
Kakak saya memberikan saya kado kelulusan, dan saya memilih untuk dibelikan buku Injill Yudas. Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi mereka yang berpikiran terbuka dan sudah muak dengan pandangan dogmatis Vatican.
Bagi yang malas beli bukunya karena terlalu mahal atau malas membaca walau sudah punya mungkin mau membaca review ini.
Kenapa Injil Yudas ini menimbulkan kontroversi? Cukup simpel, Yudas Iskariot yang selama ini kita kenal sebagai sosok “murid terjahat” dari murid Yesus ternyata digambarkan sebagai murid yang paling mengerti ajaran Yesus sendiri.
Hal ini juga menjungkirbalikkan makna dibalik kematian Yesus. Selama ini Kristen dan Katolik mengatakan bahwa:
1. Yesus adalah anak Tuhan (huruf T besar, pencipta dunia ini, digambarkan sebagai Bapa yang baik dan berbelas kasih)
2. Yesus mati untuk menanggung dosa manusia karena Tuhan sudah murka dengan dosa-dosa manusia.
Nah, dua premis tadi sebetulnya memiliki keanehan yang luar biasa. Sebagai orang yang 15 tahun hidup di katolik dan 3 tahun hidup di kristen, saya mempertanyakan mengenai premis tersebut semenjak dulu. Mungkin beberapa dari anda juga. Misalnya, doktrin trinitas yang mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa dan juga Roh Kudus, tapi dia merupakan orang yang berbeda. Hal ini sampai sekarang tidak bisa saya mengerti. Tapi intinya ada konsep “membunuh diri sendiri” (anak - Yesus) agar “bisa dimaafkan diri sendiri” (Bapa).
Dan yang kedua. Pertanyaan yang selalu membuat orang Kristen menjadi atheis: “Kalau Tuhan maha pengasih, kenapa di dunia ini ada kesedihan? Ada ketidakadilan?”. Biasanya hal ini bisa ditangkis dengan mudah bahwa “Tuhan selain berbelas kasih, juga adil.”
Tapi semua itu terjungkirbalik jika anda membaca injil Yudas. Dalam injil Yudas, Yesus secara eksplisit mengatakan bahwa Bapa-Nya bukan pencipta dunia ini. Tuhan pencipta dunia ini adalah produk gagal, dan dia juga jahat, itu sebabnya di dunia ini banyak kesedihan dan malapetaka. Yesus sendiri adalah wujud manusia dari Kristus, dan merupakan makhluk yang lebih tinggi dari pencipta dunia ini
Menarik bukan? Disini ada pesan kuat bahwa Pencipta dunia kita bukan “Tuhan” yang maha ini itu, apalagi berbelas kasih, tapi malah… produk gagal. Tuhan pencipta dunia ini memiliki sifat ambivalen. Dia digambarkan bukan sebagai 100% baik, tapi mungkin 100% jahat.
Apa makna kematian Yesus di kayu salib? Yesus mengatakan bahwa kematiannya bukan untuk menebus dosa manusia, tapi untuk memberitahukan kebenaran pada manusia, bahwa pada saat mati, kita akan kembali ke tempat asal dunia ini tercipta, bukan “surga” yang diciptakan oleh sang pencipta dunia ini. Yesus mengatakan bahwa pada tiap manusia memiliki kesebelumpengetahuanan (foreknowledge) akan hal ini, bahwa tiap manusia juga bisa kembali ke tempat-Nya setelah mengetahui kebenaran tersebut. Tapi kebenaran ini dibuat tumpul oleh sang pencipta dunia ini.
Nah ini juga satu hal yang menarik untuk digarisbawahi. Mari kita kembali ke beberapa dekade, dan kembali ke kejatuhan manusia di taman eden. Selama ini kita hanya tahu satu interpretasi, bahwa kita manusia, tadinya adalah sesuci “Tuhan” dan “diusir” dari taman Eden karena melanggar perintahnya, karena nenek moyang kita, Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan terlarang.
Sekarang mari kita kaji ulang cerita ini, ada poin-poin yang selama ini luput dari pemikiran kita: “Kenapa ‘Tuhan’ tidak mau manusia membedakan yang baik dan yang benar?”.
Kata “kepolosan”, “murni”, sangat tipis bedanya dengan “dungu”, atau “tidak bisa berpikir”.
Sekarang jika kita mengambil sudut pandang ini, ular yang jahat itu malah menjadi pembela kebenaran. Dia justru memberikan pengetahuan pada Adam dan Hawa yang bodoh agar tidak dibodohi “Tuhan”. Kalau selama ini anda berpikir bahwa sang ular adalah Lucifer atau iblis lainnya, pikir ulang. Bagaimana kalau ular itu adalah Kristus?
Jika kita mau berpikir objektif, semua agama pada dasarnya adalah mitologi. Tapi karena sejarahlah mereka jadi agama dan dipercaya sebagai satu kebenaran absolut. Orang Yahudi mengatakan bahwa “Tuhan” yang benar di dunia ini cuma satu, yakni “Tuhan” mereka, sang YHVH. Tapi hal ini menjadi kontradiksi pada saat agama mereka belum jadi mainstream, di berbagai belahan dunia lain juga ada tuhan-tuhan yang disembah bangsa lain.
Jika kita berpikir tuhan pun berpolitik, maka kita bisa melihat keadaan ini lebih menarik: manusia tidak tahu seluruh kebenaran, mari kita hapus kebenaran lain, dan kita ganti dengan satu kebenaran absolut. Andaikan Kekaisaran Romawi tidak menaklukan Eropa, tapi justru kekaisaran China atau Hindu yang menjadi agama mainstream, sejarah agama dunia ini, persepsi pada sang kebenaran absolut mungkin berubah.
Ini adalah salah satu kebenaran relatif yang selama ini luput dari perhatian kita. Ada banyak sekali lapisan kebenaran yang tertutup, tapi saya akan berhenti disini agar otak anda terganggu dan menjadi penasaran untuk membaca buku ini (atau mengdownload PDF-nya). :)
Referensi
Situs Resmi National Geographic (bisa download PDF-nya gratis)
Gospel of Judas (PDF)
Popularity: 15% [?]
Tags: Book, OpinionIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
dilihat dari paradigma HI, mungkin Tuhan di masa Adam-Eve adalah sang Idealist, dan ular adalah sang Realist.
agama menjadikan kitab suci Alkitab yang selama ini kita kenal menjadi instrumen nya untuk mengontrol umat manusia. lalu, manusia pun terseret ke dalam sistem yg dikenal sbg AGAMA. kemudian agama dan instrument2 nya dianggap sebagai satu2nya sumber yang benar.
injil Yudas adalah paradigma lain yg memperkaya sejarah umat manusia dan tuhan nya. tidak ada pandangan yang salah. karena hanya TUHAN yang tahu. hanya TUHAN, bukan AGAMA…
manusia cukup percaya sama apa yg ia yakini.
saya cukup percaya sama apa apa yg saya yakini, TUHAN. bukan KRISTEN.
daripada idealist, gw malah menganggap alkitab dan agama adalah hegemoni intelektual
bisa. bisa jadi sebuah hegemoni, baik secara intelektual religiunitas maupun intelektual historik kebudayaan dunia.
Ehm Vin,
berhubung gw lagi baca The Audacity of Hope nya Obama (lumayan buat ngisi waktu saat ngantri PANJANG KAYAK LONTONG PEMECAH REKOR MURI di Harmoni), I like to share this little quote:
“… it was because these newfound understanding–that religious commitment did not require me to suspend critical thinking, disengage from the battle of economic and social justice, or otherwise retreat from the world I knew and loved–that I was finally able to walk down the aisle of the Trinity Church and be baptized.”
Sayangnya, belasan tahun gw jadi Katolik, I haven’t found the sparing partner from the “righteous” side who can truly respond to my critical questions; without being scolded and being considered an “evil she-spawn” anyway.
The problem with Catholic church to me is that they are too one-sided. How many times do you want to raise your hand during homily to debate what the pastor’s got to say because it’s so damn laughable and shallow? God knows I did.
Anyway, what Obama had to say was… acceptable. We cannot have all the answers we want, but it doesn’t mean that we should stop asking it. Why one cannot be religious and intellect at the same time?
Kalo gw? Gw sih males ke gereja. Bukan karena gw gak sayang Tuhan atau apa, but I still cannot shrug the feeling that it is more sinful for me to go to church because I expect something from God; to be guarded, to be blessed, to be loved. Gw masih belum bisa menghilangkan rasa kalo gw ke gereja cuma karena ada maunya, and I believe God despises that. I believe that faith and the willingness to do good every time possible is enough.
Plus, gw males. dan gampang ngantuk. dan gampang marah-marah saat homili pasturnya bikin emosi karena bodo banget dan gak bisa dipertanyakan.
Ih, aku kebanyakan ngemeng deh jadinyaaaaa…
@tephy
gw mengalami hal yang sama dengan loe kok teph, itu sebabnya gw jadi agnostik. gw masih berpegang prinsip bahwa tuhan tuh keberadaannya tidak bisa diverifikasi atau difalsifikasi, dengan demikian gw jadi bisa cukup open minded untuk membaca hal-hal yang disensor gereja katolik roma, dan percaya atau tidak, gw merasa sebagai orang yang terbebas dari “penyesatan” mereka.
Yah kita sebagai orang yang besar di katolik lebih beruntung karena kulturnya lebih demokratis, tapi ga tahu deh buat agama semitik lain, mungkin mereka akan mengalami alienasi sosial kalau seandainya mempertanyakan hakikat spiritual agama mereka.
tapi agama = hegemoni intelektual. kalau gw jadi penguasa dan gw butuh power, ini pasti gw lakukan. siapa juga yang ga mau dapat power dengan dasar legitimasi (yang katanya) dari langit? udah ga bisa dikritisi, kekuasaan besar pula.
dan oh, loe masih berpikiran pencipta dunia ini baik, makanya loe kecewa ga di-blessed bla3 whatsoever itu? Pikirkan kemungkinan lain: pencipta dunia ini jahat.
Weitssss… let’s open our cynical glasses and let our eyes see things as they are.
First of all, siapa yang bilang gereja Katolik demokratis? Justru gw bilangnya gereja is the most patronizing institute there is. Now, the things they “patronize” are not all bad. I believe that virtue and kindness is right. However, I despise on how they choose to dream perpetually in the past when they are ruling against birth control and insists that women should be ousted and vilified for having abortion. (baca ya statement ini baik-baik, I am not pro-abortion, I just think that women are NOT the only ones to blame for having abortion).
Makanya sih, biar kita semua aman damai tepo seliro loh jinawi, yang gw rasa harus dihapus adalah konsep surga-neraka. Coba lu liat di setiap agama yang “menjajah” orang dan “memaksakan kehendak” or whatever, apa sih iming-imingnya? Masuk surga kan? Kalo si Budi gak ke gereja, masuk neraka. No matter si Budi anak yang rajin, suka membantu sesama, baik hati, sabar, dan tidak pernah ngejahatin orang, teteppp… karena Budi gak pernah ke gereja, Budi bakal masuk neraka.
Kalo mau ekstrim, tentunya ttg suicide bombers. A heaven full of virgins and rivers of honey and milk? Najis banget kan konsep ini? Ketara banget kan mana ajaran yang preach good things to human and the ones who exploit human’s greedy nature?
Makanyaaaa… all I am saying is, being religious is not all bad. If it makes you to be a good person with unwavering sense of MORALITY, I think everyone will be OK lah. I may hate Dhani Ahmad and his disgusting goatee, but he was right when he wrote, “bila surga dan neraka tak pernah ada, blablabla… itu lah pokoknya”
Yuk ah. Pada mampir ke blog gw ya. Klik adsense nya ya!
Hihihi
@tephy
tapi harus loe akui gereja masih lebih mending daripada agama lain yang anti kritikan dan lebih banyak radikalnya kan? cuma dikritik seiprit doank langsung yel yel dijalan tanpa tahu masalah sebenarnya apa *halah* -> ujung2nya para penganut agama ini dijelek2in oleh sekelompok orang kecil yang tidak mereperesntasikan agama itu.
tapi bandingkan dengan dan brown, setidaknya paus ga memberikan dia cap heretic seperti jaman abad pertengahan.
Err…
*Bukan bahan buat anak kecil yang sok tahu, jadi ga ikut-ikutan*
Err… Ada pesan sponsor ni? :))
ooh ngga kok, gw edit dulu ya, lupa bilang. Injil ini bisa didownload gratis di situs national geographic.
quote:
1. Yesus adalah anak Tuhan (huruf T besar, pencipta dunia ini, digambarkan sebagai Bapa yang baik dan berbelas kasih)
2. Yesus mati untuk menanggung dosa manusia karena Tuhan sudah murka dengan dosa-dosa manusia.
Nah, dua premis tadi sebetulnya memiliki keanehan yang luar biasa. Sebagai orang yang 15 tahun hidup di katolik dan 3 tahun hidup di kristen, saya mempertanyakan mengenai premis tersebut semenjak dulu. Mungkin beberapa dari anda juga. Misalnya, doktrin trinitas yang mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa dan juga Roh Kudus, tapi dia merupakan orang yang berbeda. Hal ini sampai sekarang tidak bisa saya mengerti. Tapi intinya ada konsep “membunuh diri sendiri” (anak - Yesus) agar “bisa dimaafkan diri sendiri” (Bapa).
There is no basis to my words, feel free to ignore,
Saya percaya Tuhan dalam segala keadilannya ‘harus’ menghakimi dosa” manusia. Dia memberikan Yesus sebagai ‘kurban’ untuk mengkompromisasi dari kedua ‘traits’ - adil dan berbelas-kasih.
quote:
“Kenapa ‘Tuhan’ tidak mau manusia membedakan yang baik dan yang benar?”.
Kata “kepolosan”, “murni”, sangat tipis bedanya dengan “dungu”, atau “tidak bisa berpikir”.
True. And that’s exactly the reason you can never lay judgement upon a child that sets fire on a house. Nor can you convict a psycho that has been declared mentally ill.
Sedikit refrensi dari Kara no Kyoukai,
Manusia menanggung beban dosa ’sebesar’ atau ’sejauh’ sense of sin nya mengijinkan.
On topic, seandainya manusia tetap tanpa pengetahuan akan baik dan benar, apapun yang mereka lakukan, ‘dosa’ itu sendiri tidak akan melekat pada mereka bukan?
Setelah membaca mungkin ada yang berpikir kalau saya ini orang yang imannya kuat… In fact, kelemahan saya lah yang membuat saya berpikir dan percaya seperti ini.
Bagaimana saya mampu melewati hari” saya di dunia (yang seperti dideskripsikan) penuh dengan ‘malapetaka dan kesedihan’ tanpa mempunyai suatu kepercayaan? Saya bukan pemeluk katolik, saya adalah orang yang lari kepada katolik (hanya) ketika sesuatu terjadi diluar kemampuan saya.
Ketika ‘ketidakadilan’ terjadi pada saya, bukankah manusiawi untuk merasa nyaman, dengan mengatakan pada diri sendiri, bahwa Bapa akan memberikan penghakiman? (I know it’s wrong, just can’t help it)
A message to anyone that think this world is ’sad’,'beyond help’,'unjust’, etc;
The world is not beautiful, therefore it is.
semakin anda ragu akan realita di dunia ini, anda patut berbahagia, karena tidak banyak yang mau mempertanyakan lagi arti realita yang kita alami sehari-hari.
realita itu apa sih? diri itu apa sih? dosa itu apa? apakah realita hanya sekedar impuls yang masuk ke otak? lalu kalau otak kita mati, realita lenyap? jika anda sering berpikir demikian, ini buku yang cocok untuk mengisi pikiran anda.
saya tidak mau menceritakan isi injil ini secara keseluruhan karena spoiler berat. injil yudas mengkonfirmasi keagungan Kristus.
dan percaya atau tidak percaya, selama anda berpikir terus menerus tentang konsep tuhan yang anda tahu dan konsep dosa dogmatik ala kekristenan, anda akan terikat selamanya disana.
Bagaimana melepaskan diri dari ikatan “dosa”? cobalah baca buku ini dan injil lainnya. :)
@calvin
Keraguan itu pasti muncul dalam tiap manusia yang ‘berpikir’. In my case, I even doubt if yesterday even existed at all. It is not entirely impossible that this ‘existence’ started just an hour ago. All the memories we had to that point were simply artificial. It’s possible isn’t it?
Calvin-san, convince me. [Kenapa] kita harus melepaskan diri dr ikatan dosa?
Dengan adanya ketakutan akan dosa, timbul asumsi mengenai benar dan salah. Sense of sin, guilt.
Ketika kita mempunyai dosa, kita berasumsi orang lain akan memiliki sense yang sama dengan kita. Kita merasa ‘aman’.
Sebuah analogi;
Seorang anak kecil yang tidak tahu jahatnya manusia, akan beranggapan semua manusia itu ’seperti dirinya’. Seiring pertumbuhannya, anak itu belajar mengenai apa yang ‘mampu’ dilakukan oleh manusia. Dia belajar tidak hanya dari ‘luar’ tetapi juga dari ‘dalam’ dirinya sendiri.
Ketika anda memegang pistol, anda tahu anda capable untuk membunuh seseorang. Karena itu anda takut ketika anda ditodong dengan pistol. Karena anda tahu bahwa si pemegang pistol ‘mampu’ membunuh anda.
Fungsi ‘dosa’ yang saya percayai adalah sebagai kontrol, terutama kepada diri saya sendiri, my sanity.
Jika saya percaya bahwa dosa itu tidak mengikat saya, atau tidak eksis, maka saya akan mulai berasumsi bahwa orang lain juga sama, semua orang bermaksud “jahat” kepada saya, and so on…
Please enlighten me, what is the ‘benefit’ of being unbound to ’sin’?
PS: Just to let you know, this is quite enjoyable discussion =p
Apabila anda Atheis sebaiknya anda tidak usah membicarakan Tuhan, toh anda tidak percaya Kekuatan Tuhan.
Janganlah membandingkan Injil yang satu dengan Injil yang lainya, yang anda dapatkan bukannya bimbingan malah kebimbangan.
Bila anda mencari kebenaran. Klik
http://www.adriandw.com/perbandingan.htm
Atau
http://suakahati.wordpress.com/2007/08/29/injil-atau-al-quran-sesuai-ilmu-pengetahuan/
Dan Bacalah Al Quran, semoga anda mendapat hidayahnya.
@faquyu
saya agnostik, dan lebih baik meragu daripada menerima satu kebenaran relatif menjadi kebenarna absolut. Tapi jika anda memiliki pandangan yang berbeda, itu tidak masalah, toh semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan berdasarkan apa yang mereka percayai tanpa kekritisan sama sekali~
@Calvin
Sori, gw mo minta penjelasan yg lbh sederhana ttg apa aja sih yg mjd keraguan lu & pengertian Tuhan menurut lu sosok yg spt apa?Please pake bahasa yg lbh sederhana & to the point krn gw ga ngudeng dg pembahasan lu di atas! :D
@Faquyu
Kebimbangan?? Lu kali yg PRIA BIMBANG?? Cari tante2 gih sono!hahahahaha.. :))
@catherine
ini sebetulnya mau gw bahas di postingan lainnya tentang early christian writing yang disensor ama vatican. Tapi berhubung gw malas, lain kali aja ya. Gw lagi malas nulis karena walau gw simplifikasin sedemikian hingga, orang2 tetap aja ga mudeng :))
Coba dulu laah.. Daripada gw jadi kyk arwah penasaran?? Kan GAWAT..!! :))
Tapi ngeposnya tetep jgn mengundang konfrontasi yach ko!!Soalnya pasti byk org2 aneh yg bakalan dtg komen.. ;)
Btw si Islam Defeander di mana skrg??Gmn kbrnya??Puasanya jd bolong2 ga gara2 ada retoran yg buka?? :))
umm gimana ya, apa yang gw jabarkan adalah hal yang kontraversial. Tapi lihat aja deh, gw sebetulnya lebih prefer jelasin di ym. sapa gw di ym kalau mau ;)
OK..!!Tapi minggu dpn yach..Minggu ini gw UJIAN…!!! (baru msk udah ujian??)
Drpd pikiran gw malah berputar2 di Ym.. GAWAT..!!!
(Gw kpn lulusnya klo gt?? :)) ) Bisa klo minggu dpn?? :D
Hai orang-orang yang bimbang mencari kebenaran…
Apakah anda tidak mencari kebenaran sendiri?
Apakah agama anda ikut-ikutan orang tua?
Sadarlah, bahwasanya Islam memberikan kedamaian bagi kamu.
Tanya mengenai seluk-beluk agama Islam ke teman kamu yang beragama Islam, atau datanglah ke masjid ataupun pondok terdekat.
Mumpung belum terlambat, segeralah bertobat…
Sebenarnya uskup-uskup tahu bahwasanya Islam adalah agama yang paling benar.
Berhubung terlanjur, mereka malu mengakui dan memeluk agama Islam!
Ini data yang ada hubungannya dengan dunia Islam :
Semoga anda bisa mengerti dan paham maksudnya dengan baik…
Allaahu akbar!!!
Hati saya melambung tinggi penuh dengan suka cita dan kebanggaan sebagai Muslim ketika sebuah grup nasyid melantunkan nada-nada penuh semangat pada acara Musda DPD PKS Kota Bandung yang diselenggarakan di Pusdai, Bandung, Ahad (07/05) lalu. Sebagian karena memang nasyid itu sangat menggetarkan hati, sebagian lagi karena beberapa jam sebelumnya saya baru saja dibuat terpana dengan salah satu episode talk show paling laris di dunia, yaitu The Oprah Winfrey Show.
Dalam episode yang ditayangkan siang itu, fokus pembicaraan adalah tentang diskriminasi rasialis terhadap umat Islam. Ceritanya, selama 30 hari penuh, seorang lelaki dari AS yang apriori terhadap Islam diajak tinggal bersama sebuah keluarga Muslim dan bahkan disuruh ‘menyamar’ sebagai seorang Muslim, lengkap dengan janggut dan pakaian gamis panjang seperti yang dipakai oleh orang-orang Arab. Salah satu misinya adalah mengenali kehidupan seorang Muslim yang sebenarnya dan merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim yang sering menerima diskriminasi oleh orang lain di AS.
Singkat kata, ia merasakan betul bagaimana pahitnya menjadi seorang Muslim yang dicurigai hanya lantaran janggut dan baju gamis, padahal semua tuduhan itu sama sekali tanpa bukti. Ia telah berkeliling kota dengan penampilan seperti itu, dan respon instan yang diberikan orang-orang terhadapnya sangat menyakitkan. Bahkan sebagian besar warga AS yang diajaknya bicara secara terang-terangan menolak untuk tidak mendiskriminasikan umat Islam karena mereka yakin betul bahwa semua Muslim adalah teroris.
Di sisi lain, 30 hari yang dihabiskannya bersama sebuah keluarga Muslim benar-benar menunjukkan sebaliknya. Ia merasa bahwa keluarga itu sangat harmonis, dan meskipun banyak kebiasaan yang tidak dipahaminya, namun ia mengakui bahwa banyak masalah bisa terpecahkan dengan ajaran Islam.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika lelaki itu duduk dan mengobrol bersama istri sang tuan rumah berdua di sebuah ruangan. Kemudian sang tuan rumah datang dan mengatakan bahwa dalam Islam dijelaskan bahwa ketika dua orang lawan jenis yang bukan muhrim dan bukan suami istri berada dalam satu ruangan, maka akan ada pihak ketiga bersama mereka, yaitu syetan. Hal pertama yang dipikirkan oleh sang lelaki non-Muslim tersebut adalah bahwa prinsip ini benar-benar gila. Tapi di hadapan Oprah dan semua penonton di studio saat itu, akhirnya ia mengakui bahwa prinsip hubungan antar lawan jenis dalam Islam seperti demikian itu sepertinya benar-benar bisa mengakhiri banyak masalah yang terjadi dalam pergaulan di AS yang serba bebas. Pencabulan, perzinaan, penyimpangan seksual, perselingkuhan, sampai penyebaran HIV / AIDS pun bisa dicegah dengan cara ini, lebih efektif daripada cara apa pun.
…dan saya pun terpana dengan mulut terbuka lebar mendengar pengakuannya.
Saya tidak pernah menyangka seorang non-Muslim akan dengan begitu beraninya mengakui kebenaran Islam di hadapan begitu banyak kamera televisi. Dan walaupun saya mengakui keberanian Oprah dalam mengangkat tema-tema yang kontroversial, saya tetap terpana melihat bagaimana ia berani menggiring acara talk show tersebut dengan cara yang amat objektif.
Maka sekarang jelaslah tugas kita semua. Anda bisa melihat sendiri betapa buruknya citra Islam di mata banyak orang. Oprah telah membuka jalan bagi syiar Islam, yaitu dengan membuktikan bahwa keteladanan akan menghancurkan semua asumsi yang salah. Kalau mereka tidak mau percaya pada kata-kata, maka buktikanlah dengan perbuatan! Buktikanlah bahwa umat Islam bukan teroris! Kita harus membuktikan bahwa kita adalah sebenar-benarnya umat terbaik (khairu ummah) yang mampu memberikan solusi bagi seisi bumi. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi beban.
Dan kita memang mampu memberikan solusi, asalkan kita terus berpegang pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada petunjuk yang lebih jernih daripada keduanya. Sesungguhnya kebenaran adalah kebenaran. Tidak peduli ras mana pun, bangsa apa pun, atau bagaimana pun keadaannya, kebenaran akan selalu diterima sebagai kebenaran. Kalau mereka menolak, mungkin karena mereka belum melihat buktinya.
Tugas kita sekarang adalah memberi pembuktian!
Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota komunitas para mualaf bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan, mereka berdiskusi bukan untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam akan tetapi untuk mempelajari Islam secara Kaffah
Suatu ketika, pria bule Ini ingin “bertemu’ dengan Tuhan namun gagal. Ia melanjutkan pengembaraan rohaninya mencari Tuhan antara lain lewat studi banding kitab suci agama lain. Akhirnya hanya ada satu jawaban yang dapat memuaskan hatinya : Islam.
Eugene Francis Netto - yang akrab disapa Gene (baca: Jin) - pagi menjelang Zuhur itu tampak bersemangat membina sejumlah mualaf di bilangan Kuningan, Jakarta. Tema yang dibahasnya saat itu adalah tentang bagai-mana berwudhu yang baik dan benar. Gaya mengajarnya yang komunikatif membuat dirinya disukai kaum ibu. Selain humoris, wajah Gene yang boleh dibilang cukup lumayan handsome itu, juga banyak meng-undang hadirat ngefans. Tapi pria kelahiran 28 April 1970 itu hingga kini masih betah bertahan hidup single.
Sehabis Isya, Gene berkenan menuturkan perjalanan rohaninya…
Bingung
Gene lahir di Selandia Baru (New Zealand) dan dibesarkan dalam Keluarga Katolik. Tapi orang tuanya jarang ke gereja dan tidak pernah membaca Al Kitab, bahkan kurang suka jika Gene sering-sering bertanya tentang agama. Ketika Gene tinggal dan sekolah di Australia, hampir semua temannya mengaku beragama Kristen. Ada juga yang mengaku ateis dan agnostik. Yang disebut terakhir ini tidak mau menyatakan Tuhan itu ada, atau tidak ada. Biasanya, mereka menunggu bukti tentang adanya Tuhan, baru mereka percaya. Karena sejauh ini tidak ada bukti yang memuaskan mereka, maka mereka tidak mengikuti salah satu agama tertentu.
“Saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan mengenai Tuhan. Karena memang tidak ada bukti yang memuaskan hati saya ketika itu. Tak jarang saya mempertanyakan agama saya. Akibatnya, saya malah jadi bingung,” tandas Gene.
“Saya merasa lucu ketika pendeta di gereja menyatakan dapat mengampuni dosa seseorang. Saya menganggap hal itu tidak masuk akal. Saya bertanya pada ibu saya, apakah pendeta itu berbicara benar dan berhadap-hadapan dengan Tuhan? Jawab ibu ringkas, Tidak!”
Dari kegelisahan dan kebimbangan yang bergayut dalam otaknya, Gene kemudian mencari tahu dan mencoba mempelajari agama-agama lain lewat berbagai buku. Karena masih belia, ia menemui kesulitan mencerna penjelasan dari buku-buku yang dibacanya, malah tambah bingung.
Tapi ada satu yang memancing rasa ingin tahunya ketika ia membaca tentang agama Islam. Buat apa umat Islam melakukan shalat lima kali sehari? Mengapa tidak cukup sekali saja dalam seminggu? Sayangnya, pertanyaan kritis itu, lagi-lagi tidak ia peroleh jawabannya.
“Menurut kesimpulan saya waktu itu, jika kita memeluk suatu agama maka ajaran agama itu seharusnya bisa dicerna oleh akal. Kalau memang Tuhan itu ada, tentu Tuhan tahu pikiran kita seperti apa, karena Dia yang memberikan akal pada kita. Kalau Dia memberi agama, agar kita percaya dan menerimanya, maka agama tersebut harus bisa dipikir dengan logika. Kalau hanya diterima dalam hati dan tidak masuk otak, makin lama orang pasti akan mempertanyakannya.”
Ingin Bertemu Tuhan
Suatu malam, ketika semua anggota keluarga tertidur lelap, Gene yang masih usia belasan tahun itu duduk sendiri di atas ranjang tidurnya dalam posisi bersila serta kedua tangan terlipat ke dada dan mata menatap jendela. Dalam keheningan itu, ia berdoa: “Tuhan, aku minta Engkau datang menampakkan diri ke kamarku. Aku ingin melihatMu. Kalau aku bias melihatMu, aku berjanji akan percaya padaMu.”
Setelah lama menunggu, tak satu pun tanda ia bertemu Tuhan. Malam berikutnya, ia tetap berdoa menanti hingga larut malam. Hasilnya, tetap nihil. Tuhan tak juga muncul. Akhirnya Gene menyatakan putus hubungan dengan Tuhan. “Sejak itu saya tidak mau lagi mengenai Tuhan, apalagi mengikuti kebaktian di gereja. Kendati setiap Natal saya masih ikut merayakannya, tapi jujur, hati saya kosong dan tidak ada kegembiraan sedikit pun.”
Meyakini Tuhan
Minat Gene mencari Tuhan kembali muncul saat ia studi di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Gene terkejut, ketika tahu sebagian besar teman di kampusnya itu ternyata adalah Muslim. Sejak bergaul dengan temannya yang Muslim itu, Gene terdorong untuk kembali belajar agama. Setelah lulus, ia kembali ke Australia untuk melanjutkan kuliah di sana. “Sekembali di Australia, saya bertemu dengan seorang Muslim asal Indonesia. Kawan saya itu tahu, saya sedang belajar agama Islam.”
Tanpa diduga, kawannya mengucap-kan pernyataan yang mengejutkan, “Kamu tahu nggak Gene, dalam Islam itu dosa hanya bisa diampuni oleh Allah. Dalam Islam tidak dikenal system kependetaan. Karena itu, orang Islam selalu berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara,” ujarnya.
Hanya saja, ia masih belum yakin, apakah Islam itu agama yang paling benar. Saat ia kuliah lagi di Fakultas Sastra “Universitas Indonesia selama satu tahun dan kos di rumah seorang keluarga Muslim ditambah lagi iingkungannya yang Islami, Gene makin intens mempelajari Islam.
Ia merasa tercengang setelah mem-bandingkan Al Qur’an dengan kitab suci agama lain, isi Al Qur’an tidak sedikit pun mengalami perubahan, padahal usianya telah mencapai 1.400 tahun. Sementara kitab suci agama lain sering berubah-ubah, karena bahasanya berbeda-eda. “Tapi lagi-lagi saya belum mantap, lantas membayangkan, ajaran Islam adalah agama yang berat dan banyak pantangan-nya. Bayangan saya, kalau nanti masuk Islam, apakah saya bias menjalankan ajaran Islam dengan benar, seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan haji, dan ajaran moralitas lainnya.”
Untuk memantapkan hatinya, Gene berdoa selama satu minggu dengan harapan Tuhan memberi petunjuk dan jalan yang benar. Entah bagaimana, tiba-tiba saja ia tergerak untuk mencoba shalat, meski hati kecilnya bertanya, kenapa harus shalat? Apa gunanya shalat? Namun, setelah tekun mempelajari Islam, dari hari ke hari, jiwanya terasa tenteram.
Tahun 1996, Gene resmi memeluk Islam atas kesadarannya sendiri. Setiap kali shalat, Gene merasakan betapa dekat dirinya dengan Tuhan. la seperti bicara langsung denganNya. Dalam hal memohon ampun pun, ia tak perlu perantara. Kini hatinya baru terpuaskan dengan kehadiran Islam sebagai jalan hidupnya. “Meski saya menghadap Tuhan ketika shalat, saya tidak lagi ngotot untuk melihat Allah pada saat saya masih di dunia ini. Terpenting, Allah ridho dan mengampuni seluruh dosa-dosa saya. Itu saja,” katanya.
Sikap Toleran Mama
Apa reaksi mama dan papanya di Australia ketika Gene mengabarkan tentang keislamannya, dua minggu kemudian? “Mereka kayaknya tidak terkejut. Sekalipun saya menceritakan semuanya, Mama, khususnya, sangat memahami saya. Karena beliau sudah mengira, cepat atau lambat, saya pasti akan memeluk Islam,” kenangnya.
Sebelumnya, ketika Gene hendak kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan bekerja di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris terkenal di Jakarta, ia teringat dengan pesan mamanya. “Kamu boleh ke Indonesia, asal jangan masuk Islam,” pesan mama.
Seperti asumsi kebanyakan non-Muslim lainnya, mamanya juga meng-anggap Islam itu agama kuno, ajarannya terbelakang dan tidak manusiawi, penuh intrik, teroris, serta penuh dengan hal-hal negatif lainnya. “Padahal, seperti yang saya amati dari ajaran Islam tentang shalat berjamaah, sesungguhnya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, yakni mendorong persatuan dan persaudaraan. Manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Tak peduli kaya ataupun miskin, semua sama. Siapa yang datang lebih dahulu berada di saf terdepan, tak ada yang berhak melarang. Begitu pula, saat berjamaah, seluruh makmum berada di bawah satu komando. Bahkan jika imam batal, ia bisa diganti dengan yang lain. Simple sekali Islam itu,” ungkap Gene.
“Alhamdulillah, keluarga saya cukup toleran kendatipun sesungguhnya mereka tidak suka dengan keputusan saya memilih Islam. Malah kalau saya pulang ke Australia, Mama yang selalu mengingatkan waktu shalat. Misalnya, ketika kami akan bepergian, lalu tiba saat shalat Zuhur, mama mem-beri kesempatan pada saya untuk menunaikan shalat lebih dulu.”
Yang lebih membuat Gene menaruh hormat dan haru pada,mamanya, adalah sikap dan perlakuannya pada Gene yang mualaf ini. Mamanya tahu apa yang tidak boleh ia makan dan minum sebagai seorang Muslim. Bahkan mamanya selalu memisahkan masakan buatnya. “Bila saya ada di rumah, Mama tidak pernah memasak makanan yang mengandung unsure babi. Jujur, saya bangga punya mama yang punya sikap toleran dan pengertian pada anaknya yang telah memeluk Islam.”
Agama Kasih dan Damai
Setelah memeluk Islam, Gene meng-aku jiwanya semakin tenteram, pikirannya semakin arif dan lebih menghayati Islam sebagai ajaran kasih, damai, mencintai sesama. Satu hal yang membuat Gene bersyukur adalah bahwa agama ini tidak kaku, dan memberikan ruang gerak yang longgar dalam hal kebebasan untuk menentukan sebuah pilihan.
Selama Ramadhan yang lalu, Gene selain berpuasa, memanfaatkan waktunya dengan belajar membaca Al Quran, la mengakui sempat mengalami kesulitan. Tapi karenaterus belajar, akhirnya bisa juga mengeja bacaan Al Quran.
Pada Ramadhan sebelumnya, tiap malam, saat semua anggota tempat kosnya sudah lelap tertidur, ia menonton acara Shalat Tarawih di televisi yang disiarkan langsung dari Makkah. Saat itu Gene mengaku terpesona ketika menyaksikan lebih dari satu juta orang pada saat bersamaan melakukan gerakan yang sama, shalat dan thawaf bersama.
“Di depan pesawat televisi, saya terbengong-bengong menyaksikan betapa manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Terus terang saya kagum, sehingga setiap malam saya selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan shalat Tarawih. Sebelum Muslim, saya tidak pernah menjumpai di mana pun sebuah massa besar berkumpul dalam satu bangunan melakukan gerakan yang sama, teratur, tertib, dan penuh ritmik. Sambil melihat gerakan-gerakan itu, saya mencocokkannya dengan buku panduan .shalat. Di depan telivisi, saya coba mengikuti gerakan shalat, sekaligus menghafal bacaannya yang ada dalam buku panduan shalat yang saya miliki.”
Dengan cara begitu, akhirnya, Gene sedikit demi sedikit mulai bisa mengerjakan shalat. Dalam satu minggu, ia telah hafal beberapa gerakan shalat termasuk doanya. “Surat Fatihah, saya baca ber-ulang-ulang hingga hafal. Setelah itu saya pelajari dan pahami makna surat tersebut. Dan ternyata, saya dapat merasakan, kedalaman Islam setelah menghayati indahnya gerakan shalat. Selain membuat hati menjadi tenteram, shalat juga dapat membuat jasmani menjadi sehat.”
Tidak cukup puas dengan shalat, Gene kemudian membuka tafsir Al Qur’an. la merasa takjub dengan keindahan rang-kaian firman Allah yang mirip puisi, tapi bukan puisi, juga bukan dongeng. Bagi Gene, Al Qur’an itu bisa menjadi petunjuk, bila dibaca disertai memahami maknanya. Tanpa mengerti maknanya, tidak mungkin Al Qur’an menjadi petunjuk. “Itulah sebabnya, saya begitu asyik dan larut kalau sudah mendengar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Hanya saja, tak ba-nyak umat Islam yang menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al Qur’an tersebut. Sangat disesalkan lagi, bila masih banyak umat Islam yang belum bisa mem baca Al Qur’an.”
Menururt Gene, kalau : membaca saja tidak bisa, bagaimana mungkin memahami maknanya, menghayati isinya, apalagi mengamalkannya. Ini terjadi, karena Al Qur’an hanya dijadikan pajangan di rumah. Al Qur’an belum sepenuhnya menjadi ruh di hati kaum Muslimin. Akibatnya, Islam tak lebih sekadar formalitas, status, padahal membaca Al Qur’an saja tidak bisa, shalat saja tidak.
“Tentu saya berharap pada saudara-saudara saya yang Muslim akan menjadi Muslim yang sejati, jangan jadi Muslim yang setengah hati. Saya saja yang mualaf, selalu ingin belajar, belajar dan belajar, maka sangat aneh, bila umat Islam yang sudah tujuh turunan, ogah mempelajari dan mendalami agamanya sendiri,” pesan Gene mengakhiri perbincangan sambil tersenyum lebar. (amanah online)
Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota komunitas para mualaf bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan, mereka berdiskusi bukan untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam akan tetapi untuk mempelajari Islam secara Kaffah
Allahu Akbar!!!
Asyhadualla illaha illallah wa asyhaduanna muhammadarrosulullah
1. Qur’an dengan bahasanya yang tetap sepanjang masa dan
sama dimana-mana telah sanggup menciptakan iklim keIslaman
yang merata mutlak. Ia akan dimengerti di Amerika, demikian
juga di Inggris. Bila ia dibacakan di Jepang, maka ia juga
dipahami oleh orang-orang India dan Pakistan, dan bila ia
dibaca di negeri Belanda, maka Mesir, Libya, Indonesia akan
mengerti, setidak-tidaknya mengenali bahwa itulah ayat-ayat
Al Qur’an. Qur’an tidak pernah dirubah bahasanya dan ini
saja sudah dapat dijadikan pegangan, bahwa isinya authentik
asli. Beda dengan Injil yang telah melalui sedemikian banyak
terjemahan, sehingga keaslian kata-kata mungkin telah
menyimpang dari maksud semula. Ia disalin dari bahasa Ibrani
ke bahasa Gerika, lalu ke bahasa Latin, dari Latin oleh
Marthen Luther pada tahun 1521 disalin ke bahasa Jerman.
Dari Jerman disalin pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda,
Indonesia, Jawa, Minang, Timor dst. Sambil menyalin, maka
atas pertimbangan politik(?) sipenyalin menterjemahkannya
pula menurut “situasi dan kondisi” setempat. Kita lihat
misalnya, kalau didalam Injil bahasa Belanda dan Inggris
syarat masuk surga adalah Door bidden en fasten atau by
praying and fasting, maka didalam Injil bahasa Indonesia
mereka mencukupkan hanya dengan doa, sedangkan fasting atau
fasten atau puasanya dihilangkan.
2. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan.
Bacalah theorie La Place & Chamberlin, bacalah theorie
kejadian bumi, maka Chamberlin menyebutkan: Bahwa bumi kita
ini ialah terjadi dari gumpalan-gumpalan kabut yang
bergulung-gulung semakin lama semakin padat, sehingga
berpijar, dan kemudian mati pijarnya, lalu tumbuhlah
kehidupan. Lalu cobalah kita buka Al-Qur’an surat
tertulislah disana theorie itu: “Dan ingatlah ketika Aku
menciptakan bumi ini dari suatu hamparan yang lalu
bergulung-gulung.” Qur’an surat Nuh 14 menulis tentang
adanya tingkatan-tingkatan kejadian dari manusia, surat Al
An’am 97 memuat theorie Astronomi. Dalam surat-surat yang
lain dimuat pula theorie perkawinan tanam-tanaman (botani).
Qur’an tidak serupa dengan Perjanjian Lama yang menolak
theorie Galileo Galilei, Islam tidak seperti Kristen yang
telah begitu banyaknya membunuhi kaum cerdik pandai seperti
Galileo Galilei, Johannis Heuss dan sebagainya.
3. Al-Qur’an tidak menentang fitrah manusia. Itulah sebabnya
didalam Islam tidak diakuinya hukum Calibat atau
pembujangan. Manusia dibuat laki-laki dan perempuan adalah
untuk kawin, untuk mengembangkan keturunan. Maka itu ajaran
Paulus yang mengatakan bahwa ada “lebih baik” laki-laki itu
membujang seperti aku dan perempuan itu tidak kawin,
ditentang oleh Islam. Bukankah monogami akhirnya melibatkan
dunia Kristen dalam lembah pelacuran? Bukankah orang-orang
Italia yang monogami itu akhirnya mempunyai juga istri-istri
yang gelap? Dan bukankah Amerika, Swedia dll. akhirnya
menjadi bejat akhlaknya sebab mempertahankan monogami? Maka
dunia akhirnya menetapkan: Poligami adalah bijaksana.
Poligami mencegah manusia daripada zinah dan pelacuran.
Tidak heran bila surat An Nisa ayat 3 kemudian membolehkan
orang untuk Poligami, yaitu poligami yang terbatas: 4.
4. Qur’an udak bertentangan dengan aqal dan fikiran manusia.
Itulah sebabnya Islam sangat menghargai akal dan fikiran
yang sehat. Kaidah Islam tidak dapat menerima doktrin “Tiga
tetapi satu,” sebab tiga tetapi satu bertentangan dengan
ratio. Ummat Islam sama sekali tidak dapat memahami
bagaimana Paus, seorang manusia, dapat menjabat Wakil
Tuhan(Ficarius Filii Dei). Paus mewakili urusan Allah untuk
dunia ini, memberikan amnesti, abolisi dan grasi atas ummat
manusia yang berdosa dengan mandaat sepenuhnya dari Allah.
Demikian pula, kalau kami yang tidak tahu menahu akan
perbuatan Adam harus memikul dosa Adam. Dan akal lebih tidak
bisa menerima lagi, kalau Allah yang pengasih penyayang itu
akhirnya lalu menghukum mati anaknya sendiri demi menebus
dosa Adam dan anak cucu Adam. Maka itulah Islam tidak
mengakui dosa keturunan, juga tidak mengakui adanya
“Sakramen pengakuan dosa” yang memanjakan manusia dan
mengajar manusia untuk tidak bertanggung jawab itu.
5. Islam tidak bertentangan dengan sejarah. Islampun dengan
sendirinya tidak mendustai sejarah. Putih hitamnya sejarah
Islam, diakuinya dengan jujur. Ia, misalkan mengalami
tragedi pahit seperti “Night of St. Bartolomeus” pastilah ia
mengakui, dan ummatnya mengetahui. Islam selalu sesuai
dengan situasi d.an kondisi, ia bukannya menyesuaikan diri,
tetapi diri (dunia maksudnya) yang harus menyesuaikan
dengannya.
6. Oleh sebab itulah maka Islam tetap bertahan. Ia selalu
maju seirama dengan kemajuannya zaman. Empat belas abad
sudah lamanya Islam tetap dalam suatu kesatuan syareat dan
hakekat. Seribu empat ratus tahun lamanya hukum-hukumnya,
undang-undangnya, shalat dan kiblatnya, puasa dan hajinya
tetap berjalan. Ia tidak ambruk setelah ilmu pengetahuan
lebih maju, ia juga tidak colaps menghadapi kebangkitan
humanisme dan sosialisme. Adapun atau kalaupun dikatakan
mundur, sebenarnya ialah ummat artinya orang-orangnya apakah
itu person atau kelompok. Mengapakah ummatnya mundur? Sebab
ia telah meninggalkan Qur’annya. Ia berbeda dengan ajaran
atau hukum gereja Katolik yang selalu berubah-ubah boleh -
tidak boleh dan sekarang boleh lagi kawin. Padahal soal
kawin adalah soal keputusan Tuhan. Adalah keputusan Tuhan
selalu berubah-ubah dan dapat ditentang oleh manusia?
7. Qur’an tak dapat disangkal ]agi, adalah pegangan hidup
dan mati, dunia dan akhirat. Qur’an ternyata merupakan
landasan idiil dan spirituil, landasan hidup di dunia dan
di akhirat. Qur’an, tidak hanya memuat perkara akhirat saja,
tetapi juga perkara dunia. Itulah sebabnya bila kita membaca
Al-Qur’an kita akan menemui bermacam-macam hukum, apakah itu
hukum pidana, perdata, atau hukum antar manusia dan
kemasyarakatan. Demikian pula ia memuat hukum dengan
lengkapnya hukum perkawinan dan sopan santun perang.
@bisri
saya menghargai pendapat anda yang mengatakan Islam-lah yang paling benar, tapi maaf, buat saya kebenaran itu relatif. :) Kristen itu kafir? Bisa jadi. Karena dalam beberapa teks yang saya baca, tuhan orang kristen adalah tuhan yang lebih rendah, dan bisa jadi jahat karena dia mau Adam dan Hawa tetap bodoh di taman itu. Tapi karena Allah (T/tuhan milik orang Islam) tampaknya dipandang sebagai entitas berbeda, saya tidak akan berkomentar soal ini.
Anda mengatakan poligami baik untuk mencegah perzinahan dan pelacuran? Jadi lebih baik perempuan dimadu supaya tidak berzinah? Mari kita tunggu pendapat teman2 perempuan saya yang lain, saya yakin mereka punya satu dua kata soal itu.
Kalau saya boleh bertanya, apakah Islam tahan kritikan? Andaikan ada novelis yang membuat novel ala da vinci yang mempertanyakan fondasi islam, menurut anda, penulisnya lebih baik dibunuh atau dibiarkan hidup?
saya setuju dengan kata2 ini
“Kata “kepolosan”, “murni”, sangat tipis bedanya dengan “dungu”, atau “tidak bisa berpikir”.”
kadang orang yang polos, murni sampai mau memaafkan orang yang sudah menginjak2 dirinya akan disebut tolol-dungu oleh sekelilingnya,
sebenarnya,
manakah yang lebih mengerti soal bodoh-pintar itu sendiri?
karena bila orang waras di tengah-tengah orang gila,
manakah yang akan disebut gila?
pertanyaannya,
untuk semuanya..,
agama adalah buatan manusia, kebenaran absolut hanyalah Tuhan itu sendiri,
Anda semua tidak “bersentuhan” langsung dengan Tuhan kecuali sebelum lahir dan sesudah mati,
Bagaimanakah Anda mengatakan diri waras bila seandainya saja Anda tidak tahu pasti bilamana sekeliling Anda lebih waras ataukah malah lebih gila daripada Anda?
Sebaiknya, permasalahan ini disimpan di hati dan dipikirkan baik2,
ini adalah masalah personal dan sensitif.
janganlah terburu dengan kata “paling benar/paling waras”
karena kita tidak akan tahu kebenaran yang “sesungguhnya” sebelum kita mati.
Untuk itu, kuranglah bijak bila kita mengatakan hal-hal yang sesungguhnya kita tidak tahu pasti kebenarannya.
Cukuplah kita mengimani (faith in) apa yang kita lakukan dan percayai selama ini.
dan terakhir,
maaf, ini hanya sekedar sharing saja,
kalau ada kata2 yang menyinggung, saya minta maaf, krn tidak bermaksud demikian,
salam,
kim
ah yah, jangan khawatir, orang-orang αγνωσις, memang tidak akan pernah menyadari bahwa yang namanya γνωσις adalah relatif. Gw sendiri sekarang merasa diri gw sebagai ἀλλογενὴς :D
Vin, gw baru baca lagi loh postingan lu yang satu ini! Ternyata setelah gw tinggal makin banyak yg dateng trus aneh-aneh begini ya!!!!
Gini aja deh, we are entitled to our own opinion. I found it curious to find that SOME people feel the need to proselytize every time they found an agnostic who just won’t believe in their religion.
I say, leave us be, dudes.
We are not hurting anyone, we are not planning a terrorist attack, we help the elderly cross the street, and we gave up our seat in the bus for pregger ladies. Intinya, CAPEK GILA ngedebat Tuhan kira-kira lebih sayang sama umat agama mana dan kira-kira umat agama mana yang kastanya lebih tinggi saat nanti di surga nanti (kalo pun surga itu ada ya!).
I’d like to ask then: are you practicing your religion and its teaching solely to secure your place in heaven, or because you are faithfully aware and sure that YOU ARE DOING THE BEST THING FOR YOURSELF, OTHER PEOPLE, AND THE WORLD?
Kalo Anda-anda termasuk kategori pamrihan yang pertama, Anda gak ada bedanya sama pelacur yang do sex for money. Sorry to be blunt, but you guys seriously need a frying pan slammed to the side of your heads.
Aku memang males baca injil-injil yang (katanya) sesat. nTah ngapa, Da Vinci code aja dah 2 tahun nongkrong di tumpukan dvdku tanpa sempat ditonton. But you got a point there. As long as we don’t threaten other human freedom, its our freedom to do anything, right? To believe something or not to believe something. For me faith is a power only human have to believe or not to believe something. That’s the point. Aku masih percaya Kristus, dan tidak ada orang lain yang boleh mengganggu kepercayaanku itu. Tapi aku tetap berusaha objektif and open minded to find the truth. Sayangnya sangat banyak kebenaran yang beredar dan semuanya mengaku benar. Jadi yah simpan aja masing-masing. Ntar aja lihat pas episode terakhir bumi kita ini, jadinya kayak gimana. Kadangkala kebenaran kecil dapat menutup mata seseorang dari kebenaran lain yang lebih besar seperti telapak tangan yang menutup mata sehingga mata tersebut tidak bisa melihat keindahan bulan>-<
@tephy
hahaha kata2 terakhir loe, setuju banget! xD
@illumina
ini kata-kata yang bagus sekali, saya senang bisa mendengar pandangan dari orang terbuka seperti anda :)
semua tulisan di atas adalaah gobal-gabul.Penulis2nya adalah :
1. Pengacara (pengangguran banyak acara) termasuk gue
2. Sok analis agama
3 sok suci dan benar sendiri
4. Sok pinter tapi pura2 low profil and sok intelek
tunggu sampai umur kalian 40+ nanti akan tau apa arti omongan saya wahai para rookies (itu kalau loe2 jadi dewasa )
@muhanedi
tidak ada masalah jika anda berpikiran begitu, tenang saja.
PASAR MALAM AGAMA
Aku dan temanku pergi ke ‘Pasar malam agama.’ Bukan pasar dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.
Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.
Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.
Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.
Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: ‘Apakah pendapatmu tentang Tuhan?’ Jawabnya: ‘Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis.’
Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: ‘Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepadaMu?’
Tuhan berkata: ‘Bukan Aku yang mengadakan ‘Pasar malam agama’ itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk mengunjunginya.’