Kronopolis
~Tempus neminem manet~
Kota ini gelap.
Setiap hari adalah malam. Malam yang tanpa bulan.
Aku menengadah ke atas langit. Tempat apakah ini?
Langit gelap. Tanpa bintang. Langit adalah tirai hitam. Tirai hitam yang segelap kota ini. Hanya lampu-lampu gedung yang menghiasi cahaya kota. Kota yang tak memiliki matahari. Kota yang begitu sepi.
Untukku. Untuk waktu yang kutunggu.
Aku berdiri di trotoar. Sudah berapa lama aku disini, aku tak bisa mengingatnya. Segala hal terjadi dari awal tempatku berdiri.
Lalu aku berjalan di trotoar itu, melewati lampu jalan. Lampu yang selalu menyala. Menemani gelap jalan.
Aku berjalan menuju taman kota. Taman ini gelap. Dihiasi dua buah ayunan untuk tempat bermain anak-anak dan lima buah kursi untuk mereka yang ingin melepas lelah. Aku memandang ke salah satu kursi disana.
Dua sosok sedang duduk dan bercakap-cakap di kursi itu.
Mereka lagi.
Pria yang duduk di kursi itu sudah dua tahun berbicara hal yang sama. Dia terus menerus mengatakan pada kekasihnya yang duduk disebelahnya, bahwa dia mencintainya.
Aku cinta padamu aku cinta padamu aku cinta padamu. Itulah kata yang selalu muncul dari bibir si pria itu. Dan si wanita hanya mengangguk-angguk saja. Aku menyapa mereka berdua.
Selamat malam. Kataku pada mereka berdua.
Pria itu tak mengalihkan perhatiannya dari si wanita.
Selamat malam. Sapaku lagi.
Pria itu hanya berkomat-kamit, mengatakan aku cinta padamu aku cinta padamu aku cinta padamu. Dan si wanita hanya terus menerus mengangguk, tanpa henti.
Aku meninggalkan mereka berdua.
Mereka tak punya waktu untukku. Mereka sibuk menghabiskan waktu yang mereka miliki bersama. Aku melirik jam tanganku.
00:00
Masih jam 00:00, pikirku. Waktu belum berjalan.
Aku ingin mencari orang lain sebelum aku tidur. Aku ingin berbicara. Aku ingin membagi waktuku.
Aku berjalan di sepanjang trotoar. Kakiku berhenti melangkah di sebuah rumah kecil. Aku melihat seorang nenek yang duduk di kursi roda. Kulit keriputnya masih menyisakan bekas bahwa dulunya dia memiliki paras yang cantik. Aku lalu menghampiri nenek itu.
Nenek, maukah kau berbicara denganku?
Nenek itu terdiam sesaat.
Lalu bibirnya mulai berbicara tanpa henti. Dia mengatakan padaku bahwa dia menunggu suaminya yang terjun ke medan perang. Sudah bertahun-tahun dia menunggunya pulang. Dia mengatakan bahwa dia akan setia menunggunya di kursi roda itu.
Cerita yang menarik sekali, nenek. Kataku kepadanya.
Sekarang, maukah kau mendengarkan ceritaku?
Nenek itu terdiam sesaat.
Lalu bibirnya kembali berbicara tanpa henti. Dia kembali mengatakan padaku bahwa dia menunggu suaminya yang terjun ke medan perang.
Aku dengan sabar menunggu dia selesai bercerita hal yang sama.
Lalu saat nenek itu menyelesaikan ceritanya, aku kembali bertanya.
Nenek, maukah kau mendengarku bercerita?
Nenek itu terdiam lagi.
Lalu bibirnya kemblai berbicara. Mengenai dirinya yang menunggu suaminya yang terjun ke medan perang.
Aku lalu meninggalkan nenek itu.
Dia tak mau mendengarkan aku. Dia tak punya waktu untukku. Waktunya hanya untuk menunggu.
Aku kembali berjalan menyusuri kota ini. Gelap.
Tak adakah seorangpun dibalik gedung-gedung pencakar langit itu?
Lalu bayangan ayah muncul dibenakku.
Ayah masih berada di kantornya.
Aku ingin bertemu ayah, pikirku. Ayah pasti punya waktu untukku.
Lalu dengan penuh harapan, aku pergi menyebrang jalan yang dilalui mobil-mobil tanpa henti. Para mobil berlalu lalang di jalan raya. Tanpa henti. Setiap hari.
Kapankah mereka beristirahat? Pikirku melihat ombak lalu lintas di jalan raya.
Aku menaiki jembatan penyebrangan. Kulangkahkan kakiku dengan hati-hati. Begitu banyak pengemis duduk di sepanjang jembatan itu. Mereka semua menggendong anak masing-masing. Menaruh sebuah topi lusuh dengan harapan orang-orang tak tergerak hatinya untuk memberikan sedekah.
Aku melewati mereka begitu saja.
Aku tak punya waktu untuk itu.
Aku ingin bertemu ayah. Mungkin dia ada waktu untukku.
Aku memasuki kantor ayah. Sebuah gedung pencakar langit yang menerangi malam dengan lampu-lampu yang menyilaukan mata. Ayah masih bekerja, bekerja, dan bekerja.
Ayah belum pulang.
Aku selalu menunggu ayah untuk pulang.
Tapi ayah tak pernah pulang. Ayah punya kesibukan lain. Ayah harus bekerja.
Resepsionis sedang sibuk melayani orang-orang yang masuk di kantor itu tanpa henti. Aku melewati meja yang dipenuhi lautan manusia yang mengantri dan bergegas menaiki lift, dan menekan tombol untuk menuju lantai empat.
Ruang kerja yang penuh kesibukan. Cahaya lampu masih terang walau di luar adalah malam. Seluruh pekerja belum pulang. Mereka masih menyelesaikan pekerjaan mereka.
Dimanakah ayah? Aku bertanya pada seorang wanita yang mengetik di ruang itu. Apakah anda melihat ayah saya?
Wanita itu tidak memperdulikanku.
Dia tak punya waktu untuk mengurus pertanyaanku.
Aku lalu menjauh darinya, mencari ruang kerja ayah.
Tok tok.
Aku mengetuk pintu ruang kerja Ayah.
“Ayah.” Kataku kepada sosok berdasi yang sedang merokok sambil memeriksa dokumen-dokumen di meja.
Aku berjalan mendekati ayah.
Ayah-ayah, maukah kau pulang bersamaku?Ayah menggeleng. Ayah belum bisa pulang. Ayah sibuk, kata ayah tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.
Kenapa ayah? Ayah belum bisa pulang. Ayah Sibuk, jawab Ayah, mengatakan hal yang serupa sekali lagi.
Ayah tak mau pulang bersamaku?Ayah belum bisa pulang. Ayah sibuk.
Aku termenung mendengarnya.
Ayah tak bisa pulang. Ayah sibuk.
Ayah tak punya waktu untukku.
Aku berjalan keluar dari kantor ayah. Menyusuri kota ini sekali lagi. Gelap. Dan selalu gelap. Tak ada bintang dan tak akan ada bulan. Terlebih lagi, takkan datang matahari. Hanya ada lampu-lampu jalan untuk menerangi kota.
Beberapa tempat makan masih melanjutkan bisnisnya seperti biasa. Orang-orang yang memiliki uang berlebih berbagi kesenangan, minuman sambil bermabuk-mabukkan.
HAHAHAHA. Terdengar suara ketawa di balik jendela berteralis ditepi jalan.
HAHAHAHA. Terdengar lagi suara tawa.
HAHAHAHA. Tak berhenti.
Lagi lagi dan lagi. Itu adalah tawa.
Orang-orang itu tertawa tanpa henti. Apakah yang mereka tertawakan sehingga mereka tak mau menghentikannya?
Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Mereka terus saja tertawa, tanpa memperdulikan orang-orang miskin yang sedari tadi duduk dibawah jendela, meminta-minta, mengharapkan cepek dari dompet mereka.
Tentu, aku berpikir. Mereka tak punya waktu untuk itu.
Kemanakah orang di kota ini?
Kenapakah tak ada yang memiliki waktu untukku? Apakah tak ada yang ingin berbicara denganku?
Aku melirik jam tanganku.
00:00
Waktu belum berjalan. Aku masih punya banyak waktu.
Tapi tak ada orang yang mau bicara denganku.
Lalu akupun pulang ke rumah.
Rumahku terlihat gelap. Tak jauh berbeda dengan rumah lainnya yang diterangi oleh lampu jalan.
Aku membuka pintu dan melepas sandalku.
Tercium bau masakan didapur.
Ibuku sudah pulang. Ibu sedang memasak?
“Ibu, ibu sedang memasak?” tanyaku pada ibu yang sedang mengaduk sup di panci.
“Ibu sedang memasak untuk makan malam kau dan ayahmu.” Jawab ibu.
“Ibu memasak apa?” tanyaku.
“Ibu sedang memasak untuk makan malam kau dan ayahmu.” Jawab ibu sekali lagi.
Hidangannya apa bu? Aku bertanya sekali lagi.
Ibu sedang memasak, untuk aku dan ayah, jawab ibu.
Aku menjauh dari dapur itu. Ibu tak ada waktu untukku. Ibu sedang memasak.
Aku membaringkan diriku di tempat tidur. Lalu kulirik jam di kamarku.
00:00
Waktu belum berjalan.
Aku pun tertidur.
*
Aku membuka mataku.
Sudahkah kulewati waktu ketika tertidur?
Jam 00:00
Atau lebih tepatnya lagi, jam ∞
Waktu tak berjalan.
Orang-orang takkan punya waktu untukku. Tak ada yang mau menyia-nyiakan waktu. Aku memeriksa mejaku, dan aku menahan napas saat melihat sebuah surat tertuju padaku.
Surat pertama yang kudapatkan semenjak semua orang di kota menghabiskan waktu sendiri. Baru kali ini ada yang mengirimku surat.
Kepada kamu yang membaca surat ini.
Kuberitahu padamu.
Waktu ingin berjalan.
Akan kubuat orang-orang menghargai waktu.
Karena waktu mereka terbatas.
Aku segera berlari ke luar rumah. Hari masih gelap. Langit tak berbintang.
Aku pergi menuju kota. Ke arah taman.
Dan kulihat dua pasangan itu masih duduk disana. Si pria tak henti-hentinya mengatakan dia mencintai wanita itu. Aku cinta padamu Aku cinta padamu Aku cinta padamu, tak ada yang lain.
Aku menyapa kedua orang itu sekali lagi.
Maukah anda mendengarkanku berbicara?
Tak ada jawaban.
Apakah kamu kehabisan waktu untukku? Tanyaku sekali lagi.
Pria itu tak membalasku.
Waktumu dan waktuku terbatas. Berikanlah sedikit waktu untuk berbicara denganku! Kataku kepada pria asing itu.
Dia tak peduli.
Tahukah kamu, bahwa waktumu habis?
Terdengar suara di bawah lampu jalan. Seorang yang menyerupai diriku, memegang benda, yang akan menghabisi waktu seseorang.
Dia berjalan mendekati pasangan yang tampak mulai resah itu.
Namun pria itu tak mengganti kata-katanya, sebaliknya, dia berbicara makin cepat, dengan muka yang memperlihatkan ketakutan yang amat sangat. Si wanita, juga mengangguk makin cepat. Wajahnya tampak khawatir. Raut mereka bukanlah wajah yang orang yang sedang jatuh cinta.
Waktu kalian sudah habis. Kata orang itu.
Dengan sekali ayun. Kepala pria itu putus dari lehernya.
Darah segar membasahi kemeja yang dipakai. Tubuh itu masih duduk di kursi.
Kepala itu terjatuh disebelah kakiku. Mulut itu masih berkomat-kamit mengatakan aku cinta padamu aku cinta padamu aku cinta padamu, dengan raut muka ketakutan. Wanita itu masih mengangguk-angguk dengan muka yang basah oleh air mata. Kekasihnya sudah tak ada waktu untuknya. Menangiskah dia karena itu.
Lalu kepala itu pun berhenti bergerak. Kehabisan kata-kata juga akhirnya pria itu, pikirku.
Apa waktu wanita ini juga habis? Tanyaku pada orang itu.
Dia menggeleng. Dia masih ingin menghabiskan waktu yang ia miliki seperti itu. Dia tak bisa menghargai waktu. Dia tak mau menghargai waktumu.
Lalu aku berjalan ke arah nenek yang duduk di kursi roda.
Waktu penantian sudah habis. Kata suara itu.
Lalu nenek itu mengalirkan air matanya dengan deras. Aku bisa melihat mukanya berubah ketakutan. Tatapan kesakitan. Waktumu habis nenek, pikirku. Nenek itu menggenggam dadanya dengan tatapan yang penuh derita.
Dia tak punya waktu untukmu karena kehabisan waktu.
Lalu nenek itu berteriak.
Dan ia terkulai lemas.
HAHAHAHA. Kudengar tawa yang penuh kebahagiaan palsu dari balik jendela teralis di pinggir jalan.
Mereka kehabisan waktu? Tanyaku pada orang itu.
Dia menggeleng. Waktu mereka masih banyak. Mereka menikmati waktu, tapi tidak menghabiskannya.
Tapi mereka tak punya waktu untukku.
Waktu mereka bukan untukkmu. Dia menjawab.
Aku ingin ayah punya waktu untukku. Aku mengatakan pada dia.
Dimanakah ayahmu?
Disana. Aku menunjuk kantor ayah yang berada di seberang jalan.
Waktu ayahmu juga sudah habis.
Sungguhkah? Pikirku sedih.
Pantaslah ayah tak mau pulang.
Begitu juga ibumu. Tambahnya.
Semua orang tak punya waktu untukmu.
Aku memasuki ruang kerja ayah, mencoba membujuk ayah untuk pulang.
Ayah-ayah pulanglah, sisakan sedikit waktu untukku.
Ayah menggeleng.
Ayah harus bekerja jawabnya.
Aku ingin menangis mendengar kata-kata ayah.
Waktu ayahmu habis dia berkata. Lalu dia memotong kepala ayahku.
Aku hanya bisa menatap kepala ayah yang ekspresinya tak berubah itu di sebelah kakiku. Aku akan rindu ayah. Aku lalu memungut kepala ayah dan memandang matanya yang beku dalam kehampaan.
Ayah masih tetap tak ingin punya waktu untukku, bahkan di pada saat ia sudah kehabisan waktu.
Waktumu masih banyak, kata si pemotong kepala. Lihatlah jam tanganmu.
Jam 00:00
Waktumu masih sangat banyak, kau bisa gunakan untuk segala hal yang ingin kau lakukan, dia menambahkan.
Aku menggeleng. Aku tidak butuh waktu jika orang lain tak butuh aku.
Habiskanlah waktuku.
Lalu dia membawaku ke atap gedung itu. Berdirilah di sana. Kata orang itu kepadaku. Disini? Aku bertanya. Aku berdiri di atas pagar.
Ya. Jatuhkanlah dirimu. Dan akan habislah waktumu.
Sungguhkah? Aku tersenyum.
Aku ingin waktuku habis. Orang-orang tak punya waktu untukku.
Lalu aku pun menjatuhkan diriku ke jalan.
Tinggi. Tinggi. Gedung yang tinggi. Pikirku sambil merasakan tubuhku jatuh ditarik bumi. Lama sekali aku jatuh. Aku bisa merasakan detik-detik berusaha bergerak, berusaha menghabiskan waktuku.
Lalu jatuhlah aku ke jalan raya. Dilalui mobil berlalu-lalang.
…
…
Waktuku tidak habis.
Tubuhku tertidur di jalan. Aku memandangi jam tanganku.
00:00
Waktu masih belum bergerak.
Kenapakah waktu belum melangkah?
Dan badanku menghantam jalan raya.
Aku menutup mata. Akankah waktu berjalan saat kubuka mata?
Berjalanlah, tak usah kau tunggu aku. Habiskanlah waktuku.
00:01
Satu detik akhirnya berlalu. Waktuku habis sudah.
Orang itu berjalan ke arahku. Dia lalu berdiri memandangi diriku dengan senyuman. Akhirnya kamu menghabiskan waktumu.
Aku tersenyum. Akhirnya waktu berjalan.
Aku menunggu kau kehabisan waktu, katanya.
Aku menutup mata. Inilah rasa waktu mati.
Akhirnya aku berakhir tanpa membagi waktu.
Satu detik saja. Andai itu takkan berlalu.
Bodohnya.
…Waktu tak menunggu siapa-siapa.
Lalu diapun mati.
*
Malam yang gelap.
Di sudut kota ada anak mati.
Mati yang tak berarti.
Mati yang tak diketahui.
Lalu di pintu masuk kota itu, tertampang tulisan besar. Tulisan yang tak ia ingat. Tulisan yang terlupakan oleh orang-orang bodoh yang datang dan hidup dikota itu.
Selamat datang di Kronopolis.
Tidak usah kau tunggu waktu, karena waktu takkan menunggumu.
Bandung, 22 Oktober 2005
Popularity: 5% [?]
Tags: Cerpen







Leave a Reply