Google
 

Kenangan di Atas Awan

Calvin Michel Sidjaja on February 9th, 2008

Kenangan Di Atas Awan

 

Aku sering berpikir saat melihat awan di langit. Mereka ada semenjak dunia terbentuk. Pagi, siang, malam, mengawasi perjalanan bumi dan penduduknya membuat dan menghancurkan sejarah. Dunia bisa berakhir, tapi awan dan langit akan tetap ada. Bukankah begitu?

Aku ingin menjadi awan. Itu doa yang kusisipkan tiap malam pada tuhan, andai ia ada. Tidak, bukannya andai ia ada, keragu-raguan disebabkan karena aku belum pernah mengalami mukjizat dalam hidupku. Sisi filsufku mengatakan bahwa tuhan itu lebih baik diragukan karena aku belum pernah mendapat tanda-tanda dari surga. Tapi sisi manusiaku mengatakan bahwa aku sendiri ada, adalah sebuah mukjizat.

Ah membingungkan sekali dunia! Andaikan aku bisa menjadi awan.

*

Akhir-akhir ini cuaca selalu hujan, baik pagi, siang, dan malam. Apakah ini tanda bahwa dunia mungkin berakhir? Aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri, dan tentu saja, pada tuhan.

Tapi tidak ada jawaban dalam doa maupun hujan yang terus menerus mengguyur dunia.

Awan… awan… aku ingin menjadi awan, tapi bukan awan hujan. Aku ingin tahu apakah diatas sana, apakah ada hal kasat mata yang tidak bisa dilihat mata manusia selain debu, angin, dan udara?

*

Malam hari. Aku sedang duduk-duduk santai dengan imajinasiku. Aku membiarkan diriku termakan fantasiku semenjak anak-anak. Kamu tentunya pernah mendengar dongeng tentang Jack dan pohon kacang.

Terkadang aku berpikir, darimana pembuat cerita itu mendapat inspirasi cerita tentang kastil diatas awan? Tentunya aku bukan orang pertama di dunia ini yang membayangkan ada sesuatu diatas sana. Leluhurku, leluhurmu. Orang-orang yang hidup jauh lebih lama dari kamu dan aku dulu, telah mendahului kita semua.

Mereka membuat cerita dan epos tentang kehidupan para dewa, para deitas yang memiliki tingkatan intelegensia dan eksitensi yang luar biasa dibandingkan kita, manusia biasa. Sungguh lucu rasanya, di hadapan yang namanya ilmu, tampaknya semua cerita dan kebajikan yang diturunkan secara turun temurun rasanya jadi bohong belaka. Kita merasa sebagai generasi paling pintar yang pernah ada di dunia ini, hanya karena leluhur kita belum mengenal fisika.

Bintang-bintang terlihat jelas malam ini, walau ada sebagian yang tertutup awan.

Aku rasa aku mulai mengantuk. Aku melihat sesuatu diatas sana. Kumpulan benda padat. Apa mungkin imajinasiku mulai termaterialisasi?

Betapa menyenangkannya jika demikian. Andaikan ada kekuatan di dunia ini yang mengabulkan doa-doa kita, dan membuat pikiran kita jadi kenyataan. Mungkin kekuatan itu adalah tuhan yang sesungguhnya. Masalahnya, jawaban doa dari tuhan terkadang terlalu lama. Terlalu sama sampai kita meragukannya.

Apakah doa kami sampai pada tuhan?

*

Malam hari lagi. Hari lain. Hari biasa untukmu, tapi tidak biasa untukku. Benda-benda padat itu tampaknya semakin banyak. Tapi tampaknya transparan. Heran, kenapa tidak ada orang yang menyadari keberadaan mereka? Apa manusia modern terlalu sibuk untuk melihat langit sedetik saja?

Aku mengambil teleskop bintangku dan mulai mengeker fokus agar bisa mencapai awan.

Ah. Luar biasa.

Katakan ini pekerjaan malaikat atau keisengan alien, tapi benda-benda padat yang kulihat tadi tampak seperti materi. Aku tidak bisa menjabarkannya dengan jelas karena bentuknya agak terlalu abstrak. Tapi setidaknya aku tahu, imajinasiku jadi kenyataan.

Sudah mulai tengah malam. Aku mengantuk. Aku menguap.

Seperti biasa, sebelum tidur, aku berdoa, berdoa kepada siapapun yang mendengar doaku. Fisikawan mengatakan bahwa doa merupakan gelombang biomagnetik alami, itu sebabnya susunan air berubah menjadi heksagonal saat kita mendoakan mereka sebelum diminum. Tapi pastor berkata lain, doa adalah komunikasi dengan Tuhan.

Tapi apakah tuhan mengerti bahasaku? Bukankah tuhan yang direferensikan oleh pastor berbicara menggunakan bahasa yahudi? Atau mungkin tuhan itu adalah deitas yang omniglot? Moga-moga demikian, kalau tidak, sia-sia saja aku berdoa kalau dia tidak mengerti bahasa yang kuucapkan dalam doa.

Aku membuat tanda salib.

Atas nama bapa.

Dan putra.

Dan roh kudus.

 

Saat aku menyelesaikan tanda salib. Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Aku merasa tubuhku tanpa bobot. Lalu aku mulai mendengar suara dalam kepalaku.

 

Manusha, Nihil. Ad-díánshä shëú veshäashä adlloi[1].

Naiklah ke atas awan. Pergilah ke endapan ingatan Bintang, Bulan dan Matahari.

Dan kaupun akan mengerti, bahwa kau sama dengan segala hal di alam semesta.

Dan kaupun akan tahu, Manusha lahir dari Nihil dan berpulang ke Nihil

 

Aku mendengarkan suara dalam bahasa yang tak pernah kudengar sepanjang hidupku. Suara itu mengatakan agar aku naik ke atas awan.

Apakah ini mimpi? Pasti ini mimpi. Tubuhku berada dalam keadaan menentang gravitasi. Aku bisa merasakan sensasi seperti menyelam. Tapi bedanya, kau bisa bergerak dengan bebas ke arah mana saja tanpa takut kehabisan napas.

Aku mengayunkan kakiku, pergi ke arah jendela, merasakan sepoian angin malam mengelus dan menyibakkan rambutku. Anehnya, angin tidak terasa dingin. Aku merasa akulah angin itu.

Aku melayang, melayang, melayang, dan melayang.

Sampai akhirnya aku ada di sebuah titik yang tadi kulihat melalui teleskop. Kumpulan benda-benda padat itu! Mereka tampak seperti kabut berwarna putih yang berisi sesuatu. Dengan perasaan penasaran, aku menyentuh kabut itu.

Betapa kagetnya aku, saat aku mendekati mereka. Terdengar rentetan kokofoni yang membabi buta masuk ke dalam telingaku. Teriakan-teriakan, musik, kebencian, cinta, rasa takut, jutaan… tidak, milyaran emosi bercampur baur mau menghantam otak kecil ini.

Dengan perasaan ngeri aku menjauhi kabut itu, dan tidak menyentuh hal lain lagi.

Sekarang aku berjalan di atas awan. Ini pasti mimpi! Awan hanyalah uap air, tidak bisa dijadikan pijakan. Jika ada pesawat terbang menembus awan ini, aku pasti dilaporkan sebagai alien! Pikirku, komikal.

Saat ini memang malam hari, tapi segala sesuatu menjadi terang dibawah kerlap kerlip bulan dan bintang. Sekarang aku terbalak. Di awan itu, terlihat reruntuhan bangunan. Segala macam bangunan, mulai dari piramid, polis, patung Colossus, taman gantung babilonia, bahkan… candi Borobodur.

Aku melompat dan mendekati salah satu bangunan terdekatku. Sebuah piramid raksasa. Reruntuhan bangunan itu hanya segelintir reruntuhan yang terhampar tanpa batas di awan itu. Tempat itu mirip seperti kuburan, tapi mayatnya adalah bangunan, bukan hanya bangunan kuno, bangunan modern, gedung-gedung pencakar langit juga ada.

Tempat yang ganjil. Aku menjadi seram.

Ada sebuah sosok mendekatiku dari jauh. Sosok itu tampak seperti manusia.

Tidak, orang itu tidak mungkin manusia. Dia memiliki rambut panjang, sayap tipis, dan mata indah berwarna biru, dia tampak seperti sosok samudra yang segala keindahannya dipahat menjadi sosok sebuah manusia.

 

Manusha, apakah kamu sudah melihat endapan ingatan ini?

 

Endapan ingatan? Tempat apakah ini?

 

Apa kau pernah berpikir kemana ingatan dan memorimu lenyap dari otakmu? Mereka sebetulnya tidak hilang, tapi tersembunyi di sudut kepalamu. Dan tempat ini terisi dengan ingatan bumi dan manusia yang tertinggal. Jumlah mereka begitu banyaknya sampai akhirnya mereka bermanifestasi dan memiliki wujud fisik.

 

Tempat yang menakjubkan. Apakah ini tempat buatan tuhan?

 

Tuhan? Aku tak mengenal tuhan. Jika kau bertanya apakah ada pencipta alam semesta, bersiaplah untuk kecewa, karena pencipta alam semesta adalah alam semesta itu sendiri.

                                                        

Pencipta alam semesta adalah alam semesta itu sendiri? Pikirku tidak percaya.

 

Ya, pada awal mulanya, dunia ada dan tiada. Kedua kondisi itu bermanifestasi setelah waktu yang luar biasa lama. Waktu yang lebih lama daripada abadi.

Lahirlah Nihil, sebuah samudra ketidaksadaran. Disanalah Bumi dan Waktu pertama kali tercipta, dan akhirnya melahirkan segala makhluk dan imajinasi di dunia.

 

Apakah Nihil adalah tuhan?

 

Nihil adalah kumpulan kemungkinan dan ketidakmungkinan. Kumpulan ketidaksadaran kolektif manusia. Kaupun adalah bagian dari Nihil. Kaupun bagian dari zat yang menyusun alam semesta.

 

Apakah ini nihil? Tanyaku.

Ini bukan Nihil, seperti kataku tadi. Nihil ada jauh didalam pusat Bumi. Tidak bisa dicapai oleh mereka yang tidak berdoa ingin menemuinya. Tapi kamu, doamu sampai kepada Nihil. Itu sebabnya kamu bisa mencapai tempat ini tempat dimana ingatan bumi ini tersimpan. Disinilah kamu bisa menemukan reruntuhan ingatan alam semesta.

 

Tempat yang begitu menakjubkan, pikirku, ketakutan.

Apakah ingatanku juga ada di tempat ini? Tanyaku lagi.

 

Tentu saja, yang kamu perlukan adalah mengingat kembali sepotong ingatan itu. Tempat ini akan mencarinya untukmu.

Ingatalah selalu, selama bumi masih ada. Selama manusia masih bisa mengingat, awan akan selalu ada. Karena harus ada yang menyimpan ingatan alam semesta.

Aku mulai mengantuk.

Aku ingin tidur sejenak. Apakah aman jika aku tertidur di awan ini?

Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin kita tidak akan bertemu lagi.

 

Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa berpikir bahwa ini adalah mimpi.

Aku memejamkan mataku dan mulai membuat tanda salib lagi.

 

Dalam nama bapa.

Dan putra.

Dan roh kudus.

Amin.

*

Aku membuka mataku. Aku berada di tempat tidurku. Jam dinding menunjukkan bahwa hari sudah pagi. Aku harus memulai rutinitasku sebentar lagi.

Apakah pengalaman semalam hanyalah mimpi?

Aku melihat kumpulan awan, menggantung di langit, menunggu dipanjat olehku. Tapi tubuhku lengket ke tanah oleh gravitasi.

Tidak apa-apa.

Tidak apa-apa, pikirku.

Aku menghirup napas dalam-dalam, merasakan angin segar yang masuk dan mengisi paru-paruku. Mengunjungi reruntuhan ingatan alam semesta, itu adalah ingatan yang tak akan kulupakan sepanjang hidupku.

Tapi aku mulai melihat dunia ini dengan sudut berbeda.

Aku mengingat lagi hal yang dilupakan semua manusia.

Anehnya jika manusia saling berperang dan memakan satu sama lain.

 

Jangan pernah lupa.

 

Bukankah aku, kamu, hutan, tanah, burung di udara juga satu hal yang sama?

Kita semua adalah yang menyusun warna warni alam semesta…

 

Tangerang, Sabtu, 9 Februari 2008




[1] Manusia, Nihil mendengarkan doamu

Popularity: 5% [?]

Tags:

Related posts

One Response to “Kenangan di Atas Awan”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Simbol-Simbol Dalam Jukstaposisi | RepublikBabi

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>