
Di dunia ini, ada dua cara untuk menjadi hegemoni, pertama adalah menggunakan kekuatan militer, dengan kata lain, suatu negara menjadi kuat karena ditakuti dan memiliki kapabilitas militer. Namun ada cara lebih baik untuk menjadi hegemoni, yakni melakukan hegemoni atas intelektualitas.
Di dunia ini, mungkin Amerika adalah salah satu contoh terbaik untuk membuktikkan teori milik Gramsci tersebut. Masyarakat Indonesia umumnya anti AS, terbukti dengan meningkatnya kekritisan masyarakat yang sering terlihat pada surat kabar. Keterbukaan informasi di surat kabar dan internet, tulisan atas kritikan terhadap Multi National Corporation AS yang merusak lingkungan kita juga sudah banyak. Bisa dikatakan, citra Amerika Serika sebagai negara saat ini cukup buruk di mata masyarakat Indonesia, ditambah lagi negeri ini sedang dipimpin oleh presiden yang konservatif, dan mungkin, Kim-Jong Il jauh lebih cerdik daripada dia.
Tapi disinilah masyarakat Indonesia menjadi paradoks akan sifat anti-Amerikanya. Masyarakat dengan senang hati mengkonsumsi simbol-simbol dari Amerika seperti McDonald, Kentucky, memakai Jeans, menonton film Hollywood, dan tak boleh terlupakan, menggunakan iPod maupun Windows. Pada saat yang sama, masyarakat Indonesia (umumnya) merasa kebudayaan barat jauh lebih superior karena lebih menggemari simbol-simbol mereka dibandingkan simbol lokal, namun mereka juga membenci perilaku unilateral asal simbol itu.
Menurut saya hal itu tidak perlu dipermasalahkan, bagaimanapun juga, kita harus mengakui bahwa secara teknologi kita masih terbelakang dibandingkan AS, dan selera kita memang sudah berhasil dibentuk oleh para pebisnis-pebisnis barat. Wajar saja kalau masyarakat Indonesia lebih menyukai simbol-simbol barat, walau secara terbatas.
Saya sendiri mengakui bahwa saya (masih) menggunakan produk-produk AS, walau di waktu yang sama saya juga berusaha tidak terlalu tergantung. Saya tidak terlalu berminat pada movie-movie Hollywood karena pada dasarnya mungkin saya memang orang yang tidak menyukai film. Hegemoni akan selalu ada, dia tidak bisa dihindari, namun semuanya kembali ke kita, bagaimana menghadapi hegemoni dan dominasi pada selera dan intelektualitas kita.
Salah satu negara yang menarik perhatian saya akan studi hegemoni Intelektual adalah Jepang.
Kenapa saya katakan menarik? Karena Jepang selama ini melakukan hegemoni intelektual pada generasi muda dunia dengan melakukan globalisasi pada kulturnya. Tiga pasar utama yang paling tampak pada globalisasi kultur Jepang adalah Amerika, Eropa, dan Asia. Saya tidak terlalu mengetahui pada situasi di Afrika dan Timur Tengah. Namun pada ketiga wilayah yang saya sebutkan tadi, secara terbatas, Jepang mulai membentuk selera dan persepsi masyarakat melalui kulturnya.
Melalui instrumen apa saja Jepang melakukan hal ini? Beragam.
Jepang terkenal sebagai negara sakura, dan juga negara sumber Anime, Manga, Games terbesar di dunia. Jika Amerika memiliki Hannah-Barbera, Snoopy, Looney Tunes, Superman, Batman, Spiderman, dan beragam produk lainnya, Jepang memiliki industri Anime yang secara perlahan, mulai mendominasi selera pasar.
Contoh nyata paling terasa mungkin adalah manga. Di Indonesia, manga identik dengan komik, bacaan untuk anak-anak. Mungkin ini dipengaruhi oleh booming serial Doraemon yang sudah tayang selama 10 tahun di Indonesia (padahal di Jepang sendiri, serial ini sudah mencapai 1000 episode lebih, dan ratingnya masih tinggi). Namun yang harus digarisbawahi adalah, dengan memasarkan komik untuk “anak-anak”, selera mereka sudah dibentuk semenjak kecil agar menyukai produk-produk Jepang yang memang identik dengan warna pastel dan kesan imut-imut.
Tengoklah toko buku mana saja, dengan mudah anda menemukan jejeran komik-komik Jepang yang dikonsumsi kalangan anak-anak, remaja, dan dewasa muda, bahkan dewasa.
Setelah (sebagian) generasi Indonesia dibentuk seleranya oleh Jepang, tahap kedua adalah membuat persepsi bahwa Jepang adalah negara yang penting untuk dipelajari. Disinilah lembaga-lembaga bahasa dan lembaga beasiswa bergerak.
Pemerintah Jepang dikenal cukup royal dalam memberi beasiswa bagi mahasiswa asing (dikenal juga sebagai monbugakushudo). Generasi muda Indonesia akan mengeyam pendidikan di Jepang dan diharuskan pulang agar berguna bagi negerinya. Umumnya, orang Indonesia yang sudah mengalami pendidikan di Jepang umumnya fasih berbahasa Jepang, walau tidak selalu pola pikir mereka “di-Jepangkan”.
Secara perlahan, namun pasti, Jepang akan menjadi hegemoni intelektual lain, dan walau masih panjang, (mungkin) dapat menyaingi hegemoni intelektual Amerika.
Kita sendiri bisa mengangap hal ini sebagai hal yang buruk, hal yang baik, atau tidak penting sama sekali, tergantung cara kita melihat dominasi budaya bangsa lain.
Indonesia sendiri memiliki potensi melakukan intelektual Hegemoni di kawasan asia tenggara. Indonesia memiliki bahasa Indonesia (yang jauh lebih maju daripada Melayu), produk film dan musik yang cukup digemari oleh negara-negara dengan penutur bahasa Melayu. Harusnya para pembuat keputusan di pemerintah sana melihat kultur kita sebagai suatu potensi. Akan sangat menguntungkan bagi Indonesia jika memiliki rencana jangka panjang untuk membentuk persepsi masyarakat Asia Tenggara melalui industri popnya maupun penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja di negara tersebut.
Hegemoni bisa dibangun dengan rasa takut (militer) maupun menciptakan ketergantungan (ekonomi). Namun yang lebih efektif daripada itu semua adalah membangun hegemoni atas intelektualitas.
Popularity: 9% [?]
Tags: Essay, HegemonyIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Hegemoni atas ekonomi jauh lebih efektif dalam hal menguasai dunia.
Bila sebuah negara telah memiliki kekuatan ekonomi yang besar, maka dia akan dirangkul oleh berbagai negara untuk bisa berinteraksi secara ekonomi juga, selain juga produk-produknya bisa membanjiri negara-negara lain dengan leluasa.
Dan nothing more important than money…for those rich countries.