Tidak sengaja pagi ini saya membaca artikel menarik yang membahas mengenai musuh bersama. Saya jadi tergelitik untuk bertanya, apa kita perlu? satu musuh bersama agar menjadi solid?
Sebenarnya Barry Buzan pernah membahas ini di bukunya, People, State and Fear, bahwa untuk menyatukan rakyat di suatu negara, perlu ada sebuah ancaman nasional, sehingga ketakutan itu dibutuhkan. Hal ini bisa kita lihat sekarang, terorisme merupakan ancaman nasional AS dan tidak sampai di birokrasi saja. Rakyat AS dibuat paranoid oleh orang asing dengan propaganda yang efektif dan berkelanjutan. Namun hasilnya bisa dipetik oleh pemerintah AS, rakyat mereka cukup terunifikasi dan patriotik.
Situasi ini agak kontras dengan Indonesia, dimana semangat nasionalisme penduduknya merosot. Mungkin ini juga bisa dilihat dari faktor sejarah. Kita tidka boleh lupa bahwa pada dasarnya negara Indonesia itu tidak ada. Dulu negara ini terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berperang satu sama lain, hanya saat Belanda melakukan kolonialisme di Hindia Belanda, penduduk yang terdiri dari ras yang berbeda itu melakukan unifikasi dan membentuk identitas baru, Indonesia.
Kembali ke pertanyaan semula. Apakah perlu saat ini, kita membentuk musuh baru? Kita semua tentu membaca buku sejarah, dan tahu apa yang biasanya terjadi pada saat suatu negara merdeka, yakni perebutan kekuasaan dari kekuatan politik lokal. Saat musuh asing tidak ada, tampaknya sudah pola umum bahwa akan terjadi pertempuran dalam tataran domestik karena menginginkan kekuatan tertinggi dalam kekuasaan negara.
Saat ini Malaysia merupakan salah satu negara yang paling potensial menjadi musuh bersama Indonesia. Kenapa demikian? Pada dasarnya Malaysia didominasi oleh etnis melayu, yang satu rumpun dengan suku di Indonesia. Pada saat ini orang Indonesia pada umumnya memiliki perasaan gabungan antara superiority dan inferiority complex pada Malaysia.
Di satu sisi, Malaysia banyak mengadopsi kultur-kultur di Indonesia, dan pada tahun 1970-an belajar dari Indonesia. Namun di sisi lain Indonesia merasa inferior karena muridnya sudah melampaui gurunya, sehingga ada perasaan ambivalent saat saling berhubungan. Penduduk Indonesia sulit menerima bagaimana mungkin negeri ini masih tertinggal, sedangkan Malaysia sudah kian majunya.
Saya sendiri sebetulnya tidak keberatan jika hal ini terjadi. Saya merasa saat ini, Indonesia sedang berjalan di tempat, karena terhambat birokrasi yang tampaknya lebih kompleks dari struktur dll Windows XP. Mungkin ada perlunya para pembuat keputusan di tingkat atas melakukan propaganda ini agar negeri ini kembali terunifikasi, setidaknya, ada perasaan tidak ingin kalah dari negara lain yang lebih maju seperti Malaysia.

nggak mau!
nasib tki kita gimana dong?
Mungkin maksud mas calvin, identifikasi musuh sebagai lawan kompetisi…. kalau dulu waktu di SD sih guru saya selalu cerita tentang Jepang… tapi untuk kompetisi kayaknya kejauhan…
tulisan mu sangat2 aku setujui.
selamat hari sumpah pemuda. semangat ya meneruskan perjuangan dan mengisi perjuangan untuk menjadikan negara indonesia yang solid dan bebas korupsi. *halah*
Sumbang pemikiran nih mas….
Menurut saya tidak perlu…
Bisa jadi kita dapat bersatu melawan musuh yg sama,
tetapi setelah kita bersatu dan berhasil mengalahkan musuh itu, masih dapatkah kita bersatu dalam rangka mewujudkan keinginan kita yg cenderung berbeda..?
Kesatuan yang abadi adalah kesatuan yg di dasari oleh kesamaan visi… penyeragaman misi… dan kesadaran diri dalam mewujudkan visi dan misi itu…
*Mohon koreksinya jika salah….. Thx….*
@blogkeimanan
itu sebabnya, seperti yang saya katakan tadi, musuh bersama tetap perlu ada, agar rakyat terus menerus2 bersatu. Kedengarannya aneh, tapi rakyat memang nyatanya bisa bersatu kalau lebih banyak musuh di luar diri sendiri.
sebenarnya saya ingin membahas mengenai nasionalisme dan patriotisme (yang bedanya sangat tipis), tapi belum ada waktu, mungkin nanti saja.
Membuat musuh bersama itu hanya salah satu cara untuk bisa meunifikasi sebuah masyarakat.
Nggak satu-satunya khan?
Kalau 200 juta masyarakat Indonesia cerdas dan sehat, kita nggak perlu ada musuh bersama.
musuh bersama? kalo menurut gw sih, jgankan membuat musuh bersama, untuk membuat bangsa indonesia bisa senergis untuk maju bersama aja masih sngat sulit. konflik dalam negeri saja masih terus membara (papua), ingat saat pemerintah indonesia mendukung resolusi PBB soal Iran DPR mencak2…. mungkin yang perlu sekarang adanya sinergis bersama.
@rahmat
justru itu tujuannya, biasanya, dengan membuat musuh bersama yang berada di luar wilayah (biasanya negara lain, atau suku lain), rakyat yang terpecah2 biasanya akan cenderung lebih bersatu.
Contoh yang bisa dilihat:
1. Pada saat Jerman dibawah Hitler, mereka bersatu karena menciptakan musuh bersama, yakni Kaum Yahudi (walau tentu saja, ini terlalu ekstrim)
2. Pada saat perang kemerdakaan, penduduk Hindia Belanda bersatu karena memiliki musuh bersama antara lain: Belanda, Jepang, Sekutu
3. Korea Selatan maju karena dibayang-bayangi oleh Jepang dan China
Tapi tentu saja ini hanya sebatas opini.
Calvin, pernah baca bukunya Ben Anderson, komunitas terbayang?. Sepertinya tulisan anda berkait erat dengan tulisannya Ben. Btw saya akan kirim tulisan review bukunya Ben Anderson untuk menindak lanjuti tulisan anda untuk dimuat di web anda ini. Bagaimana?
@asrudin
sebetulnya saya mengacu pada Barry Buzan, dan saya pernah mendengar sekilas mengenai komunitas terbayang pada tulisan Anak Agung Banyu Perwita mengenai EAC. Elusive community? Komunitas yang agak sulit diwujudkan karena hambatannya terlalu banyak?
Saya menunggu review buku itu dari anda. Kalau mau, anda juga bisa memasukkan review itu di kotak comment ini
komunitas terbayang yang di maksud oleh Pa Banyu jelas berbeda dengan apa dijelaskan oleh Ben anderson. Komunitas terbayang yang dimaksud Ben Anderson identik dengan jiwa nasinalisme yg dibangun oleh suatu komunitas. Misalnya komunitas di Sulawesi dan di Jawa, walaupun komunitas kedua daerah ini tdk saling mengenal satu sama lain tapi mereka merasakan kebersamaan sebagai komunitas yang disatukan oleh negara yang bernama Indonesia. Tidak heran ketika wilayah kedaulatan perairan Indonesia dilanggar oleh negara tetangga seperti Malaysia, semua komunitas didaerah-daerah akan berteriak mari kita tegakkan NKRI. mungkin itu gambaran ringkas saya tentang komunitas terbayang. Boleh saya minta email anda? hari senin saya akan kirim review saya ke email anda. Bagaimana kalau review ini dijadikan artikel yg akan dicomments juga seperti artikel anda.
@asrudin
wah menarik sekali mas, kalau anda tidak keberatan, silahkan kirimkan review tersebut ke b y b y r 3 3 @ g m a i l . c o m (tanpa spasi)
Mas asrudin tidak tertarik untuk membuat blog serupa? Akan lebih baik kalau saya tulisan anda juga dipublikasikan dan saya bisa meng-trackback tulisan anda di blog ini.
Ok, karena sy sedang tidak di Jakarta, jadi tiga atau empat hari lagi sy akan kririm tulisan saya ke email anda (tapi bukan dalam bentuk review tapi artikel). Btw, saya sedang buat website sendiri, nanti kalau sudah jadi akan saya beritau. Thanks saudara Kelvin.
Baru kali ini berkunjung ke sini, sebelumnya cuma liat doang. Menarik.. Lo banget dah!
1.menurut mu, apa saja yang membuat bangsa indonesia bisa bersatu?
2.menurut mu,apa yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai sekarng sehingga perbedaan sering menjadi pemicu timbulnya masalah?
3.sebagai generasi muda muslim/ musimah,
apa saran mu untuk mewujudkan masyarakat yang rukun dan saling bertolerensi terhadap perbedaan?
1. kalau pada jaman penjajahan = kolonialisme belanda, kalau jaman sekarang = kesamaan bahasa
2. budaya feodalisme yang terlalu kental dan sudah amat sangat mengakar. orang dari generasi “tua”, sadar tidak sadar tidak enjoy dengan perubahan ini, masyarakat indonesia, sadar tidak sadar, belum mau menjalankan perubahan nilai2 ini.
faktor lain adalah agama, semakin banyak orang yang sekuler, tapi hal ini tidak disukai oleh para orang2 yang mendapat legitimasi berdasarkan agama
3. rubah diri sendiri, sebelum mengubah orang lain, apalagi negara
tapi tidak semuanya begitu, jangan lupa, ada keturunan belanda-pribumi, ada juga keturunan belanda-china, dan belanda-china-pribumi. kesamaan dari semua golongan tersebut adalah, kerap kali mereka terkena isu rasial hanya karena “Indo”.
keluarga saya untungnya lebih dekat ke kultur China daripada Belanda dan Jawa, sehingga kami tidak mengalami diskriminasi dari etnis China. bagaimana dengan sentimen pribumi terhadap China-Belanda? Anda bisa tanyakan pada diri sendiri bagaimana perlakuan orang pribumi pada orang keturunan China apa saja melalui buku sejarah.
“lu ga ngeliat ke arah knp pd sentimen ato mungkin mulai skrg lu coba liat dg kacamata pribumi, apa yg nyebabin mreka sentimen??”
>> karena pada jaman soeharto, beberapa orang keturunan China mendapat backing-an dari Soeharto, mereka lemah secara politik tapi kuat secara ekonomi. karena golongan orang2 ini, ada stigma kuat bahwa orang China = minoritas kaya.
sekarang pertanyaan ini bisa dibalik, kenapa bukan orang pribumi yang ditempatkan di bidang2 ekonomi tapi melainkan minoritas yang dianggap bukan bagian dari penduduk Indonesia? logikanya, orang China walau namanya sudah berubah kejawa-jawa-an pun, mereka tetap sipit dan secara fisik berbeda dengan kebanyakan pribumi, mereka tidak memiliki kans untuk menjadi kuat secara politik.
Andai skenario ini berubah, andai dulu kaum pribumi yang menguasai ladang2 ekonomi, bisa jadi umur pemerintahan soeharto lebih pendek karena kaum pribumi ini bisa menjadi ancaman bagi kekuasaan absolut Soeharto.
saya emosi? saya menjawab dengan asertif dan berusaha objektif dalam melihat masalah ini. Mungkin terjadi kesalahan interpretasi pada postingan sebelumnya, tapi percayalah, saya tidak melihat masalah ini tidak penting lagi, karena inilah sistem yang sudah ada, sukar dirubah.
masalah bangsa indonesia sebenernya adalah lapar dan miskin. bangsa yang lapar dan miskin ini perlu diobati. tapi jika mendapat obat yang salah akibatnya adalah :
- korupsi
- pungli
- maling
- menimbun sembako
- adanya pengemis berdasi/berseragam
- anarkis
sedangkan yang tidak kunjung mendapat obat yang tepat akhirnya mencandu film/sinetron india/bergaya india. karena merasa sehati sepakat dengan penderitaan yang tiada berakhir namun berakhir pula dengan kebahagiaan meski itu bisa saja berarti mimpi. rakyat ekonomi lemah sampai menengah yang apatis dibuai2 selalu oleh khayalan itu, dan ketika mendapat kesempatan menjelmalah penyakit tadi. disisi lain rakyat ekonomi menengah sampai kuat sedang asik2nya dengan dunia yang hedonis. dan itu terwakili pada sinetron2 dan film2 kita yang tak kunjung dewasa dalam mendidik bangsa ini. bangsa indonesia terjebak dalam mimpi, serasa tak ingin bangun dari kemiskinan secara nyata dan berjuang. jurang pemisah semakin lebar dan nasionalisme membangun negeri tak kunjung bangkit. yang kanak-kanak asik main PS dan nonton film, yang muda asik SMSan dan pacaran sambil nonton sinetron,dugem,mabuk, nona2 cantiknya secara mengejutkan punya hobi yang sangat langka yaitu tidur!! (tidur apa ditiduri dapet duit??) dan shopping, yang tua sibuk korupsi, cari duit sampingan cara panas, para ibu sibuk arisan, shopping dan gosip. yang miskin dan makin miskin jadi pengemis kagetan.itu kah indonesia??
mo cari musuh bersama..ya lawan aja tuh kemiskinan dan kelaparan. gak usah ikutan isu teroris, apalagi ngeributin tetangga malaysia.urusan lapar dan miskin diberesin dulu. sebetulnya program pemerintah itu dah bagus lho ada pnpm mandiri untuk mengusahakan terciptanya usaha mandiri pada rakyat. tapi instrumen jg harus diperbaiki.
malulah kita mo ribut2 sama malaysia klo kita masih miskin, karena kita cuma dipandang sebelah mata gak seperti yang dulu lagi. jadilah bangsa yang kuat, mandiri dan tentu saja akhirnya bertaring
[...] atau tidak sadar, seperti yang saya pernah katakan sebelumnya dalam postingan ini, Malaysia sebenarnya sangat berguna untuk meningkatkan nasionalisme Indonesia. AKPC_IDS += [...]