Islam Radikal dan Citra Indonesia di Luar Negeri

By Calvin Michel Sidjaja | Apr 17, 2007
   Show Original   

Pagi hari ini, saya membaca mengenai berita di International Herald Tribune akan perkembangan muslim radikal Indonesia. Indonesia telah dikenal sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dan menjadi contoh bagaimana islam dan demokrasi bisa saling koeksis.

Namun semenjak demokrasi, kita melihat peningkatan gerakan-gerakan Islam radikal yang memiliki dua dampak:
1. Mereka mendemonisasi Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan
2. Mereka mencoreng citra Indonesia sebagai negara teroris

Islam Radikal harus secara serius dianggap sebagai ancaman kemanan nasional, kenapa? Belajar dari sejarah Iran, negara yang demokratis ini menjadi negara teokratis semenjak revolusi Iran 1979. Iran menjadi negara yang berdasarkan hukum islam dan membuat negara tersebut menjadi kian tidak demokratis. Supreme Leader memiliki kontrol penuh atas militer dan dapat menumpas oposisi kapan saja.

Akan menjadi mimpi buruk bagi semua orang jika skenario tersebut terjadi di Indonesia. Saya rasa penindasan atas (kepentingan) agama harus dimusnahkan sekecil-kecilnya.

Apa kita masih harus menunggu agar kelompok islam radikal yang meresahkan itu mengebom dua atau tiga tempat supaya dianggap sebagai teroris dan ancaman pada keamanan nasional?

Ya, bagi pihak Islam pada umumnya, saya yakin mereka merupakan ancaman pada persepsi Islam di mata dunia. Jangan biarkan segelintir orang menghancurkan ajaran Islam.

Popularity: 11% [?]

Tags: ,

Related posts

16 Comments so far
  1. rizal June 22, 2007 8:27 am

    sebagai muslim saya sama sekali tidak setuju dengan komentar saudara, jika melihat tulisan anda tersebut, saya dapat melihat batapa dangkalnya pengetahuan saudara tentang islam dan hukum2nya? jika saudara paham tentang hukum islam yang mengajarkan tentang rahmatan lilalamin, maka saudara akan tahu betapa mulianya agama ini. terlepas dari subyektifitas pandangan saudara, saya juga kurang sependapat dengan saudara yang membandingkan indonesia dengan iran, karena betapa jauh berbedanya muslim indonesia dengan muslim di iran, begitu juga kultur dan segala macam aspek yang mendasari tindak dan perilaku manusia indonesia. saya fikir sebagai sama-sama penstudi hi, hendaknya kita sama2 belajar mencari solusi tentang keadilan yang sebenarnya terlepas dari kepentingan politik negara2 besar sepeerti AS, yang mungkin anda banggakan!! apakah demokrasi ala AS yang menurut anda baik??? dimana dia memaksakan kepentingannya pada negara2 kecil seperti indonesia? sebagai orang yang belajar Hi, apakah saudara setuju dengan dominasi negara hegemon seperti AS?????

  2. Calvin Michel Sidjaja June 22, 2007 10:00 am

    pada dasarnya, saat saya membuat tulisan ini, saya berpandangan bahwa islam radikal menghancurkan citra dan ajaran islam. Saya bukan muslim, tapi saya tahu pasti bahwa ajaran islam tidak mengajarkan kekerasan. Saya memiliki banyak teman muslim dan saya menghargai perbedaan tersebut. Tapi satu2nya yang sama adalah: kami semua benci islam radikal.

    Saya kurang mengerti ketidaksetujuan anda pada tulisan ini, koreksi jika saya salah, anda mempersepsikan bahwa tulisan ini menghina islam? coba anda baca baik2. Poin saya adalah, islam sebagai agama yang agung, dicoreng dan didemonisasi oleh segelintir orang seperti Abu Dujana yang mengatakan “bom bunuh diri adalah salah satu cara ber-Jihad, dan itu pantas untuk ditujukan bagi negara yang tidak menerapkan negara syariah islam seperti indonesia”

    Mengenai perbandingan indonesia dengan Iran, saya sengaja pakai karena pada dasarnya sama, ada sekelompok islam fundamentalis yang menginginkan Indonesia menjadi negara islam, tidak melihat kalau di negara ini ada ratusan juta penduduk yang sekuler atau beragama lain. Saya tidak rela kebebasan yang sudah ada selama ini hilang hanya karena segelintir orang memaksakan prinsip mereka.

    hegemoni AS? apakah saya setuju? Itu jawabannya tidak bisa hitam putih. Selalu abu2. Dalam pandangan saya, AS diperlukan, tapi tidak semata2 menjadi hegemoni, karena di asia pasifik, AS dibutuhkan untuk menyeimbangkan China yang semakin kuat tiap harinya.

    Jika ada orang2 ekstrim yang membenci AS, membenci hegemoni AS, lebih baik mereka berhenti menggunakan internet (produk dari departmen pertahanan AS), Windows (produk software Microsoft), jeans (simbol AS), nonton MTV, Hollywood, dan lain2nya.

    Poin saya adalah, kita boleh benci AS, kita boleh benci hegemoninya. Tapi akuilah, kita terpaksa membutuhkannya karena mereka memang superior!

  3. rizal June 24, 2007 6:35 pm

    ok, kalo dengan jawaban saudara yang satu ini mungkin saya agak bisa mengerti. tapi poin yang saudara maksud tentang islam radikal adalah hanya berdasarkan asumsi sebagian orang.. saya fikir sebagai penganut agama yang benar kta harus bersifat radikal. mengenai maksud segelintir kelompok fundamentalis?? tapi pada prinsipnya mereka sama seperti kita, mereka meyakini apa yang mereka anggap benar….
    ok…

  4. Calvin Michel Sidjaja June 24, 2007 6:42 pm

    Saya sebetulnya baru saja mempelajari perpolitikan islam dan timur tengah, jadi mohon maaf jika pengetahuan saya terlihat masih dangkal, bagaimanapun juga, ini topik yang cukup baru bagi saya.

  5. Andi Setiawan July 7, 2007 7:20 pm

    NKRI adalah negara dengan beraneka ragam budaya, etnis, agama dan lain-lain. Untuk mengakomodasi hal ini, pemimpin kita sejak awal telah memilih jalan TERBAIK yaitu sistem demokrasi. Pada prakteknya pemerintah tidak memberikan pelayanan yang memuaskan rakyat. Ini bukan karena sistem demokrasi yang salah. Melainkan karena pemerintahan yang korup akibat segelintir manusia yang serakah.

    Menerapkan syariat islam di indonesia hanya akan memecah belah NKRI. Yakinkah pulau dewata akan tetap bersatu dengan NKRI nanti? Negara demokratis tidak merugikan pihak manapun.

    Peran AS sangat penting untuk keamanan dunia. Gerakan-gerakan radikal harus dilumpuhkan. Pengalaman di Perang Dunia II telah membuat AS sangat waspada dengan keberadaan tokoh-tokoh radikal. Apalagi setelah peristiwa 11 September. Jangan sampai tokoh sejenis HITLER muncul lagi.

    Mengapa AS “tidak terlalu khawatir” akan keberadaan nuklir-nuklir CHINA ketimbang nuklir-nuklir IRAN?
    Silahkan pikirkan sendiri….

    I love mathematics, physics, and computer programming…

  6. Anonim July 13, 2007 11:24 am

    “Iran menjadi negara yang berdasarkan hukum islam dan membuat negara tersebut menjadi kian tidak demokratis. Supreme Leader memiliki kontrol penuh atas militer dan dapat menumpas oposisi kapan saja.”

    Dari kalimat diatas anda berusaha menyimpulkan bahwa hukum islam menyebabkan sebuah negara menjadi tidak demokratis. Tetapi kenapa anda tidak juga membandingkan pula dengan Vatican dimana control leader dipegang oleh seorang Paus, apakah ada demokrasi di sana..?

    Lalu apa yang anda maksud dengan istilah islam radikal? saya melihat istilah ini lebih banyak merupakan kampanye dari dunia barat yang dimotori AS untuk mempertahankan kepentingan mereka setelah perang dingin usai. Kepentingan untuk melanjutkan investasi mereka dalam militer, ekonomi maupun dukungan internasional setelah AS tidak memiliki lawan yang seimbang usai runtuhnya Komunisme. AS berusaha mencari musuh baru, dan yang dituju adalah Islam. Kenapa bukan China ? Karena China belum terlalu kuat sekarang. China will be the next target after Islam.

    Amerika sudah sangat lihai dalam melakukan propaganda,memutarbalikkan fakta, memainkan logika, serta mencari simpati. Waktu kecil ketika melihat film Rambo, saya sangat kagum dengan tokoh itu dan memandang Rambo sebagai pahlawan, sedangkan Vietnam adalah negara yang jahat dan harus di tumpas habis. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Sepertinya permainan logika ini kembali di ulang oleh barat yang di motori AS melalui tragedi WTC yang berimpak kepada tragedi kemanusiaan dengan melakukan penghancuran kepada Afghanistan, Irak, Iran (the next target?) dan mungkin Indonesia.

    Menurut saya “Islam radikal” (dalam tanda kutip, karena saya juga masih tidak mengerti dengan istilah ini) sudah muncul di Indonesia sejak perang melawan negara Imperialis dan Kapitalis seperti Belanda,Inggris dan Spanyol. Tokoh-tokoh Islam sejak masih dalam bentuk kerajaan sudah secara radikal berusaha menghalau hegemoni barat yang bukan hanya ingin menguras kekayaan Indonesia juga menyebarkan kristen secara radikal. Dipati Unus, Imam Bonjol, Diponegoro, Sudirman, Bung Tomo, Sisingamangaraja (he is a moslem !) juga di sebut sebagai ektrimis saat itu.(mungkin kalau mereka berjuang saat ini, mereka juga akan di sebut teroris).

    Kenapa anda juga tidak juga berkomentar mengenai Hindu Radikal di India serta korelasi demokrasi di sana. Karena Hindu bukanlah ancaman serius bagi hegemoni AS.

  7. Akbar August 25, 2007 5:11 am

    Buat saudara calvin, saya maklumi jika anda memberikan komentar tentang islam yang banyak disanggah oleh teman teman, karena secara ontologis anda berpikir bukan dari sudut pandang islam.. sebagai seorang muslim, saya tidak mau memperdebatkan masalah ini, tidak ada habisnya, yang ingin saya memberikan sebuah gambaran dari sudut pandang yang berbeda, mungkin anda pernah mendengar tentang konstruktivism?
    pandangan ini beranggapan bahwa segala sesuatu itu dikonstruksikan, pemikirnya ada wendt, onuf, sama kratochwill. Membaca apa yang saudara sampaikan, jelas sekali bahwa pemikiran anda adalah hasil dari konstruksi yang dibuat oleh (Biasanya negara kuat). Untuk menyadarkan anda, sejak kapan terorisme menjadi sesuatu yang ditakuti? sejak kapan terorisme itu cenderung dilakukan oleh orang muslim? Jujur saja, sebelum WTC runtuh, apakah anda berpikir terorisme merupakan suatu tindakan seperti saat ini?
    mengapa pasca keruntuhan WTC isu terorisme mencuat? hal inilah yang dikonstruksikan oleh Amerika Serikat, sampai sampai pada pertemuan ekonomi di APEC mengatakan bahwa terorisme berbahaya, ini merupakan sekuritisasi yang dilakukan AS, agar konstruksi yang diinginkan berjalan, ya negara berkembang kayak kita ya mau aja, toh dapat dana untuk pemberantasan terorisme.
    saya juga mengakui bahwa pikiran saya juga terpengaruh oleh konstruksi untuk berpikir bahwa terorisme cenderung dilakukan oleh islam radikal. Bayangkan jika yang menabrak menara WTC adalah teroris dari negara China, konstruksi yang tercipta ya teroris itu orang China radikal mungkin, bukannya islam.

  8. cha August 28, 2007 7:55 pm

    coba deh baca bukunya Jerry D. Gray tentang WTC, nonton juga cd-nya! ok??

  9. Paimin S September 10, 2007 9:07 am

    Islam adalah diin yang moderat –wasathaan [Al Qur'an
    surat 2:143 ](saya pakai istilah diin di sini karena lebih mewakili dari pada istilah agama).Tidak berlebihan dalam mentaati aturanNya atau terlalu longgar (permisif).Islam mengajarkan meyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin dan menghindari sedapat mungkin kekerasan yang tidak diperlukan. Pernah suatu saat seorang arab badui (dari pedalaman padang pasir) kencing di dalam masjid, orang-orang marah dan akan melakukan kekerasan kepadanya, tetapi Nabi Muhammad saw. melarang perlakuan itu, beliau hanya menyuruh menyiram bekas kencing itu dan menyuruh memberitahukan ketidak bolehan kencing di situ.

    Hubungan dengan non muslim dijalin dengan kepercayaan dan keadilan. Tidak ada permusuhan dan perseteruan yang tidak perlu. Umat Islam tentu saja berbeda prinsip dengan mereka yang di luar Islam tetapi itu bukan alasan untuk membuat permusuhan. Hanya keangkuhan dan kebencian dari pihak beberapa (jadi tidak semuanya) suku Arab dan suku yahudi yang menimbulkan ketegangan. Pertempuran-pertempuran dengan orang-orang Kristen dan Majusi lebih dikarenakan langkah pertahanan. Imperium-imperium raksasa seperti Byzantium maupun Sasanid Persia yang mulanya meremehkan bangsa arab yang dianggap primitif dan sering melakukan perang suku (seperti yang masih terjadi di Papua) bahkan untuk masalah-masalah remeh; merasa khawatir dengan kecepatan pertumbuhan kekuatan di semanjung Arabia. Suku-suku yang dianggap mustahil bersatu itu tunduk pada satu komando (Nabi Muhammad). Byzantium mulai melakukan agresi di perbatasan bersama-sama negara vasal-nya. Demikian pula Persia, mereka mulai mengerahkan suku-suku yang menjadi kaki tangan mereka.

    Ketika umat Islam muncul mereka disambut rakyat Byzantium dan Persia yang ditindas para penguasanya. Mereka disambut sebagai pembebas. Nabi Muhammad dan para khalifah rasyidin adalah sosok-sosok menakjubkan bagi mereka. Mereka belum pernah melihat pemimpin yang jauh lebih miskin dari rakyatnya. Mereka takjub dengan persamaan antara semua lapisan umat Islam. Islam menyebarkan revolusi besar-besaran. Mereka mengembalikan moral bangsa-bangsa kepada ajaran-ajaran yang juga telah disampaikan oleh utusan-utusan Allah yang telah datang sebelumnya kepada mereka (Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah bentuk final dari seluruh ajaran yang dibawa sejak Nabi Adam dan seluruh nabi dan rasul kepada seluruh bangsa dan ras manusia yang pernah ada). Umat Islam tidak menolak teknologi dan kemajuan bangsa Byzantium dan Persia dalam bidang administrasi. Tidak ada orang yang dipaksa masuk Islam, mereka hanya diberi penjelasan tentang Islam. Masuk Islam atau tidak menjadi keputusan masing-masing [Al Qur'an 2:256].

    Kebangkitan dunia barat mendapatkan pengaruh besar setelah kontak mereka dengan umat Islam. Kalau kita membuat perbandingan, kondisi Eropa pada abad pertengahan adalah seperti dunia ketiga pada saat ini dan dunia Islam saat itu adalah seperti negeri-negeri maju saat ini.

    Kemunduran umat Islam justru karena mereka meninggalkan apa yang seharusnya mereka pegang erat. Nabi dan kemudian para khalifah rasyidun sebelumnya telah mencontohkan kesederhanaan kehidupan para pemimpin, tetapi kemudian para pemimpin sesudahnya hidup bermegah-megahan seperti raja dan kaisar. Hedonisme membuat mereka tidak peka dan lemah. Kesenjangan sosial mulai timbul dan menimbulkan ketidakpercayaan rakyat. Sistim syuro (semacam dewan para ahli yang berdasarkan pada hukum syariat dan konstitusi) untuk mengendalikan pemerintahan mereka tinggalkan dan mengikuti cara-cara Byzantium dan Persia (monarki), sehingga negara tidak dikendalikan oleh mereka yang mempunyai kemampuan dan moralitas. Mereka mulai permisif. Minuman keras dan pergaulan bebas mulai merusak kehidupan mereka. Berbagai macam takhayul dan bid’ah menggerogoti aqidah mereka. Umat Islam yang dalam keadaan tercerai berai dalam kelemahan moral tidak menyangka diserang oleh pasukan salib yang akhirnya merebut Yerusalem.

    Sikap berlebihan juga melemahkan diri umat Islam. Golongan khawarij (bekas pendukung Ali yang berbalik memusuhinya ketika ternyata Ali bersikap mengalah dan menyerahkan ke-khalifahan kepada Muawiyah) dengan mudah menganggap orang-orang yang tidak sependapat dengannya sebagai kafir dan boleh dibunuh bahkan sampai pada wanita dan anak-anak boleh dibunuh.

    Umat Islam mengikuti secara membabi-buta pendapat-pendapat para ulama. Para ulama itu mempunyai mutu yang memadai untuk memberi pendapat mereka, dan mereka tidak bersikap memusuhi pendapat ulama yang lainnya. Tetapi kemudian para pengikutnya mengikuti hanya karena sikap kekelompokan bukan karena pengetahuan mereka. Hanya pendapat ulama yang diikuti kelompok itu yang dianggap benar. Kemudian timbul anggapan bahwa pintu ijtihad (pengambilan keputusan terhadap sesuatu permasalahan yang baru dengan menggunakan batas-batas teks-teks valid Islam) telah tertutup membuat umat Islam tidak bisa menghadapi tantangan jaman.

    Setiap muslim dituntut untuk memasuki Islam secara integral (kaafah) [Al Qur'an 2:208]. Apabila tidak maka segala macam kepincangan akan terjadi. Ekstrimisme dan permisifme merebak. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berhenti.

    Kalau mau menyalahkan umat Islam, salahkan mereka karena ketidak konsistenan mereka, salahkan mereka karena melepaskan diri dari diin mereka.

    Referensi:
    Al Qur’an.
    Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam jilid 1 (Pustaka Al Husna Baru, Jakarta,2003).
    Dr. Jerald F. Dirks, Abrahamic Faiths:Titik Temu dan Seteru antara Islam, Kristen dan Yahudi (Serambi, Jakarta, 2006).
    Sayyid Sabiq, Fikih Sunnnah Jilid 1 (Penerbit PT Al Ma’arif, Bandung,1990).
    Dr. Yusuf Qardhawi, Islam “Ekstrem”: Analisis dan Pemecahannya (Penerbit Mizan, Bandung,1991).
    Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Daulah dalam Perspektif Al Qur’am dan Sunnah (Pustaka Al Kautsar,Jakarta, 1997)

  10. oddy September 10, 2007 11:08 am

    Rekan-rekan saya jadi tertarik akan diskusi masalah politik walaupun saya bukan dari jurusan politik maupun HI. Menurut saya baiknya kita samakan persepsi tentang “radikal”. Yang saya tahu radikal itu berasal dari kata radik yang berarti “akar” sehingga secara etimologi radikal adalah hal yang mendasar dan mengakar , Islam sendiri adalah keyakinan monotheisme yang terwujud dalam kehidupan seorang muslim dan yang dimaksudkan islam radikal dalam hal ini seharusnya adalah aqidah (sesuatu keyakinan yang harus mengakar/mendasar dalam kehidupannya).

    Dalam konteksi tersebut seorang muslim harus radikal seperti itu, karena dengan keradikalan yang dimaksud diatas menjadi sebuah tuntutan sebagai jati diri seorang muslim.

    Bagaimana seorang bisa disebut muslim kalau tidak menjadikan ajarannya sebagai sebuah pegangan yang dijadikan pedoman dalam hidupnya.

    Namun, pengertian “islam radikal” tersebut sudah menjadi istilah yang identik dengan teroris, kekerasan, kejahatan, dll.

    Saya sendiri secara pribadi tidak setuju dengan bentuk teroris, kekerasan dan kejahatan yang mungkin pelakunya dari internal islam maupun non islam. Karena saya yakin dalam mengaplikasikan nilai-nilai islam ada aturan yang mengikat.

  11. budi September 12, 2007 4:41 pm

    bagaimanapun, sebagai penstudi, alangkah jauh lebih baik bagi kita untuk mendapatkan pemahaman terlebih dahulu tentang apa yang akan kita diskusikan. Dalam hal ini, maka kita semua perlu tahu, baik yang Muslim maupun non-Muslim, tentang apa itu Islam? Apa itu syariat Islam? Apa itu radikal? dan beberapa konsep lain yang digunakan. Jika kita belajar hanya dengan berharap untuk kebenaran, itu saja, maka insya Allah kita bisa meraihnya.

  12. zzzz October 17, 2007 5:00 am

    wkwkwkwkw dimarin orang islam sekampung. makanya pikiran masih dangkal aja jangan ngeluarin opini yg sensitif. belajar lg lah

  13. sXe4life November 15, 2007 9:41 am

    sebaiknya kita harus melihat dari sudut pandang irannya juga

  14. rbbagindo December 12, 2007 9:51 pm

    heheheh asek nech….=P

  15. semar bloon January 29, 2008 12:23 am

    WEEES,ngodroo wae,tuh jangan ngurusin yg gede-gede,cerita,teori,pandangan,yg muluk-muluk.
    Tuh ada masalah didepan hidung dekat aja,ttg TKW yg notabane hanya nyarik duit ke-timteng,untuk beli susu anaknya,nambah duit tuk nyekolahkan anaknya,nambah modal beli sawah bagi seluruh keluarga didesa,apa sih yg terjadi achir pada umumnya?di negoro sono,sampai di air port negoro dewe?
    Belum lagi kalau dari sono perut dibuncitin oleh para juragannya!setelah melahirkanpun pada achirnya bapak eyang kakung & putri harus nambah energi bin semangat bekerja nyangkul lebih rajin,untuk membiayai sang “cucuk”seumur hidupnya,piye hayo?belum lagi peristiwa yg terjadi di Bogor pada umumnya saat ini,ttg kawin konterk dgn “poro sederek” yg dari sono,wees wes dimana akan kita menaruh pamor bangsa ini,semurah itukah “harga”calon ibu-ibu negaraku NUSANTARA!NGomongo.

  16. fuyuki March 6, 2008 9:39 am

    wow, diskusi yang panas, saya suka sama diskusi yang kayak begini. Kita jadi bisa lihat berbagai sudut pandang orang2 ttg ‘apa sich islam radikal itu’?
    Ditinjau dari segi bahasa, radikal->radik->akar. Berarti islam radikal itu adalah islam yang mangakar, yang sesuai dgn akar dan asal-usulnya, yaitu islam yang murni dan masih sesuai dengan konteks al-quran dan al-hadits, yang belum tercemar olah budaya dan bid’ah apapun. Dimana islam itu cinta damai dan tidak memaksakan kehendak beragama islam kepada semua orang. “Yang penting kita udah berusaha berdakwah, terima atau tidak terima ya itu terserah mereka.” Begitulah mereka pada zaman dahulu. Menyebar kebenaran dengan bukti-bukti kuat yang shahih, tetapi tidak memaksa. Yah semacam takdir muallak lah, takdir yang masih bisa diubah, dulu sangatlah tentram. Banyak para musuh2 islam yang akhirnya simpatik dengan islam dan akhirnya masuk islam. Itu dulu, sewaktu islam masih ‘bener’, saat masih dipimpin oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan para khulafaurrasyidinnya.
    Tapi sekarang, islam sudah semakin terpecah-belah dan mereka bangga dengan alirannya dan pemimpinnya sendiri. Sehingga muncullah salah satu golongan islam yang maniak perang dan mengatasnamakan jihad. Mereka berbuat kehancuran demi memaksa orang lain untuk ikut dalam agama mereka (islam). Dan kelompok inilah yang paling sering muncul ke permukaan. Sehingga orang2 barat terlebih lagi AS menganggap ‘inilah islam’, inilah islam yang sesungguhnya. Inilah islam yang mengakar, inilah islam radikal…
    Begitu menurut saya, terima kasih.
    Add me on friendster: aditya_010790@yahoo.com

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes