IPDN dan Kultur Kekerasan

By Calvin Michel Sidjaja | Apr 12, 2007
   Show Original   

Kasus tewasnya Cliff Muntu, seorang Siswa Praja IPDN sedang menjadi topik hangat di surat kabar beberapa minggu ini. Mungkin kasus Cliff Muntu hanyalah gunung es dari kultur kekerasan yang ada di Indonesia. Walau IPDN akhirnbya menunda penerimaan praja baru, namun tindakan ini bukan penyelesaian masalah, tapi penundaan masalah. Empat praja yang dikeluarkan (M Amrulloh, Jaka Anugrah, A Bustanil, dan Fendi) hanya merupakan salah satu akibat dari lingkaran setan bernama kultur kekerasan.

Dalam studi Kajian Strategis, ada yang dikenal sebagai istilah strategic culture, dimana kultur menjadi bagian dari aspek-aspek yang mempengaruhi dimensi keamanan Nasional suatu negara. Secara singkat, mempelajari kultur suatu negara dibutuhkan agar dapat melihat kelemahan dan kelebihan suatu negara. Pada kasus meninggalnya Cliff Muntu, kita menemukan adanya Kultur Kekerasan.

Kultur kekerasan adalah sebuah rahasia umum di Indonesia. Sebuah penyakit yang diketahui ada, namun semua orang takut mengubahnya, hampir sama akutnya dengan reformasi sektor pertahanan Indonesia.

Hal ini terlihat dari adanya istilah “Perploncoan” atau “Masa Orientasi Siswa” yang ditujukan “memperkenalkan calon mahasiswa pada kehidupan kampus”.

Saya sendiri sudah mengalami MOS yang (agak) keras, karena adanya Tatib yang memasang muka-muka galak dan membentak-bentak mahasiswa baru dengan kata-kata pedas seperti “cupu”, “cengeng” dan lain-lainnya, walau seorang dosen saya mengatakan bahwa Kultur MOS kami masih tergolong “wajar” dan “lunak”, tetap saja masih ada kultur kekerasan walau kadarnya tidak parah.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, pendapat dosen tersebut seolah mengatakan tidak masalah jika ada kultur kekerasan di kampus, karena kadarnya sedikit. Dosen tersebut mungkin merupakan produk dari kultur tersebut. Karena nilai kultur itu sudah diterima sebagai� kebenaran umum oleh lingkungan kampus, maka sangat sulit mengubahnya.

Mau jadi apa bangsa ini kalau kultur kekerasan tidak diputus? Itu adalah pertanyaan bagi orang-orang yang skeptis. Lebih spesifik lagi, maukah melepaskan lingkaran setan kultur kekerasan? Apakah orang Indonesia (umumnya) cukup dewasa untuk mengubah kultur yang sudah mapan ini? Rasanya sulit. Suatu perubahan, apapun bentuknya, akan dianggap sebagai pengkhianat.

Saya yakin tidak sedikit kalangan mahasiswa ingin menghilangkan sistem perpoloncoan, namun apa daya jika mereka ditekan senior yang merupakan produk dari kultur perploncoan itu? Mereka yang menetang mayoritas umumnya akan dianggap sebagai pembangkang. Ada suatu pepatah yang mengatakan Tidak ada gunanya memberikan mutiara pada babi. Jika masyarakat memang tidak mau berubah, jangan harap mereka berubah. Diri sendirilah yang harus berubah.

Kultur kekerasan memang menyedihkan, tapi itu tidak bisa disangkal, sudah menjadi bagian kultur beberapa kelompok. Mereka kemungkinan besar tidak mau berubah. Untuk apa mengubah suatu kultur yang mapan dan menguntungkan mereka?

Pilihan ada di tangan tiap orang, apakah ingin menjadi bagian atau keluar dari lingkaran ini. Tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk. Pilihlah yang paling berguna.

Popularity: 6% [?]

Tags: , ,

Related posts

1 Comment so far
  1. cile July 26, 2007 2:11 am

    Menurut hemat saya, pengenalan berbau akademik untuk mahasiswa baru diperlukan, tapi jika hal tersebut sudah mengarah pada tindak kekerasan, baik secara fisik maupun psikologis(seperti dibentak2, dipelontotin, dll), maka sebaiknya para senior dilaporkan saja ke pihak yang berwenang.. karena melakukan perbuatan tdk menyenangkan.
    berbicara mengenai kultur kekerasan yg sudah “mendarah daging” dalam sistem orientasi, saya jadi teringat seorang senior di kampus yg pernah berkata seperti ini ketika diminta tandatangan: “kamu sama panitia2 itu ga ada bedanya ko, wong sama2 bayar kan? ngapain takut.. mereka tuh bukan orang2 hebat ko, cuma mereka lebih tua aja dari kamu..”

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

Name (required)

Email (required)

Website

Comments



© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes