Myrna, Kambing, dan Kelinci
Matahari tersenyum dengan hangat di kota yang ditinggal Myrna. Tapi hari itu makin panas walau ia sudah menjilat-jilat setangkai es krim stroberi di panas terik itu.
“Panas ya?” kata Myrna kepada teman di sebelahnya, Clara yang juga sedang menikmati es krim ras vanilla.
“Tapi Myrna, kata mama dan papaku, kita harus segera pulang loh.” kata Clara menggandeng sahabatnya ke tepi jalan. Sekolah sudah usai dan kedua sahabat itu seperti biasa, pulang bersama-sama karena rumah mereka berdekatan dengan sekolah.
“Memang kenapa Clara?” tanya Myrna.
Clara lalu mendekatkan bibirnya ke Myrna, “Papaku bilang… kambing-kambing bakal menyerbu kota.” bisik Clara.
“Kambing? Kenapa kambing mau menyerbu kota? Memang kota kita kenapa?” tanya Myrna dengan bingung.
“Itu,” tunjuk Clara ke sebuah toko hewan.
“Kamu pernah lihat kelinci?” tanya Clara. Myrna mengangguk.
“Toko hewan kita minggu lalu menjual kelinci-kelinci jenis baru yang tidak disukai kambing-kambing di dalam kota, makanya mereka mengamuk dan mau menyerbu kota.” kata Clara.
“Tapi kenapa kambing-kambing tidak menyukai kelinci itu? Bukankah bu guru mengatakan kalau masalah lebih baik dibicarakan baik-baik, bukannya diselesaikan dengan berkelahi?” tanya Myrna tidak mengerti kenapa kambing-kambing yang dimaksud Clara mau menyerbu seluruh kota hanya karena kelinci-kelinci kecil.
“Papaku bilang, kambing-kambing itu susah diajak bicara karena mereka tidak bisa bicara bahasa manusia. Sedih sekali aku mendengarnya Myrna. Kata papaku juga, di beberapa sudut kota kita, kambing-kambing justru memakan kelinci-kelinci itu!” kata Clara dengan muka ketakutan.
Myrna juga takut mendengarnya. Guru biologi mengatakan bahwa kambing makan rumput, kelinci makan rumput. “Tidak mungkin ada kambing makan kelinci Clara! Papamu pasti bohong!” jawab Myrna.
Mereka berdua lalu berjalan lagi tanpa mengucapkan apa-apa, khawatir jika bertemu dengan kambing-kambing pemakan kelinci yang mengakibatkan kerusuhan itu.
MBEEEK!!!
Terdengar suara kambing yang dikenal Myrna.
“Myrna mereka datang! Ayo kita menepi!” Clara menarik baju Myrna secepat mungkin ke tepi jalan. Myrna baru kali ini melihat banyak sekali kambing-kambing, dengan mulut penuh darah memenuhi jalan tempat biasa ia pulang sekolah. Apa kambing-kambing itu baru saja memakan kelinci pikir Myrna?
Myrna lalu melihat seekor kambing berjalan ke arah mereka. Kambing itu lalu mengendus-ngenduskan hidungnya yang bau tengik ke arah Myrna dan Clara. Seolah-oleh mereka ingin menanyakan apakah mereka membawa kelinci atau tidak.
Myrna menggeleng-gelengkan kepala, “pak kambing! Kami tidak membawa kelinci! Benar! Kami tidak bohong!” kata Myrna ketakutan. Kambing itu mengembek sekali lagi dan meninggalkan mereka.
Myrna dan Clara ketakutan. Mereka tidak bisa pulang karena jalan dipenuhi dengan kambing-kambing yang mulai menghancurkan tempat sampah, kios majalah, dan toko binatang di jalan itu. Myrna lalu berteriak saat melihat kambing-kambing itu tiba-tiba berkumpul untuk melahap seekor kelinci lucu yang tadi dijual di toko binatang. Kambing-kambing itu lalu menjilat-jilat bibir mereka dengan nikmat.
Satu jam berlalu.
Myrna dan Clara masih takut untuk pulang. Mereka takut bertemu kambing-kambing lain yang mencari-cari kelinci untuk dimakan. Myrna dan Clara lalu memberanikan diri untuk menengok toko binatang yang diserbu oleh kumpulan kambing tadi. Toko itu hancur. Myrna bisa melihat kandang-kandang hewan yang ada terbuka dan kelinci-kelinci sudah tak ada. Dimakan oleh kambing-kambing yang menyeramkan tadi.
Seorang kakek tua yang menjadi penjaga toko itu menangis tersedu-sedu melihat tokonya yang dihancurkan kambing. Myrna mengenal kakek itu. Dia sudah lama sekali menjadi penjaga toko tersebut.
“Kek-kek… kenapa menangis? Jangan sedih pak… setidaknya kakek tidak dimakan kambing-kambing tadi.” hibur Myrna ke kakek itu.
Kakek itu berhenti menangis, dia lalu tersenyum melihat Myrna dan Clara.
“Myrna, Clara. Kakek bersyukur kalian berdua selamat.” kata Kakek itu sambil memeluk Myrna dan Clara.
Myrna dan Clara tampak bingung.
“Memang kenapa kek? Bukannya kakek sedih karena kelinci-kelinci kakek sudah dimakan kambing? Kenapa kakek bersyukur kami selamat? Apa menurut kakek kambing-kambing tadi akan memakan kami?” tanya Clara.
Lalu kakek menjawab, “kelinci-kelinci itu memang membawa berkah bagi kakek karena mereka disukai manusia seperti kita. Tapi memang kambing-kambing itu jahat… kakek tahu… mereka tampak benci kelinci, tapi mereka sebenarnya suka, makanya dimakan.”
Myrna tambah bingung.
“Myrna, Clara, dengarkan, kakek mau memberitahukan rahasia mengenai kambing-kambing tadi.” kata kakek dengan suara hati-hati.
Kakek lalu membisikkan rahasia itu. Myrna dan Clara sangat terkejut.
*
“Myrna sudah pulang? Kamu tidak apa-apa sayang? Jangan dekati kambing-kambing di jalan ya, hindari kalau bisa. Mereka bahaya sekali.” kata mama yang tampak menyiapkan makan siang bagi Myrna.
Myrna diam saja. Tapi sepulang sekolah itu dia mendapatkan pelajaran berharga. Dia berbisik di dalam hati agar mengikuti pesan dari kakek.
Jangan dekati kambing Myrna, kambing berbahaya. Mereka bisa memakan kelinci dan memakan kamu. Mereka bilang mereka benci kelinci tapi setiap hari makan kelinci di kandang mereka. Mereka mengembek makannya rumput, tapi mereka sebenarnya makan daging. Mereka juga bisa memakan kamu.
Myrna lalu berpikir, Kambing-kambing kota memang berbahaya.
Bandung, 10 Mei 2006
Popularity: 6% [?]
Tags: Cerpen







Leave a Reply