Beberapa waktu ini kita kembali lagi mendapati kekesalan dengan tetangga terdekat kita, Malaysia. Malaysia kembali mengklaim salah satu budaya Indonesia dan membuat rakyat Indonesia protes.
Menurut saya, hal ini dikarenakan orang Malaysia dan Indonesia sama-sama rumpun Melayu. Hubungan kedua Negara pun bisa dikatakan ada percampuran rasa inferiority complex dan Superiority Complex. Malaysia dulu belajar kepada Indonesia, mendatangkan guru-guru dan pengajar dari Indonesia, tiga decade kemudian, hasil tersebut bisa dipetik, Malaysia merupakan salah satu Negara berkembang yang GDP-nya melejit melebihi Indonesia, sehingga membuat Indonesia, “sang guru” tertinggal dari muridnya.
Bahkan sekarang mahasiswa Indonesia lebih banyak percaya kualitas pendidikan Malaysia. Disinilah sumber inferiority complex bangsa Indonesia kepada Malaysia. Namun pada saat yang sama, bangsa Indonesia juga merasa superior pada Malaysia. Kultur pop Indonesia menjajah Malaysia, bahasa Indonesia lebih berkembang dibandingkan Malaysia, secara geografis, Indonesia juga jauh lebih besar dari Indonesia. Hal ini membuat hubungan Indonesia-Malaysia menjadi kian kompleks dan emosional, terutama karena tercampurnya ambivalensi dalam hubungan kedua Negara.
Sadar atau tidak sadar, seperti yang saya pernah katakan sebelumnya dalam postingan ini, Malaysia sebenarnya sangat berguna untuk meningkatkan nasionalisme Indonesia.
Dalam teknik propaganda, kita bisa menggunakan pihak eksternal untuk meningkatkan rasa kekitaan dan kebersamaan. Amerika contohnya, mengaitkan Terorisme untuk menyatukan penduduknya dengan rasa ketakutan. Hasilnya? Patriotisme Amerika meningkat.
Malaysia merupakan salah satu satu Negara yang sebenarnya potensial untuk meningkatkan nasionalisme bangsa Indonesia melalui pendekatan serupa. Seperti yang kita ketahui, bangsa Indonesia saat ini dilanda dengan krisis nasionalisme. Banyak orang Indonesia yang merasa malu dengan identitasnya sebagai Indonesia, karena mereka merasa Indonesia terlalu terkait dengan kata kunci “korupsi”. Bangsa Indonesia merasa malu karena sungai ciliwung menjadi kakus terpanjang di dunia (walau demikian, masih saja ada orang yang buang sampah sembarangan), dan tidak boleh dilupakan, kita baru saja melewati pemilu, dimana terjadi konflik kepentingan antar komponen bangsa.
Bagaimana cara cepat menyatukannya lagi? Tentu saja melalui metode serupa yang digunakan amerika. Demonisasikan lah suatu pihak eksternal yang tidak berasal dari komponen bangsa kita agar bisa membuat kita memiliki satu musuh bersama yang membuat kita bisa melupakan sejenak konflik kepentingan antar bangsa sendiri, tapi sebaliknya, kita harus bersatu agar melawan pihak eksternal.
Mari kita ingat-ingat sejarah masa lampau. Sebelum merdeka, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis bersatu melawan penjajah eksternal (Belanda), setelah sukses mengusir penjajah, bangsa Indonesia dapat membuat pemerintahan sendiri, komponen bangsa yang tadinya bersatu ini mulai terpecah-pecah lagi dan terjadilah perang sipil.
Menurut pendapat saya, media-media Indonesia adalah komponen terpenting untuk menyatukan komponen bangsa, karena apa yang tampil di headline, itulah yang akan dipikirkan masyarakat. Pemerintah harusnya memanfaatkan situasi ini, misalnya dengan memberikan himbauan agar Indonesia bersatu dan tidak kalah oleh Malaysia. Bagaimanapun juga, perasaan tidak ingin kalah bersaing itu perlu. Jiwa kompetitif itu perlu agar kita bisa bersaing dengan Malaysia.
Namun tentu saja propaganda seperti ini memiliki resiko tersendiri. Jika secara terus menerus kita diekspos dengan kebencian pada Malaysia, kita bisa menjadi bangsa yang chauvinistic dan menjadi anti-malaysia, bahkan jadi anti terhadap segala hal dari Malaysia, orang Malaysia, atau Siti Nurhaliza. Tentu saja ini tidak sehat, dan tidak seharusnya terjadi.
Lihatlah Korea, yang dihimpit oleh Jepang dan China. Orang-orang Korea tumbuh menghadapi rasa inferiority complex terhadap Jepang dan China, itu sebabnya mereka membangun industri mereka agar tidak kalah bersaing dengan Jepang dan China, dan orang korea pun sangat tidak ingin kalah dengan orang Jepang dan China.
Musuh eksternal tidak identik dengan rasa benci yang membuat kita menjadi xenophobic, justru, karena kita ada musuh eksternal yang harus dikalahkan, kita harus bersikap kompetitif.
Ada pertanyaan tambahan menarik untuk didiskusikan: apabila budaya unik etnis Tionghoa yang dihasilkan melalui akulturasi Indonesia-Tionghoa diklaim sebagai budaya Malaysia, apakah menurut anda Indonesia perlu marah terhadap Malaysia juga?

well, saya bersetuju dengan beberapa pendapat anda.. pada zahirnya, terdapat juga pendapat yang saya kurang setuju.. maaf, saya tidak boleh menyatakan perkara tersebut kerana ia mungkin menimbulkan sedikit sebanyak perasaan marah beberapa pihak.. saya bersetuju kita harus mencari pesaing untuk maju.. seperti yang diterapkan kepada rakyat malaysia, kami sentiasa harus bersaing tetapi secara sihat.. kami tidak mungkin sesekali bermusuhan sesama sendiri.. hal ini kerana persaingang secara sihat akan membuahkan hasil.. bersaing dengan pihak yang setaraf amatlah digalakkan.. kami tidak menindas pesaing, malah membantu jika mengalami kesulitan.. harap maaf jika ada yang tersinggung.. harap balas………