Opinion

Ngamen: Karena Miskin, atau Pekerjaan Orang Malas?

Hari ini saya bersama dua orang teman pergi ke Flexi Center di jalan dago untuk mengambil hadiah dari lomba blog telkom (saya dapat Nokia 2505 CDMA, satu tas, sertifikat, dan tiga voucher perdana flexi. Makasih atas bantuannya bu Anis!). Berhubung kedua teman saya mau senam, saya pulang duluan pakai Ciumbeluit-St. Hall (belok).

Nah dalam perjalanan pulang, seperti biasa, ada pengamen yang mangkir di jalan Cipaganti  (yang  dekat lampu merah). Saya salah satu dari sekian orang yang masih tidak mau memberikan sedekah bagi pengamen, apalagi setelah melihat pemandangan yang menjengkelkan: mereka merokok.

Selama ini dalam pemikiran saya, orang mengamen atau meminta sedekah karena mereka mungkin lahir tidak beruntung, miskin karena sistem. Kelompok ekonomi menengah atau menengah kebawah mungkin masih memiliki kans untuk “naik tingkat”, tapi ada juga orang yang memang sama sekali tidak punya modal untuk menaikkan derajatnya.

Pengamen-pengamen yang berkeliaran di kota Bandung, sepengamatan saya, berkisar antara 10-24 tahun (tampaknya). Anak-anak kecil tampaknya mengamen karena disuruh orang tua mereka, sehingga ujung2nya mereka tetap miskin karena tidak bisa sekolah dan uang mereka diambil orang tua.

Tapi bagaimana dengan para remaja dan pengamen usia 20an tersebut? Apa benar mereka orang miskin dan tidak mampu? Kalau iya, kok merokok? Semua orang juga tahu kalau membeli rokok sama dengan membakar uang.

Apa di pemikiran mereka, rokok lebih penting daripada menabung untuk hal yang lebih penting, seperti misalnya, buku? Mereka itu orang miskin, orang kurang beruntung, atau orang malas sih? Usia mereka masih produktif, baju-baju mereka juga tampak stylish. Punya gitar dan alat musik pula. Saya susah percaya bahwa mereka orang miskin. Atau mungkin mereka kerja part time?

Saya tadi melihat ada seorang gadis SMU di angkot memberikan “sedekah” pada mereka, apa dia tidak lihat bahwa orang-orang tersebut merokok ya, dan uang yang ia berikan, mungkin akan berakhir sia-sia karena akan dipakai untuk membeli rokok? Rasanya saya harus berpikir ulang akan rasa “kasihan” dan “simpati” pada pengamen.

Memberi “sedekah” mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah, jadi bagaimana yah sebaiknya?

12 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields