Google
 

Indonesia’s Forest Reserves on Sale

Calvin Michel Sidjaja on February 22nd, 2008

Even though Indonesia hosted International convention on climate change in 2007, but the government, perhaps because their eyes and ears are shut tight, or there has been strong lobby from Multinational Company, but this year is one of the gloomiest day for our forest. Basically, the government has just recently issued a new Peraturan Pemerintah (literally Government’s Rule) one the renting the field of  forest reserves. It’s sold absolutely cheap: only prices 200-300 rupiah (about $0,02) per mettres. And the worst of all: THEY SELL THE FOREST RESERVES.

I couldn’t agree less if someone say the issuer is probably consist by bunch of no-brainers. Yes, the new rule made it possible for massive land cut and deforestation on the entire Indonesia, despite our degradation rate is the highest in the world.

Couldn’t the situation be worse? I used to think goverment is supposed to protect the land of people reside within the territory, but look what just they did? They act as if Indonesia’s forest is government’s. They never listen to our protest, and the worst of all: they become a legitimized forest destroyer here. Holy crap. Maybe they will listen someday if the Lapindo’s mudflow has sinked the entire Java.

de Soto said that the third world failed on adapting capitalism because they couldn’t convert their asset into capital. Most of the assets are laid uselessly and become dead capital. But this? This rule will succesfully destory the assets for long-term.

Multinational company, investor, or whatever, if you are looking for country with chepest land to open a factory (or maybe another reallocation project if the land price in your country has been to pricey already) in, visit Indonesia. We have a forest field for sale. It’s absolutely cheap. Only $0,02 per metters and you won’t be hassled by environment-friendly demand! The government has legitimized if you want to destroy the ecology around your factory!

Reference:
Not available yet

__________

Tanggal 18 Februari kemarin, terdapat berita amat mengejutkan dan membuat saya nyaris menangis: Pemerintah menjual hutan lindung Indonesia seharga pisang goreng. Ya, pisang goreng, karena harga sewa lahan cuma mencapai 200-300 rupiah per meter. Tapi diperparah dengan fakta yang dijadikan korban adalah: HUTAN LINDUNG.

Apa sih yang dipikirkan pemerintah saat meloloskan peraturan se-retard ini? Apa mereka tidak pernah berpikir dalam jangka panjang bahwa pembatatan hutan lindung akan mengakibatkan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang? Apa mereka tidak pernah menggoogle dan mencari informasi bahwa hutan Kalimantan saja sudah mau hancur seluruhnya karena penebangan hutan liar? Sekarang pemerintah ikutan membabat hutan secara tidak langsung dengan memberi peraturan seperti ini.

Oke lah, atas nama kemajuan makro ekonomi, mungkin pemerintah mikir bisa menggenjot basis produksi dengan “menyewakan” lahan hutan lindung agar lahan tersebut menjadi basis produksi baru. Oh hebat. Saya salut pada orang yang mau-maunya meloloskan  PP ini. Karena mereka adalah elit politik, karena mereka mendapat wewenang untuk memerintah negara ini, mereka bisa seenaknya menjual aset Indonesia yang diturunkan sejak dulu kala. Hutan lindung, lahan konservasi, apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa tindakan seperti ini akan memperburuk kondisi alam Indonesia dalam jangka panjang?

Saya jadi melirik lagi buku karangan de Soto, Mystery of Capital. Salah satu poin utama yang diutarakan Soto mengenai alasan negara dunia ketiga umumnya gagal sukses secara ekonomi walau menganut kapitalisme: tidak bisa mengubah aset menjadi modal. Yang ada, aset (kekayaan alam, SDM) berubah menjadi modal mati (dead capital) karena tidak diberdayakan. Dan yang dilakukan pemerintah sekarang: menghancurkan aset Indonesia.

Saking absurd dan kesalnya, saya speechless dan tidak bisa berkata apa-apa. Ini benar-benar menyakitkan. Saya rasa Jawa harus tenggelam dulu oleh lumpur lapindo barulah mereka semua sadar atas kesalahan-kesalahan fatal karena tidak menghargai lingkungan. Apa tidak ada yang sedih dengan keadaan seperti ini?

Referensi:
http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/20/time/123041/idnews/897021/idkanal/4
http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/18/time/113058/idnews/895611/idkanal/4
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008
http://www.antara.co.id/arc/2008/2/18/pemerintah-jual-murah-hutan-lindung–lsm/
(bila ada yang memiliki referensi berita dalam bahasa inggris, tolong beritahukan, artikel bahasa inggris yang dibawah ini kurang referensi)

Popularity: 11% [?]

Tags: , ,

Related posts

3 Responses to “Indonesia’s Forest Reserves on Sale”

  1. yuki tobingFebruary 22nd, 2008 at 4:30 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP

    that’s sad indeed, bener tuh pasti ujung2nya kerusakan alam lagi..

    soal bahan mentah, emang begitu kan selalu posisi perdagangan negara maju dan miskin, yang maju bisa mengimpor barang berteknologi tinggi yang memiliki added value ke kita, sementara kita cuma bisa mengekspor bahan mentah yang selain gak ada added valuenya memiliki banyak efek samping yang jelas merugikan.. cckk..

  2. Calvin Michel SidjajaFebruary 22nd, 2008 at 4:42 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 1.5.0 on Windows Windows XP

    @yuki
    betul, menyedihkan sekali. Sampai-sampai saya meragukan apakah departmen kehutanan itu orang2nya punya hati nurani atau tidak.

    Dugaan saya, perpu ini keluar karena pemerintah perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi (yang diduga hanya naik 6,3% karena resesi ekonomi AS) tapi ketimbang menyelesaikan masalah, perpu ini menurut saya justru menambah masalah baru. Bisa-bisanya ada pemerintah yang menjual lahan hutan reservasi mereka lebih rendah dari harga satu pak tusuk gigi.

    Pihak industrial mungkin senang karena diuntungkan oleh perpu ini, mereka bisa mendapatkan lahan baru untuk digarap.

    Tapi apakah wilayah yang mereka ambil itu akan aman dari banjir dan bencana alam lainnya? Saya tidak yakin, jika lahan hutan reservasi dijadikan wilayah industri, itu berarti sudah tidak ada keseimbangan ekologi lagi di tempat mereka membangun kompleks tersebut.

    Dugaan saya yang lain: ada lobi sangat kuat dari pihak pebisnis yang memiliki hubungan personal dengan elit politik, sehingga tercipta peraturan yang menguntungkan satu pihak. Mengerikan, terlalu mengerikan.

  3. yuki tobingFebruary 23rd, 2008 at 5:46 am

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP

    @calvin:
    haha, betul itu, paling penjualan hutan2 ini sama aja kejadiannya kayak penjualan aset2 bangsa dulu, yang paling gila harganya seinget gw BCA dah, murahnya minta ampun,,

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>