dengan pencipta alam semesta.
Manusha terlalu lama berperang karena menanti tuhan itu turun ke dunia.
Lalu suatu ketika. Wajah itu akhirnya sempurna juga.
Manusha mengira mereka wajah itu adalah kabar baik untuk mereka. Mereka mengira tuhan mereka turun ke dunia dan menjemput mereka.
Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka musnah karena melihat wajah agung itu. Mereka mati karena tuhan yang mereka tunggu akhirnya menampakkan wajah-nya. Wajah itu terlalu agung, terlalu indah dan mengerikan. Mereka semua rela mati setelah melihat wajah itu. Semua manusha merasa bahagia karena mereka mati setelah melihat wajah itu.
Begitu banyak, begitu banyak yang melihatnya, begitu banyak yang mati karena wajah agung itu. Wajah agung itu tidak bisa diterima oleh dunia. Saat ia bercahaya, semua mati karena keagungannya.
Lalu perlahan-lahan, seluruh dunia itu hancur karena mengetahui apa yang harusnya mereka tidak tahu. Andaikan mereka menutup mata, andaikan mereka tidak melihat tuhan itu, mereka mungkin tidak akan mati. Tapi mereka semua mengira mereka butuh tuhan. Itu sebabnya mereka melihat cahaya terang itu dengan kedua mata mereka sampai mereka akhirnya rusak dan mati.
Tapi yang musnah tak hanya Manusha.
Angkasa membelah. Bulan retak. Matahari meleleh. Dan sebagian wujud Bhumi, kembali ke wujud permulaannya: sebuah kegelapan tanpa batas.
Tubuh Manusha tanpa mata menggunduk menjadi kawah raksasa. Di atasnya ada kegelapan.
Lalu tuhan dengan wajah sempurna lalu turun ke dunia. Dia tidak pernah tertidur. Tapi dia baru saja melewati sebuah durasi waktu yang nyaris sama dengan abadi sebelum tubuhnya terbentuk sempurna.
Lalu dia menginjakkan kakinya ke dunia gersang itu… dengan dua mata. Wajah yang sempurna. Tubuh yang sempurna. Tapi tanpa ingatan.
Ia tidak ingat apa-apa, karena dia baru saja melewati sebuah aliran waktu yang mendekati tanpa batas. Dia lupa siapa namanya. Dia lupa kenapa dia ada disana. Dan dia tidak mengerti, kenapa dunia itu begitu gersang, tanpa kehidupan. Tanpa air, api, angin, dan tanah.
*
Dia terkejut.
Dia sekarang tahu. Dia melakukan segalanya dan dia dulu adalah segalanya.
Sebuah pencipta dan ciptaan alam semesta.
Dia baru menyadari, betapa bodoh dirinya. Kenapa dia memaksakan egonya pada dunia.
Kenapa dia tidak berpikir bahwa dunia ini akan hancur karena dirinya? Kenapa dia tidak berpikir bahwa dunia belum siap menerima dia ada?
Dia terlalu agung, dan dia merasa bersalah.
Kenapa dia datang ke dunia ini? Dunia lebih baik tanpa dirinya. Dunia lebih baik tanpa tahu ada tuhan yang datang dan menjadi Manusha.
Lalu tuhan itu menangis di dunia sepi itu. Menangis karena semuanya berakhir. Dia datang dan tidak ada yang melihat dan dilihatnya.
Suatu ketika, dunia ini hancur. Hancur tak bersisa. Hanya dia tersisa.
Seorang dia, pencipta dan ciptaan alam semesta.
Sancti. Sancti.
Namanya Sancti. Namanya berarti Suci.
Dan dia terlalu agung untuk hidup di dunia kotor ini.
Bandung, 26 April 2008
Calvin Sidjaja
Popularity: 16% [?]
Tags: Cerpen















One Response to “[Cerpen] Sancti”
Trackbacks/Pingbacks
Leave a Reply