Mengkaji Politik Luar Negeri Rusia-Korea Utara

By Calvin Michel Sidjaja | May 5, 2007
   Show Original   

Rusia merupakan salah satu negara yang terlibat dalam diplomasi Six Party Talks. Hal ini mungkin terasa aneh, khususnya karena Rusia tidak memiliki kepentingan yang cukup signifikan dibandingkan Amerika, Korea Selatan, dan Jepang pada kasus kepemilikan nukli korea utara, namun Rusia memiliki kepentingan untuk menjaga semenanjung korea bebas dari nuklir.

Keikutsertaan Rusia juga dikarenakan oleh situasi geopolitik negara tersebut yang tidak bisa diabaikan dalam menjaga stabilitas semenanjung korea. Rusia merupakan pewaris dari Uni Soviet, yang merupakan salah satu penyebab pecahnya Korea Utara dan Korea Selatan. Terdapat sebuah tanggung jawab historis dalam melihat hubungan Russo-Korea Utara ini.

Terdapat tiga babak dalam hubungan Rusia-korea Utara, yakni pada masa perang dingin, pasca perang dingin, dan pasca tahun 2000. Kita bisa melihat adanya perubahan dalam politik luar negeri Rusia seiring dengan berubahnya prioritas kepentingan Rusia.

Pada masa perang dingin, hubungan soviet-korea utara didasari pada kesamaan ideologi komunis. Uni soviet merupakan pemasok senjata terbesar korea utara. Namun soviet mempersepsikan Korea utara sebagai potensi ancaman. Hal ini bisa dilihat dari keengganan soviet untuk memasok senjata tercanggih bagi korea utara dibandingkan standar yang ada pada pakta warsawa. Hanya setelah korea selatan memiliki senjata lebih canggih, uni soviet memasok perlengkapan model terbarunya pada Korea utara.

Pada akhir tahun 1980an, Soviet mulai melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan korea selatan. Hal ini mengakibatkan intensitas hubungan Soviet dan korea utara menurun. Kerjasama di bidang miiter tetap ada, namun frekuensinya tidak seerat pada pertengahan perang dingin. Faktor berpengaruh yang mempertahankan hubungan Soviet-Korea utara adalah kebutuhan industri militer rusia untuk mempertahankan pasar korea utara. Delapan puluh persen perlengkapan perang Korea Utara dipasok dari soviet, pada tahun 1986-1990, Rusia memasok perlengkapan perang ke korea Utara senilai 2,3 triliun dollar.

Namun Soviet memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan baik dengan Korea Selatan, sehingga permintaan Korea Utara untuk pembelian perlengkapan perang terbaru pada 1998 dan 1990 bernilai 15 triliun dollar ditolak oleh soviet.

Pasca perang dingin, Rusia dibawah Yeltsin mempererat hubungannya dengan Korea Selatan, dan menjaga hubungan diplomatik dengan Korea Utara secara terbatas. Kerjasama militer diantara kedua belah pihak dibekukan pada tahun 1992-1999. Rusia masih menjual perlengkapan militer, namun dengan kuantitas minimum kepada korea utara. Hal ini mengakibatkan penurunan kekuatan militer korea utara yang cukup bergantung pada perlengkapan militer rusia.

Salah satu faktor utama yang mengakibatkan menurunnya pembelian senjata korea utara dari Rusia adalah keterbatasan dana yang dimiliki korea utara. Rusia menerapkan prinsip bahwa mereka akan menjual perlengkapan militer atas dasar kepentingan komersial, dengan kata lain, mereka tidak memprioritaskan negara apapun, dalam hal ini, ideologi komunis tidak menjadi faktor berpengaruh antara hubungan rusia-Korea utara. Penurunan hubungan Rusia-Korea utara disebabkan dua hal, pertama adalah rusia berusaha menjaga hubungan baik dengan Korea Selatan, dan kedua, Korea Utara tidak memiliki cukup uang untuk membeli perlengkapan militer dari rusia, padahal rusia saat itu sedang mengalami masalah finansial.

Pada tahun 2000, Rusia dan Korea Utara melakukan normalisasi pada hubungan mereka. Hal ini ditandai oleh adanya penandatanganan perjanjian persahabatan dan pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara. Pasal 2 dari perjanjian ini menyatakan bahwa �jika terdapat bahaya agresi dari satu atau negara yang mengancam keamanan, dan terdapat situasi dimana ada kebutuhan untuk konsultasi dan kerjasama, kedua pihak akan saling mengkontak dalam tempo secepatnya?E

Hal ini bisa diartikan bahwa Rusia sekali lagi ingin memasukkan korea utara dalam geopolitik strategisnya dalam semenanjung korea. Makna pasal ini bisa berarti ambigu, yakni Rusia dapat melakukan intervensi atau tidak mengintervensi situasi konflik di semenanjung korea berdasarkan interpretasi mereka. Dengan adanya kerjasama ini, Rusia dapat terlibat lagi dalam keamanan semenanjung korea dan diakui sebagai kekuatan kawasan.

China merupakan alasan utama keinginan rusia untuk tidak meninggalkan korea utara. Secara strategis, Rusia dan China merupakan pemain besar dalam kawasan, jika Rusia meninggalkan Korea Utara, maka kekosongan ini dapat diisi oleh China, satu-satunya negara besar yang memberi dukungan kepada rezim Korea Utara.

Korea Utara bukan merupakan ancaman serius kepada keamanan Rusia, walau masih tetap harus diwaspadai. Hal ini mempengaruhi diplomasi yang dilakukan Rusia kepada Korea Utara. Dibandingkan Amerika dan Jepang, pendekatan yang dilakukan Rusia ditujukan untuk membangun dialog yang konstruktif dan menguntungkan semua pihak. Rusia tidak terlalu menekan korea utara namun lebih berusaha melakukan dialog konstruktif.

Popularity: 19% [?]

Tags: , , , ,

Related posts

11 Comments so far
  1. azzura June 9, 2007 9:04 pm

    saya suka artikelnya.

  2. Tubagus Maulana September 14, 2007 12:55 pm

    Saya bingung sekali dalam menulis skripsi.
    agar saya dapat mengetahui langkah2 dalam pembuatan skripsi
    tolong kirimin saya 3 contoh skripsi dari BAB I sampai BAB V milik anak-anak Unhas, UGM, UNAIR mengenai konflik-konflik Internasional.
    terima kasih

  3. Calvin Michel Sidjaja September 16, 2007 8:56 am

    @tubagus
    sori tidak bisa, lebih baik anda mengunjungi perpustakaan mereka.

  4. aDjenk_ November 7, 2007 9:36 pm

    what made u choose these topic??
    i’m an international relation student too.
    actually..i don’t really understand bout international relation.
    it’s so hard for me to understand politic’s word..
    now im in 5 smester..is it to late for me to understand these thing??
    could u give me some advice to make me interest with this (jurusan) hehe…sorry i don’t know the english..
    thanKs_

  5. sabriana November 16, 2007 11:29 am

    pak Calvin, saya tertarik untuk mempelajari ilmu hubungan internasional di korea. tahukah bapak, universitas mana yg bagus dalam ilmu hubungan internasional di korea. saya sudah mendapat gelar sarjana sastra Rusia universitas indonesia. rencananya saya ingin melanjutkan studi saya di korea dengan mengambil ilmu hubungan internasional. syukur-sykur bisa mendaPATKAN BEASISWA. KALAU ADA ARTIKEL TENTANG MILITER KOREA utara, bisa didapatkan di mana pak? terima kasih

  6. Calvin Michel Sidjaja November 17, 2007 11:14 am

    @
    wah saya kurang tahu tuh, mungkin anda bisa coba cari di situs2 yang memberikan info beasiswa.

    untuk artikel mengenai militar korea utara? coba buka http://globalsecurity.org

  7. logicstar November 19, 2007 11:57 pm

    alo… kebetulan banget saya lagi cari bahan tentang rusia bt skripsi. ada referensi lain? thanks berat deh…..

  8. rangga November 26, 2007 1:34 pm

    ada referensi sejarah pecahnya dua negara korea di tahun 40an,tks!!!???

  9. NF December 11, 2007 6:43 am

    sumber datanya dari mana?? seperti yang anda tulis ?E0%perlengkapan perang Korea Utara dipasok dari soviet, pada tahun 1986-1990, Rusia memasok perlengkapan perang ke korea Utara senilai 2,3 triliun dollar?E dan.. “permintaan Korea Utara untuk pembelian perlengkapan perang terbaru pada 1998 dan 1990 bernilai 15 triliun dollar ditolak oleh soviet”…
    wah kalo ada sumber datanya tulisan anda sangat membantu saya… atau jangan2 anda mengada-ada…!!?? :) hehehehe…

  10. Calvin Michel Sidjaja December 11, 2007 6:56 am
  11. NF December 13, 2007 12:12 pm

    thank u…. :D

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes