Perang Atas Air?

By Calvin Michel Sidjaja | May 1, 2007
   Show Original   

Kebanyakan dari kita mungkin akan lebih familiar dengan isu kelangkaan minyak yang semakin harinya semakin sedikit, bahkan tidak jarang ada pendapat bahwa peperangan yang terjadi di dunia ini sebetulnya dikarenakan keinginan negara-negara maju untuk mengamankan sumber minyak mentahnya. Itu tidak salah, tapi mungkin ada perlunya sekali-kali kita melirik isu lain yang semakin serius tiap harinya, yakni air.

Kelangkaan air mungkin kurang terasa bagi kalangan ekonomi menengah keatas, karena pada umumnya mampu membeli air mineral dan berlangganan air ledeng tiap harinya. Tapi jika kita lihat lebih dalam lagi, menurut United Nations Water Development Report� pada tahun 2006, ada 1.1 milyar orang yang tidak bisa mendapatkan akses air bersih, di berbagai belahan dunia, kuantitas air bersih yang tersedia makin menipis, dan kualitasnya makin mengkhawatirkan. Apa penyebabnya? Cukup beragam, pemerintah, industri, penebangan hutan liar dan pertumbuhan jumlah penduduk adalah sedikit komponen yang menyebabkan kelangkaan air ini. Industri khususnya menjadi penyebab pencamaran sumber air karena menyebabkan limbah pabrik, dan hal ini memberikan dampak amat buruk pada ekologi sumber air dan penduduk yang menggunakan air tercemar itu sehari-harinya.

Pemerintah bertanggung jawab dalam pemberian regulasi dan pembuatan infrastruktur. Pemerintah yang tidak tegas dan tidak mengenakan sanksi keras akan memperburuk persoalan karena pelanggar hukum tidak akan jera. Penebangan hutan liar memberi dampak ganda, selain memperparah efek rumah kaca, kita juga kehilangan reservoir untuk air. Namun elemen terpenting dari semua itu adalah kita, masyarakat. Kenapa? Karena masyarakat adalah jumlah terbanyak dari keempat komponen yang telah disebutkan. Kita hidup sehari-harinya menggunakan air, dan kita mungkin adalah polutan terbesar di jagat raya.

Gambaran realistisnya mungkin terlihat pada kasus banjir bulan februari 2007 lalu. Ribuan protes ditujukan untuk pemerintah karena ketidakbecusannya dalam mencegah banjir. Tapi stop dulu. Sebelum mencela pemerintah, silahkan mengaca terlebih dahulu. Walau ada masyarakat Indonesia yang sadar lingkungan dan mulai membuang sampah pada tempatnya, lebih banyak lagi yang membuang sampah di jalan, di tempat umum, dan lebih buruk lagi, ke sungai. Kita semua tentu tahu apa akibat dari budaya tidak peduli lingkungan ini, kota jadi tak sedap dilihat, dan pada saat musim hujan turun, potensi banjir datang. Walau cara mengatasinya sebenarnya cukup simpel, yakni membuang sampah pada tempatnya.

Jika masyarakat Indonesia tidak mulai dari dirinya sendiri dalam menghargai air, mungkin kita harus belajar dari timur tengah dimana air merupakan komoditi yang lebih penting dari minyak, dan memiliki kekuatan nyaris sama efektifnya dengan minyak. Negara yang mengontrol sumber air di timur tengah berpotensi menjadi hegemoni kawasan. Beruntunglah jika kita hidup di lingkungan yang kaya sumber air, dengan harga cukup terjangkau, namun siapa yang tahu kalau besok kita tidak akan menjadi bagian dari statistik 1,1 milyar orang yang kehausan itu?

Popularity: 5% [?]

Tags: , ,

Related posts

1 Comment so far
  1. rbbagindo December 12, 2007 9:57 pm

    Siapa bilang kita beruntung … kalau keadaan lingkungan indonesia khususnya Pulau Jawa akan begini terus menerus tidak diperhatikan ketahanan Hutannya. menurut temen2 dari javlec sekitar tahun 2015 kita bakal harus beli air minum kemasan, karena perbandingan air bersih akan menjadi 1:6 terhadap penduduk pulau jawa… makanya Aqua di beli Danone dah ada yg siap2 tuch… info lebih lanjut silahkan tanya kawan2 Javlec Kehutanan UGM… tentang ancaman krisis Air bersih di Indonesia. mereka pakarnya lingkungan jawa tuch..

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes