Ada supply, ada demand. Perekonomian Amerika sedang lesu saat ini,
khususnya karena menghadapi gempuran dari produk murah China.
Apresiasi mata uang tidak selalu berakibat positif. Jika mata uang terlalu kuat, masyarakat umumnya akan menjadi lebih gemar membeli produk impor, dan mengakibatkan kelesuan bagi produk lokal. Itu sebabnya bank sentral selalu berupaya menjaga agar mata uang negara mereka tidak terlalu tinggi dibandingkan mata uang lain.
Logikanya, jika mata uang menguat, maka harga produk ekspor makin
mahal, sehingga mengakibatkan barang kita menjadi tidak kompetitif.
AS tercatat mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar 232,7 triliun dollar pada tahun 2006. Pada tahun 2007, industri manufaktur mengalami defisit perdagangan mencapai 763,6 triliun dollar.
China merupakan salah satu mitra dagang terbesar AS. Pada tahun 1999, AS dan China memiliki perjanjian bilateral dalam kerangka WTO untuk mengatur penerapan tarif-tarif pada produk kedua negara. Perjanjian ini meliputi semua produk pertanian, industri dan pengadaan jasa.
China secara perlahan akan menurunkan tarif industri sampai 9,4% pada tahun 2005, namun untuk produk-produk yang menjadi prioritas AS, tarif diturunkan sampai 7,1%, dan diimplementasikan sepenuhnya pada tahun 2003. Produk yang dikenai tarif ini antara lain kayu, kertas, produk kimia, modal, dan peralatan medis.
Produk-produk informasi teknologi secara bertahap akan mengalami
penurunan tarif dari 13,3% menjadi 0% pada tahun 2005. Untuk
produk-produk pertanian Amerika, tarif diturunkan secara bertahap dari
31,5% menjadi 14,5% pada Januari 2004.
Dalam perjanjian ini, terdapat 20 komoditas yang mendapat penurunan hambatan tarif dan non-tarif, yakni:
- Pertanian. Penurunan tarif untuk produk pertanian AS sampai 14,5%
- Produk Industri. Penghilangan sistem yang dapat menghambat ekspor AS ke China, seperti siapa yang bisa mengimpor dan mengdistribusikan produk di China, penghilangan kuota dan lisensi yang membatasi impor dari produk AS.
- Tarif. Penurunan tarif bagi komoditas prioritas AS sampai 7,1%. Penurunan sektor otomatif diturunkan dari 80% menjadi 25%
- Penghapusan Kuota. Penghilangan kuota bagi produk-produk prioritas AS pada tahun 2005.
- Hak untuk mengimpor dan mengdistribusi. Pemberian hak bagi perusahaan AS untuk mengimpor dan mengdistribusikan produk di China.
- Jasa. Pemberian ijin agar perusahaan AS bisa mendapat kebebasan untuk bergerak di sektor jasa.
- Pengawasan. China akan mengawasi dan menjamin akses pasar bagi sektor jasa perusahaan-perusahaan AS.
- Distribusi. Pemberian izin agar perusahaan AS yang bergerak di bidang jasa distribusi boleh melakukan aktivitas di China.
- Logistik. Pemberian izin agar perusahaan jasa logistik AS bisa memasuki pasar China.
- Telekomunikasi. Pemberian hak bagi kepemilikan saham asing mencapai 50% bagi perusahaan-perusahaann telekomunikasi lokal.
- Asuransi. Pemberian ijin praktek perusahaan asuransi di Shanghai dan Ghuangzhou.
- Banking. Pemberian akses penuh ke pasar bagi perusahaan bank AS dalam waktu lima tahun.
- Sekuritas. Mengijinkan Joint-Venture perusahaan asing untuk pengurusan modal bagi perusahaan China.
- Audiovisual. Pengaturan distribusi produk rekaman seperti video dan audio.
- Turisme dan Biro Perjalanan. Pemberian ijin bagi perusahaan AS
yang bergerak di bidang tersebut untuk beroperasi secara penuh di China. - Penyelesaian Sengketa Melalui WTO. Pemberian hak penyelesaian damai melalui WTO untuk melindungi perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di China.
- Praktek Subisi dan Antidumping. Perjanjian ini juga menyatakan
bahwa AS berhak melakukan tindakan antidumping dan protes terhadap subsidi jika China terbukti melakukan praktek tersebut, dan masa perjanjian ini berlaku sampai 15 tahun. - Perlindungan Spesifik. Pemberian perlindungan bagi perusahaan dan tenaga kerja AS di China.
- BUMN. Pengurangan pengaruh pemerintah dalam tindakan BUMN,
terutama dalam masalah kompetisi agar dapat membuat perusahaan AS dapat
bersaing. - Tekstil. Ijin bagi sektor tekstil akan diperbaharui pada 31 Desember 2008.
Untuk melindungi kepentingan ekonominya, AS menerapkan tarif pada
produk-produk impor China yang disubsidi, tindakan yang dilakukan AS
adalah menerapkan tarif pada produk kertas asal China.
Tarif yang akan dikenakan akan berkisar 10,9 sampai 20,35 persen. Pada tahun 2004, AS memberlakukan tarif pada manufaktur perusahaan TV China dari 5,22% menjadi 26,37%, bahkan beberapa serikat pekerja mengajukan pemberian tarif mencapai 70%
AS sudah mengajukan keluhan pada WTO akan masalah masalah subsidi produk-produk China. Menurut pihak AS, barang-barang yang disubsidi antara lain kertas, produk informasi teknologi, dan baja
AS pernah mengajukan keluhan serupa pada WTO pada tahun 2004. Kasus pertama adalah masalah tambahan pajak pada produk semikonduktor milik AS yang diimpor China, sehingga mengakibatkan perbedaan harga dengan semikonduktor lokal. Kasus ini terselesaikan dalam empat bulan dan melindungi industri semikonduktor AS yang bernilai dua triliun dollar
Kasus kedua adalah masalah pengenaan tarif pada komponen industri
otomatif yang diskriminatif. Dalam peraturan China, industri otomotif
diharuskan memasukkan komponen lokal dalam produksinya, namun pengenaan tarif pada komponen impor mengakibatkan penambahan biaya produksi. Masalah ini terselesaikan melalui pembentukan panel di WTO.
Faktor lain yang memperlemah kekuatan ekonomi AS menghadapi China adalah perang Irak yang menyedot anggaran perekonomian AS. Pada tahun 2005 saja, perang Irak dan Afghanistan menyedot anggaran sebesar 314 trilliun dollar. Kongres AS bahkan menambahkan beban sekitar 450 triliun dollar untuk 10 tahun kedepannya. Bila dibandingkan dengan perang-perang yang dihadapi AS sebelumnya, perang Irak menghabiskan biaya terbesar. Perang Korea menghabiskan dana sekitar 430 trilliun dollar, perang vietnam sekitar 600 milyar dollar, dan untuk perang Irak, diperkirakan akan melebihi 700 milyar. Bahkan, jika AS dapat keluar pada tahun 2010 sekalipun, pembayar pajak AS akan
mendapat beban untuk membayar 400 milyar, dari total 2 triliun dollar
Menggelembungnya biaya dari perang Irak akan mempengaruhi kemampuan ekonomi AS dan instrumen yang dijalankannya. Untuk menutupi biaya perang, kubu republik mengusulkan untuk meningkatkan pajak domestik.
Secara teoritis, kebijakan fiskal bisa digunakan untuk memenuhi anggaran dari proyek-proyek yang akan dilaksanakan negara. Namun dalam kasus AS, kebijakan fiskal memiliki potensi untuk memperlemah industri domestik AS. Kenaikan pajak berarti membuat pendapatan masyarakat berkurang, sehingga daya beli menurun. Produsen AS bisa merugi jika terpaksa menurunkan harga jualnya, karena persaingan dengan produk China yang relatif lebih murah.
Namun dibalik pembenanan perang Irak pada pembayar pajak AS, perusahaan-perusahaan besar AS memperoleh untung dengan memenangkan tender untuk merekonstruksi irak. Pada tahun 2004,
departmen pertahanan AS memberikan persetujuan untuk memberikan proyek rekonstruksi irak di 7 sektor pada perusahaan-perusahaan AS dan perusahaan asing senilai 5 triliun dollar. Perusahaan-perusahaan AS mendapat porsi sebanyak 130 juta dalam tender proyek ini
Bisa dikatakan, perang Irak memberikan dampak positif dan negatif bagi perekonomian AS. Di sisi konsumen, daya beli bagi produk AS menurun karena serbuan produk China, sedangkan bagi perusahaan-perusahaan besar, mereka mendapat proyek-proyek untuk menambah pendapatan mereka.
Popularity: 19% [?]
Tags: America, China, Economy, Iraq, Trade Deficit







Aduh jadi nyesel ga nanya mengenai defisit anggaran Amrik sama dosen ekonomiku. Waktu itu dia cerita mengenai defisit anggaran Amrik karena perang. Tapi dia bilang kalo itu ga masalah. Lagian perang Irak biayanya hanya kurang dari 2% dari anggaran belanja Amrik sementara pengaruhnya besar. Yang bermasalah adalah korban yang terlalu banyak dan perang tersebut seperti tidak ada arah.
actually, komentar gw cuma satu: kok faktor keberadaan minyaknya Venezuela yang jadi komditi perdagangannya dengan Cina ga di masukkin? padahal Venezuela dan Cina punya prinsip absolut, yaitu anti-AS.
trus, gimana juga dengan upaya cina yang berusaha membendung hegemoni AS di Amerika Latin, terutama ketika cina memutuskan untuk ikut berpartisipasi sebagai penyandang dana di Inter-American Bank?
sekian dan terimakasih.
Notes:
gw, temanmu yang realis namun bijak ini, sudah menuruti permintaanmu untuk memberikan komentar..
halo,
say iqbal ingin menanyakan apakah anda mengetahui harga2 barang kebutuhan di iraq?terima kasih
vin, u got my attention this time,hahaha..
i’m on my way to finish my final paper, u know it.
gw ada maunya nih,vin..may i borrow ur source for this article?mau mau mau mau…eh2, tau gk vin?bab 2 gw byk bgt tabel, n gw lg girang krn gw dpt tabel bgs bgt ttg trade defisit as n china..hehe..hhh..jgn2 yg nyidangin gw bang tian nih..mati d…
@dhel
ngg, source nya kan udah gw taruh di link-link itu. Kalau yang mengenai komoditas itu apa masih perlu? kalau iya gw harus cek lagi dokumen gw… itu kalau ga salah tulisan pas buat ekopolin atau HIE, lupa gw…