
Seperti yang sudah kita ketahui, sengketa ini dipicu oleh klaim lagu rasa sayange oleh Malaysia. Publik di Indonesia marah karena lagu tersebut merupakan lagu tradisional dari Maluku.
Permasalahannya mungkin bisa tuntas andaikan pemerintah Indonesia dan Malaysia mau bernegosiasi untuk fair use penggunaan folk song ini. Yang ada, Indonesia dan Malaysia mulai ngotot-ngototan mengklaim bahwa lagu itu merupakan lagu milik masing-masing. Pemerintah Indonesia seperti kebakaran jenggot dan berusaha mencari rekaman-rekaman lagu-lagu daerah untuk membuktikan bahwa lagu tersebut adalah properti intelektual bangsa.
Tapi masalah tampaknya belum akan tuntas karena permasalahan ini sudah mencapai ke tingkat publik, dengan kata lain, kita, orang biasa. Tampaknya sedang ada perang terbuka di Internet antara blogger/netter Indonesia-Malaysia. Di wordpress.com saja, ada sekitar 3,980 halaman yang membicarakan Rasa Sayange.
Bukan pemandangan aneh kalau kita menemukan ratusan situs yang memaki-maki negara Indonesia atau Malaysia dengan hinaan berbau rasis.
Lihat perbandingannya dengan menggunakan Google:
Malingsia = Menghasilkan 65,200 halaman.
“Malingsia” (menggunakan integer tanda kutip) = Menghasilkan 64,700 halaman.
“Indon” (istilah yang kita anggap rasis, setara dengan Negro) = Menghasilkan 121,000 halaman.
Menurut saya, cyberwar ini benar-benar tidak ada gunanya. Kita bermimpi ASEAN menjadi suatu wilayah yang terintegrasi, tapi ironisnya, Indonesia-Malaysia, negara yang serumpun, menggunakan bahasa serupa, ribut karena masalah yang harusnya bisa diselesaikan secara kepala dingin.
Jadi, menurut blogger Indonesia-Malaysia semua, perang maki-makian ini lebih baik berhenti atau dilanjutkan?
Popularity: 19% [?]
Tags: ASEAN, Cyberwar, Indonesia, Malaysia, RacismIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
berhenti saja
udah kebanyakan..
lagipula blog yang ditulis nggak dibaca orang Malaysia kok
mereka khan punya koran yang dikontrol pemerintah
dan berita tentang Indonesia tetap diperburuk.
kita cari solusi saja sekarang bagaimana malaysia tidak menyakiti kita lagi.
bukan saling memaki begini.
(mode peaceful activated)
@verdinand
menurut gw sih paling gampang pemerintah kedua belah pihak bernego soal penggunaan atribut2 yang berasal dari kultur serupa. berhubung kedua bangsa ini pada dasarnya serumpun, menurut gw, sebuah klaim pada produk kultur akan memicu sengketa. paling mungkin sih yah “berbagi dengan adil”/fair use. tapi masalahnya, mereka mau ngga ya?
duh, nggak penting tuh yang bikin situs2 macam ihateindon dsb…
beraninya anonim, nggak rasional pula
Yah Vin, nggak bisa ‘berbagi dengan adil’ juga solusinya. Meskipun kita punya kultur yang serupa, bukan berarti hasil kebudayaan misal dalam hal kesenian daerah, bisa diklaim sebagai milik bersama. Ini sama aja kayak bilang, “Kan gw dan Calvin serumpun (secara lo ada Cina-nya ya? Haha), terus kulturnya sama jadi boleh dong Jukstaposisi gw klaim sebagai buatan gw yang bisa gw ‘gunakan’ (mis. dipake untuk hal-hal yang berbau komersil) seenak jidat gw.” Gitu lho mas…
ps. Gw masih utang ngasih comment soal novel lo ya? Haha. Entar dulu ya bos…
kak calvin,,,
pernah dengar wacana tentang blog yang akan di-restrict? tiap orang yg pengen ngeblog akan di-retrieve dulu ke website pemerintah lokal u/ diambil datanya, lalu diberikan password u/ bisa mangakses situs blog. tanpa itu akan mustahil bisa nulis di blog. coba itu diaplikasikan scr global…
gak ada lg yg bikin situs anonim dan nettiquette akan ttp terjaga. wong orang demo aja ada aturannya kenapa dunia maya tidak? *uyopia mode on*
lalu.. mungkin dengan penyebarluasan budaya, org indon akan lebih terkenal. boleh saja budaya kita ditiru orang tapi harus ttp kita yg punya patennya. itu akan menjadi diplomasi budaya yg bagus. Contohnya saja jepang, budayanya kan lucu2 banget tuh *kyaaaaa* sampe ada yg gila cosplay, bikin klub igo, dll. terus di jogja jg ada festival budaya korea, jepang, dll kan itu bukti mereka diterima di indon ini…
saatnya mempromosikan budaya kita dengan memperbolehkan orang lain memakainya juga…
Sebenernya yg g khawatirkan adalah apabila masalah ini naik ke step lebih lanjut
Arquilla & Rondsfelt pernah bilang d tulisannya Cyberwar is comming! klo perang maya itu dibagi dua. intinya pertama Netwar, dimana perang dijalankan antar komunitas atau individu. Kedua perang dijalankan antar indivudu, komunitas atau negara terhadap negara lain. seperti web negara lain, jaringan negara lain, atau sektor ekonomi atau militer yang memiliki dampak secara langsung terhadap masyarakat negara tersebut.
G sendiri sech melihatnya jgn sampe dech cyberwar bener2 terjadi antara dua negara serumpun ini… Tp klo kita ngeliat secara kekuatan (kapabilitas dan quantitas) sendiri g yakin mereka juga akan mikir2 karena Indonesia sendiri masuk dalam list 10 besar Hacker dunia.. Jd klo sampe kjadian yah siap2 aja…(bukan nantangin nich maap2 yah klo ada anak malay yg baca)… cyber terrorist dan hacker indo lebih banyuak ketimbang Malay.
Sementara ini untuk masalah perang blog yg terjadi antara orang2 Indo-Malay yah menurut g sech biarin aja dulu. Alasannya biar kita bisa saling ngerti apa sech sebenernya yg sodara kita ngga suka dari kita? dan sbaliknya. Juga apa sech sebenernya yg mereka mau dan yg kita mau..?? biar kita bisa sama2 tau. Agar lebih dewasa kedepannya dalam bersaudara/bertetangga.
Soal produk-produk kebudayaan sendiri seharusnya Indonesia harus lebih berbesar hati lah terhadap “Saudara-saudara muda” kita di Malaysia. Klo dulu kita ngga pernah dijajah bisa jadi Malaysia bisa satu negara dengan Indonesia.
Gini dech gambarannya, 60-70% populasi Malaysia punya saudara di Indonesia dan mereka juga secara langsung mengakui klo mereka emang keturunan Indonesia, seperti Etnis Melayu, Bugis, Minang, Jawa, Tionghoa dan Arab. Rata-rata punya hubungan darah antara kedua Negara itu. Jd yah maksud g seharusnya kita bisa sharing aja tuch budaya, tp juga musti bilang g pake dulu yah buat ini buat itu… dan satu sama lain juga musti ngaku sebenernya budaya ini dari mana asalnya…
Kota Metropolitan Kuala Lumpur itu klo mau kita liat secara historis awalnya adalah daerah pertempuran antara kerajaan Minang dan Bugis. Trus Negeri Sembilan klo loe liat di websitenya http://www.rajakitans.gov.my. sampe sekarang masih make lagu “ayam den lapeh” serta lagu2 minang lainnya dan bahkan Bendera Negeri Sembilan sendiri masih make bendera Jerman (alias hitam, merah dan kuning warna bendera Minang Kabau. Biasa loe liat klo ada kawinan orang Minang tuch bendera). Rumah adat orang Negeri sembilan juga rumah Gadang. Masa loe mau ngelarang mereka make rumah gadangnya nya?..trus kita minta loe bayar royalti donk make rumah loe hehehe… Tp kenapa orang2 Minang ngga pada protes??.
Selama ngga dikomersilin sech tuch padang2 tukang dagang ngga bakal protes..hehehh.. =p
Soalnya emang mereka pun mengakui klo Kesultanan Negeri sembilan itu jelas2 datangnya dari Ranah Minang lengkap dengan perdulian pertuan agungan yang terkait dengan Kesultanan di Sumatra Barat. Segala macem silsilah yg nunjukin klo mereka emang utusan dan keturunan langsung juga disebutin. Klo gini kan kita sama2 enak.. oh dia make budaya itu karena ternyata emang keturunan dan punya hubungan masih erat hingga sekarang dan di situs itu dia juga kasih tau dengan lengkap.
Seharusnya justru unsur kultural menjadi satu katalis yang dapat memperkuat hubungan kerjasama Indonesia-Malaysia bukan malah jd masalah… bayangkan indahnya dunia tanpa (intelektual property rights) segalah hal tidak perlu dikomersilkan. Sebenernya ini juga salah satu cerminan bagi senior2 kita di Deplu loh.. Klo sama Negara yang bahasanya masih mirip aja ngga bisa nyambung dan ngga jalan tuch diplomasi apa lagi sama yg bahasanya bener2 beda??? jgn2 cuman senyum2 aja lagi pas ketemu bule2 hieaheaihe ….
pernah kebayang ngga loe…hehehe..??
Selain Negeri sembilan sendiri juga masih banyak.. loh kesultanan-kesulatanan (federal states) nya Malaysia yang berhubungan langsung maupun ngga langsung sama Kerajaan2 d Indonesia. Malaysia itukan Negara Kerajaan yang masih Feodalistik dan otoriter banget. Seharusnya kita bisa masuk tuch lewat situ.. soalnya Sultan2nya masih ngaku klo mereka orang sini juga… jd masa ngga bisa kita deketin lewat cara mereka…
G berharap hubungan kedua Negara Indonesia-Malaysia harus bisa kita perbaiki dan kita harus tetap bersahabat demi tercapainya cita-cita ASEAN kite. Yah memang hidup bersaudara itu pasti ada pasang surutnya, ada jailnya dan sebelnya.. Tapi bagaimana pun juga Indonesia ngga bisa ngesampingin fakta bahwa Malaysia adalah salah satu saudara kita yg paling deket selain, Singapore dan Brunai. Di dunia ini.. klo ngga ada mereka siapa lagi??
menurut saya, hentikan saja.
tak ada untungnya, malah khawatir merusak hubungan dua negara ini kan?
sejatinya, mari kita sama-sama introspreksi diri. dewasalah. sebab masalah tidak akan didapat solusinya dengan cara seperti ini.
yah, saya pikir (lagi), indo dan malay mengadakan pertemuan saja (utusan saja).
damai lebih indah bukan? ^_^
Kalau menurut saya, biarkan saja, karena tidak ada asap tanpa api, jangan sampai ditutup-tutupi. Akan tetapi, memang idealnya semuanya bukan saling caci maki atau mengompori.
Saya pribadi juga memang tidak suka dengan Malaysia dan politik Bumiputeranya, akan tetapi dengan sistem itulah mereka tumbuh kuat, jadi mindsetnya sudah tertanam rapi bahwa sistem itu benar, sistem yang melegalkan memberikan nomor urut atas dasar ras. Bukan hanya orang Indonesia saja, semuanya yang diluar rumpun Malaya adalah warga kelas dua, baru-baru ini yang ricuh adalah warga turunan India. Dan juga ingat, yang memulai kisah klaim-mengklaim ini juga Malaysia, official statement pula.
Indonesia secara resmi juga kalem-kalem aja, walau secara pribadi rada risih kok presidennya pushover, tapi kalo dipikir-pikir, teriak-teriak ganyang dan perang juga ga ada gunanya.
LANJUTIN AJA!!!ini untuk memperjelas sebenarnya lagu itu punya siapa,indonesia atau malaysia?????
kalau itu memang punya kita kenapa kita harus membiarkannya direbut oleh negara lain!!!???kita bangsa indonesia harus mampu mempertahankan apa yang sudah kita punya.AYO INDONESIA MAJU TERUSSSS……
kita pernah dijajah,jgn sampe kita mengalaminya lagi.karena perebutan budaya yang dilakukan malaysia sama saja dengan menjajah budaya kita!!!!
malaysia jangan harap kami muda-mudi indonesia akan diam saja diperlakukan seperti itu!!!
ada benernya juga. kita harus melakukan sesuatu yang real! ga cuma di blog aja. daripada kata2an di blog dan hasilnya ga keliatan. mendingan bertindak langsung.
menurut saya pribadi malaysia tampaknya tidak akan berhenti mengklaim aset budaya-budaya mereka yang memiliki kesamaan dengan budaya Indonesia.
berhubung mantan presiden Soeharto sedang menjadi fokus perhatian kita, tampaknya kita harus agak menunggu sampai berita mengenai konflik kultur ini mulai lagi.
ga penting ah.
secara, disini mah, ga peduli indo atau malay, thai atau viet cong. asal liat tampang n kulit kita, nama kita sama buat para kraut:
“orang asia.”