Opinion

Mengintip Pengalaman Belajar di Universitas Katolik Parahyangan

Universitas Katolik Parahyangan dikeal sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia. Namun semasa saya berkuliah di sini, saya mendapati banyaknya kekurangan dari kelebihan yang ada. Tulisan ini mungkin bisa menjadi referensi kehidupan mahasiswa di Unpar jika anda mau masuk ke jurusan Hubungan Internasional (HI).

Pada dasarnya saya melihat kelebihan dan kekurangan HI Unpar terletak dari kompetensi staff pengajarnya. Terdapat setidaknya dua tipe dosen yang, pertama yang mengajari muridnya dengan komunikatif, dan kedua dengan satu arah. Di jurusan Hubungan Internasional, pengajarnya kebanyakan mengajar dengan komunikatif,walau ada juga beberapa yang mengajar dengan satu arah.

Artikel ini merupakan catatan saya dalam menghadapi beberapa mata perkuliahan yang problematik, entah itu dari diri saya sendiri, entah karena staff pengajar yang tidak pandai mengajar, atau karena mata kuliah tersebut sama sekali tidak penting.

Semester 1
Pendidikan Pancasila (MKU 001)
Etika (MKU 008)
Logika (MKU 012)
Sosiologi (SPO 111)
Ilmu Politik (SPO 113)
Asas-Asas Manajemen (SPO 105)
Ilmu Ekonomi (SPO 117)

Semester pertama adalah waktu teraneh untuk mahasiswa baru, terutama karena mereka harus mempelajari mata kuliah yang tidak berkaitan dengan jurusan mereka. Mahasisa hubungan internasional anehnya harus mempelajari Asas-Asas Manajemen. Saya juga kurang beruntung karena diajar oleh dosen yang luar biasa membosankan, menjelaskan ke siswa seperti mengajar tembok. Umumnya pada saat kuliah, saya duduk paling belakang dan menunggu kelas selesai. Saat ujian saya menghapal agar bisa mendapatkan nilai minimum. Pada mata kuliah Ilmu Ekonomi, staff pengajar yang saya dapatkan sayangnya, sudah berusia renta, dan mengajar dengan satu arah.

Bisa dikatakan pada semester pertama, mahasiswa HI harus berjuang ekstra keras, karena mendapatkan mata kuliah yang tidak terlalu berhubungan dengan jurusan mereka (SPO).

Saya juga cukup belajar ekstra saat menghadapi tiga mata kuliah umum. Pendidikan pancasila untungnya, saya mendapat dosen yang sangat komunikatif, sehingga saya mendapat ilmu, dan diperkenalkan dengan Tan Malaka. Pada mata kuliah Logika, otak saya selama 6 bulan harus berjuang menghapal logika-logika bahasa dengan ekstra, walau setelah itu lenyap karena tidak digunakan lagi. Pada mata kuliah Etika, mungkin memang saya yang tidak bisa mengerti, karena mempelajari filsafat.

Pada semester 1, Mahasiswa Hubungan Internasional juga berpartisipasi mengikuti acara tahunan GINTRE (Gathering and Introducing International Relations). Acara ini adalah simulasi sidang Internasional yang umumnya menggunakan format PBB. Kebetulan saya menjadi delegasi Israel pada acara ini. Pada angkatan saya, topik yang menjadi simulasi sidang adalah terorisme.

Semester 2
Pendidikan Kewarganegaraan (MKU 002)
Pendidikan Agama/Fenomenologi Agama (MKU 003/004)
Bahasa Inggris (SHI 102)
Sosial Budaya Indonesia (SPO 112)
Politik Indonesia (SPO 114)
Perekonomian Indonesia (SPO 116)
Hukum Indonesia (SPO 118)
Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (SHI 215)

Seperti yang bisa dilihat, pada semester dua, baru ada dua dari keseluruhan mata kuliah yang diambil mahasiswa. Pada semester ini pula, saya mengambil mata kuliah yang paling menjatuhkan nilai saya, yakni Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama. Dua mata kuliah paling tidak bermutu dan tidak berguna di keseluruhan kuliah.

Kenapa demikian? Pendidikan Kewarganegaraan umumnya diajari oleh dosen-dosen MKU yang mengajar seperti tembok, dan nyaris tidak mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar (walau sebenarnya, steretype dosen MKU di Unpar memang demikian dan tidak bisa dirubah lagi). Teman saya yang tidak beruntung mendapat seorang dosen Orde Baru yang sangat memuja-muja Soeharto, dan tidak mau dikritisi. Yang pasti, walau saya cuma mendapat C, saya tidak akan pernah mau mengulang mata kuliah terkutuk ini.

Pendidikan Agama Katolik sama parahnya, karena dosen mengajar satu arah, dengan mata kuliah yang luar biasa monoton dan tak menarik. Dosen tersebut mengajarkan nilai-nilai katolik yang dogmatis dan tidak bisa berubah lagi. Saya yang sudah membaca literatur-literatur yang mengkritisi Kristianitas agak terenyuh melihat betapa kecilnya skala berpikir dosen yang bersangkutan. Saya jadi tidak bisa berdebat, dan jika saya mengkritisi dosen tersebut, saya dianggap sebagai pembangkang sayangnya. Murid-murid juga tidak mau ada seorang mahasiswa yang membuat waktu pulang menjadi lama, jadi yang bisa saya lakukan di kelas hanyalah duduk mendengarkan dengan hati yang dongkol.

Pada semester dua ini juga, ada dua mata kuliah yang berkaitan dengan HI, yakni Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (PIHI) dan Bahasa Inggris. Pada mata kuliah PIHI, murid-murid diajari teori-teori dasar hubungan internasional yang akan menjadi dasar pada semester-semester berikutnya. Mahasiswa diharuskan menulis essay-essay untuk melatih pengaplikasian teori.

Pada mata kuliah Bahasa Inggris, mahasiswa diajari menggunakan bahasa inggris dan cara membaca teks dengan efektif.

Semester 3
Pengantar Statistika Sosisal (SHI 201)
Bahasa Inggris Hubungan Internasional (SHI 225)
Filsafat Ilmu (SHI 211)
Bahasa Mandarin/Jepang/Perancis (SHI 217/219/221)
Kekuatan Politik Indonesia (SHI 223)
Hubungan Internasional Kawasan (SHI 307)
Media, Budaya, Masyarakat (SHI 421)

Pada semester tiga, kita tidak akan menemui lagi mata kuliah SPO, karena tiap jurusan sudah makin terfokus. Pada semester ini, mata kuliah yang problematik dengan saya hanyalah Media, Budaya, Masyarakat. Saya kurang beruntung karena mendapat dosen yang memang tidak terlalu pandai mengajar, dan membuat mata kuliah kurang menarik, walau sesungguhnya sangat penting.

Pada mata kuliah Filsafat Ilmu, saya diajar oleh dosen yang luar biasa pintar dalam menyederhanakan masalah. Saya luar biasa takjub bagaimana dosen tersebut bisa menjelaskan konsep-konsep yang kompleks dengan cara yang mudah dimengerti. Disinilah saya mulai mengagumi sebagian dosen saya. Tidak seluruh dosen ternyata “menindas” dan “satu arah” seperti yang saya lihat di semester satu dan kedua.

Pada semester tiga ini, saya juga berpartisipasi untuk membuat acara Gintre bagi angkatan baru. Topik pada sidang Gintre 2005 adalah revitalisasi Dewan Keamanan PBB.

Semester 4

Estetika (MKU 011)
Metode Penelitian Sosial (SHI 204)
Komunikasi Internasional (SHI 212)
Teori-Teori Politik (SHI 218)
Isu-Isu Global (SHI 220)
Globalisme, Modernitas, & Negara-Bangsa (SHI 222)
Organisasi Internasional (330)
Resolusi Konflik (SHI 408)

Pada semester 4, saya mendapat satu mata kuliah dengan cara mengajar yang aneh bin ajaib. Mata Kuliah teori politik tepatnya.

Beginilah skema mengajar dosen bersangkutan:

1. Dosen membagi-bagi murid menjadi kelompok
2. Tiap minggu satu kelompok membuat ringkasan+pertanyaan dan terjemahan
3. Pada saat mengajar, dosen bersama murid mencari jawaban dari pertanyaan berdasarkan ringkasan yang sudah ada, tanpa debat.
4. Pada saat ujian, harus ada satu orang yang mengkompilasi pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada.
5. Ujian = bangun pada jam 8, hapalkan seluruh 60 pertanyaan, dan berharaplah salah satu yang anda hapalkan keluar dari 5 pertanyaan yang ada di ujian. Setelah itu? Tinggalkan.

Mayoritas mahasiswa mendapat A pada mata kuliah ini, tanpa mendapat ilmu apa-apa kecuali cara menggunakan short term memory untuk ujian hapalan mati. Memalukan? Memang, tapi itu belum selesai sampai disini, masih ada mata kuliah Perbandingan Politik di semester lima dengan cara mendapat A yang sama.

Pada mata kuliah Estetika, saya mendapat dosen berlatarbelakang design yang agak diskriminatif, karena seakan-akan seluruh mahasiswanya harus bisa menggambar. Untungnya saya adalah lulusan kelas bahasa, memiliki latar belakang sastra dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk sejarah seni rupa barat, sehingga saya dengan berani mendebat seluruh ajaran dosen tersebut, yang saya anggap tidak sesuai. Untungnya dosen tersebut juga terbuka pada kritikan, dan saya merasa beruntung diajari oleh dosen tersebut. Di mata kuliah ini, murid-murid diberikan kesempatan untuk mengekspresikan seninya, sehingga bagi mahasiswa yang tidak memiliki seni sama sekali, mata kuliah ini adalah mimpi buruk.

Semester Lima
Politik Luar Negeri (SHI 301)
Hukum Internasional (SHI 305)
Politik Internasional (SHI 311)
Politik Bisnis Internasional (SHI 313)
Perbandingan Politik (SHI 315)
Politik Global Amerika Serikat (SHI 425)
Hubungan Internasional di Asia Pasifik* (SHI 427)
Hubungan Internasional di Eropa SHI* (429)

* = Pilihan

Semester lima, seingat saya, merupakan waktu paling neraka selama saya studi di unpar. Bobot mata kuliah yang ada di semester lima luar biasa berat dan tidak main-main.

Mata kuliah yang memakan otak mahasiswa di semester ini mungkin adalah Politik Global Amerika Serikat (Polgas). Staff pengajarnya tidak lain adalah Anak Agung Banyu Perwita. Pada mata kuliah ini, mahasiswa diajar bagaimana melihat politik luar negeri Amerika Serikat, dan bagaimana kita bisa mengaplikasikan berbagai teori untuk melihat tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dalam menjalankan politik luar negerinya.

Pada Ujian Tengah Semester (UTS), mahasiwa diajak menganalisis ancaman-ancaman dan mobilisasi instrumen AS dalam isu tertentu (saya memilih reformasi PBB), dan pada Ujian Akhir Semester (UAS), mahasiswa berada pada posisi sebagai seorang pengambil keputusan di Amerika, dan memberi nota pada Presiden Amerika untuk mengurai masalah-masalah yang dihadapi Amerika saat ini.

Semester lima merupakan masa-masa neraka yang susah dilupakan, namun demikian, saya cukup menikmati kuliah pada semester ini, terlepas dari betapa berat dan banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan (ada sekitar 7 atau 8 tugas yang harus dikumpulkan sebelum UAS)

Semester 6
Diplomasi (SHI 216)
Politik Luar Negeri Republik Indonesia (SHI 302)
Ekonomi Politik Internasional (SHI 304)
Hukum Ekonomi Internasional (SHI 328)
Kajian Strategis (SHI 318)
Metodologi Ilmu Hubungan Internasional (SHI 320)
Hubungan Internasional di Amerika (SHI 322)
Hubungan Internasional di Afrika & Timur Tengah (SHI 324)

Pada semester ini, ketegangan dalam kuliah sudah mulai menurun, dan ritme kuliah juga lebih rileks dibandingkan semester lima. Mata kuliah yang memakan energi pada semester ini tidak lain Kajian Strategis dan Ekonomi Politik Internasional.

Kajian Strategis diajar oleh Anak Agung Banyu Perwita. Pada mata kuliah ini kita diajarkan bagaimana menganalisis isu-isu strategis yang dihadapi suatu negara, dan bagaimana instrumen dijalankan untuk menyelesaikan isu tersebut. Mata kuliah ini penuh dengan berbagai teori yang luar biasa memusingkan. Tugas yang diberikan antara lain, membuat satu paper kelompok mengenai kajian strategis suatu negara (Saya memilih Jepang), menganalisis isu keamanan maritim di Indonesia (UTS), dan mengkaji kebijakan keamanan nasional suatu negara berkembang (UAS, saya memilih Rusia)

Pada mata kuliah Ilmu Ekonomi Politik Internasional, mahasiswa diajari konsep-konsep dalam ekonomi politik internasional seperti fluktuasi mata uang, demand dan supply, hutang-hutang negara dunia ketiga, dan sebagainya. Mata kuliah ini benar-benar menarik, walau sulitnya bukan main, dan saya berterimakasih pada dosen yang mengajar karena membuat saya menjadi tertarik belajar ekonomi.

Untuk mata kuliah Semester 7 dan Semester 8 saya belum bisa berkomentar karena saya belum memasukinya. Ceklah blog ini enam bulan lagi.

Kesimpulannya? Seperti yang saya katakan tadi, saya sangat senang dengan kualitas staff pengajar dosen unpar yang memang kompeten.

Saya bersyukur bisa diajar oleh dosen-dosen yang memang memperdulikan kualitas muridnya, seperti Alexius Jemadu, V. Bob Sugeng Hadiwinata, Adrianus Harsawaskita, Anak Agung Banyu Perwita, Arknolt Kristian Pakpahan, P.Y. Nur Indro, dll.. Mereka adalah pengajar-pengajar yang telah membuat saya menjadi manusia lebih baik, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Mereka mengajar dengan komunikatif dan berusaha membuat mahasiswa menikmati mata kuliah, walau mata kuliah tersebut memang cukup berat. Mereka membuat saya belajar demi dapat ilmu, bukan demi dapat A.

Namun tetap saja, ada juga dosen-dosen yang tidak terlalu komunikatif dan mengajar seperti tembok. Ada waktu dimana saya merasa tidak beruntung karena diajar oleh dosen yang tidak bisa mengajar, dan saya merasa kuliah yang saya dapatkan dari dosen bersangkutan sia-sia. Saya belajar demi dapat A, bukan demi ilmu. Jika begini, mana yang harus disalahkan? Mahasiswa? Dosen? Atau sistem?

Tulisan ini belum sempurna sesungguhnya. Masih banyak kegiatan lain di HI Unpar yang mendukung proses belajar mengajar, seperti KSMPMI (Kelompok Studi Pengkaji Masalah Internasional), GINTRE (Gathering and Introducing International Relations, acara simulasi sidang konferensi internasional untuk mahasiswa baru), Praktik Diplomasi (Mata kuliah wajib semester 7 dan menjadi salah satu klimaks dari perkuliahan di HI Unpar), dan segudang kegiatan lainnya.

46 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields