UNPAR

Perpolitikan Kampus ala HI Unpar

Sekali lagi Edna membuat tulisan nampol (setelah ngekspos kenarsisan kecenderungan anak HI dalam berfoto) yang cukup menarik mengenai perpolitikan di kampus kami, jurusan HI Unpar. Mungkin karena kami mempelajari ilmu studi Hubungan Internasional, sadar atau tidak sadar, otak kami juga terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran besar di ilmu studi hubungan internasional.Ya, dalam berhubungan dengan orang lain pun, kami terpengaruh oleh dua aliran besar dalam hubungan internasional (tentu saja ini simplifikasi, karena masih banyak teori lain, tapi dua inilah yang paling populer)

Secara kasar, ada dua aliran besar dalam melihat Hubungan Internasional, yakni realisme (memandang manusia lain dasarnya jahat sehingga dunia ini anarki), dan idealisme (memandang manusia dasarnya baik dan bekerjasama).

Nah begitu pula dengan perpolitikan di komunitas HI Unpar, sadar atau tidak sadar, pada hari pertama kita menginjakkan kaki di kampus, kita akan mencari teman yang memiliki tujuan dan pemikiran sama dengan kita. Lalu pada saat kita berhubungan, kita akan sering harus memilih dan memutuskan apakah pertemanan yang kita lakukan dengan satu orang adalah hanya untuk mencapai kepentingan tertentu (ala realisme) atau memang kita berteman karena ingin berteman (ala idealisme).

Artikel ini mau membahas mengenai situasi di kampus saya, apakah anda saat ini mengalami hal serupa?

Aktif di Kampus: Pilih Yang Mana?

Secara kasar, di hi unpar ada pembagian antara kegiatan akademik dan non-akademik.

Kegiatan akademik adalah acara-acara kampus yang berkaitan dengan akademik, tentu saja, kegiatan seperti membuat seminar, acara sidang, dll. Kegiatan non akademik adalah kegiatan yang terlepas dari kegiatan akademik, seperti pentas musik, seni, olahraga, dll.

Nah contoh masalah yang muncul adalah pada saat mungkin ada anak yang terlalu eksis (aktif di semua kegiatan abcdefgh) terus akhirnya dipandang negatif ama anak-anak lain.

Komentar paling sering muncul adalah: “ih gw sebel/kurang suka ama sih XXX, soalnya semua kegiatan dia mulu jadi kordiv”, atau “tahu ga sih, si XXX, saking banyaknya ikut kegiatan abcdefgh, semua kegiatan jadi ga jalan, ih cape deh”.

Saya sendiri membatasi partisipasi saya dalam acara kampus, saya sadar betul bahwa saya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Saya tidak pernah jauh-jauh dari divisi materi, karena saya memang cocok di bidang research. Menurut kata teman-teman dekat, di jidat saya ada label “Materi”. Saya memang selama ini berpartisipasi dalam kegiatan yang membutuhkan research, karena memang di bidang itulah saya bisa menggunakan otak saya dengan optimal.

Kalau pada jaman saya ikut berpolitik, saya ada perasaan dan kecurigaan bahwa saya dipandang sebagai “geek” oleh anak-anak lainnya. Secara saya lebih banyak berteman dengan teman-teman yang berbicara mengenai akademik, dan saya juga jarang atau nyaris tidak pernah berpatisipasi dalam kegiatan non-akademik.

Ngasih Saran atau Intervensi?

Saya juga ingat, pada saat menjadi koordinator divisi materi Gintre (Gathering and Introducing International Relations) pada tahun 2005, ide saya ditekan oleh pihak-pihak tertentu dengan argumen: “Topik/isu Hubungan Internasional ini terlalu berat untuk anak SMU”.

Kenapa argumen tersebut absrud? Karena memangnya di dunia ini, ada topik hubungan internasional yang ringan? Saya menutup telinga saya pada tekanan tersebut dan meneruskan ide saya karena saya tidak mau menyia-nyiakan waktu.

Hasilnya? Sukses-sukses saja tuh, angkatan bawah mengatakan topiknya menarik dan tidak berat-berat amat.

Bayangkan saja, panitia telah menyiapkan topik mengenai sidang simulasi reformasi PBB selama 6 bulan, dan tiba-tiba harus diganti karena ada… tsunami Aceh. Lalu saya dipaksa untuk dipaksa mempertimbangkan mengubah topik sidang yang berkaitan dengan tsunami Aceh.

Entah apa yang dipikirkan si pemberi usulan tersebut, mungkin dia berpikir bahwa isu tsunami akan masih hangat untuk diperdebatkan setelah 3-6 bulan waktu kejadian, dan mungkin kita akan membicarakan mengenai bantuan pinjaman uang dari negara ASEAN ke negara-negara lain. Untungnya sih tidak terjadi. Untung.

Tapi intinya adalah: kritik dari atas seringkali tidak membangun, khususnya untuk anak baru yang belum berpengalaman.

Itu sebabnya saya sebagai mantan orang yang pernah jadi korban kearogansian pihak-pihak yang terlalu subjektif dan merasa dirinya amat sangat pintar, berusaha tidak menggurui angkatan bawah yang sedang membikin acara serupa. Saya cuma mau memberi saran dan memperlihatkan poin-poin lemah agar topik yang dipilih bisa tertutupi saat sidang. Tapi kalau dipandang sebagai intervensi… yaah maafkan, mungkin saya tanpa sadar sudah melenceng dari pemikiran awal saya. :(

Selain berpolitik dengan angkatan kita, kita juga terkadang-kadang harus berpolitik dengan angkatan atas. Untungnya tidak semua angkatan atas tuh sok senior. Memang ada beberapa, tapi lebih banyak yang menyenangkan dan tidak berpikiran sempit. :)

Backstabbing

Oh pada jaman saya aktif di HIMAHI, banyak kejadian backstabbing yang membuat hubungan pertemanan dua orang atau lebih menjadi semrawut atau hancur.

Mungkin tidak ada manusia yang secara sadar mau melakukan tindakan backstabbing. Tapi tetap saja hasilnya sama: kita ditusuk dari belakang, alasan sadar atau tidak sadar, itu urusan belakangan, yang pasti kalau sudah ketahuan siapa yang meng-backstab duluan, tinggal tunggu gosip meledak dan image-nya akan hancur di kampus.

Contoh ilustrasinya antara lain: topik acara A diambil/dikopi oleh acara B yang diketuai oleh dua orang yang berbeda, plus dua orang ini sebenarnya berada dalam satu organisasi yang sama, atau misalnya mengenai aliran dana, dimana dana untuk acara A diambil oleh acara B. Terus tidak tertutup kemungkinan ketua dari acara B minta surplus keuangan dari acara A untuk menutupi defisit mereka. Ini cuma contoh loh. Beneran. :)

Sadar atau tidak sadar, tindakan kita sehari-hari, kata kita sehari-hari bisa dianggap sebagai backstab walau mungkin kita tidak bermaksud demikian. Backstabbing terjadi karena miskomunikasi… menyedihkan sekali bukan? Kalau itu sudah terlanjur terjadi, jangan melarikan diri, hadapi, komunikasi, kalau sekarang belum bisa, nanti saja saat waktunya tepat.

Praktik Diplomasi: Lawan Jadi Kawan, Kawan Jadi Lawan

Yang paling seru tentunya sewaktu prakdip. Mata kuliah Praktik Diplomasi, percaya atau tidak merupakan puncak perkuliahan plus puncak perpolitikan kampus di HI Unpar. Disinilah momen kita benar-benar berpolitik dan mencapai kepentingan kita. Tidak heran pada saat prakdip, kawan akan menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan, atau ada kondisi dimana semuanya adalah lawan.

Misalnya kalau ada seseorang yang cukup aktif dan mencolok di perkuliahan, terus tiba-tiba mendapatkan delegasi dari negara kecil (misalnya Vanuatu, Burundi, Senegal, dll) anda akan kesulitan untuk tampil mencolok dalam prakdip.

Anak-anak lain yang mendapat delegasi lebih besar secara sadar atau tidak sadar akan menyepelekan delegasi kecil tersebut dan merasa diatas angin. Bila mereka cerdik, mereka akan menggunakan posisi strategis mereka untuk menghancurkan delegasi yang menentang mereka. Tapi tentu saja itu semua cuma teori belaka, karena yang menentukan keberhasilan dan dukungan adalah hubungan interpersonal para anggota delegasi.

Tidak ada gunanya suatu negara mendapatkan negara strategis, tapi kepribadian orang-orang yang dalam delegasi tersebut underachiever. Bisa ditebak mereka berpotensi untuk disetir oleh delegasi lain yang lebih kecil, tapi memiliki kepribadian lebih kuat. Bisa dikatakan, prakdip adalah ajang untuk membuktikkan diri pada tiap pribadi di HI Unpar mengenai kesiapan dan kelihaian mereka dalam berpolitik dan memanipulasi informasi.

Saya ingat sekali dulu ada sebuah delegasi yang karena satu orangnya bermasalah, dia dialienasikan oleh negara-negara yang harusnya jadi aliansinya. Berhubung orang tersebut memang menyebalkan, jadi saya sih senyum-senyum saja pada saat mendengar dia menuai apa yang ia tabur. :)

Tapi tetap saja, backstabbing sangat tidak disarankan untuk dilakukan pada saat kesempatan apapun kecuali kita siap dibenci oleh teman-teman kita dan dipandang sebagai orang paling brengsek yang pernah ada. Saya sendiri pernah di-backstab oleh seorang teman tanpa sadar, tapi untungnya saya tidak mengikuti emosi sehingga masalah bisa terlupakan seiring waktu berjalan.

Menegangkan, penuh warna, dan menyenangkan. Itulah kesan yang saya dapatkan selama kuliah di HI Unpar. Saya tidak mengalami kasus separah orang lain (teman-teman saya pernah curhat bahwa mereka di-backstab oleh orang yang dianggap sahabat sendiri), saya yakin saya juga pernah dicibir dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang tertentu, tapi berhubung mereka kurang/tidak signifikan dalam hidup saya, kenapa juga harus dipikirkan?

Lain halnya kalau mereka adalah teman dekat, dan saya dipandang negatif oleh mereka, komunikasi harus berjalan agar saya tidak dikucilkan.

Ngomong-ngomong, apa situasi ini hanya terjadi di jurusan HI Unpar ya? Kalau jurusan/lingkungan kampus/lingkungan kerja anda bagaimana?

35 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields