…Mimpi-Mimpi Bintang Cassiopeia
Mimpi Kesatu ~ Tatapan Cinta si Gadis Berambut Panjang ~
Siang hari itu langit secerah biasanya, sebiru laut yang selalu kuingat dan dihiasi oleh awan-awan berwarna putih. Aku menatap jendela di sebelah kiri ruangan dan melihat lukisan-lukisan yang menghiasi langit siang melalui pigura kecil itu.
Membosankan, pikirku sambil mengamati jam, berharap waktu yang menjemukan ini segera berlari meninggalkanku.
Betapa bosan aku duduk di ruangan ini, mendengarkan ocehan-ocehan yang tak jelas mengenai bahaya sekularisme dan maraknya atheisme di kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini, yang menurut pembicara di depan, tidak sesuai dengan perilaku bangsa Indonesia yang beradab.
Banyak mulut, pikirku melihat topik seminar ini. Aku menatap buku di mejaku dengan jenuh, Seminar Sehari: Kontekstualisasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kami sudah memasuki sesi dimana salah satu pembicara mengatakan bahwa sekularisme tidak sesuai dengan cerminan masyarakat Indonesia, karena itu, harus dicegah sedini mungkin, dan salah satu caranya adalah dengan memasukkan hal tersebut ke dalam kurikulum. Rasanya aku mau mati ketawa mendengar statement para kaum munafik itu. Bagiku, kata-kata mereka seperti usaha untuk mempertahankan keberadaan agama saja.
Lalu akhirnya, waktu pun berlalu. Seminar terkutuk itu selesai juga. Aku berdiri dengan sangat bersemangat, seolah baru saja dibangunkan dari tidur yang amat sangat lama.
Aku segera pergi dari ruangan itu dengan semangat. Seminar tadi seakan mimpi buruk selama tiga jam pada siang hari ini.
Tapi penat di hatiku hilang. Aku tersenyum sambil menatap langit. Indah, pikirku. Aku ingin segera pulang dan istirahat…
(kriiing)
Telepon genggamku berbunyi. Aku pun mengangkatnya dengan segera.
“Halo?”
Ini aku.
“Kamu? Ada apa? Kenapa suaramu begitu? Apa kamu ada masalah?”
Suara itu tidak menjawab. Dia mematikan panggilannya dengan segera.
Aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui apa maksud panggilan tadi. Aku bergegas pergi ke arah jalan raya dan berjalan menuju restoran dimana aku selalu berbagi cerita dengannya. Lalu aku melihat dirinya duduk di salah satu kursi di halaman depan restoran itu sambil mengenakan baju kuning. Rambut panjangnya berkibar ditiup angin. Sambil menyenderkan tubuhnya, mata hitam itu lalu melihat ke arah langit dengan tatapan yang lebih dalam dari samudra.
Ah, mata itu… dimana seseorang sedang jatuh cint—
Kata-kataku terputus oleh kalimat, “permisi.” Oleh salah satu pengunjung yang berada di belakangku. Aku baru sadar, sedari tadi para pelanggan yang duduk di luar restoran melihatku dengan pandangan bingung lantaran aku berdiri di tengah jalan dan tidak segera bergegas mengambil kursi di halaman restoran itu.
Aku segera menghampiri dia.
“Hai.” Sapaku.
Hai, dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Kenapa kamu memanggilku? Apa kamu ingin menceritakan sesuatu?”
Dia menaruh cangkir yang berisi Vanila Latte itu dan memandangku dalam-dalam.
“Ada apa?”
Dia meneguk ludah. Tak berani berbicara. Dan rasanya satu menit itu seabad lamanya.
Bulan mei… akan berakhir… pikirku. Dan dia yang didepanku, sedang jatuh cinta.
Mimpi Kedua ~ Lukisan Bulan dan Bintang ~
Malam. Aku kelelahan hari ini. Tidak sempat istirahat karena waktuku sudah kupakai untuk mendengarkan seorang gadis, berbicara mengenai perasaan miliknya yang selalu ia pendam.
Gadis itu, aku tersenyum, selalu bersinar terang seperti bintang di atas langit malam. Tapi hari ini, bintang itu ingin menjadi matahari. Dia merasa cahaya miliknya kurang terang.
Ah, aku tak ada waktu untuk memikirkan itu, aku lelah sekali, aku ingin… tidur…
Lukisan Bulan…
…Aah sensasi…
Hujan Bintang…
…Dimana… dimana?
Nyanyian Matahari…
…Aku dimana?
…Mimpikah ini?
Aku membuka mataku ke sebuah ruangan. Ruangan berisi lukisan-lukisan yang dipajang di dinding. Aku memandang sebuah kanvas yang berada di kiriku. Ada lukisan bulan dan bintang yang dibingkai di kanvas itu. Lalu aku melihat ada planet bumi disana. Biru… diterangi oleh cahaya-cahaya bintang yang gemerlap di tengah kegelapan malam…
Aku menoleh ke arah lautan bintang. Betapa indah warna mereka. Warna-warna yang tak pernah kulihat sebelumnya. Warna-warna yang hanya bisa dilihat dalam mimpi…
…Namaku Cassiopeia….
… Diriku Hanyalah Bintang…
…Bumi, Bumi…
Cassiopeia? Pikirku sambil melihat bintang di lukisan itu.
Bintang yang sangat cantik. Kemilaunya silaukan mataku. Cantik sekali. Aku kehilangan kata-kata.
Kamu sendiri? Tanya bintang itu padaku.
Aku mengangguk. Dan kamu? Apa kamu juga sendiri?
Ya. Aku sendiri. Aku merasa kesepian di langit ini. Terbingkai menjadi suatu lukisan seperti ini memang indah buatku. Tapi aku selau merasa kesepian, kamu tahu?
Aku berpikir, betapa anehnya bintang itu menjawab bahwa dia sendiri.
Kamu merasa diri kamu sendiri? Kenapa? Bukankah bintang ada banyak? Bukankah kamu menjadi tak kesepian karenanya… karena kamu ditemani bintang-bintang lain…
Ya. Bintang-bintang lain selalu menjadi temanku. Kami berbagi cahaya bersama. Tapi… aku… ingin memeluk bumi, kata bintang itu.
Napasku tertahan mendengarnya.
Tapi aku bintang. Aku hanya ada di langit malam. Aku ingin memeluk bumi seperti pada saat dia diterangi matahari… namun bumi tidak bisa melihatku, aku… tidak seterang matahari yang selalu ia pandang setiap hari.
Bintang yang ingin memeluk bumi… pikirku.
Kenapa kamu ingin memeluk bumi? Tanyaku pada bintang itu. Apa kamu jatuh cinta… kepada bumi?
Cassiopea tidak menjawab.
Aku tersenyum saja. “Selamat malam Cassiopea”, kataku sambil menjauh dari lukisan itu dan kembali ke pintu gerbang. Aku lalu melangkahkan kakiku menuju sana. Disana aku melihat tulisan yang begitu besar: Selamat Datang di Galeri Alam Semesta.
Dan kata-kata Cassiopeia bergaung di telingaku… bumi… tidak bisa melihatku di siang hari… aku tidak seterang matahari.
Kenapa kamu ingin memeluk bumi, Cassiopeia. Bahkan bumi pun tidak memancarkan cahaya seindah dirimu…
…Lihatlah Aku…
…Di Langit Malam Bulan Mei …
…Karena Aku…
Mimpi Ketiga ~ Puisi-Puisi Kepak Sayap Kupu-Kupu ~
Siang hari. Tidak terlalu panas. Langit berawan. Dan aku duduk bersama gadis itu, temanku. Dia, yang sedang jatuh cinta.
“Aku mengerti.” Kataku sembari meneguk air mineral yang ada di hadapanku.
Terima kasih, kamu mau mengerti. Dia lalu meletakkan gelas berisi vanila latte miliknya setelah menghisap dua teguk.
Tak pernah aku berpikir, bahwa kamu, yang berwarna secerah lukisan bintang di langit malam pada bulan Mei …berpikir ingin mewarnai dirimu dengan warna, yang bahkan bukan milikmu, pikirku dalam hati.
Namun dia menjawab, Aku hanya ingin bersama dia. Namun dia… sudah bersama orang lain… seorang lain yang selalu bersamanya… menjadi cahaya pagi… menerangi dia saat fajar lagi.
Aku sedang berpikir ingin merangkai kata apa. Kata-kata yang amat teramat dalam, pikirku.
Bagaimana mungkin aku bisa menjadi cahaya seperti itu. Aku tak bisa… sungguh tak bisa. Aku bukan dia… dan tidak mungkin menjadi dia… aku tidak cukup terang untuk menjadi cahaya yang membuat harinya semakin bersinar…
Lalu pembicaraan hari itu diseleasikan dengan dua cangkir vanila latte. Hangat, pikirku sembari menghirup aroma kopi yang ada di cangkirku.
Dan dia berjalan menjauh dariku.
Aku melihat dirinya berdiri di antara gerimis daun sambil memandangi kembali langit, dengan tatapan yang lebih jauh daripada langit itu.
Lalu tak disangka, datanglah dia, yang membuat dirinya jatuh cinta. Lalu kupu-kupu berterbangan di antara gerimis daun kering itu.
Aku bisa melihatnya tertunduk tak berani menatap mata milik dia, yang membuat dirinya jatuh cinta.
Aku bisa mendengar percakapan mereka berdua. Ah… angin mengantarkan padaku, bisikan-bisikan yang penuh dengan makna cinta…
Kenapa kamu berdiri disini? Tanya dia, yang membuatnya jatuh cinta.
Karena aku… Ingin melihatmu berdiri… bersamaku di gerimis hujan kering ini, kata dia, yang jatuh cinta.
Kenapa begitu?
Karena aku ingin… kamu… melihat diriku… aku ingin… menjadi matahari pagimu… cahaya yang membuatmu terjaga dari akhir gelapnya malam…
Ah, pikirku. Kenapakah kau mengatakan itu lagi.
Dan aku bisa melihat tangan itu menyentuh pipi gadis yang jatuh cinta.
Kenapakah kamu… ingin… menjadi matahariku…
Lalu si gadis membalas sentuhan tangan itu.
Karena aku jatuh cinta… hanya padamu.
Kupu-kupu menari-nari diantara keduanya. Dan mereka mengatakan, “jatuh cintalah, jatuh cintalah.”
Mimpi Keempat ~ Lukisan Berwarna Matahari ~
Ah, malam tiba lagi. Kataku sambil melihat jendela kamarku. Sudah gelap. Aku lalu memandang langit malam yang bertabur cahaya…
…apa kamu juga melihat, apa yang kulihat sekarang? Aku berharap, dia, yang sedang jatuh cinta, melihat ke langit malam. Agar dia tahu, untuk dicintai, tidaklah perlu menjadi sebuah matahari…
Aku merasa mataku sebentar lagi akan terkatup.
Oh, aku mengantuk sekali…
~Datang… Datang…
~Kemarilah… Kemarilah…
~Datanglah ke Galeri Alam Semesta…
Kubuka lagi mataku. Ah. Aku kembali ke galeri lukisan alam semesta. Ada seorang pelukis disana, sedang melukis di sebuah kanvas berwarna hitam.
Ah indah sekali, kataku kepada pelukis sambil menunjuk hasil lukisannya, sebuah lautan yang dihiasi berjuta-juta bulan dan bintang.
Dia tersenyum mendengar pujianku. Terimakasih. Aku senang mendengar seseorang memuji lukisanku.
Aku membalas senyuman hangat yang terpancar dari muka si pelukis.
Tapi kamu tahu, ada sebuah lukisanku… sebuah lukisan bintang yang ingin mengubah warna dirinya, agar dia bisa memeluk bumi yang ia sukai…
Aku tahu maksud pelukis itu. Cassiopeia lalu terbesit dalam pikiranku. Bintang itu sedang jatuh cinta pada bumi.
Tapi aku tidak tahu, lanjut pelukis itu. Warna apa yang harus kuberikan padanya? Dia berpikir bahwa warna yang berada pada lukisan matahari akan cocok… namun salah. Warna matahari bukanlah warna bintang.
Dia menangis sedih pada saat aku sudah selesai melukis warna untuknya. Aku lalu menghapus warna itu, berulang-ulang. Dan itu membuatku sedih.
Kenapa, pelukis? Tanyaku.
Karena aku tidak bisa mengganti apa yang sudah sempurna.
Aku merenungkan kata-kata itu.
Kamu mengerti maksudku?
Aku mengangguk.
Cassiopeia… mengertikah kamu? Tanyaku pada diriku sendiri.
Mimpi Kelima ~ Cumbuan Bumi dan Bintang ~
Menurutmu, apa dia akan menyukai diriku jika aku memakai gaun ini? Gaun ini mirip seperti yang dikenakan seorang yang selalu bersamanya. Seorang yang selalu menyinari dirinya setiap hari…
Rambut hitam itu bertiup ditengah kegelapan malam. Dia terlihat cantik malam ini. Seakan tak ada bedanya dengan bintang-bintang yang menghiasi angkasa malam.
Ayo, aku mengantar dirinya ke arah mobil. Aku juga mengenakan baju terbaikku untuk malam ini. Dan dia yang duduk di sebelahku, membuatku tak mengerti, kenapa dia yang indah bagai bintang malam, ingin menjadi matahari…
Kami duduk dengan diam di dalam mobil.
Lalu waktu mengantarkan kami ke tempat itu. Lautan manusia. Pesta ulang tahun yang meriah. Aku melihat dia, yang membuatnya jatuh cinta berada di tengah ruangan, mengenakan setelan hitam.
Dimanakah mataharimu? Pikirku saat melihat dia berdiri menghampiri si gadis, yang jatuh cinta. Beranda, beratap langit malam bertabur serpihan cahaya bulan.
Kamu cantik… kenapa kamu mirip… dengan dia…
Karena aku sudah mengatakan, aku ingin menjadi dia… agar kamu… jatuh cinta padaku, kata dia, yang jatuh cinta
Kamu bodoh, kamu tahu itu, kata si pria.
Aku tahu…, kata dia yang jatuh cinta dengan tatapan penuh asmara.
Sebagaimana kerasnya usahamu, kamu tidak mungkin bisa menggantikan matahari seseorang. Tidak mungkin ada yang bisa menggantikan mataharimu, bukan?
Yang jatuh cinta tersenyum. Ya, tentu saja. Matahariku juga… cahaya yang selalu memberi… tanpa harap kembali.
Dan aku ingin bertanya… Bolehkah aku merasakan bibirmu?
Mimpi Keenam ~ Dimana Kamu Cahayaku ~
Kamu tahu, cassiopeia, aku mengerti perasaanmu kepada bumi. Aku sangat mengerti bahwa kamu ingin memeluk dirinya dan menjadi cahaya baginya pada pagi dan siang.
Terimakasih, kata bintang itu padaku. Aku senang kamu mengerti diriku—
Tapi aku memotong kata-kata Cassiopeia.
Tapi tidakkah kamu berpikir, bahwa bumi, telah melihat dirimu, diantara jutaan bintang yang menghiasi langit malam, bahwa kamulah paling terang dan cantik di antara mereka?
Cassiopeia terdiam.
Jika pelukis mengganti warnamu menjadi sama dengan warna matahari, atau menjadi sebiru langit, tidakkah kamu berpikir bahwa bumi akan kehilangan cahaya yang selalu ditunggunya sewaktu malam menjemput?
Aku beranjak dari tempat itu.
Warna untuk bintang… bukanlah warna matahari…
Mimpi Ketujuh ~ Warna Bintang Cassiopeia ~
Telepon genggamku berdering.
“Halo?”
Ini aku. Aku senang, hari ini. Dia mengatakan padaku, gaun semalam tidak cocok untukku. Dia mengatakan padaku, dia suka diriku apa adanya. Aku bahagia.
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya?”
Sekarang aku ingin menanyakan padamu.
“Ya. Katakan saja.”
Jika aku lukisan bintang, kamu akan memilihkanku warna apa?
Aku tesenyum mendengar pertanyaan itu.
Tanpa kusadari, Cassiopeia menyapaku, sebelum bulan Mei berakhir.
…Karena aku…
…Jatuh Cinta Hanya Kepadamu…
Bandung, 8 Juni 2005
Popularity: 3% [?]
Tags: Cerpen















Leave a Reply