Google
 

Memetik Bintang di Langit

Calvin Michel Sidjaja on May 9th, 2006

Memetik Bintang di Langit

“Selamat tidur sayang.” kata mama kepada Stella. Selamat tidur mama, jawab Stella dalam hati. Lalu pelan-pelan sosok itu menjauh dari tempat tidur gadis kecil berumur 7 tahun itu dan menutup pintu kamar, meninggalkan Stella di kegelapan kamar dengan cahaya bulan bintang yang menemani dirinya tiap malam. Tapi Stella belum bisa tidur. Dia sedang memikirkan hal lain.

Besok adalah hari ulang tahun mamanya. Stella tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan kado yang diinginkan mamanya. Stella memandang langit berbintang dibalik jendela kamarnya. Aku ingin tahu bintang-bintang di langit, bagaimana caranya membungkus kalian semua dalam kertas kado ini?

*

“Stella, tahu tidak?” tanya Kevin teman sebangku Stella yang sedang membuat sebuah gambar bintang dan seorang perempuan di sebelahnya, “katanya kalau kita memberikan bintang pada mama kita sewaktu ulang tahun, mama kita akan tambah sayang pada kita loh.” lanjutnya sambil mengambil krayon berwarna kuning dan menghias bintang-bintang besar di kertas gambar itu dengan cahaya. Stella lalu melihat Kevin menggambar senyum di muka perempuan itu.

Mama akan bertambah sayang padaku jika aku memberikan bintang padanya sewaktu ulang tahun? Bukankah besok mama ulang tahun? Dimana aku bisa membeli bintang? Mungkin bu guru tahu?

*

Stella berjalan dengan agak sedih. Bu Martha mengatakan bahwa dia tidak mengerti pertanyan Stella. Bukankah pertanyaan saya gampang bu? Bagaimana caranya memberikan bintang pada mama? Bu Martha malah menjawab dengan menahan tawa. Ah ibu!

Stella memutuskan untuk membeli kertas kado berwarna emas mengkilap. Dia tidak mau memberi kado selain bintang pada mamanya.

Membungkus bintang dengan kertas kado kecil ini… bagaimana… zzz…

*

Rasa dingin menembus kulit Stella. Rasanya aku masih pakai selimut… eh? Stella terbalak melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Rasanya tak percaya.

Lautan bintang… pikir Stella yang melihat kumpulan galaksi, bintang yang begitu indah dan tak terbatas di hadapan kedua mata kecilnya.

Stella…

Siapa? Ada yang memanggilku?

Bukankah kamu memohon untuk bertemu kami? Ada apa Stella?

Aku berbicara dengan bintang! Pikir Stella senang. Dia lalu mengatakan keinginannya untuk membungkus mereka dalam kertas kado miliknya.

“Aku ingin mama bertambah sayang padaku. Maukah kamu memberikan segenggam bintang untuk hadiah ulang tahunnya?” tanya Stella pada lautan bintang itu.

Kenapa harus kami Stella? Jawab suara itu.

Eh?

Ada kado lebih baik dari kami Stella, dan kamu akan tahu pada saat bangun nanti. Lalu Stella merasa tubuhnya makin ringan. Dia jatuh ke bumi berwarna biru itu. Melewati luar angkasa, jatuh bebas ke atap rumahnya.

Bintang-bintang… itu tak mau menjadi hadiah untuk ma…ma…

Tubuh Stella menembus atap rumahnya, dan ia jatuh ke kasur empuknya yang ditutupi selimut bergambar bulan dan bintang. Stella membuka matanya.

Mimpi… pikir Stella. Dia memandang langit bertabur bintang itu dengan perasaan agak sedih.

Aku ingin memberi bintang untuk mama.

*

Pagi hari. Mentari tersenyum kembali bagi Stella yang sedang tertidur.

“Stella, bangun sayang.” kata mama sambil mengecup kening gadis kecil itu.

Stella perlahan membuka matanya. Dia bisa melihat senyum mamanya, senyum yang tercantik di dunia menyambut pagi harinya.

“Mama selamat ulang tahun.” kata Stella sambil mengecup pipi mamanya dan memeluknya erat-erat.

“Terima kasih sayang.” jawab mama sambil memeluk Stella dengan perasaan sayang.

“Ini kado untuk mama” kata Stella cepat-cepat merogoh sakunya dan mengambil suatu bintang kecil yang terbuat dari kertas kado mengkilap.

“Stella, apa ini sayang?” tanya mama sambil melihat bintang kecil yang diberikan Stella.

“Ini bintang untuk mama. Bukankah mama akan tambah sayang padaku jika aku memberikan bintang untuk hadiah ulang tahun?” tanya Stella.

Mama tersenyum mendengar kata-kata Stella. Dia lalu memeluk Stella.

“Seindah apapun bintang di angkasa, tidak ada yang lebih indah dari bintang kecil yang dimiliki mama.” kata mama sambil berbisik di kuping Stella, “dan mama tak butuh bintang lain.”

Stella tak tahu hal itu. Mamanya sudah memiliki bintang?

“Mama punya bintang? Siapa namanya ma?”

Mama lalu berbisik padanya.

“Stella…”

 

 

Bandung, 9 Mei 2006

 

 

Popularity: 6% [?]

Tags:

Related posts

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>