Google
 

~Sajak-Sajak Bibir Bunga~

Calvin Michel Sidjaja on September 14th, 2005

~Sajak-Sajak Bibir Bunga~

…Yang lebih indah dari mawar merah…

 

~Sajak Pertama: Acacia, Tarian Anggrek dan Kupu-Kupu~

Pada saat kamu lahir, ayah berpikir bahwa kamu pasti memiliki suara seperti malaikat, pastilah suaramu akan seperti nyanyian surgawi. Begitulah kata ayah kepadaku suatu kali, di rumah kami yang dikelilingi pohon cemara dan lautan bunga mawar. Ayah sering mengatakan bahwa dia sangat bahagia memiliki diriku, putra sematawayangnya, walau aku tak memiliki suara malaikat seperti yang diharapkannya.

Aku dan ayah tinggal di sebuah rumah yang surealistik di Jakarta, kota yang tidak mengenal adanya penghijauan dan udara bersih. Bagi siapapun yang  pernah menghampiri tempat ini, mereka semua pasti akan mengatakan hal yang sama, “potongan surgakah tempat ini?”.

Semua temanku yang pernah singgah disini juga mengatakan hal yang serupa. Pohon-pohon cemara yang mengelilingi halaman rumah itu bagaikan sapuan kuas warna hijau yang menghiasi langit merah menjelang senja. Berdua, aku dan ayah membuka toko bunga. Kami berdua mengumpulkan keindahan-keindahan bumi dalam sebuah toko kecil di tempat ini. Orang-orang yang mampir ke toko kami mengatakan bahwa tempat ini benar-benar seperti potongan taman Firdaus, dan mereka akan selalu mengucapkan kata-kata yang bagaikan sedang memuji lukisan, bedanya, lukisan ditempat ini dikuasi oleh sapuan warna dari Tuhan.

Namun aku tak bisa bersuara mengatakan apa-apa mengenai indahnya lukisan dari surga ini. Ayah mengatakan, aku lahir tanpa suara. Terkadang aku ingin mengetahui seperti apa suaraku sendiri. Karena aku hidup tanpa mengenal kata-kata, aku selalu menggunakan bunga untuk mengungkapkan persaanku.

Aku lebih banyak berbicara dengan bahasa bunga ketimbang bahasa isyarat yang tidak dimengerti banyak orang. Bunga, membuat orang mengerti tanpa mengetahui artinya. Karena bunga adalah hadiah dari Tuhan untukku.

 

Selamat siang, terdengar suara mengalun dari balik pintu. Sosok seorang gadis berdiri di depan pintu rumahku diiringi dengan kepakan sayap kupu-kupu yang menari di sebelah kiri dan kanannya. Gadis itu, pikirku, bahkan lebih cantik dari bunga manpun yang pernah kulihat sepanjang hidupku.

Lalu pikiranku pun pergi ke suatu tempat…

 

Ayah pernah mengatakan bahwa bunga adalah hadiah dari Tuhan untuk manusia. Pada awal bumi diciptakan, yang hanya ada gelap dan terang, lalu diciptakanlah bumi dengan segala isinya dengan manusia dan anak-anaknya  yang selalu menangis di kala malam datang, karena bumi begitu kering dan kosong. Aku menatap ayah dengan tatapan tak percaya, dan mataku bertanya pada ayah.

Ayah mengerti maksudku. Dia lalu memelukku dan mengatakan, Tuhan lalu menciptakan bebungaan. Merekalah yang nantinya menghasi bumi dengan warna-warna surgawi…

 

Selamat siang, balasku ke pelanggan itu dalam hati. Gadis sebayaku berdiri di depan pintu toko kami, dan aku tak pernah menyangka bahwa didunia ini ada gadis yang lebih cantik daripada bunga-bunga yang berada di taman milik ayah. Tadinya kupikir, seumur hidup aku hanya akan mencintai bunga saja.

Tolong berikan padaku dua tangkai bunga Acacia[i], kata gadis itu padaku dengan senyumannya yang membuatku ingin berteriak mengatakan bahwa dia tak memerlukan bunga. Dirinya sendiri melebihi kecantikan bunga yang ingin dia petik. Namun tentu saja, aku tak bisa mengatakan hal itu padanya. Aku selalu terdiam seribu kata, bibir ini tak memiliki suara.

Aku lalu berjalan ke pot-pot tanaman, dan aku agak kecewa melihatnya, toko kami kehabisan bunga Acacia. Aku lalu berjalan ke arah gadis itu dan menuliskan pesan padanya.

Kami kehabisan bunga Acacia.

 

Gadis itu tampak heran saat melihat tulisanku di pesan kecil itu.

Kenapakah kamu berbicara denganku tanpa suara? Tanya gadis itu kepadaku. Aku menjadi salah tingkah. Andai aku bisa langsung mengatakan padamu bahwa aku tak memiliki suara.

Gadis itu lalu mengeluarkan senyuman yang sangat manis, tak apa-apa jika kamu tak bisa berbicara padaku melalui suara, kita bisa berbicara melalui hati dan tulisan bukan? Katanya padaku sekali lagi.

Aku mengangguk senang. Sebagai ganti bunga Acacia, aku lalu memberikan Anggrek[ii] padanya. Dia lalu sekali lagi tersenyum, membuat kecantikan bunga itu tak ada bedanya dengan sekuntum embun yang lenyap di pagi hari.

 

~Sajak Kedua: Lagu-lagu Bunga Violet~

Nyanyian adalah salah satu anugrah terbesar dari Tuhan setelah bunga. Itulah sebabnya aku setiap hari pergi ke gereja untuk mendengarkan nyanyian surgawi. Indah, pikirku. Aku ingin sekali bernyanyi, walau aku tak memiliki suara.

…Itukah nyanyian surgawi?

 

 Pikiranku terus berkhayal mengenai nyanyian di gereja sampai aku menyadari bahwa beberapa anak mencegatku di jalan. Mereka menyandungku sehingga akupun terjatuh.

Mau apa kalian? Bibirku bergerak tanpa suara.

Mereka hanya terkekeh melihatku.

Kamu tak bisa bersuara? Tanya mereka dengan nada suara yang merendahkan.

Aku menggelengkan kepala.

Mereka membawaku ke sebuah tempat yang sempit, dan membuatku merasa ketakutan.

 

Mereka lalu memintaku untuk memberikan uang, benda yang kupercaya sebagai penyebab manusia tidak lagi mencintai bunga. Namun mereka tidak bisa mengerti bahwa aku tidak membawa uang.

Mereka tidak mengerti bahasa isyarat, dan mereka merobek pesan yang kutulis dengan kesal. Detik-detik berikutnya mungkin bagaikan potongan mimpi. Aku merasa bagaikan bunga yang akan dipangkas dan dirobek kelopaknya hingga tak tersisa apapun juga.

Aku berusaha mencari bunga di kepalaku untuk mengatakan pada mereka bahwa aku tak mengerti kenapa mereka menyakitku. Tapi kesadaranku semakin kabur.

Sakit.

 

Mereka terus menyakitiku. Menyakitiku. Lalu akupun berpikir.

…Inikah rasa mati.

 

Hentikan, terdengar suara teriakan yang kukenal. Jangan kalian lakukan itu, dia bisa mati! Hentikan. Suara gadis yang lebih cantik dari bunga itu, dia menolongku? Tuhan, betapa aku ingin memiliki suara untuk mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih padanya!

Anak-anak itu lalu berhenti, lalu mereka meninggalkan aku yang terkapar. Kamu beruntung, kata mereka. Berterima kasihlah pada temanmu itu.

Lalu mereka pun pergi.

Gadis itu lalu membantuku berdiri, sambil meringis, mataku mulai basah. Air mata ingin mengalir dari kedua bola mataku. Namun gadis itu menyentuh mataku dengan jari telunjuknya. Dia lalu mengusap air mataku.

 

Jangan menangis…

 

Aku terhenti dan terdiam mendengar suaranya.

 

Kamu tidak boleh menangis.

 

Aku terdiam.

 

Kenapa? Tanyaku.

 

Jika kamu menangis, aku sedih, dia menjawab.

 

Untuk pertama kalinya, aku merasakan perasaan yang aneh… perasaan ganjil yang begitu nyaman… apakah karena gadis ini, mau bersedih untukku?

 

Maukah kamu menangis untukku saja?

 

Begitulah kata suara itu. Aku bisa melihat gadis itu menatap mataku. Maukah? Tanyanya sekali lagi.

 

Ya, aku menjawab dengan memberikan anggukan padanya.

 

Lalu aku menahan air mata yang berada di ujung pelupuk lara. Ya, aku tak akan menangis lagi. Aku dan dirinya lalu melingkarkan kelingking masing-masing, tanda perjanjian.

Aku berjanji, kataku dalam hati. Aku hanya akan menangis untukmu.

Dia lalu memberikan setangkai bunga Violet[iii] padaku.

Aku harap kamu setia, seperti yang dikatakan bunga ini.

Aku tersenyum, dan kami berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.

 

~Sajak Ketiga: Puisi Aster dan Ciuman Jonquil~

Gadis itu menjadi dekat denganku. Kami lalu sering menghabiskan waktu bersama-sama, dan aku selalu berpikir, bahwa Tuhan begitu baik padaku karena dia menciptakan suara agar aku bisa mendengar kata-kata yang keluar dari gadis ini. Aku tak perlu bersuara, dan tak perlu menangis bila bisa berada didekatnya, kataku dalam hati sambil memberikan padanya sekuntum bunga Aster[iv] di bawah pohon cemara di halaman toko bunga ayah.

Aku sangat berharap  bisa mendengar suaramu suatu hari nanti…

Gadis itu berkata demikian, aku tersenyum saja. Aku tidak bisa bersuara, cukuplah aku mendengar suaramu saja. Bagiku, itulah yang selalu kuharapkan. Aku akan menyanyi untukmu, pikirku penuh harap kepada Tuhan yang tak memberikanku suara.

Maukah… kamu menerima bunga ini...? Kata gadis itu padaku. Dia memberikan padaku sekutum bunga indah, bunga Jonquil[v]. Ah, kataku sambil merasakan gelora bahagia dari dalam diriku. Terima kasih karena kamu mau mencintaiku.

Lalu bibir itu pun menyentuh milikku. Aku tak tahu betapa nikmat rasanya menghirup bunga dengan bibir yang tak pernah kubuka itu. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku bersyukur Tuhan masih memberikanku mulut.

 

Sesekali aku bertanya pada bunga-bunga di kebunku… Jatuh cintakah aku padanya? Lalu seakan bunga-bunga menjawabku…

Seindah apapun mawar merah, akanlah dia layu nantinya…

 

 

~Sajak Keempat: Seribu Kata Bunga~

Hari itu secerah biasanya. Burung-burung menari di udara, sambil menyanyikan siulan-siulan alam yang lebih indah daripada aria-aria milik Mozart, dan hatiku, lebih bahagia lagi karena hari ini aku akan memulai ceritaku yang baru. Cincin berlian berbentuk mawar dan hati, lambang cinta yang diabadikan dalam batu terindah di dunia itu kugenggam erat-erat dalam tanganku. Aku akan pergi ke tempatmu, dirimu yang membuatku dapat berpaling mencintai hal lain selain bunga.

Ya, aku sudah bertahun-tahun belajar berbicara mengeja kata-kata, dan hari ini aku ingin kaulah yang pertama kali mendengar suaraku mengatakannya… Begitulah pikirku sambil memandang gerimis daun kering di sepanjang jalan itu.

Aku akan menyanyi untukmu.

Aku menghentikan langkah di depan rumah gadisku itu. Lalu aku bisa melihat kerumunan orang-orang berbaju hitam dan tetes air mata berkumpul diseluruh tempat itu.

Ada apakah disini? Tanyaku pada diri sendiri dalam hati, tanpa bertanya kepada siapapun yang memiliki telinga di tempat itu, karena toh mereka tak bisa mendengar suaraku.

Aku membeku dan berdiri tak percaya. Tak ada bunga yang menyambutku di ruangan itu. Dimanakah kamu, yang membuatku jatuh cinta?

 

Mawar merah mati

Gugurlah kelopaknya…

 

…dan terdengarlah nyanyian angin membawa suara surgawi…


Aku bisa lihat, disana, gadisku benar-benar telah menjadi bunga. Dia tertidur di antara mawar dengan senyuman yang lebih cantik dari bunga yang mengelilinginya.

 

Aku ingin kamu menangis untukku saja, katanya suatu kali.

 

Kenapakah kau tetap tersenyum padaku dengan bibir yang sudah beku itu? Bukankah kau mengatakan padaku, bahwa kau ingin mendengar suaraku saat aku menghirup dirimu dengan bibirku nanti?

Aku melangkahkan kakiku mendekati dia yang tertidur disana. Yang mana dirinya? Yana mana bunga? Apakah ini karena air mata di pelupur lara?

Aku tak bisa membedakanmu di antara mawar-mawar itu.

Sekuntum bunga Carnation[vi] tertidur bersama gadisku di antara lautan bunga mawar itu. Aku lalu menghentikan tangisanku, dan berusaha tersenyum pada gadisku yang meminta maaf padaku. Aku mengambil cincin di tanganku dan memasangkannya ke jari gadisku. Lalu aku mengambil Carnation yang digenggam jari itu.

 

 

Hanya untukmu saja…

 

Kan kunyanyikan seribu kata

 

Aku berusaha bersuara, berbicara, berteriak padamu dan bibirku akhirnya mengatakan tiga kata yang terlambat kau dengar…

 

Aku cinta padamu…

Bandung, 14 September 2005


[ii] Dirimu indah

[iii] Kesetiaan

[iv] Cinta

[v] Aku juga mencintaimu

[vi] Maafkan aku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Popularity: 6% [?]

Tags:

Related posts

2 Responses to “~Sajak-Sajak Bibir Bunga~”

  1. Phobi KevinMay 14th, 2008 at 12:10 pm

    Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP

    waw…….luar biasa!! saya ketika membaca karya cerpen anda dengan judul sajak - sajak bibir bunga ini merasa mendapatkan suatu pemandangan kehidupan yang baru, ceritanya begitu mengalir, terkadang terhiasi oleh turbulensi bebatuab sungai, tetapi tetap santai dalam alirannya……luar biasa….mari berkompetisi di Lomba Novel DKJ 2008 nanti….

    hubungi saya di kevinalpainani@gmail.com atau 085263857224

  2. Calvin Michel SidjajaMay 14th, 2008 at 2:20 pm

    Using Opera Opera 9.25 on Windows Windows XP

    @phobi
    terima kasih atas komentarnya, saya senang anda menikmati cerpen ini :)

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>