Salah satu hobi saya adalah membaca berbagai buku mitologi, saat ini saya sedang menggandrungi mitologi timur tengah, khususnya sumeria-babilonia.
Pada 25 desember yang lalu teman saya juga memberikan hadiah terkeren : sebuah ensiklopedia mitologi bergambar! The Encyclopedia of World Mythology yang diedit oleh Arthur Cotterell. Buku ini bisa menjadi pengantar yang bagus jika anda tertarik dengan mitologi komparatif.
Membaca berbagai mitologi dunia mengasikkan juga, saya bisa jadi melihat aspek-aspek sinkretisme agama kuno pada agama modern. Ada cerita-cerita mitologi yang memiliki paralelisme dengan cerita-cerita di kitab suci Kristen ataupun konsep, praktek-praktek dari agama kuno pada agama kristen. Ada beberapa fakta yang cukup menarik untuk diketahui dan bisa menjelaskan simbolisme-simbolisme dalam agama modern.
Artikel ini akan membahas mengenai sinkretisme agama, pencampuran satu agama dengan agama lain, entah karena kepentingan politik atau karena proses yang natural. Sinkretisme terkadang perlu dilakukan agar bisa menyatukan masyarakat yang berbeda kultus agar mereka bersatu dan menyembah satu tuhan yang sama.
Jika anda berasal dari bangsa lain yang menjajah etnis tertentu yang memiliki agama berbeda, agar masyarakat tersebut bisa menerima legitimasi penguasa baru, bagaimana kalau kita ciptakan agama baru yang mencampuradukkan konsep-konsep yang sudah ada? Ini sebabnya ada banyak sekali agama di kekaisaran romawi kuno: mereka melakukan sinkretisme agama dari berbagai koloni mereka.
Noah dan Utnapishtim/Arta-Hasis
Salah satu yang paling menonjol di mitologi manapun adalah keberadaan banjir besar. Ada dugaan bahwa terjadi bencana global yang menyebabkan semua penduduk di dunia mengalami hal serupa.
Jauh sebelum cerita Nuh, kita menemukan adanya mitologi Utnapishtim. Diceritakan Enlil yang merasa terganggu karena manusia terlalu berisik dan mengganggu tidurnya, memutuskan untuk menghancurkan peradaban dengan banjir besar. Ea, dewa yang mengasihi manusia memberitahukan Utnapishtim untuk membuat bahtera. Walau Enlil marah Ea mengganggu rencananya untuk memusnahkan manusia, tapi dia memberi keabadian pada Utnapishtim. Perbedaan di cerita Nuh dan Utnapishtim adalah, tuhan yang menyelamatkan dan menghancurkan adalah dua pribadi yang berbeda. Dalam mitologi Sumeria, Utnapishtim memiliki nama Arta-Hasis.
Sinkretisme Yahweh dan El
Yahweh, tuhan yang disembah oleh Yahudi asal mulanya adalah dewa petir (menurut Karen Armstrong dalam bukunya, History of God). Nama Elohim pertama kali muncul dalam pantheon dewa-dewa Babilonia. Pada mulanya El adalah dewa matahari. Yahweh yang kita kenal di Perjanjian lama besar kemungkinan adalah hasil sinkretisme dari kedua dewa tersebut. Ini memperlihatkan kenapa tuhan di perjanjian lama terlihat ambivalen: terkadang jahat, terkadang maha pengasih, karena keduanya merupakan gabungan dari dua deitas yang berbeda.
Metatron, malaikat dalam angelologi Yahudi sering dianggap sebagai “Yahweh yang lebih rendah”, terlebih karena hubungan numerologi antara nama Metatron dan Shaddai yang sama-sama berjumlah 314.
Natal dan Sol Invictus
Ada juga cerita yang menarik dibalik natal. 25 Desember pada mulanya adalah hari perayaan Sol Invictus, hari kebangkitan matahari. Dewa Matahari Apollo, Sol, dan Yesus mengalami sinkretisme, jadi mungkin bisa menjelaskan kenapa selama ini Yesus digambarkan bule, bukannya hitam, ini agar masyarakat Romawi yang rasnya kaukasian bisa mengadopsi agama kristen secepatnya.
Beberapa gereja tidak merayakan natal karena mungkin mengetahui tanggal tersebut tidak tepat.
Ekaristi: Dionysius
Ekaristi memiliki paralelisme dari praktek pada penyembahan Dionysius, dewa anggur, yang cukup memiliki banyak cult di Yunani. Dionysius adalah salah satu dari beberapa dewa yang dalam mitologi, diceritakan mati dan bangkit kembali. Dionysius juga memiliki beberapa ritual yang berhubungan dengan anggur, dan memiliki konsep siapa yang meminum anggurnya, akan menjadi sama dengan dia, memiliki keabadian.
Dari Isis ke Bunda Maria
Perempuan tidak pernah absen dalam mitologi, bahkan menjadi sosok yang penting. Dewa perempuan biasanya muncul pertama kali sebagai pendamping dewa utama (Zeus-Hera, Osiris-Isis, Jupiter-Juno, Uranus-Gaia) ini dinamakan syzgy, pasangan aktif-pasif, laki-perempuan, dalam mitologi china, Yin-Yang adalah konsep serupa. Yahweh di perjanjian lama juga pada dasarnya digambarkan Androgini secara implisit, karena dia selalu menunjuk dirinya dengan subjek “kita”, hal ini bisa menjelaskan kenapa makhluk heteroseksual dalam penciptaan menurut kosmologi kristen.
Penggambaran sosok perempuan juga tidak selamanya sama. Kita melihat terkadang mereka sebagai pendamping (Isis yang mencari suaminya Osiris yang dipotong-potong oleh Set), sebagai pencemburu (Venus yang mencoba memisahkan Psyche dari Cupid), atau sebagai pembalas dendam (Ishtar terhadap Gilgamesh). Kalau anda ingin tahu kenapa semua perempuan diculik, anda juga bisa melihat cerita Perseus dan Andromeda, nenek moyang semua dongeng damsel in distress, plot device dimana perempuan biasanya diculik dan ditolong oleh ksatria.
Agama Katolik melakukan penyembahan bunda Maria yang tidak disetujui oleh Kristen Protestan, karena alasannya cukup jelas: Bunda Maria bukan Tuhan, tapi hal ini sebenarnya bisa ditarik relevansinya dengan kultur yang sudah ada. Penyembahan Bunda Maria pada agama katolik adalah salah satu topik kontroversial, dan memang tidak semua aliran kristen menyetujui hal ini.
Hal ini bisa dijelaskan jika kita melihat mitologi-mitologi terdahulu. Konsep Bapa-Ibu-Anak sudah menjadi pola umum dalam mitologi. Mesir kuno misalnya, memiliki dewa Osiris-Isis-Horus. Dewi Isis yang memiliki peran sentral dalam mitologi Mesir juga disembah oleh orang-orang Romawi di Eropa, karena sosoknya sebagai “Ibu sejati”, “Penghibur”, “Pengasih”. Sosok ibu dalam mitologi diidentikkan dengan figur sempurna, “Magna Mater” (great Mother). Karena keberadaan kultur inilah, Bunda Maria mengalami sinkretisme dengan sosok Isis. Ini juga menjelaskan kenapa bunda Maria sering terlihat Yesus kecil, karena Isis diperlihatkan juga selalu menggendong Horus yang masih bayi.
Sinkretisme bisa menjelaskan berbagai hal dalam agama modern, terutama jika kita mau membaca mitologi. Cukup menarik mengetahui hal-hal ini, karena tidak banyak yang menyadari (atau tak peduli).
Sayang karena keterbatasan kapasitas otak saya, saya tidak sempat membaca mitologi lain. Saya saat ini masih berkutat di mitologi Sumeria-Babilonia. Mungkin kedepannya saya bisa membahas mitologi yang lain juga, seperti mitologi Zoroaster (kalau niat, maklum sudah kerja).
Referensi:
Sacred Texts. Situs sangat bagus yang memuat berbagai dokumen agama-agama kuno.
Religious Tolerance. Situs informatif yang memperlihatkan paralelisme dalam berbagai aajaran gama dengan bahasa ringan.

Add your comment below, or trackback from your own site.
Subscribe to these comments.
Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.
You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>