Kerangka Alternatif Untuk ASEAN?

By Calvin Michel Sidjaja | Dec 5, 2007
   Show Original   

Pada pertemuan di Bali kemarin, ASEAN akhirnya menandatangani piagam ASEAN yang diharapkan bisa menjadi landasan hukum untuk ASEAN dan bisa mempercepat integrasi wilayah Asia Tenggara.

Tapi kritik pedas tetap menghujani ASEAN. Pada piagam ini, Non-interference tetap menjadi landasan hubungan antara negara ASEAN. Saya sendiri pesimis apakah ASEAN nantinya bisa menjadi sebuah badan supranasional atau intergovernmental.

Namun satu hal yang saya cermati, tampaknya agak susah jika kita memaksakan kerangka berpikir Uni Eropa yang memaksa ASEAN menghukum Myanmar. Apakah pada dasarnya Uni Eropa merupakan contoh mutlak yang harus kita ikuti dalam perkembangan regionalisme dunia?

Kita bisa terkagum-kagum dengan integrasi Uni Eropa dan kesuksesan Euro menjadi mata uang tunggal, tapi masalahnya, ASEAN adalah ASEAN, dan UE adalah UE. Saya merasa ada sesuatu yang salah jika ASEAN dipaksakan harus mengikuti format UE. Apakah tidak ada kerangka alternatif untuk regionalisme ASEAN selain mengarah ke arah supranasional seperti UE?

ASEAN dan UE memiliki sejarah yang berbeda. Berbeda dengan Eropa, negara-negara di ASEAN terlebih dahulu dikolonialisasi oleh pendatang sebelum mereka mengadakan kontak lebih lanjut dengan wilayah di sekitar mereka. Sejarah Eropa adalah rentetan perang tanpa henti, tapi justru perang itulah yang akhirnya membuat Eropa memiliki identitas regional.

ASEAN belum memiliki identitas regional, masih jauh dari harapan. Negara-negara di asia tenggara telalu heterogen sehingga harapan membuat identitas regional akan sangat sulit.

Bagi pemerhati perkembangan ASEAN, satu-satunya yang bisa kita lakukan mungkin adalah dengan meningkatkan kerjasama kultural, dalam hal ini, ASEAN harus memiliki program untuk pertukaran budaya antar negara agar penduduknya tahu apa isi ASEAN.

Saya sendiri sebenarnya sangat tertarik pada studi Asia tenggara, tapi apa daya, karena sejauh ini, ASEAN belum terlalu penting untuk dipelajari. Integrasinya lambat, dan terkesan elitis. ASEAN sendiri belum berpikir untuk menciptakan sebuah ASEAN Culture Studies di negara-negara anggotanya.

Banyak orang Indonesia menjadi xenophilic karena banyaknya pusat studi kebudayaan seperti Goethe Institut (Jerman), CCF (Perancis), Japan’s Foundation (Jepang), etc bertebaran di Indonesia. Tapi ASEAN? Tampaknya akan masih lama sampai kita menemukan pusat studi Asia tenggara di dunia ini.

Tapi mari kita optimis dan mengapresiasi apa yang telah dicapai satu-satunya institusi regional kita. Perkembangan terakhir setidaknya membuat landasan hukum untuk ASEAN. Mari kita melihat ke arah mana ASEAN menuju.

Popularity: 13% [?]

Tags: , ,

Related posts

10 Comments so far
  1. Ade December 6, 2007 2:33 pm

    kalau EU sudah ada value yang disahihkan menjadi nilai bersama yaitu demokrasi dan penghargaan HAM
    kalau ASEAN apa ya? pakai demokrasi agak kagok juga karena kita bisa mentok di Singapura..atau Myanmar
    Jadi? mengangkat kenyataan sama-sama makan nasi mungkin?

  2. Calvin Michel Sidjaja December 6, 2007 4:38 pm

    @ade
    hmm, faktanya adalah, kita semua “kurang demokratis”, pemerintahannya kebanyakan didominasi oleh militer (Thailand, Indonesia, Myanmar, Filipina, etc)

    Paling banter sih soal integrasi ekonomi, tapi masalah klasiknya sama sih: komoditi asean terlalu persis, sehingga yang ada mereka malah berkompetisi.

    Sebenarnya pernah ada kajian mengenai pembuatan mata uang bersama, sayang masih dalam kasus experimental economy karena negara2 ASEAN terlalu jomplang dan ga ada kurs yang terlalu kuat (dulu euro bisa terwujud karena DM-nya jerman kuat)

    Gw sih berharap integrasi ekonomi bisa terjadi, jadi siapa tahu kita bisa dapat satu paspor, paspor ASEAN gitu, jadi kalau ke negara-negara ASEAN ga perlu visa lagi, lumayan kan (atau ini udah ada? ada yang bisa konfirmasi? maklum, blom pernah ke luar negeri)

    Tapi lebih mending ASEAN deh daripada Liga arab atau afrika yang perkembangannya jauh lebih lambat daripada ASEAN.

  3. rbbagindo December 12, 2007 6:33 pm

    g cukup setuju dengan pendapat bahwa kita (ASEAN) memang memilki kultur yg cukup heterogen jd agak susah untuk disatuin. Tp jgn lupa kalau sebenarnya kita semua bersaudara secara ras alias banyak mongoloid-nya dan bener kita sama2 makan nasi heheh.. Permasalahan ASEAN sebenarnya terletak pada penggerak utama ASEAN itu sendiri yaitu kelompok elit. seharusnya ASEAN lebih harus digerakkan oleh kita2 yg dibawah ini..(masyarakat). Selain itu jga ada sech masalah kita, kurang sering perang waktu jaman dulu karena dah keburu dijajah dan dikotak2in sama orang Eropa. tp masa’ kita harus perang dulu 300 tahun kaya Eropa…? (kayanya seh males juga perang sama sodara sendiri)

    G lebih setuju klo ASEAN bisa dibangun dari bawah(masyarakat) klo kita satu sama lain dah saling kenal dan dan punya hubungan erat maka percepatan integrasi ASEAN pun bakal terjadi bukan hanya secara simbolis. ngomonk2 soal EU, salah satu faktor pendukung integrasi EU juga dipercepat oleh tingkat hubungan surat-menyurat (ituloh sahabat pena waktu blom ada internet, itu cara chating yg tenar jaman dulu) antar negara EU pada tahun 60-70an. oh ya sebelum lupa ASEAN itu punya pilar kelima yaitu civil society. nah sebenernya disitu kita bisa ikutan buat nyatuin ASEAN.

    Soal freedom of movement.. heheh soal yang ini sebenernya kta dah duluan punya dari pada Eropa.. Kita kan bisa visit negara2 ASEAN gratis tanpa visa walaupun cuman untuk beberapa hari. Sebenernya klo mau diikutin cara EU yg bagus itu adalah cara kerjasama mereka menyeluruh dari bawah sampai Level elite. cth: partai buruh seluruh negara eropa punya hubungan erat satu sama lain. pekerja sektor A di satu negara punya hubungan erat dengan pekerja Sektor A juga dinegara lain. kaya gitu2 jd lama2 naik pelan2 ke pemerintahannya.. dari segala sektor. akhirnya bisa berintegrasi.
    Nah dari pada kita cape mikirin gimana cara nich ASEAN bisa nyatu dengan cantiknya,, … mendingan kita aja satu2 mulai buka hubungan dengan sadara-saudara kita di negri tetangge!! mayan integrasi kecil2an. kaya kata orang dulu “sedikit demi sedikit lama-lama jd bukit!!”

  4. rbbagindo December 12, 2007 9:43 pm

    oh ya ngomonk2 g dah ngasih comment panjang lebar blom kenalan. sorry vin. nama g Roby dr jkt.. salam kenal boss!!

  5. Calvin Michel Sidjaja December 13, 2007 1:13 am

    @robi
    hahaha, gw ampe kaget ada 7 comment gitu yang isinya berbobot banget. anak hi juga? salam kenal!

  6. rbbagindo December 13, 2007 6:32 pm

    heheh ketauan yaks anak HI juga… ia nich g murid-nya mas bonggas juga tapi di Jkt…seneng banget g akhirnya bisa nemu blog indo yg ngomongin soal masalah HI……pokoke God Bless you dah vin…!

  7. rbbagindo December 13, 2007 6:34 pm

    kan bosen juga vin ke http://www.irtheory.com mulu hahaahh mending ke http://www.republikbabi.com tenang aja g promosiin di jakarta pokoknya….

  8. Calvin Michel Sidjaja December 14, 2007 1:30 am

    @roby
    wah kenal mas bonggas juga? gw yakin ini anak unpar. hahaha. jangan-jangan gw malah udah kenal? irtheory.com bagus kok, gw kadang2 mengunjungi saat ingin tahu teori2 HI kalau lagi malas baca buku.

  9. rbbagindo December 14, 2007 8:03 pm

    heheheh sembarangan g bukan anak unpar yee…eh tp nama kampus g bisa disingkat jd unpar juga sech ahhahah…=P

  10. Calvin Michel Sidjaja December 14, 2007 9:56 pm

    @roby
    hngg, bukan anak unpar? jangan2 universitas PAdjajaRan nih? :D

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes