
Sekali lagi Edna membuat tulisan nampol (setelah ngekspos kenarsisan kecenderungan anak HI dalam berfoto) yang cukup menarik mengenai perpolitikan di kampus kami, jurusan HI Unpar. Mungkin karena kami mempelajari ilmu studi Hubungan Internasional, sadar atau tidak sadar, otak kami juga terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran besar di ilmu studi hubungan internasional.Ya, dalam berhubungan dengan orang lain pun, kami terpengaruh oleh dua aliran besar dalam hubungan internasional (tentu saja ini simplifikasi, karena masih banyak teori lain, tapi dua inilah yang paling populer)
Secara kasar, ada dua aliran besar dalam melihat Hubungan Internasional, yakni realisme (memandang manusia lain dasarnya jahat sehingga dunia ini anarki), dan idealisme (memandang manusia dasarnya baik dan bekerjasama).
Nah begitu pula dengan perpolitikan di komunitas HI Unpar, sadar atau tidak sadar, pada hari pertama kita menginjakkan kaki di kampus, kita akan mencari teman yang memiliki tujuan dan pemikiran sama dengan kita. Lalu pada saat kita berhubungan, kita akan sering harus memilih dan memutuskan apakah pertemanan yang kita lakukan dengan satu orang adalah hanya untuk mencapai kepentingan tertentu (ala realisme) atau memang kita berteman karena ingin berteman (ala idealisme).
Artikel ini mau membahas mengenai situasi di kampus saya, apakah anda saat ini mengalami hal serupa?
Aktif di Kampus: Pilih Yang Mana?
Secara kasar, di hi unpar ada pembagian antara kegiatan akademik dan non-akademik.
Kegiatan akademik adalah acara-acara kampus yang berkaitan dengan akademik, tentu saja, kegiatan seperti membuat seminar, acara sidang, dll. Kegiatan non akademik adalah kegiatan yang terlepas dari kegiatan akademik, seperti pentas musik, seni, olahraga, dll.
Nah contoh masalah yang muncul adalah pada saat mungkin ada anak yang terlalu eksis (aktif di semua kegiatan abcdefgh) terus akhirnya dipandang negatif ama anak-anak lain.
Komentar paling sering muncul adalah: “ih gw sebel/kurang suka ama sih XXX, soalnya semua kegiatan dia mulu jadi kordiv”, atau “tahu ga sih, si XXX, saking banyaknya ikut kegiatan abcdefgh, semua kegiatan jadi ga jalan, ih cape deh”.
Saya sendiri membatasi partisipasi saya dalam acara kampus, saya sadar betul bahwa saya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Saya tidak pernah jauh-jauh dari divisi materi, karena saya memang cocok di bidang research. Menurut kata teman-teman dekat, di jidat saya ada label “Materi”. Saya memang selama ini berpartisipasi dalam kegiatan yang membutuhkan research, karena memang di bidang itulah saya bisa menggunakan otak saya dengan optimal.
Kalau pada jaman saya ikut berpolitik, saya ada perasaan dan kecurigaan bahwa saya dipandang sebagai “geek” oleh anak-anak lainnya. Secara saya lebih banyak berteman dengan teman-teman yang berbicara mengenai akademik, dan saya juga jarang atau nyaris tidak pernah berpatisipasi dalam kegiatan non-akademik.
Ngasih Saran atau Intervensi?
Saya juga ingat, pada saat menjadi koordinator divisi materi Gintre (Gathering and Introducing International Relations) pada tahun 2005, ide saya ditekan oleh pihak-pihak tertentu dengan argumen: “Topik/isu Hubungan Internasional ini terlalu berat untuk anak SMU”.
Kenapa argumen tersebut absrud? Karena memangnya di dunia ini, ada topik hubungan internasional yang ringan? Saya menutup telinga saya pada tekanan tersebut dan meneruskan ide saya karena saya tidak mau menyia-nyiakan waktu.
Hasilnya? Sukses-sukses saja tuh, angkatan bawah mengatakan topiknya menarik dan tidak berat-berat amat.
Bayangkan saja, panitia telah menyiapkan topik mengenai sidang simulasi reformasi PBB selama 6 bulan, dan tiba-tiba harus diganti karena ada… tsunami Aceh. Lalu saya dipaksa untuk dipaksa mempertimbangkan mengubah topik sidang yang berkaitan dengan tsunami Aceh.
Entah apa yang dipikirkan si pemberi usulan tersebut, mungkin dia berpikir bahwa isu tsunami akan masih hangat untuk diperdebatkan setelah 3-6 bulan waktu kejadian, dan mungkin kita akan membicarakan mengenai bantuan pinjaman uang dari negara ASEAN ke negara-negara lain. Untungnya sih tidak terjadi. Untung.
Tapi intinya adalah: kritik dari atas seringkali tidak membangun, khususnya untuk anak baru yang belum berpengalaman.
Itu sebabnya saya sebagai mantan orang yang pernah jadi korban kearogansian pihak-pihak yang terlalu subjektif dan merasa dirinya amat sangat pintar, berusaha tidak menggurui angkatan bawah yang sedang membikin acara serupa. Saya cuma mau memberi saran dan memperlihatkan poin-poin lemah agar topik yang dipilih bisa tertutupi saat sidang. Tapi kalau dipandang sebagai intervensi… yaah maafkan, mungkin saya tanpa sadar sudah melenceng dari pemikiran awal saya. :(
Selain berpolitik dengan angkatan kita, kita juga terkadang-kadang harus berpolitik dengan angkatan atas. Untungnya tidak semua angkatan atas tuh sok senior. Memang ada beberapa, tapi lebih banyak yang menyenangkan dan tidak berpikiran sempit. :)
Backstabbing
Oh pada jaman saya aktif di HIMAHI, banyak kejadian backstabbing yang membuat hubungan pertemanan dua orang atau lebih menjadi semrawut atau hancur.
Mungkin tidak ada manusia yang secara sadar mau melakukan tindakan backstabbing. Tapi tetap saja hasilnya sama: kita ditusuk dari belakang, alasan sadar atau tidak sadar, itu urusan belakangan, yang pasti kalau sudah ketahuan siapa yang meng-backstab duluan, tinggal tunggu gosip meledak dan image-nya akan hancur di kampus.
Contoh ilustrasinya antara lain: topik acara A diambil/dikopi oleh acara B yang diketuai oleh dua orang yang berbeda, plus dua orang ini sebenarnya berada dalam satu organisasi yang sama, atau misalnya mengenai aliran dana, dimana dana untuk acara A diambil oleh acara B. Terus tidak tertutup kemungkinan ketua dari acara B minta surplus keuangan dari acara A untuk menutupi defisit mereka. Ini cuma contoh loh. Beneran. :)
Sadar atau tidak sadar, tindakan kita sehari-hari, kata kita sehari-hari bisa dianggap sebagai backstab walau mungkin kita tidak bermaksud demikian. Backstabbing terjadi karena miskomunikasi… menyedihkan sekali bukan? Kalau itu sudah terlanjur terjadi, jangan melarikan diri, hadapi, komunikasi, kalau sekarang belum bisa, nanti saja saat waktunya tepat.
Praktik Diplomasi: Lawan Jadi Kawan, Kawan Jadi Lawan
Yang paling seru tentunya sewaktu prakdip. Mata kuliah Praktik Diplomasi, percaya atau tidak merupakan puncak perkuliahan plus puncak perpolitikan kampus di HI Unpar. Disinilah momen kita benar-benar berpolitik dan mencapai kepentingan kita. Tidak heran pada saat prakdip, kawan akan menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan, atau ada kondisi dimana semuanya adalah lawan.
Misalnya kalau ada seseorang yang cukup aktif dan mencolok di perkuliahan, terus tiba-tiba mendapatkan delegasi dari negara kecil (misalnya Vanuatu, Burundi, Senegal, dll) anda akan kesulitan untuk tampil mencolok dalam prakdip.
Anak-anak lain yang mendapat delegasi lebih besar secara sadar atau tidak sadar akan menyepelekan delegasi kecil tersebut dan merasa diatas angin. Bila mereka cerdik, mereka akan menggunakan posisi strategis mereka untuk menghancurkan delegasi yang menentang mereka. Tapi tentu saja itu semua cuma teori belaka, karena yang menentukan keberhasilan dan dukungan adalah hubungan interpersonal para anggota delegasi.
Tidak ada gunanya suatu negara mendapatkan negara strategis, tapi kepribadian orang-orang yang dalam delegasi tersebut underachiever. Bisa ditebak mereka berpotensi untuk disetir oleh delegasi lain yang lebih kecil, tapi memiliki kepribadian lebih kuat. Bisa dikatakan, prakdip adalah ajang untuk membuktikkan diri pada tiap pribadi di HI Unpar mengenai kesiapan dan kelihaian mereka dalam berpolitik dan memanipulasi informasi.
Saya ingat sekali dulu ada sebuah delegasi yang karena satu orangnya bermasalah, dia dialienasikan oleh negara-negara yang harusnya jadi aliansinya. Berhubung orang tersebut memang menyebalkan, jadi saya sih senyum-senyum saja pada saat mendengar dia menuai apa yang ia tabur. :)
Tapi tetap saja, backstabbing sangat tidak disarankan untuk dilakukan pada saat kesempatan apapun kecuali kita siap dibenci oleh teman-teman kita dan dipandang sebagai orang paling brengsek yang pernah ada. Saya sendiri pernah di-backstab oleh seorang teman tanpa sadar, tapi untungnya saya tidak mengikuti emosi sehingga masalah bisa terlupakan seiring waktu berjalan.
Menegangkan, penuh warna, dan menyenangkan. Itulah kesan yang saya dapatkan selama kuliah di HI Unpar. Saya tidak mengalami kasus separah orang lain (teman-teman saya pernah curhat bahwa mereka di-backstab oleh orang yang dianggap sahabat sendiri), saya yakin saya juga pernah dicibir dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang tertentu, tapi berhubung mereka kurang/tidak signifikan dalam hidup saya, kenapa juga harus dipikirkan?
Lain halnya kalau mereka adalah teman dekat, dan saya dipandang negatif oleh mereka, komunikasi harus berjalan agar saya tidak dikucilkan.
Ngomong-ngomong, apa situasi ini hanya terjadi di jurusan HI Unpar ya? Kalau jurusan/lingkungan kampus/lingkungan kerja anda bagaimana?
Popularity: 29% [?]
Tags: Prakdip, UNPARIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Wuih wuih wuihhh, bang Calvin niat betul ceritanya :)
Angkatan gw sih nggak separah itu Vin. Tapi, yah, berantem2 mah pernah ada juga, hahahahahaha.
Ps. Siapa sih yang bikin lo nulis ‘Entah apa yang dipikirkan si pemberi usulan tersebut…’? Hahahahaha. Gosip banget ya gw?
whoops sar, itu gw ga etis kalau bilang disini, toh orangnya sudah lama lulus. hwhwhwhwhw. itu semua uda jadi rahasia umum pas angkatan gw bikin gintre deh! :D :D
“Saya ingat sekali dulu ada sebuah delegasi yang karena satu orangnya bermasalah, dia dialienasikan oleh negara-negara yang harusnya jadi aliansinya”
Hahahaha,,kayaknya kenal deh ni cerita (eh bener ga? apa ada lagi yang sama)
Ya pelajaran buat yang bakal ngalamin juga ya,,jangan sampe ambisi pribadi seseorang menghambat “perjuangan” temen2 sedelegasi apalagi sealiansi..
Masa iya abis prakdip nilai akhir A,tapi ga punya temen semester 8
Tapi bener vin,,penuh warna dan menegangkan!! Nice opinion
hohoho, sayang gw melewatkan adegan seru pas di rekto dengan orang itu. wwkwkwkwkwk.:))
huahuahauhauahuaha….. bagus bagus vin…
gw suka bahwa lo mengambil banyak pelajaran dari kehidupan kampus di luar kelas! percaya gw atau ga, hal2 ini yg akan nantinya berguna di kehidupan pasca-kampus lo! haha…
btw, usulan tsunami itu nampak samar2 muncul di ingatan gw,,, angkatan gw yah yg ngusulin? apa jangan2 gw ndiri yg ngusulin!? haha… maap2,,, kl mank bener gw yg ngusulin… hihihi…
soal delegasi negara kecil atau ga, ga selalu penting vin.. konteksnya beda2, lagean, gw inget tuh ada kasus prakdip yg kelompoknya dapat undian negara kecil tp melalui ‘lobi politik’ akhirnya bisa berubah delegasi jadi negara besar kok hahaha…
btw vin, setiap angkatan selalu ada dinamika yg berbeda di kampus, ga semua angkatan terpecah antara ‘akademis’ dan ‘non-akademis’… meski gw stuju kalo prakdip selalu jadi arena pertarungan antar temen satu angkatan (peserta vs peserta), beda angkatan (panitia vs peserta), dan konflik segitiga yg rumit bak telenovela(jurusan/dosen vs peserta vs panitia)! haha…
@evan
hahaha bukan loe kok van, gw inget persis, emang dari angkatan loe, tapi bukan loe kok. ga usah gw sebutin la… tapi kalau diinget2 seru juga sih, berkonflik gara2 hal seperti itu. yang pasti setelah gintre, hubungan gw ama tu orang deteriorated abis deh.
wkwkwkwk, loe ngomongin segitiga konflik pula, mungkin sebenarnya gw harus tulis juga analisis perpolitikan via segitiga-nya johan galtung. hahaha :))
btw loe udaha ada blog ya, gw cantolin ya~
hmm calvin ternyata merespon tulisan gue dgn lebih mendalam. emang isu sensitif di kampus si..
backstabbing itu ada banget vin, gue baru2 ini juga merasakannya. gara2 gue di backstabbing-in sama A, eeeh gue malah dikiran backstabbing sm tmn gue B. kesrl bgt gue! yaah, the backstabbers not only on himahi or prakdip term, it could be existed on the PEMILU KAHIM term. ngomong dikit pendapat gue, eeh malah dijadikan alat utk menjatuhkan lawan *dan juga gue*. sial, gue jadi curhat! :))
Berhubung gue blm ngerasain yg namanya prakdip, ya gue ga bisa komen byk de. tp cerita2 lo soal prakdip bisa jadi pelajaran buat gue. biar lebih ‘hati-hati’…hohoho
whoops na, detail bisa diceritakan via ym. :D :D *gosip mode on*
hahahaha.. yang namanya mahasiswa mah emang penuh politik! mahasiswa TEKNIK aja bisa berpolitik.. apalagi mahasiswa HI.. lebih gilaa kali ya..
btw lu kenal mya ya vin? ternyata dunia begitu sempit.. hehehe..
whoops, kalau itu istilahnya sih, 2nd degree friend yah. hahahah
cerita2 juga donk mengenai perpolitikan kampus loe. kayanya itu topik gosip yang kaga ada matinya deh!
eh ,calvin kenal jubel? hahaah bener2 deh bandung..
iya tuh politik ITB oke kan bel? hehe..
btw vin,,kangen juga ga si lo sama suasana politik kampus?secara kita bentar lagi lulus
@mya
I’ll miss these political days (buset deh istilahnya).
konflik emang tak terhindarkan, tapi beneran deh, itu yang bikin gw enjoy selama kuliah di unpar. Ini waktu terbaik dalam hidup gw, apalagi ditambah drama2 seru yang lebih seru dari shitnetron.
haha Iya ya,,sinetron cinta fitri aja kalah!
dan taun ini kita udah jadi spectator ajah..hmm
wondering,,apa kabarnya tu orang yang bikin kebodohan pas Prakdip itu ya? hihi
btw ,udah bikin sih cuma ga aktif..
Ramenya gimana gitu?
duh mi, pas hari minggu atau sabtu kemarin gw ketemu ama tu orang, nyaris eye contact malah, ga banget deh, gw langsung melakukan denial dengan mengatakan “gw baru bangun, ini cuma mimpi” berkali2 (gaya denial ala orang obssesive compulsive disorder)
daan wp lebih rame karena teman2 kita tampaknya lebih banyak menggunakan wp, terus themesnya bisa digonta ganti. kalau kita komen, kita bisa nge-track comment kita lewat dashboard, dan macam2 lagi.
pokoke lebih pewe di wp deh, hehehe.
wahahah parah parah lo vin..emangnya dia mau melet lo apa..ati2 loh ntar wisuda sebelahan ( duh ,jangan sampe jangan sampe)
Ouuw..yayayaa tampak menarik,,baiklah bakal dicoba..mestinya WP ngegaji lo ni jadi humas.
hiii cape deh, kalau itu terjadi berarti gw super duper sial. jangan sampe deh! :))
haha… aduh vin… udah deh,,, ga semua hal harus di-’teori’-kan (meski di sini kerjaan gw begituan) hehe….
btw vin, kalo mau jujur, perpolitikan pmhi (gintre) dan prakdip, sbnrnya masih kalah seru ma politik pemilu kahim himahi, well, at least selama yg gw alamin seh selalu banyak kisah2 yg jauh lebih sadissss dan seruuu… hahaha….
btw, blog gw masih berantakan, jgn cantolin dulu lah.. malu gw..
heee…
kayanya seru yahh…
*wondering apa di kampus saya ada gini juga*
tp kampus saya kayanya ga seseru UNPAR deh masalah ginian..mostly ga peduli malah ma organisasi..
tapi yg namanya politik, emg gini kan?
asal bisa gunain power, bs kok dapetin apa yg qt mau..
*jd inget principle of survival of the fittest*
*happend in social darwinism*
btw, slm kenal! :-)
@van
hahaha, yang pada jaman loe gw ga tahu menahu, pas jaman gw pemilu kahim juga lumayan intense sih, tapi kayanya tetep seruan prakdip :))
btw gpp la blog loe gw cantolin, ntar kan lama2 banyak juga :P
@grace
itu lah warna-warninya dunia HI unpar, kalau ini film, kita semua ga ada yang hitem putih, semua orang tuh berada di posisi gray area. Berpolitik gini ga berarti bermakna negatif loh… pokoke memorable banget deh :))
haha…campus politics…the best days of my life…
perpolitikan di kampus emang ga ada matinya… gw sih think positive aja ya, mungkin di dunia kerja gw akan ketemu dan berinteraksi dengan individu2 yg jauh lebih kejam hehehe… i mean, gw ngeliat ini sbg step awal atau pembelajaran diri untuk masuk ke dunia kerja yang katanya lebih “sadis”. namanya juga politik, kita ga bisa tau yg mana temen atau enemy.. pinjem istilah dosen gw “all politics is local”. toh seburuk apapun kehidupan di fisip unpar, kita juga sempet kan ngerasain happy, for once in your life lagh.. ga peduli berapa ipk lo, ga peduli seeksis apa diri lo, ga peduli seberapa sering lo tampil, yg penting kan ga usah sirik/iri/dengki deh dengan apa yg bisa orang lain achieve.. okay?
thanks vin gw udah bole “curhat” colongan di sini, hehehe…
Wah-wah sama serunya vin! Dan kurang lebih sih begitu, namanya juga manusia, ya ga? Hahaaha pasti pernah khilaf… Tapi nampaknya komenya belom sePanas di edna Hihihihi
Hidup HI unpaar
@cecil
you said it cil. Gw baru tahu kalau gw, eh kita, dibackstab pas hari2 terakhir prakdip ama “orang itu”, terus hebatnya, kita masih bisa senyum2 ya? Ohohohoho. Tapi gapapa la, setidaknya gw tahu boroknya orang itu, bisa banget senyum manis plus backstabbing kita secara real time. Brilliant, sayang gw ga rasa karena punggung gw ketebelan!
@via
gitu deh vi, kayanya etna udah jadi seleb blog nih. hahahaha.
…Dendam amat sih loe Vin. (Baik pada masa Gintre dulu dan Prakdip kemarin ama juga sama seorang anak HI).
Yang berlalu biarlah berlalu, ingat kata Miyagi (dalam Karate Kid II) “Hidup tanpa memberi ampun lebih buruk dari kematian”. wekekeke.
Yah kita liat saja hikmahnya, kita jadi bisa melihat bahwa semua orang tidak pernah menunjukan sifat aslinya dihadapan siapa saja. Orang lebih sering berpura-pura memiliki sifat yang disukai oleh orang disekitarnya demi mencapai tujuan pribadinya. Jadi berhati-hatilah dalam berteman dan tetap fokus pada apa yang ingin kita capai dalam hidup kita.
Mari.
hauahauahauhauahauhauahua…
Vin kok gw sepertinya TAU PERSIS topik-topik lu itu?
perpolitikan kampus itu udah ada semenjak kita megang GINTRE ya?
hahahah, tsunami? yang mau dibahas apa coba? (berapa banyak korban? Aid-nya apa aja?) ooooo…perasaan dulu sempat ada isu Olimpiade ya (ini isu gw tambah bingung mau ngebahas apa?)
tapi untung kita jadi ngambil The 60th Session of UN GA. walaupun katanya high politic, but reachable kok sama anak-anak SMU, bahkan di saat terakhir gw inget ada yang bilang “angkatan baru jangan dimanja” gara-gara kita ngasih CD. hahahahhaha maunya apa toh…
aktif di kampus? hm…is u to u lha, mau jadi mahasiswa seperti apa. cuma berdasarkan pengalaman. Otak aja ga bakalan cukup…U have to involve in organization. catet kata-kata gw, pasti ntar berguna di masa depan.
Backstabbing. Topik yang paling HATE-able bagi gw. One words from me to “Backstabber” : Go To Hell!!!
Gw benci banget sama backstabber! mending dari pertama lu bilang ga suka ma gw, daripada manis madu di depan, tapi busuk dibelakang -penuh amarah- hahahhaha
yah, lainnya sih enjoy-enjoy aja. yang namanya prinsip Realist cocok sama kita yag =)
hohoho na, pasti loe familiar lah… kita kan the victim!
sumpah brilian banget yah yang ngasi ide tsunami ama olimpiade itu. Gw pengen tahu sidang gintre bakal sebagus apa kalau kita ikutin kehendak mereka yang “amat sangat pintar” itu. (gw ga bisa lebih sarkas lagi dari ini)
btw gw neo-realist, gw percaya ada kerjasama sementara… dan balance of power, hohoho.
iya vin, iya ina… kita semua benci backstabber.. klo cuma ngomongin di belakang sih ga rugi, tapi klo sampe ngejatohin image kan parah namanya..
@vin: gw ga dendam ko sama orang itu. tapi ya cukup tau aja dia orang seperti itu… ga udah deket2.. hehehe…
wah vin…
BACKSTABBER
hahahaha…sudah cukup lama gw melupakan masalah ini tapi ngebaca blog lo, gw malah jadi teringat sama
teman-yang-pernah-ada-yang-terkesan-seperti-malaikat-di-kampus-dan-sangat-diagung-agungkan-oleh-angkatan-gw
(oke gw tau utu kepanjangan, tapi gw ga ngerti nyingkatnya gimana)
sejak bertemu dengan orang tersebut, gw malah semakin berhati hati dalam mencari teman vin…
dan mencari lawan tentunya…
hahahaha dalam politik itu, lawan bisa jadi kawan dan kawan “sering” jadi lawan.
jalan satu2nya?
stay focus.
selalu inget dengan tujuan n kepentingan kita (ga munafik lah..)
soalnya dengan cara itu kita bisa survive dari dunia yang kejam ini.
hehehe… yang penting kita tahu dari awal, siapa teman dan siapa lawan, biar pas dibackstab… kita bisa backstab balik!
(tapi kalau teman yah janganlah kalau bacstabnya gara2 miskom)
hmm.. GINTRE?? kayak inget tuh vin.. huahahahhahaha! aduuuhh kangen! ayo tim materi terkompak yang pernah gw liat! kita ngumpul lagi yu! si mai kemaren ngajakin makan tuh..
Yup, kalo anak2 HI emang gitu cara main politiknya. Beda sama fakultas lain. Hukum: terang-terangan, adu partai, propaganda, dll. Ekonomi: apatis ga ada politik.
HI: diam-diam enang dipermukaan tapi di bawahnya sarat intrik. Tiba-tiba saja ada orang nusuk dari belakang.
Mengenai keaktifan, perlu ditambahkan bahwa ada 4 macam mhsw di HI Unpar. Aktivis organisasi, Aktivis akademik, hedonis tukang main, dan Yang habis kuliah langsung pulang. Kebanyakan sih campuran antara 4 itu.
Tentang prakdip,…. yah setelah selesai semua orang bersalaman dan berusaha melupakan ingatan traumatis itu. It’s just a game, right? jangan diingat teruslah seumur hidup.
[...] Tapi menurut saya, yang utama adalah bukan cuma substansi pendidikannya. Di HI Unpar saya belajar bersosial, belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang, bagaimana mengenal siapa kawan, siapa lawan, mengenal backstabber, dll. Semua itu menjadi persiapan berguna untuk menghadapi dunia kerja di depannya. Singkat kata, kita diajar berpolitik. [...]