
Universitas Katolik Parahyangan dikeal sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia. Namun semasa saya berkuliah di sini, saya mendapati banyaknya kekurangan dari kelebihan yang ada. Tulisan ini mungkin bisa menjadi referensi kehidupan mahasiswa di Unpar jika anda mau masuk ke jurusan Hubungan Internasional (HI).
Pada dasarnya saya melihat kelebihan dan kekurangan HI Unpar terletak dari kompetensi staff pengajarnya. Terdapat setidaknya dua tipe dosen yang, pertama yang mengajari muridnya dengan komunikatif, dan kedua dengan satu arah. Di jurusan Hubungan Internasional, pengajarnya kebanyakan mengajar dengan komunikatif,walau ada juga beberapa yang mengajar dengan satu arah.
Artikel ini merupakan catatan saya dalam menghadapi beberapa mata perkuliahan yang problematik, entah itu dari diri saya sendiri, entah karena staff pengajar yang tidak pandai mengajar, atau karena mata kuliah tersebut sama sekali tidak penting.
Semester 1
Pendidikan Pancasila (MKU 001)
Etika (MKU 008)
Logika (MKU 012)
Sosiologi (SPO 111)
Ilmu Politik (SPO 113)
Asas-Asas Manajemen (SPO 105)
Ilmu Ekonomi (SPO 117)
Semester pertama adalah waktu teraneh untuk mahasiswa baru, terutama karena mereka harus mempelajari mata kuliah yang tidak berkaitan dengan jurusan mereka. Mahasisa hubungan internasional anehnya harus mempelajari Asas-Asas Manajemen. Saya juga kurang beruntung karena diajar oleh dosen yang luar biasa membosankan, menjelaskan ke siswa seperti mengajar tembok. Umumnya pada saat kuliah, saya duduk paling belakang dan menunggu kelas selesai. Saat ujian saya menghapal agar bisa mendapatkan nilai minimum. Pada mata kuliah Ilmu Ekonomi, staff pengajar yang saya dapatkan sayangnya, sudah berusia renta, dan mengajar dengan satu arah.
Bisa dikatakan pada semester pertama, mahasiswa HI harus berjuang ekstra keras, karena mendapatkan mata kuliah yang tidak terlalu berhubungan dengan jurusan mereka (SPO).
Saya juga cukup belajar ekstra saat menghadapi tiga mata kuliah umum. Pendidikan pancasila untungnya, saya mendapat dosen yang sangat komunikatif, sehingga saya mendapat ilmu, dan diperkenalkan dengan Tan Malaka. Pada mata kuliah Logika, otak saya selama 6 bulan harus berjuang menghapal logika-logika bahasa dengan ekstra, walau setelah itu lenyap karena tidak digunakan lagi. Pada mata kuliah Etika, mungkin memang saya yang tidak bisa mengerti, karena mempelajari filsafat.
Pada semester 1, Mahasiswa Hubungan Internasional juga berpartisipasi mengikuti acara tahunan GINTRE (Gathering and Introducing International Relations). Acara ini adalah simulasi sidang Internasional yang umumnya menggunakan format PBB. Kebetulan saya menjadi delegasi Israel pada acara ini. Pada angkatan saya, topik yang menjadi simulasi sidang adalah terorisme.
Semester 2
Pendidikan Kewarganegaraan (MKU 002)
Pendidikan Agama/Fenomenologi Agama (MKU 003/004)
Bahasa Inggris (SHI 102)
Sosial Budaya Indonesia (SPO 112)
Politik Indonesia (SPO 114)
Perekonomian Indonesia (SPO 116)
Hukum Indonesia (SPO 118)
Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SHI 215)
Seperti yang bisa dilihat, pada semester dua, baru ada dua dari keseluruhan mata kuliah yang diambil mahasiswa. Pada semester ini pula, saya mengambil mata kuliah yang paling menjatuhkan nilai saya, yakni Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama. Dua mata kuliah paling tidak bermutu dan tidak berguna di keseluruhan kuliah.
Kenapa demikian? Pendidikan Kewarganegaraan umumnya diajari oleh dosen-dosen MKU yang mengajar seperti tembok, dan nyaris tidak mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar (walau sebenarnya, steretype dosen MKU di Unpar memang demikian dan tidak bisa dirubah lagi). Teman saya yang tidak beruntung mendapat seorang dosen Orde Baru yang sangat memuja-muja Soeharto, dan tidak mau dikritisi. Yang pasti, walau saya cuma mendapat C, saya tidak akan pernah mau mengulang mata kuliah terkutuk ini.
Pendidikan Agama Katolik sama parahnya, karena dosen mengajar satu arah, dengan mata kuliah yang luar biasa monoton dan tak menarik. Dosen tersebut mengajarkan nilai-nilai katolik yang dogmatis dan tidak bisa berubah lagi. Saya yang sudah membaca literatur-literatur yang mengkritisi Kristianitas agak terenyuh melihat betapa kecilnya skala berpikir dosen yang bersangkutan. Saya jadi tidak bisa berdebat, dan jika saya mengkritisi dosen tersebut, saya dianggap sebagai pembangkang sayangnya. Murid-murid juga tidak mau ada seorang mahasiswa yang membuat waktu pulang menjadi lama, jadi yang bisa saya lakukan di kelas hanyalah duduk mendengarkan dengan hati yang dongkol.
Pada semester dua ini juga, ada dua mata kuliah yang berkaitan dengan HI, yakni Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (PIHI) dan Bahasa Inggris. Pada mata kuliah PIHI, murid-murid diajari teori-teori dasar hubungan internasional yang akan menjadi dasar pada semester-semester berikutnya. Mahasiswa diharuskan menulis essay-essay untuk melatih pengaplikasian teori.
Pada mata kuliah Bahasa Inggris, mahasiswa diajari menggunakan bahasa inggris dan cara membaca teks dengan efektif.
Semester 3
Pengantar Statistika Sosisal (SHI 201)
Bahasa Inggris Hubungan Internasional (SHI 225)
Filsafat Ilmu (SHI 211)
Bahasa Mandarin/Jepang/Perancis (SHI 217/219/221)
Kekuatan Politik Indonesia (SHI 223)
Hubungan Internasional Kawasan (SHI 307)
Media, Budaya, Masyarakat (SHI 421)
Pada semester tiga, kita tidak akan menemui lagi mata kuliah SPO, karena tiap jurusan sudah makin terfokus. Pada semester ini, mata kuliah yang problematik dengan saya hanyalah Media, Budaya, Masyarakat. Saya kurang beruntung karena mendapat dosen yang memang tidak terlalu pandai mengajar, dan membuat mata kuliah kurang menarik, walau sesungguhnya sangat penting.
Pada mata kuliah Filsafat Ilmu, saya diajar oleh dosen yang luar biasa pintar dalam menyederhanakan masalah. Saya luar biasa takjub bagaimana dosen tersebut bisa menjelaskan konsep-konsep yang kompleks dengan cara yang mudah dimengerti. Disinilah saya mulai mengagumi sebagian dosen saya. Tidak seluruh dosen ternyata “menindas” dan “satu arah” seperti yang saya lihat di semester satu dan kedua.
Pada semester tiga ini, saya juga berpartisipasi untuk membuat acara Gintre bagi angkatan baru. Topik pada sidang Gintre 2005 adalah revitalisasi Dewan Keamanan PBB.
Semester 4
Estetika (MKU 011)
Metode Penelitian Sosial (SHI 204)
Komunikasi Internasional (SHI 212)
Teori-Teori Politik (SHI 218)
Isu-Isu Global (SHI 220)
Globalisme, Modernitas, & Negara-Bangsa (SHI 222)
Organisasi Internasional (330)
Resolusi Konflik (SHI 408)
Pada semester 4, saya mendapat satu mata kuliah dengan cara mengajar yang aneh bin ajaib. Mata Kuliah teori politik tepatnya.
Beginilah skema mengajar dosen bersangkutan:
1. Dosen membagi-bagi murid menjadi kelompok
2. Tiap minggu satu kelompok membuat ringkasan+pertanyaan dan terjemahan
3. Pada saat mengajar, dosen bersama murid mencari jawaban dari pertanyaan berdasarkan ringkasan yang sudah ada, tanpa debat.
4. Pada saat ujian, harus ada satu orang yang mengkompilasi pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada.
5. Ujian = bangun pada jam 8, hapalkan seluruh 60 pertanyaan, dan berharaplah salah satu yang anda hapalkan keluar dari 5 pertanyaan yang ada di ujian. Setelah itu? Tinggalkan.
Mayoritas mahasiswa mendapat A pada mata kuliah ini, tanpa mendapat ilmu apa-apa kecuali cara menggunakan short term memory untuk ujian hapalan mati. Memalukan? Memang, tapi itu belum selesai sampai disini, masih ada mata kuliah Perbandingan Politik di semester lima dengan cara mendapat A yang sama.
Pada mata kuliah Estetika, saya mendapat dosen berlatarbelakang design yang agak diskriminatif, karena seakan-akan seluruh mahasiswanya harus bisa menggambar. Untungnya saya adalah lulusan kelas bahasa, memiliki latar belakang sastra dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk sejarah seni rupa barat, sehingga saya dengan berani mendebat seluruh ajaran dosen tersebut, yang saya anggap tidak sesuai. Untungnya dosen tersebut juga terbuka pada kritikan, dan saya merasa beruntung diajari oleh dosen tersebut. Di mata kuliah ini, murid-murid diberikan kesempatan untuk mengekspresikan seninya, sehingga bagi mahasiswa yang tidak memiliki seni sama sekali, mata kuliah ini adalah mimpi buruk.
Semester Lima
Politik Luar Negeri (SHI 301)
Hukum Internasional (SHI 305)
Politik Internasional (SHI 311)
Politik Bisnis Internasional (SHI 313)
Perbandingan Politik (SHI 315)
Politik Global Amerika Serikat (SHI 425)
Hubungan Internasional di Asia Pasifik* (SHI 427)
Hubungan Internasional di Eropa SHI* (429)
* = Pilihan
Semester lima, seingat saya, merupakan waktu paling neraka selama saya studi di unpar. Bobot mata kuliah yang ada di semester lima luar biasa berat dan tidak main-main.
Mata kuliah yang memakan otak mahasiswa di semester ini mungkin adalah Politik Global Amerika Serikat (Polgas). Staff pengajarnya tidak lain adalah Anak Agung Banyu Perwita. Pada mata kuliah ini, mahasiswa diajar bagaimana melihat politik luar negeri Amerika Serikat, dan bagaimana kita bisa mengaplikasikan berbagai teori untuk melihat tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dalam menjalankan politik luar negerinya.
Pada Ujian Tengah Semester (UTS), mahasiwa diajak menganalisis ancaman-ancaman dan mobilisasi instrumen AS dalam isu tertentu (saya memilih reformasi PBB), dan pada Ujian Akhir Semester (UAS), mahasiswa berada pada posisi sebagai seorang pengambil keputusan di Amerika, dan memberi nota pada Presiden Amerika untuk mengurai masalah-masalah yang dihadapi Amerika saat ini.
Semester lima merupakan masa-masa neraka yang susah dilupakan, namun demikian, saya cukup menikmati kuliah pada semester ini, terlepas dari betapa berat dan banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan (ada sekitar 7 atau 8 tugas yang harus dikumpulkan sebelum UAS)
Semester 6
Diplomasi (SHI 216)
Politik Luar Negeri Republik Indonesia (SHI 302)
Ekonomi Politik Internasional (SHI 304)
Hukum Ekonomi Internasional (SHI 328)
Kajian Strategis (SHI 318)
Metodologi Ilmu Hubungan Internasional (SHI 320)
Hubungan Internasional di Amerika (SHI 322)
Hubungan Internasional di Afrika & Timur Tengah (SHI 324)
Pada semester ini, ketegangan dalam kuliah sudah mulai menurun, dan ritme kuliah juga lebih rileks dibandingkan semester lima. Mata kuliah yang memakan energi pada semester ini tidak lain Kajian Strategis dan Ekonomi Politik Internasional.
Kajian Strategis diajar oleh Anak Agung Banyu Perwita. Pada mata kuliah ini kita diajarkan bagaimana menganalisis isu-isu strategis yang dihadapi suatu negara, dan bagaimana instrumen dijalankan untuk menyelesaikan isu tersebut. Mata kuliah ini penuh dengan berbagai teori yang luar biasa memusingkan. Tugas yang diberikan antara lain, membuat satu paper kelompok mengenai kajian strategis suatu negara (Saya memilih Jepang), menganalisis isu keamanan maritim di Indonesia (UTS), dan mengkaji kebijakan keamanan nasional suatu negara berkembang (UAS, saya memilih Rusia)
Pada mata kuliah Ilmu Ekonomi Politik Internasional, mahasiswa diajari konsep-konsep dalam ekonomi politik internasional seperti fluktuasi mata uang, demand dan supply, hutang-hutang negara dunia ketiga, dan sebagainya. Mata kuliah ini benar-benar menarik, walau sulitnya bukan main, dan saya berterimakasih pada dosen yang mengajar karena membuat saya menjadi tertarik belajar ekonomi.
Untuk mata kuliah Semester 7 dan Semester 8 saya belum bisa berkomentar karena saya belum memasukinya. Ceklah blog ini enam bulan lagi.
Kesimpulannya? Seperti yang saya katakan tadi, saya sangat senang dengan kualitas staff pengajar dosen unpar yang memang kompeten.
Saya bersyukur bisa diajar oleh dosen-dosen yang memang memperdulikan kualitas muridnya, seperti Alexius Jemadu, V. Bob Sugeng Hadiwinata, Adrianus Harsawaskita, Anak Agung Banyu Perwita, Arknolt Kristian Pakpahan, P.Y. Nur Indro, dll.. Mereka adalah pengajar-pengajar yang telah membuat saya menjadi manusia lebih baik, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Mereka mengajar dengan komunikatif dan berusaha membuat mahasiswa menikmati mata kuliah, walau mata kuliah tersebut memang cukup berat. Mereka membuat saya belajar demi dapat ilmu, bukan demi dapat A.
Namun tetap saja, ada juga dosen-dosen yang tidak terlalu komunikatif dan mengajar seperti tembok. Ada waktu dimana saya merasa tidak beruntung karena diajar oleh dosen yang tidak bisa mengajar, dan saya merasa kuliah yang saya dapatkan dari dosen bersangkutan sia-sia. Saya belajar demi dapat A, bukan demi ilmu. Jika begini, mana yang harus disalahkan? Mahasiswa? Dosen? Atau sistem?
Tulisan ini belum sempurna sesungguhnya. Masih banyak kegiatan lain di HI Unpar yang mendukung proses belajar mengajar, seperti KSMPMI (Kelompok Studi Pengkaji Masalah Internasional), GINTRE (Gathering and Introducing International Relations, acara simulasi sidang konferensi internasional untuk mahasiswa baru), Praktik Diplomasi (Mata kuliah wajib semester 7 dan menjadi salah satu klimaks dari perkuliahan di HI Unpar), dan segudang kegiatan lainnya.
Popularity: 16% [?]
Tags: UNPARIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
wah niat banget buat tulisan ini… :)
soalnya saya sebal kalau diajar dosen2 yang tak bisa ngajar :(
wah unik juga ya kampusmu!
Menurut saya tulisan anda cukup menarik, dan saya tertarik untuk mengundang anda sebagai rekan diskusi saya….(Dr. Boas Boangmanalu, Dosen Pascasajana Dept. Filsafat
@dr boas
maksudnya diskusi di blog anda pak?
era globalisasi saat ini dipelukan suatu ketahanan nasional dalam memperkuat persatuan nasional itu sendiri, dimana berbagai perspektif diperlukan dalam menelaah kasus2 dalam dunia internasional. hal ini di butukan kalangan akademisi untuk memperjelas berbagai kasus internasional, gimana pendekatan yang kita gunakan agar…….?
Halo sobat2 bisa bantu in aku kuliah di Unpar Bandung?
for your kind help,
best regards,
Chao …………….
Saya sangat tertarik kuliah di UNPAR, tapi saya mau mengikuti program Jarak jauh/program online, apakah di UNPAR sudah tersedia program tersebut.
my Best regards,
tampaknya belum ada deh, mungkin 10 tahun lagi baru ada. Untuk informasi, kami saja masih harus mendaftar ulang secara manual.
Infrastruktur komputer di Unpar amat tertinggal dibandingkan univ lain, jadi anda2 yang dari univ swasta seperti atma jaya, UI, UPH, silahkan tertawakan metode unpar yang ketinggalan jaman (melihat nilai, melihat kelas dll harus menunggu diprint dari TU, agak mengenaskan memang)
apa arti sebenarnya hubungan international??
saya berminat dan mau belajar ilmu pengantar hubungan international??
akan tetapi saya tidak punya jaringan !!!
bisakah anda bantu saya???
fenomena dosen yang asal ngajar dan tidak komunikatif sepertinya bukan di Unpar saja, melainkan di semua Universitas lainnya termasuk UI.
Bukannya sok ikutan menderita tapi inilah faktanya, dosen yang tidak berkomitmen untuk mengajar masih sangat banyak jumlahnya.
Pengalaman pribadi saya: saya sangat benci mata kuliah pengantar antropologi, pengantar sosiologi, sistem budaya indonesia karena topiknya yang amat jauh dengan kajian hi dan dosennya udah umur 60-an. Gw jadi kasihan ngeliat dia ngajar.
Anyway, fasilitas dan kualitas dosen tidak menjadi faktor utama kesuksesan kita. Meskipun seperti itu, tetap saja Calvin dapat memproduksi tulisan-tulisan dalam blog ini yang bagi saya menunjukkan bahwa keadaan bukan mnejadi penghalang utama.
Terimakasih
Salam sukses
@francelino
intinya sih kita belajar mengenai bagaimana negara satu dan lain berhubungan, lalu kita mengkajinya melalui pendekatan2 tertentu (misalnya realisme = menganggap semua negara adalah jahat, jadi akan selalu berkonflik, atau idealisme = semua negara pada dasarnya baik, jadi pasti kerjasama, etc)
studi hubungan internasional hanya membutuhkan kerajinan dan kesukaan pada membaca literatur. kalau anda cocok, anda pasti akan bahagia :D
@verdinand
kayanya semua dosen di mana saja sama ya? saya juga kuliah pengantar sosiologi dengan dosen berumur 60an, tapi untungnya dosen ini ngajar dengan enak sekali, jadi kita juga enjoy. saya juga pengalaman mendapatkan mata kuliah asas2 manajemen (yang hubungannya dengan HI mungkin jauh sekali), dosennya menjelaskan dengan amat sangat membosankan. Anda akan mengalami fenomena keabadian waktu.Tiga jam itu rasanya seperti seabad.
tapi untungnya saya juga diajar oleh dosen2 hebat dan selalu memacu agar saya aktif menulis (terutama pak banyu perwita), tapi berhubung tulisan saya kayanya blom layak masuk koran, jadi saya pakai blog saja deh. ;)
salam juga
Kalo HI kerja’a bisa jadi apa ya??
Pengen’a HI,,tapi ga di setujui ortu coz mrk ga tau bis lulus qt bisa kaerja apa..
@riana
idealnya sih kerja jadi diplomat di deplu. tapi dosen saya ada yang kerja jadi ekonom di ADB tuh. mungkin setelah s1 harus lebih spesifik lagi yah untuk master degree.
calvin!!!! koq gw bukanya mikir baca blog lu yg ini, tp gw malah ketawa-ketawa. ngak ngak!!
hihiiihiihihi.
Salam kenal Calvin :) Jadi nostalgia baca entry ini, soalnya saya HI Unpar ‘97. Belum Prakdip ya? Selamat nyobain deh ya nanti, keren abis!
@arya
lagi ngambil prakdip nih, tanggal 18 ntar udah sidang, kelas gw dapat topik nuklir iran en gw dapat delegasi rusia. seru sih. :D
Sdr. Calvin…..saya salut pada uneg-unegmu. saya juga ulumnus unpar. tapi saya mendapat pengalaman lain…malah saya merasa beruntung mendapat Pendidikan Agama Katolik. dari situ saya mengenal katolik lebih banyak. apakah dosen-dosen MKU ga bisa mengajar dgn baik? bisa aja sih…tapi ga bisa digeneralisir. Yang saya tahu adalah mata kuliah apapun ga pernah menarik selama kita ga menaruh minat pada mata kuliah itu. jangan2 anda hanya tertarik ilmu nya unpar….saya harap anda ga salah memilih universitas….hehehe
trus ko2 skrg kerja dmn??
kT’a bisa jadi jurnalis ya??
@roy
sayangnya saya mendapat dosen yang ngajarnya dogmatis banget, jadi apa boleh buat, saya harus terbungkam dan ga boleh mengkritisi dosen. Kalau saya nanya pun, dosen itu pasti menganggap saya hanya seorang murid yang membangkang. Di HI unpar saya belajar banyak, terutama dalam berhubungan dengan orang lain, saya rasa itu lah pelajaran terpenting yang saya dapat selama kuliah di HI unpar
@riana
saya belom kerja sekarang, masih semester 7 kok, hehehe.
Kita bisa jadi jurnalis kok, karena kita dituntut untuk, banyak sekali nulis (coba lihat curhat mengenai semester 5)
Wow! Topik nuklir Iran dan lu dapet Rusia? Delegasi penting tuh! Yang semangat yaps! Ditunggu cerita dari showtime-nya. Msih di gedung merdeka kan?
wah, beruntung banget bisa ketemu nie blog, jadi tau gimana suka dukanya blajar HI.soalnya di kampus, baru ada 3 angkatan sieh
oia, tau Pak Bonggas?kira2 dy tipe dosen kaya apa?
@arya
nuklir iran buat uts doank, tiga jam lagi mau dimulai, yah mudah2an ga garing sih, soalnya gw denger kelas lain yang dapat topik kosovo dan darfur agak sepi.
untuk uas kalau tak salah dengar, akan ada dua babak, pertama di gedung merdeka, dan satu lagi di hotel entah mana -> tahun lalu panitia bisa bikin angkatan 2003 ngga bayar sesen pun. mudah2an tahun ini juga demikian.
@cela
saya baru dapat mas bonggas pas kelas prakdip, dan sejauh ini saya tak mau memberikan komentar karena ini tempat publik :(
calvin,,
blognya oke,,jadi kebawa ikutan nge-review yang udah - udah,,gak nyesel deh masuk KAMPUS TIGA
semoga sukses buat uas prakdipnya,,
kita butuh saran ma kritiknya!!!
thx, vin.
hahaha…suka gue…pas banget…sayang aja lo ga nulis satu2 secara rinci dan lengkap…pasti lebih pol!!!
yang paling penting sih dosen2 favorit gue masuk semua…
mas bob, mas nur sama mas adri itu emang the best banget lah…hahaha…
Hallo Calvin,
Eh.. soal nilai yang harus nunggu lewat TU, kayaknya sekarang udah bisa liat sendiri deh. Gua bisa liat tuch di depan TU ada station untuk liat nilai.
Trus gua main ke fasNet, trus dikasih tau kalo ada portal akademik. Katanya sih masih dalam pengembangan, tapi gua udah bisa liat nilai2 gua lewat internet.
Alamatnya masih di www6.unpar.ac.id, sebentar lagi pindah ke http://www.unpar.ac.id. Nah, di sana ada link ke Portal Akademik, cuma lo harus inget account mail student.
Gw liat sih, UNPAR kayaknya udah mulai ngeberesin infrastruktur jaringan internet karena ada spanduk yang bilang lagi peningkatan kecepatan akses internet.
@wulan+felisya
hohoho teman2, makasih udah kesasar di blog ini. goodluck juga buat kepanitiaan yah, stay strong, terutama kalau ada pihak2 yang suka plin-plan.
@iostamasta
masalahnya teknologi buat ngeliat nilai itu aja udah ketinggalan banget. masih pakai OS Novell jaman jebot dengan GUI yang selevel DOS. duh parah deh. kakak saya di atma saja bisa melihat nilai, membayar uang kuliah lewat web, makanya saya prihatin banget dengan infrastruktur TI unpar. udah bayar mahal, tapi ga memuaskan.
WC-nya apalagi (maaf colongan curhat) ga ada sabun sama sekali, dan satu2nya sabun cuci tangan ada di wastafel dosen, itupun pake sabun cuci piring ala mama lemon! malang banget ga sih?? -_-
Wew, baru kali ini g nemu blog yang bikin g bingung sekaligus ketawa! Kalo soal dosen di uni manapun sama aja kali! Harusnya kita bersyukur masih ada yang kaya mas bob, mas nur, mas adri, *ohok* mas banyu…coba kalo di uni lain, blom tentu ada yang kaya gitu loh!
Tapi percaya segitunya lu maki2 ya ntar pas lu udah lulus dan udah gawe yakin g lu pasti kangen ama HI UNPAR! Kalo ga percaya tanya aja ama semua alumni heuiheuiheuihiue :P
Sometimes the thing we thought worthless the most is the thing we will remember the most (cieh puitis).
Anyway, good luck prakdipnya enjoy ajja kesibukan dan huru-hara pada saat prakdip it will be the most unforgettable moment ever selama lu kuliah di HI. And be proud karena walopun kita “tradisional”, kualitas kita di dunia kerja “internasional”, bo! Enjoy your college life! ^_^
Regards,
Dea
Hello…Calvin…!
Saya terkesan dg tulisan anda…. rasanya dimana2 pasti aja ada dosen yg membosankan (mungkin termasuk saya, he..he..). Karena sec administratif memang tdk mudah mencari dosen berkualitas paripurna (menulis bagus, bacaannya luas, ngomongnya sistematis, dan baik menjadi pendengar). Biasanya org yg komplit begitu ng mau menjadi dosen, paling dibidang Teknologi Informasi yg saya amati selama ini….
Saya pernah mengajar Pengantar Komputer Bisnis di UNPAR. Saya mencoba terbuka dg mahasiswa….(krn saya tahu saya bukan malaikat yg sempurna walaupun pengalaman praktis dan akademik saya lumayan). Diakhir semester saya suruh mahasiswa “memaki2 saya”melalui tulisan (keluarkan unek2nya krn banyak yg ng ngerti2 ttg Teknologi Informasi yg sy ajarkan. Maaf, mhs Fisip memang agak Gaptek wkt itu…he..he…). Jd utk balancing, saya suruh mereka menulis apa saja…..
Ternyata tulisan mereka dikertas kecil itu bervariasi….Banyak juga yg senang dg cara ngajar saya…
Jadi, intinya….
Dalam berkomunikasi (termasuk mengkomunikasikan mata kuliah)…kita hrs bersikap terbuka…sama2 siap dikritik. Tentu pada momen dan waktu yg tepat supaya perkuliahan juga tetap berjalan dengan teratur sesuai kurikulum…
Apakah dosen2 sekarang lebih banyak yg bersikap terbuka dg mahasiswanya di era Internat, e-mail dan milis ini..?
Kamu coba lihat milis saya di Rendratris-subscribe@Yahoogroup.com
Saya selalu berdikusi dua arah dg mahasiswa saya di Politeknik Negeri Bandung dan kampus2 lain…. Mereka sy anggap teman di milis….
Saya bukan dosen yg baik , tapi paling tdk memang dosen atau atasan (atau siapaun) di era Globalisasi ini hrs merubah paradigma berkomunikasi….bersifat lebih terbuka dan komunikatif dg mhs (di kampus) atau bawahannya (ditemoat kerja). Bukankah begitu Calvin…?
Salam,
Rendra Trisyanto Soerya
mantan dosen UNPAR 1988-1998
Saya melihat ada kontradiksi yang ada dalam diri anda…Bagaimana anda bisa belajar HI kalau ngga suka pada matakuliah seperti filsafat dan logika…Bgaimana anda bisa berdiplomasi dan mengeritik dosen agama katholikmu, kalau anda ngga mampu membangun argumen yang benar dan tepat yang didasarkan pada logika dan filsafat.Bagaimana anda bisa memahami hal-hal dogmatis, kalau hal yang sederhana aja ngga punya niat dan perhatian?Saya melihat anda merupakan gambaran besar kaum idelist di negri ini…yang hanya mengeritik tapi tak mempu memberikan solusi atau alternatip…Tapi ngga apa2…saya salut pada anda…tapi kalau mau maju…angkat dulu balok yang ada dalam matamu, sebelum mengangkat kotoran kecil yang ada dalam mata orang lain…Berdolah bagi guru dan dosenmu…mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa…
pada dasarnya saya tidak terlalu keberatan dengan filsafat dan logika, tapi jujur saja, kepala saya agak tidak kuat berkutat dengan kedua hal tersebut (yah walau setidaknya saya bisa melewati kedua mata kuliah tersebut dengan baik)
saya sendiri berpikir, lebih baik saya tidak berhadapan ataupun diajar dengan orang2 dogmatis karena saya tidak bisa memamahami pikiran mereka. Dan saya tidak melihat diri saya idealist, saya orang yang pregmatis.
Saya adalah alumni program Pasca Sarjana Teknik Sipil Universitas Katholik Parahyangan, tahun 2003. Saya rasakan selama studi di Unpar,seluruh pelaksanaan pengajaran cukup baik. Dosen Pasca Sarjana sangat bagus kwalitasnya dan rajin juga mengajar. Mahasiswa ditantang untuk cepat selesai, sesuai dengan kemampuan dan niat mahasiswa sendiri, sedang Universitas memberi kesempatan seluas-luasnya. Sistim administrasinya juga bagus sekali. Saya senang dapat mengecap pendidikan di Unpar. Terima kasih, salam
Budi Wuryanto
@budi wuryanto
fasilitas pasca sarjana sih memang bagus (sekali). yaah, bayar lebih mahal, fasilitas memang lebih oke…
Hehehe.. Mungkin jangan kasih judul ‘Mengintip Pengalaman Belajar di Universitas Katolik Parahyangan’.. coz saya liat cuma fokus di H.I. UNPAR doank..
Kenapa? Coz beda gedung, udah beda suasana bung Calvin. Gak usah jauh-jauh.. gedung mas calvin, sama gedung saya yang sebelah-sebelahan (saya gedung 2, hehehe) juga suasana berbeda banget. Dari pergaulan, cara nongkrong, sampe administrasi, dekanat, and suasana belajar mengajarnya.
Rite?
misi, gue kmrn baru lolos seleksi HI UNPAR gelombang ke 3
soalnya kata temen2 gue HI UNPAR No.1 Se-Indonesia
tapiiiiiiiii sampe skrg gw msh blm dpt info yg BENER2 JELAS tentang ke-nomor satu-an HI UNPAR itu sendiri……
ada yg bisa kasih gw info???
setuju…!!! di semester tiga saya sempet mikir, di HI kok ada asmen lah, ekonomi lah, fenom/ pend agama lah. dan sampe sekarang pun saya belom ngerti juga dimana hubungannya beberapa mata kuliah yang memang rada ga nyambung sama jurusan HI. tapi yah, sebagai mahasiswa, saya tetep harus mengikutinya. turut prihatin juga atas beberapa dosen yang -lagi2- rada aneh. khususnya dosen2 ekonomi yang entah kenapa kok sensi banget ya sama mahasiswa, ga sedikit kan yg harus ngulang mata kuliah itu. juga dosen tepol, yah, tiap dosen punya cara masing2 buat ngajar, se’ajaib’ apapun caranya.
minta masukan buat ngadepin mata kuliah d semester 5 donk, terutama ngadepin Mas Banyu… gara2 rumor angkatan atas, saya jadi rada jiper juga ketemu beberapa dosen yang seperti beliau.
@chaa
yaah, menurut saya jipernya pas di ruang sidang aja kalau anda disidang oleh dosen yang bersangkutan. Sekali lagi, kalau anda dari awal memiliki pola pikir yang berbeda dengan dosen, jangan terlalu berharap anda bisa dapat A.
wah.. saya agak tertarik ke unpar neh..
gw dukung!
pengajarnya unpar asik2 kok, emang ada yang sux kaya pengajar mku (pengajar ppkn mana sih yang ngga sux?) tapi banyak yang ngajarin gw ilmu, dan kecantol ampe lulus. terus gw juga nemuin life friends disini, pokoke unpar oke banged deh.
Wah, saya berencana masuk UNPAR setelah lulus SMA ini, berhubung dorongan mami saya yang memang alumni UNPAR juga. Nah, yang ingin saya tanyakan, dari sisi apa yang menjadikan HI UNPAR unggul dibandingkan universitas lain?
banyak prakteknya, ilmu yang saya dapatkan di hi unpar bukan hanya di kelas, tapi berhubungan dengan orang lain dengan banyaknya event2 yang bisa kita ikuti semasa kuliah.
Wah, saya jadi semakin tertarik kak. Makasih buat infonyah!
[...] di Unpar bukan hanya belajar soal ilmu sosial atau hubungan Internasional. Saya mendapatkan lebih dari [...]