
On Saturday, 26 April 2008, KSMPMI -Kelompok Studi Pengkaji Masalah Internasional, which doesn’t have official english name yet- held International Seminar in Holiday Inn, Bandung titled “The Irony: The Poor Subsidizing the Rich”.
The speakers invited are as follow:
Profesor Alexius Jemadu (Senior Lecturer of Universitas Katolik Parahyangan)
Makmur Keliat (Lecturer from Universitas Indonesia)
Trihadi Saptoadi (National Director of World Vision Indonesia)
Donatus Klaudius Marut (Executive Director, INFID, International NGO Forum on Indonesian Development)
Bambang Ismawan (Chairman of the Board of Trustee of Bina Swadaya)
Abdurrahman Syebubakar (United Nations Development Program)
The seminar began on 7.30 AM and ended in 17.00 PM. Given the lengthy duration, I couldn’t fully remember each speakers specific statement, but in summary, they were talking same thing: how 3rd world countries become poorer and developed richer getting richer because of debt trap. Foreign aid, as we know it, it’s not necessarily always serve the interest of its recipient. Foreign aid are not given, it’s lent to increase the dependency toward poor countries toward its donor. By creating debt trap, situation where the recipient couldn’t even pay the interest of their loan, developed countries would find them in stronger position to dictate the developing countries.
As marxist as it sounds, but it’s proven on the Asian economic crisis 1997. Indonesia is the best example to illustrate this irony. IMF (International Monetary Fund) was supposed to cure and gave the best solution toward economic crisis in Indonesia. But their prescription was failure, or maybe we could say, intended to fail at first place.
Using the crisis for excuse, IMF dictate Soeharto to remove subsidiary and liberalize the agriculture products trade flow, and the result was bizarre. Inflation raised uncontrollably and Rupiah plunged to dollar almost 800% at that time.
WTO (World Trade Organization) also is a good example. Being the most important so-called “fair trade”organization authority, WTO’s has made it possible to create even greater disparities among its member nations. Developed country demand the developing countries to open their market, while they are still protecting their market by giving subsidiaries to their local agriculture products.
Also in this seminar, Bambang Ismawan also told the audience that there are no poor people who want to become poor forever. All they need are chance and facility to enter the economic system. They shouldn’t be seen as burden. Instead of feeding them, they should be trained to do jobs and feeding themselves.
C. K. Pralahad published “Fortune at the Bottom of Pyramid”, telling that the market of so-called poor people are big, and there is way to enter that market, by treating them as part of economic system of course. How should it be done, for example? Pralahad said that since the BOP’s income are limited, producers must produce lowest, cheapest produce as possible, to ensure they could afford it.
The Banks in Indonesia also contributed on complicating the matters. Big Banks tended to prioritize the big companies and reluctant to give credits to BOP people. The illustration is simple, if you are running a bank, whom would you prioritize? A CEO from a private company or poor farmers who need capital? I think the answer is too obvious. Here is another irony: in order to be evaluated as good bank, avoid bad credit as possible.
In this seminar also, KSMPMI announced the winner of their first student essay contest with jurists as follows:
1. Prof. A.A Banyu Perwita,Ph.D (Unpar)
2. Harry Bastara (Senior Editor Jakarta Post)
3. Bantarto Bandoro (Eksekutif Redaksi CSIS)
After presentation which was held on Friday, 25 April 2008, there popped out three names of winners:
1st place
Kebangkitan Seni Kriya Batik: Antara Kesadaran Identitas Budaya dan Fenomena Kembali Ke Etnisitas (The Rise of Kriya Batik Art: Between the Awareness of Culture Identity and Return to Ethnicity Phenomenon)
by: Adeste Apriyanti
2nd Place
MDG Indonesia : Paradoksal Idealita dan Realita (MDG Indonesia: Paradoxical Idealism and Reality)
by: Asmarawati Handoyo
3rd Place
Saya, Malioboro dan Globalisasi ( I, Malioboro, and Globalization)
By : Ratih Rachmawati
And here are the documentary photos:

taking photo with Andriyansyah,

with Adeste, the 1st prize winner
For your information, this is the first international seminar held by KSMPMI. Despite the sleepiness I got due to the lengthy session, I got a lot of things from this seminar. Too much actually! Let’s expect another good seminar for next year. Congratz KSMPMI!
_______________
Pada hari sabtu 26 April 2008, KSMPMI menyelenggarakan seminar internasional berjudul “Irony of the World: The Poor Subsidizing the Rich” yang diselenggarakan di Holiday Inn, Bandung. Pembicara yang hadir antara lain:
Profesor Alexius Jemadu (Dosen Universitas Katolik Parahyangan)
Makmur Keliat (Dosen Universitas Indonesia)
Trihadi Saptoadi (National Director of World Vision Indonesia)
Donatus Klaudius Marut (Executive Director, INFID, International NGO Forum on Indonesian Development)
Bambang Ismawan (Chairman of the Board of Trustee of Bina Swadaya)
Abdurrahman Syebubakar (United Nations Development Program)
Berhubung seminar ini memakan waktu dari jam 7.30-17.00 saya ga bisa mengingat semua yang dibicarakan pembicara, namun garis besarnya antara lain: penumpukan hutang pinjaman luar negeri memperparah masalah kemiskinan di negara berkembang. Jerat hutang (debt trap) adalah faktor yang mempengaruhi tingginya kemiskinan negara-negara berkembang. Hal ini terlihat misalnya saat krisis tahun 1997, Indonesia dipaksa menerima resep IMF, dan gagal. IMF tidak mau bertanggung jawab dengan kebijakan pro liberalnya (penghapusan subsidisi, liberalisasi perdagangan, dll)
Institusi moneter internasional tidak terlepas dari pengaruh korporat. Kebijakan yang mereka keluarkan cenderung menguntungkan negara pemberi hutang, karena uang yang mereka pinjamkan ujung-ujungnya kembali ke kantong mereka.
Ilustrasinya, jika Indonesia diberikan pinjaman dana sebesar xx triliun dari IMF atau World Bank, maka akan ada perusahaan-perusahaan besar dari pihak pemberi pinjaman agar bisa terlibat dalam proyek tersebut. Disinilah uang yang dipinjam justru kembali ke tempat awal. Uang tersebut terpakai untuk membiayai teknisi-teknisi asing yang ngakunya mengerti masalah lokal, padahal tidak selalu.
Saya juga sempat mengakses Portal HI di tengah-tengah seminar karena saya ingat sekali Verdinand pernah membahas masalah kemiskinan di blog tersebut. Ya, artikel yang saya maksud adalah review mengenai buku C.K. Prahalad “Fortune at the Bottom of the Pyramid”, kenapa saya menanyakannya? Soalnya kalau anda perhatikan ada satu pembicara yang berasal dari pemberi microfinance. Ya, dia juga menyetujui bahwa orang miskin tidak boleh dianggap sebagai beban, tapi juga harus diintegrasikan dalam roda ekonomi nasional.
Pada dasarnya, tidak ada orang miskin yang ingin terus menerus miskin bukan? Mereka juga ingin keluar dari sistem yang terus memiskinkan mereka. Yang tidak mereka punya adalah peluang. Disinilah salah satu ironi bank-bank besar di Indonesia. Mereka mengumpulkan uang dari masyarakat, tapi enggan menyalurkan pinjaman dengan bunga rendah kepada orang yang tampak tidak bonafid. Logis. Jika anda kerja di bank besar, anda pasti lebih memilih memberikan pinjaman pada direktur dari perusahaan besar daripada petani yang sedang ingin membuka usaha baru. Padahal mungkin petani itu juga menabung di bank yang sama. Inilah salah satu bentuk ironi tersebut.
Sebenarnya ada banyak sekali hal yang dapat dipetik dari seminar ini. Misalnya World Vision yang memberikan program pembiayaan anak asuh hanya dengan Rp. 100,000/bulan. Ya hanya dengan Rp. 3300,00/hari kita sudah bisa membiayai hidup seorang anak yang memerlukan santunan.
Pembicara terakhir, pak Trihadi Saptoadi optimis, kemiskinan harus dianggap sebagai hal yang tidak boleh ditoleransi. Analoginya adalah seperti human trafficking dan slavery. Kemiskinan adalah pelanggaran hak asasi manusia. Tidak ada boleh manusia yang dibiarkan dalam kemiskinan.
Bicara kemiskinan di Indonesia tidak ada habisnya. Sebetulnya saya juga ingin membawa isu sensitif mengenai marginalisasi kelompok etnis dalam Indonesia, padahal minoritas ini adalah satu komponen ekonomi yang penting. Tapi mereka dipinggirkan secara politik.
Untuk bikin KTP saja butuh surat keterangan tambahan, jadi salah ya kalau mereka tidak nasionalistis dan ogah membangun negara mereka karena kebijakan agak rasis seperti itu? Dan lagi mereka menjadi sapi perah bagi pemerintah. Apa-apa harus bayar. Berhubung ini bisa menjadi debat yang tidak ada ujungnya, saya batalkan saja keinginan saya.
Pada seminar ini juga diumumkan pemenang LKTM 2008, dari 10 finalis. Juri yang menilai antara lain:
1. Prof. A.A Banyu Perwita,Ph.D (Unpar)
2. Harry Bastara (Senior Editor Jakarta Post)
3. Bantarto Bandoro (Eksekutif Redaksi CSIS)
Setelah melalui pembantaian presentasi pada hari jumat 25 April 2008, keluar tiga nama pemenang antara lain:
Juara 1
Kebangkitan Seni Kriya Batik: Antara Kesadaran Identitas Budaya dan
Fenomena Kembali Ke Entitas
Oleh : Adeste Apriyanti
Juara 2
MDG Indonesia : Paradoksal Idealita dan Realit
oleh : Asmarawati Handoyo
Juara 3
Saya, Malioboro dan Globalisasi
Oleh : Ratih Rachmawati
Nah ini adalah foto-foto dokumentasi:

10 Finalis berfoto bersama

foto bareng Andriyansyah

foto bareng Adeste, juara 1
Nah, perlu dicatat juga, ini adalah seminar internasional KSMPMI yang pertama (karena semua dilaksanakan dalam bahasa inggris). Moga-moga tahun depan berjalan lebih baik lagi, dan selamat atas kerja keras panitia dan semua yang terlibat untuk menyukseskan acara ini!
PS: Panitia mengatakan saya boleh mengupload semua dokumen finalis dan pembicara ke blog ini. Mohon periksa postingan ini beberapa hari lagi nanti.
_____
Popularity: 15% [?]
Tags: KSMPMIIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Hi Vin,
Everything sounds great, and congratulations to the winners…
skedar catatan tambahan, ini bukan pertama kalinya KSMPMI bikin seminar internasional, tahun 2003 kita juga bikin seminar nasional yg full bahasa inggris (cuma ga disebut seminar intern aja hehe…) soal invasi US ke Irak hehe…
But great job guys!
Viva KSMPMI,
Evan
KSMPMI 02
Vin.. Kt lu pembicara yang paling bagus dari semuanya yang mana? Gw suka banget sm yang dr UI, walaupun pronounciation English nya kurang enak. Mudah2an tahun depan ‘Seminar Internasional’nya bisa bener2 meng-internasional yaa? Ehh..minta Evan membantu untuk mengundang pembicara2 dari NUS atau NTU bgmn? Hehe
Hi,
haha…. gw mah selalu siap membantu, tp berhubung ga pernah diminta jadi gw diem2 aja lah.. haha…. =p
btw, selama ada budget mah, ngundang orang dari luar indo mah bisa2 aja, kl dr NUS atau NTU bisa2 aja (gw bs bantu), but again, budget cuy… gw masih inget hari2 mas bob jadi kajur dan ribut ma rektorat gara2 anggaran semnas ksm mau dipotong.. hehe.. *smbl berharap mas bob cepet sembuh* ^_^
peace,
Evan
@cheri
hmm, gw suka pembicara dari world vision. Dari gaya bicaranya saja, kayanya dia berdedikasi banget yah buat mengurus anak-anak terlantar. yang dari undp juga ok.
Secara keseluruhan, menurut gw ga ada pembacara yang ga oke, substansinya bener2 padat dan ngena. Tapi yah emang guanya doank yang rada2 ngantuk pas seminter kemeren…
eh udah punya blog di wp loh. link ahh.
seminar kemarin bagus bgt, terutama sesi ke-3, gw appreciate sama bapak yg dari World Vision, dedikasi bgt orangnya.. sayang bgt menurut gw ada pembicara yang ga terlalu capable untuk ngomong ttg poverty… mungkin ini bisa jadi masukan ya buat thn depan, semoga bener2 dipilih speaker yg memang expert di bidangnya.. merci!
@cecile
ooooh. ya sudah, ga usah disebutin disini yah, mengingat circumstance kita saat ini, toh seminarnya beres dan sukses.
hehehe… vin2, you can guess my mind.. i know vin, tapi ya sbg peserta bole dong kasih masukan… ya sudlah, yg penting skripsi A betul???
btw vin,
officially, KSMPMI in english *seharusnya* = Students’ Study Group on International Affairs, yg dipake pertama kali di sertifikat KSM (era gw kl ga salah)… entah napa muncul berbagai interpretasi ga jelas… hehe…
@evan
untungnya itu yang tertulis di sentris. Kemarin spanduknya pakai tulisan “Student association for the study of international affairs” kayanya nama inggris mulai harus disosialisasikan deh.
ngomong2 apa ga bisa diganti lagi ya namanya? Kok rasanya agak aneh yah kalau diterjemahin bulet2.
[...] Bulan April-Mei, Bulan Sibuk di Unpar Calvin Michel Sidjaja on April 29th, 2008 Bulan April dan Mei adalah salah satu bulan terpadat di Unpar, kenapa? Bulan april di Unpar adalah bulan yang identik dengan festival dan kegiatan. Jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpar setidaknya sudah mengadakan dua kegiatan dalam skala nasional, yakni Parahyangan Model of United Nations 2008 dan Seminar Internasional 2008. [...]