17 agustus 1945, 64 tahun yang lalu adalah hari kemerdekaan Indonesia. Saya masih ingat bahwa setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia bersatu mengusir penjajah (baca: orang Belanda, Jepang) dari tanah air, dan yang paling utama adalah mengusir sekutu yang mau membantu Belanda untuk merebut kembali tanah air.
Saya bukan seorang ahli sejarah Indonesia, bahkan bisa dikatakan pengetahuan sejarah Indonesia saya bisa dikatakan jelek pada saat sekolah, tapi ketertarikan saya membaca sejarah orang Indo-Belanda di tanah air karena faktor kepentingan pribadi membuat saya membaca berbagai literatur sejarah Indonesia. Betapa mengagetkan, ada lagi sejarah yang tidak disebut dalam buku sejarah pendidikan kita: periode Bersiap 1945. Apa ada yang pernah mendengar atau mengingatnya?
Saya pikir saya amnesia sejarah. Saya pikir cuma saya yang tidak tahu atau lupa, nyatanya, semua orang Indonesia tampaknya tidak tahu karena tidak pernah ditulis di buku sejarah kita.
Tanya kenapa.
Kebijakan Jepang pada minoritas Eurasia
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah literatur sejarah tentang Kebijakan Jepang pada minoritas Eurasia di negara Jawa. Pada saat jepang menjajah negara kita pada 1942, Jepang sudah memiliki visi setinggi langit, bahwa Amerika nantinya menjadi akan menjadi asia timur, dan seluruh lautan dunia akan menjadi lautan jepang dibawah kekuasaan Kekaisaran Jepang. Mereka memiliki visi bahwa semua asia, termasuk asia tenggara akan memiliki satu identitas dalam gerakan pan-asia mereka. Ini menyisakan pertanyaan: bagaimana nasib para orang Indo (campuran Asia-Eropa yang umumnya belanda) yang tinggal di Hindia Belanda pada jaman penjajahan Jepang?
Kita tahu bahwa orang Indo berada di posisi marginal di kalangan strata Indo-Belanda sendiri, terlepas dari fakta bahwa nasib mereka lebih baik dari kebanyakan orang pribumi yang menjadi budak dan buruh pertanian. Situasi ini berubah sangat drastis pada saat masuknya Jepang ke Indonesia. Jepang melakukan propaganda sistematis bahwa orang Indo tidak pernah dianggap sebagai “eropa” oleh “belanda”. Sistem sosial yang rasis membuat orang Indo memuja-muja menjadi seorang eropa murni, hal ini tergambar dari beberapa novel jaman Indo yang ditulis perempuan pada akhir abad ke-19, digambarkan bahwa ada orang-orang Indo yang membenci darah asia mereka, darah Indonesia mereka karena membuat mereka menjadi “hitam” dan tidak terlihat “eropa”.
Hal ini berubah pada jaman administrasi jepang. Jepang memberlakukan peraturan tidak kalah rasisnya dengan Belanda. Asia menjadi superior, dan segala yang memiliki darah barat dianggap sebagai inferior. Orang Indo yang sebelumnya menolak darah asia mereka justru mencari-cari cara agar mereka “Asia”, karena sistem kependudukan Jepang yang memberikan diskriminasi pajak dan biaya-biaya lainnya pada mereka yang berdarah eropa. Orang yang memiliki darah asia kurang dari 50% dianggap eropa, sehingga mereka akan dikenakan pajak lebih tinggi dibandingkan penduduk lainnya.
Kesombongan Indo-Belanda
Orang Indo pun masih memiliki kesombongan rasial, walau mereka didiskriminasikan oleh sistem administrasi belanda, pada faktanya mereka berada di golongan agak menengah dan bisa hidup lebih baik dari banyak pribumi. Sistem kasta ini membuat orang Indo merasa inferior kepada orang Belanda, membuat mereka memuja darah eropa dan menganggap orang pribumi asli lebih rendah. Hal ini membuat masalah saat Jepang menawarkan pada masyarakat Indo agar menjadi Indonesia. Reaksinya cukup beragam, sebagian menolak bahkan mengatakan “Lebih baik mati” daripada menjadi orang Indonesia, namun ada juga kalangan Indo yang tidak keberatan dengan hal ini.
Jepang tidak lebih baik daripada Belanda. Malah membuat keadaan makin parah. Sistem kasta baru yang diciptakan Jepang justru membuat ketegangan antara penduduk Indo dan pribumi bertambah. Akhirnya pada September 1945, ada sebuah periode “Bersiap”, sebuah periode yang (tampaknya) tidak tercantum pada buku sejarah sekolah bahwa orang Indonesia membunuh penduduk keturunan eropa di Indonesia.
Saat saya membaca informasi tentang periode “Bersiap” ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri: apakah saya lupa bahwa kejadian seperti ini terjadi, ataukah saya hanya lupa? Saya mengingat di buku sejarah sekolah, bahwa pasca kemerdekaan, Indonesia menghadapi Sekutu, karena mereka mau mengembalikan kekuasaan barat di tanah air. Tapi pembunuhan kaum Indo? Tidak pernah disebutkan atau terpikirkan oleh saya.
Saya lalu meng-google dengan kata kunci “Bersiap” “September 1945″, lalu ternyata hasil yang saya dapatkan di internet sedikit sekali. Kebanyakan tertulis dalam bahasa Belanda, sedikit dalam bahasa Inggris, dan nyaris tidak ada hasil di halaman bahasa Indonesia. Saya ingin memastikan pada diri saya: apakah ini sejarah yang ditutupi? Apakah hanya saya yang lupa? Saya lalu menanyakan tiap teman-teman saya. Dan hasilnya sama: mereka tidak pernah mendengar “Bersiap” yang terjadi di september 1945.
Sumber utama yang bisa dibaca pun sedikit, salah satunya adalah memoir dari Inez Hollander: Silenced Voice yang sampai sekarang belum dilirik untuk terbit di Indonesia.
Saya tertarik mengusutnya karena… kakek buyut saya meninggal pada 7 september 1945. Saya diceritakan bahwa dia sakit oleh oma saya, saya memakluminya, kakek buyut saya, Gustaaf, sudah berumur 66 tahun, tapi saya bisa membayangkan dia sakit, lalu meninggal karena tidak bisa berobat akibat ketegangan situasi, atau mungkin juga hal lain yang berhubungan dengan pembunuhan keturanan Indo di Indonesia.
Sampai Kapan ditutupi?
Yang membuat saya sedih adalah 64 tahun kita sudah merdeka, tapi sejarah ini masih ditutup-tutupi. Saya memiliki beberapa teman Indo generasi ketiga, mereka menceritakan pengalaman-pengalaman keluarga mereka di masa lampau, pengalaman oma-opa mereka membuat mereka takut bahwa bahwa mereka keturunan Indo. Di era modern sekarang, dimana generasi ketiga Indo sudah kehilangan bahasa ibu keluarga mereka dan identitas mereka sebagai orang Indo, membuat mereka tidak ada bedanya dengan orang Indonesia lain.
Mereka tentunya tidak memiliki loyalitas kepada belanda, dan kultur belanda hanyalah sekedar meneruskan tradisi. Banyak dari generasi ketiga orang Indo yang sudah tidak bisa berbicara bahasa belanda, tapi masih terlihat sisa-sisa kultur indo dari masakan yang dimasak oleh oma mereka, bahkan panggilan “Oma/Opa” kepada nenek/kakek menunjukkan bahwa mereka memiliki kultur belanda.
Keturunan belanda generasi ketiga hampir sebagian besarnya tidak memiliki lagi penampilan eropa karena mereka umumnya menikah dengan penduduk pribumi atau Tionghoa, nama keluarga eropa mereka juga sudah hilang, karena tidak sedikit perempuan indo-belanda menikah dengan pria tionghoa atau pribumi dan mengadopsi nama keluarga suami mereka. Tanpa adanya akte kelahiran atau akte kematian, atau jejak bahasa dengan memanggil nenek-kakek mereka sebagai “oma/opa”, mungkin mereka lupa bahwa mereka memiliki darah Indo-Belanda.
64 tahun merdeka, tapi kita tidak boleh melupakan masih ada juga generasi yang kehilangan budaya mereka karena dipaksa berasimilasi menjadi orang Indonesia. Ini bukan sekedar romantisme masa lampau, atau viktimisasi, tapi ini hal yang nyata. Kultur Indo mungkin sudah tidak relevan, tapi bukan berarti harus dibiarkan menunggu punah. Biarkan generasi ketiga Indo mempelajari sejarah etnis mereka di Indonesia, tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.
Pada tahun 1964, pemerintah Belanda menghentikan program migrasi indo-belanda karena jumlah penduduk indo-belanda di Belanda sendiri sudah terlalu banyak. Penduduk keturunan belanda generasi ketiga yang ada saat ini kemungkinan adalah orang-orang yang tertinggal gelombang migrasi ini atau mereka yang memilih kewarganegaraan Indonesia. Mereka umumnya memiliki bahasa ibu Indonesia, oma-opa mereka fasih belanda, dan memiliki nilai sentimental dengan kultur dan budaya belanda.
Beberapa bisa bahasa belanda, tapi tidak sedikit yang tidak bisa, karena mereka tidak diajak berbicara bahasa belanda dalam rumah. Nasib mereka tidak jauh lebih buruk dengan Tionghoa Indonesia, malah dalam skala tertentu agak lebih parah karena mereka kehilangan budaya mereka, bahasa mereka.
Sejarah ditulis oleh mereka yang menang. Di era dimana internet bisa memberikan segala informasi yang dibutuhkan, maka tidak ada alasan untuk tidak membaca sejarah dari perspektif lain dari selama ini yang kita tahu.Selalu ada hal baru yang bisa ditemukan, salah satunya adalah ini. Bagi anda semua yang memiliki darah indo-belanda, apakah anda tidak ingin mempelajari sejarah etnis indo-belanda yang hilang selama ini?

Interesting subject: “bersiap”. Pretty traumatic to my family in law ( my wife included) though – they only escaped death by the skin of their teeth.
sorry for lack of english translation colson, but as you guessed from the title, “bersiap” never mentioned in our school history books. Kinda ironic, considering it has been 64 years after independence day.