Indonesia, just like China, just has recently begun its internet censorship. Unless you aware already, China actually has so-called “Great Firewall of China”, a jargon used to indicate the heavy censorship toward values that aren’t allowed by Communist Party.
Anyway, Indonesia also more or less, will start its own firewall. On 11 April 2008, Ministry of Communication and Informatic of Indonesia has asked google to remove content that are considered forbidden according to the perception of Indonesia’s government. Yes, please distinguish between civilians and government. Government has value that they want to force to be put on civillians, religion and sexuality control are the keywords.
This is after all, country with moslem majority, it wouldn’t be surprising if there democracy here, is still limited. Religion has been long issue and source of criticism because its perfect uselessness. Religion has been long time a tool of justification toward repression for most of people here. Let’s say for example, you’re agnostic, you’re good man and you want to marry with another agnostic person. Sadly my friend, it’s surrealistic dream. The law explicitly forbids and doesn’t acknowledge atheist or agnostic. In cultural root it is worse. Call yourself atheist or agnostic here, and there is good chance you will be considered as devil, satan or some lost lamb.
What about sexuality control? Well it’s also bad news, since Indonesia is patriarchal country, they always percept is woman is source of pornography. There is unclarity what is considered pornography and I doubt they will make plan to distinguish homo/hetero/pornography very soon. Sexuality, in my opinion, is personal matter, and I think government shouldn’t touch this area, it’s violation of private space if you ask me.
These conservatives, they all should living in asexual community. Is it too hard to accept fact that sexuality is a private thing? Instead to repress others with baseless value, why don’t they instead, control the content to protect possibility of child pornography and pedophilia? I think this is more important issue than sexuality control. Also you should noted that sexuality control itself, is amelioration of sexual repression. I don’t use the word sexual repression in this post the condition is much better in Indonesia compared to the woman in Arab.
_________
Salah satu yang menarik dari perkembangan internet di China adalah adanya penyensoran content yang bertentangan dengan nilai-nilai partai komunis China. Topik yang dianggap tabu di internet misalnya adalah Tiananmen 1989 dan Demokrasi. Pengguna internet, bahkan di warnet juga diminta untuk melakukan registrasi agar mereka bisa dilacak dan dapat diminta pertanggungjawaban saat mengakses atau menyuarakan protes kepada pemerintah China.
Keadaan itu mungkin akan kita rasakan kalau Soeharto masih memerintah kita sekarang. Pembatasan konten atas nama stabilitas, pemaksaan nilai dari elite kepada penduduknya.
Nah, ini perkembangan yang menjengkelkan dari internet Indonesia, seperti yang juga dibahas mas sigit. Menkominfo ternyata meminta Google untuk memblokir akses-akses situs yang dinyatakan terlarang oleh pemerintah Indonesia.
(11 April 2008)
Jakarta, 11/4/2008 (Kominfo-Newsroom)

Sekedar nimbrung ^^ Soal cadar, jilbab, etc. saya juga selalu menganggap itu adalah (jelas!) bentuk pemenjaraan terhadap kaum wanita, bentuk penindasan hak asasi wanita. Pernah sekali saya utarakan pendapat ini ke teman perempuan saya yang beragama Islam, tapi dia malah berpikir beda. Menurut dia perempuan berjilbab adalah hal yang mulia, yang sampai saat ini, dia masih menanti panggilan hati untuk melakukannya.
Jadi, kesimpulannya, karena pemikiran seperti itu sudah ditanamkan sejak mereka lahir dan juga melihat generasi2 sebelumnya, mereka menganggap hal itu sebagai hal yang lumrah, bukan bentuk pelanggaran hak asasi.
Hmmm…bisa bilang apalagi. Lha wong (yang menurut saya) korbannya aja enjoy. Hehehe :p
Betul sekali. Setiap aturan selalu ada sisi baik dan buruknya, tidak terkecuali HAM.
Mengenai cadar, jilbab, etc, saya ingin memberi pendapat (pendapat pribadi lho), saya sering mendengar orang mengatakan bahwa mereka yang memakai cadar, jilbab, etc adalah KORBAN dari penindasan, pemaksaan, penganiayaan, kediktaktoran, pelecehan, keterbelakangan, pembodohan, pelanggaran HAM, dsb. Oke, yang jelas saya tidak tahu alasan mereka kenapa memakai cadar, etc dan saya juga kurang mengerti tentang apa itu Islam. Lantas, apa benar tuduhan2 itu?, terus terang, temen saya yang Islam ko ga kayak gitu ya… sama seperti yang dibilang ^^Yuli. Trus kalau yang pakai cadar,etc karena kehendak mereka sendiri, apa iya itu melanggar hak asasi diri dia sendiri?, kalau melanggar, melanggar dimananya?, karena ga sepaham dengan kita?. HAM memang harus dihargai dan diimplementasikan, namun harus berhati-hati karena HAM seseorang dapat “bersinggungan” dengan HAM orang lain.
Lalu, sejauh mana HAM ini diberikan “kebebasan” untuk dijalankan?, apa ga ada aturan yang mengatur HAM?.
Keberadaan hukum yang mengatur penerapan HAM juga diperlukan untuk menghindari “efek samping” dari HAM itu sendiri, yaitu penggunaan HAM yang “bebas tak terbatas/freedom” (kalo ga bisa2 orang bugil dijalan dibilang “itu hak dia bugil”, padahal orang gila..xixi..)
Lebih lanjut, HAM yang mana yang akan kita implementasikan?, menurut siapa?, Saddam Hussein (dengan close-minded nya)?, George Bush (maksain pendapat, kalo ga nerima, perang)?, Stalin (sama rasa sama rata/ga enak buat orang kaya)?, John Howard (bantu-bantu di timor2 padahal ada maunya)?, atau saya sendiri, Lourentz (hmm.. yang jelas suka kembang tahu yang ngider di daerah maranatha)??, boleh..
NB: kalo suatu ketika HAM dah “dicampur” dengan pendapat/paham pribadi/golongan…, dijamin ga bakal ada ujungnya.. :-p
Lourentz
intinya bangsa ini belum dewasa, blum cocok masuk dalam tataran demokrasi. ada bagusnya gaya pemerintahan soeharto yaitu demokrasi terpimpin. yang ngeyel digebuk, yang penurut didorong lebih maju. tetapi juga dengan catatan, bervisi untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih dewasa hingga akhirnya bisa berkompetisi dengan bangsa yang lain.
bangsa indonesia setelah kepemimpinannya ibarat anak yang sibuk mencari identitas ketika ditinggal pergi ortunya. ngepas-pasin sama demokrasi tp jadi carut marut gak keruan. setiap orang membuat tafsiran sendiri apa itu demokrasi.
umur sudah lewat akil balik tp belum juga dewasa.
sejauh sebuah prinsip tidak bersinggungan/menyakiti seseorang yang lain maka bagaimana pun juga kita harus hormati karena ada cara yang pandang yang tersendiri bagi seseorang untuk hidup nyaman dengan prinsip yang dianutnya, jadi hormatilah.