Industri Video Game Music (VGM) Jepang | Japanese Video Game Music (VGM) Industry

By Calvin Michel Sidjaja | Apr 4, 2007
   Show Original   

Bagi kalangan pemain game, atau yang juga dikenal sebagai istilah gamers, mungkin familiar dengan genre Video Game Music, atau lebih dikenal di kalangan penggemarnya di internet dengan akronim VGM.

Genre VGM merupakan salah satu genre music yang cukup underground, namun memiliki fanbase yang loyal. Video Game Music secara harafiah adalah musik-musik yang dimainkan pada saat suatu game berjalan. Perkembangan VGM sendiri cukup menarik untuk diamati.
Mungkin dari anda-anda semua masih mengingat era 1990an pada saat Nintendo Entertainment System sedang meledak di pasaran? Saat itu juga, genre bernama VGM sedang mengalami perubahan drastis berkat seorang komponis Jepang bernama Koichi Sugiyama.

Anda mungkin masih mengingat bagaimana game-game lawas pada umumnya memiliki notasi, melodi, namun kurang melodis, dan jika ada lagu, mungkin lagu itu hanya merupakan aransmen sederhana dari lagu klasik seperti Can-Can atau The Entertainer milik Scott Joplin. Jika anda pernah memainkan tetris, mungkin anda familiar dengan melodi dari tarian Kalinka. Developer dan publisher biasanya tidak ambil pusing dan serius untuk memikirkan musik latar sebuah game.

Namun pada 1986, Koichi Sugiyama mengadakan konser orkrestral dari melodi-melodi yang ia gubah untuk sebuah game berjudul Dragon Quest. Konser ini selamanya mengubah persepsi publik Jepang pada VGM. Genre ini merupakan salah satu pasar utama bagi industri musik Jepang. Merupakan hal yang umum jika suatu developer game menyewa composer-composer ternama untuk menghasilkan musik berkualitas untuk game yang sedang dikembangkan.

Apa yang membuat genre VGM menarik, dan layak mendapat perhatian? Menurut saya pribadi, genre VGM memiliki keunikan sendiri, terutama pada keluasan gaya musik yang ada di tiap-tiap game. Satu composer bisa membuat puluhan lagu dalam gaya yang berbeda untuk menghasilkan efek yang berbeda.

Di dalam VGM anda bisa menemukan semua genre, mulai dari Jazz, Classical, Rock, Pop,dan macam lainnya. Kenapa? Karena composer dituntut untuk menciptakan lagu-lagu yang berbeda untuk suasana berbeda. Tidak mungkin kan lagu sedih dan melankolis diputar pada saat terjadi adegan pertempuran?

Saya sendiri sangat menggemari genre VGM, dan di harddisk saya sudah ada sekitar 60 gb lagu-lagu game yang saya download dari internet. Composer favorit saya tidak lain adalah Koichi Sugiyama, Koji Kondo, Kentarou Haneda, dan Yoko Kanno.

Saya sarankan anda untuk mencoba musik-musik gubahan Nobuo Uematsu, composer yang terkenal sebagai penggubah musik untuk game Final Fantasy yang dibuat oleh Squaresoft (sekarang Square-Enix). Musik-musik yang digubah Nobuo Uematsu merupakan gerbang pengenalan yang baik bagi orang yang ingin mencicipi VGM.

—–
What is Video Game Music, you ask? For these who grew up with nintendo, sega, and sony they are probably aware already about the existence of the most obscure genre outside japan: Video Game Music. It’s more popular acronymed as VGM in internet. While there has been rising attention of VGM, the genre is yet to gain the attention�mainstream audience and no, this is not for the mtv faggots listeners.

VGM, as eccentric as it sounds, could be considered as cult genre, it is far from mainstream, but they do have loyal fanbase outside Japan. VGM itself loosely defined as background music (BGM) that is played during a scene of game. History of VGM is quite fascinating to follow though, there hasn’t been much attention of video game music in 80-90s era, not before Koichi Sugiyama revolutionized VGM’s importance in modern�music industry.

You probably aware that a lot of old games usually using the popular�overused classical tunes such as can-can or perhaps ragtime, like Scott Joplin’s the Entertainer. If you have played Tetris, you probably familiar already with the melody of Kalinka, a russian folksong. Developer and game publisher usually didn’t concern much about the quality of the background music. They were not considered important aspect in gaming during that time.

It’s not until Koichi Sugiyama held his first Dragon Quest�Symphonic Concert which forever changed the course of VGM history in Japan. This genre ultimately become one of the mainstream genre in Japan’s music industry. It is common practice to hire famous composer for a high-budget game project. Even doujinshi, low-budget games, such as visual novel games�craps usually have their music released in deluxe�OST.

What makes VGM is fascinating and should not be alienated you ask? Personally, I like VGM because I grew up with games, and music in VGM is just so variative that you could find any genre here. A composer is demanded to compose various music with different atmosphere, and they are challenged to make the music not boring because they will be looped. They must also know which music should be put during fight scenery or how to put sentimental feeling during sad scene with effective tunes. I’m sure you got the picture already. The VGM could open your musical�world to higher level.

My favorite composer so far are Koichi Sugiyama, Koji Kondo, Kentarou Haneda, and Yoko Kanno.

If you are still new to VGM, I really recommend you to listen Final Fantasy scores composed by Nobuo Uematsu. His music style is simple, yet beautiful. I had time when I listened his music everyday. He’s probably one of the most popular VGM composer that everyone should give chance to listen.

Popularity: 16% [?]

Tags: , , ,

Related posts

8 Comments so far
  1. [...] 7th, 2007 by calvinms Seperti yang sudah saya janjikan di postingan sebelumnya, saya akan mengupas sekilas mengenai bagaimana genre VGM bisa menjadi populer diluar jepang.Apa [...]

  2. satoshizure December 10, 2008 9:42 pm

    thx artikelnya!
    mau nambahin, saya mulai tertarik pd VGM sejak dngr musik” gubahan Yasunori Mitsuda, dan saya juga pernah memperdngarkan lagu” tsb pd teman saya yg non-gamer. Komentarnya? Dia SANGAT suka!!

  3. Calvin Michel Sidjaja December 11, 2008 11:34 am

    wah terima kasih komennya, saya juga menyukai Yasunori Mitsuda, gaya komposisinya penuh warna dan sangat celtic, ringan dan jenaka. Saya sendiri paling suka karyanya di Chrono Trigger dan Xenogears. Komposisi2 belakangan yang ada di Soma Bringer misalnya, kurang memorable menurut saya, dibandingkan karya-karya yang pernah ada sebelumnya.

    Tapi saya sendiri sekarang lagi tergila2 dengan Shoji Meguro ;)

  4. satoshizure December 13, 2008 2:52 am

    Hmm, mungkin memang jadi kurang memorable seperti serial Chrono dan Xenogears ya. Tapi Mitsuda-san sendiri mengatakan bahwa Kirite adalah turning point-nya dalam bermusik. Saya perhatikan musik-musiknya setelah Kirite cenderung lebih simple dan minimalis, seperti yang sering dia ungkapkan mengenai ciri musiknya. Shoji Meguro? Wuahh, Persona ya! Musiknya memang keren. . Haha, jadi berniat mengoleksi.
    Anyway, saya sudah lama tertarik pd VGM, tapi baru-baru ini saja saya mengenal dan menggeluti fandomnya lewat internet (duh, basi ya?). Saya jg menemukan postingan ini dalam rangka pencarian bahan untuk tugas buku saya (kebetulan saya memutuskan mengambil tema VGM). Terima kasih, ya! Artikel ini betul-betul membantu, loh :)

  5. Calvin Michel Sidjaja December 13, 2008 2:53 pm

    ah untuk tugas? menarik sekali, mudah2an sukses, tidak banyak ada yang mau membahas vgm.

    anda mungkin mau membahas nama2 besar VGM seperti Koichi sugiyama (dragon quest, saking tenarnya, semua game yang memakai komposisi beliau harus disebutkan namanya di title), Nobuo Uematsu (final fantasy, berguna buat introduksi), Kentarou Haneda (lebih dikenal sebagai musisi klasik di jepang, sudah almahrum), Koji Kondo (mario bros, zelda) atau mungkin komponis serba bisa Yoko Kanno?

    Menarik memang, walau di jepang sendiri VGM berada di kategori soundtrack untuk film, tapi mereka terlihat mereka sangat menghargai musik, bahkan tidak jarang mengadakan orkes yang berhubungan dengan musik game.

  6. satoshizure December 14, 2008 4:30 pm

    yup, saya memang sudah berencana ingin membahas nama-nama tersebut.
    Masyarakat Jepang tampaknya selalu mengapresiasi budaya lokal mereka ya! Tapi saya cukup senang karena di negara kita setidaknya sudah mulai mengakui keberadaan VGM dengan diadakannya “Beginning of Fantasy”. Semoga saja kelak akan diadakan konser-konser VGM lainnya yang tak kalah sukses.
    oh ya, kalau tidak salah di bagian kedua dari artikel ini anda sempat mengatakan akan menulis bagian ketiga mengenai perkembangan VGM lewat inet? Kalau anda sedang senggang dan masih berminat, mungkin saya boleh menagihnya? x)
    hehee, terserah anda berkenan mengabulkan/tidaknya, saya tdk berhak memaksa ;)
    Terima kasih doanya! moga-moga anda juga makin sukses.

  7. Calvin Michel Sidjaja December 14, 2008 10:12 pm

    ah, masalahnya saya sudah agak malas membahas VGM karena kesibukan sehari, mungkin kapan2 saja :)

  8. satoshizure December 15, 2008 12:23 am

    it’s OK :) GBU!

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

Name (required)

Email (required)

Website

Comments



© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes