Google
 

Industri Video Game Music (VGM) Jepang (bag. 2)

Calvin Michel Sidjaja on April 7th, 2007

Seperti yang sudah saya janjikan di postingan sebelumnya, saya akan mengupas sekilas mengenai bagaimana genre VGM bisa menjadi populer diluar jepang.Apa anda semua masih ingat tempo 1990-an dimana era Nintendo Entertainment System (NES) berjaya? Ada satu hal yang terlupakan saat kita melihat dominasi Jepang dalam industri gaming dewasa ini. Sebenarnya, industri gaming milik Amerika-lah yang mendominasi selama beberapa dekade.

Anda mungkin masih mengingat console-console lawas macam Atari atau Colecovision? Console-console itu merupakan akhir dari dominasi Amerika pada industri gaming pada abad ke-21, dan selama enam generasi berikutnya, Jepang mendominasi pasar gaming internasional.
Apa yang membuat perubahan drastis ini? Sebenarnya simpel saja, pada 1983, terjadi situasi kejenuhan luar biasa pada pasar gaming Amerika.

Terlalu banyak game tidak berkualitas yang dikeluarkan produsen sehingga mengakibatkan oversupply. Saya sendiri sebetulnya tidak pernah memainkan console Atari atau Commodore, tapi melihat grafisnya yang tampak tidak terlalu menarik, saya bisa membayangkan betapa jenuhnya market dengan oversupply. Ada setidaknya 14 Console berbeda di pasaran, seperti Atari 2600, Atari 5200, Bally Astrocade, Colecovision, Coleco Gemini, Emerson Arcadia 2001, Fairchild Channel F System II, Magnavox Odyssey2, Mattel Intellivision, Tandyvision, dan Vectrex.

Semua itu lalu dipicu dengan iklan hiperbola akan game E. T. yang nyatanya gagal di pasaran. Akhirnya, Nintendo membuka lembaran pertama dominasi Jepang di industri gaming. Baru-baru ini saja Microsoft secara perlahan namun pasti bisa merebut pangsa pasar Amerika dan Eropa dengan mulai banyaknya pengembang pihak ketiga dari Jepang yang tidak melulu membuat game yang menitikberatkan pada superioritas grafis. Game-game produksi Amerika dewasa ini menurut saya sendiri tidak semenarik game buatan Jepang. Game-game produksi Amerika umumnya lebih menekankan peningkatan grafis daripada gameplay, sehingga wajar saja kalau banyak gamer tidak terlalu berminat pada console XBOX yang didominasi oleh pengembang dari Amerika.

Mario Bros, yang tercatat oleh Guinnes Book of Record sebagai game terlaris di dunia dengan total penjualan 40 jutakopi adalah salah satu game yang menandai dimulainya era VGM di Jepang.

Jika anda masih memiliki NES atau masih bisa mendengarkan musiknya melalui emulator, cobalah perhatikan betapa luar biasanya composer pada jaman itu. Hanya dengan kualitas suara 8-bit yang tidak lebih dari 3 channel (yang mungkin sama kualitasnya dengan nada deringmonofonik), composer dituntut membuat suatu lagu berkualitas dan melodis untuk menemani kita bermain. Tidak cuma itu, lagu yang dihasilkan juga harus dapat membuat pemain tidak bosan walau didengar berkali-kali selama berjam-jam.

Nah, mungkin sampai disini saja dulu pembahasan saya mengenai awal industri VGM yang diwarnai Video Game Crash 1983. Kali berikutnya saya akan menginformasikan bagaimana Internet membuat genre ini semakin populer di luar Jepang, dengan segala keterbatasan dan keeklusifan marketnya.

Popularity: 14% [?]

Tags: , , ,

Related posts

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>