Article, Mythology, Opinion

Enuma Elish dan Bereshit

Kitab bereshit, atau yang kita kenal sebagai Kejadian dari Torah merupakan salah satu teks terpenting dalam sejarah umat manusia, karena kisah penciptaan ini diadopsi menjadi salah satu norma dan peganan nilai moral bagi masyarakat Eropa dan pemeluk agama Kristen selama berabad-abad lamanya. Namun interpretasi kitab kejadian selama ini, menariknya, masih dianggap literal, dalam artian, masih dianggap sebagai kejadian nyata dan benar-benar terjadi.

Tidak sedikit orang ultra konservatif di jaman sekarang masih mempercayai bahwa dunia benar-benar diciptakan dalam tujuh hari (7×24 jam?), dan menolak keras bahwa manusia berasal dari monyet. Namun orang-orang tersebut tidak menolak untuk mengakui bumi bulat, walau menurut kisah kejadian bumi adalah datar dan langit pipih.

Seiring dengan kemajuan teknologi internet, kemudahan mengakses data manuskrip kuno, kita sekarang bisa melakukan interpretasi pada berbagai teks religi tanpa rasa takut dibayang-bayangi oleh “orang lebih ahli” atau “lebih kenal Tuhan”. Dalam pandangan pribadi saya, hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat pribadi.

Orang boleh menginterpretasikan teks religi menurut caranya masing-masing. Sangat umum jika seseorang yang tidak setuju akan konsep dalam agamanya akan menolak mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka.

Hal inilah yang membuat banyak orang yang beragama, mungkin akan terheran-heran kenapa interpretasi pemuka agamanya sangat berbeda dengan interpretasinya secara pribadi, karena Tuhan adalah sebuah berlian tanpa batas. Tiga puluh orang berdiri melihat dari sudut yang berbeda-beda, tapi tidak ada yang bisa melihatnya dengan cara yang sama karena sudut pandang mereka berbeda.

Tulisan ini adalah sedikit interpretasi saya pada kitab kejadian. Penelitian saya pada mitologi Sumeria-Babilonia ternyata tidak sengaja menyempret ke ranah teologi komparatif. Saya tidak mengatakan saya ahli teologi atau mitologi, karena sekali lagi, hubungan Tuhan dan Anda adalah sesuatu yang sangat pribadi. Jangan biarkan saya atau orang lain mengusiknya. Anggap aja ini sebagai tambahan informasi yang bisa membantu anda memahami makna Tuhan bagi pribadi anda.

Buddha pernah mengatakan bahwa kita jangan pernah melakukan idolisasi. Seseorang harus mencari kebenaran dimulai dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain.

Bereshit dan Enuma Elish
Menurut Julius Wellhausen dalam bukunya, Prelegomena zur Gesichte Israels (Prelegomana Sejarah Israel), kitab kejadian diperkirakan ditulis pada jaman pembuangan banga Yahudi ke Babilonia, sekitar 500 BCE. Hal ini terlihat dari kemiripan kitab kejadian (bereshit) dengan penciptaan menurut sumeria-babilonia, Enuma Elish.

Penciptaan menurut Enuma Enlish adalah:Enuma Elish
Sewaktu ketinggian dari surga belum bernama
Bumi yang dibawah tidak bernama
Dan Apsu yang pertama kali melahirkan mereka
dan kekacauan, Tiamat, ibu dari mereka berdua
Air mereka bercampur bersama
dan tidak ada dataran yang terbentuk maupun rawa yang bisa dilihat
Sewaktu para tuhan belum tercipta
Sewaktu tiada yang lahir memiliki nama dan takdir
Dan terciptalah tuhan di tengah surga

Paralel dari kitab kejadian adalah kemiripan beberapa konsep kosmologinya, antara lain:
Keberadaan air primordial, sebuah substansi yang sudah ada sewaktu dunia materi belum tercipta. Prima materia.

Kisah penciptaan ini memiliki kemiripan dalam hal persepsi terhadap bentuk dunia. Dunia menurut penduduk mesapotamia adalah sebuah piringan yang datar yang dikelilingi oleh air asin. Bumi yang ditempati masyarakat Mesopotamia melayang dalam laut kedua, sebuah air segar yang mengsuplai air untuk sungai dan tanah, dan menyambung ke air asin.

Langit dianggap sebagai piringan yang melayang di atas langit, dimana ujungnya melekuk dan menyentuh bumi, dan para tuhan (Dingir/El/Il) tinggal di atas sana.

Salah satu motif mitologi penciptaan adalah adanya pertempuran antara tuhan primordial (yang tercipta saat dunia pertama kali tercipta) dengan tuhan-tuhan yang lebih muda.

Hal ini dapat dijelaskan dengan melihat pola evolusi religi manusia purba. Pada mulanya manusia menganggap bahwa langit adalah tuhan yang harus disembah. Namun lama kelamaan tuhan ini tak terjangkau dan tidak dikenal, tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mereka menyembah tuhan-tuhan lain yang lebih bisa membantu kehidupan mereka sehari-hari.

Namun tidak seperti Enuma Elish, kitab kejadian tidak menggambarkan terjadinya pergulatan dan pertempuran antara tuhan-tuhan muda Babilonia dengan tuhan penciptanya. Para rabbi menginterpretasikan bahwa tuhan yang disembah bangsa Babilonia (bangsa Akkadia) adalah sesuatu yang inferior dibandingkan tuhan mereka, Yahweh.

Menurut Karen Armstrong, ini dikarenakan kondisi bangsa Israel saat itu. Yahweh telah mengirimkan bangsa Israel ke pembuangan. Mereka telah dibuang oleh tuhan mereka sendiri ke tanah asing yang tidak dikenal, walau demikian, perlakuan bangsa Israel tidak seburuk yang kita bayangkan. Mereka masih bisa berdagang dan hidup layak di Babilon walau mereka hidup sebagai bangsa kelas dua. Bangsa Israel perlu menyembah Yahweh secara ekslusif, itu sebabnya para pendeta menulis kisah penciptaan dimana tuhan mereka lebih superior dibandingkan segala tuhan babilonia.

Elohim: Tuhan atau Tuhan-Tuhan atau tuhan-tuhan?
Di dalam agama babilonia kuno, terdapat dewan tuhan. Council of gods. Council of el. Plural.

Ini menjelaskan kenapa kitab kejadian tidak ditulis dengan nama Yahweh sebagai penciptanya, melainkan Elohim, yang bisa diinterptasikan sebagai tuhan yang bersifat pluraslitik. Interpretasi kata Elohim tidak akan habis sepanjang jaman. Anda sendiri yang bisa menginterpretasikan kenapa Tuhan pencipta digambarkan sebagai pluralistik. Para sejarahwan mengatakan ini adalah pengaruh dari agama timur tengah, karena para tuhan memang digambarkan sebagai council of gods. Para uskup Kristen awal menghubungkan konsep Elohim dengan konsep Trinitarian mereka.

Alkitab bahasa jepang menerjemahkan tuhan sebagai “kami”, yang pada definisi bahasa jepangnya tidak melulu tuhan, tapi bisa berarti makhluk spiritual yang lebih rendah.

Nahash
Dalam pandangan psikologi Analitis yang dipelopori oleh Karl Gustaf Jung, teks religi tidak dianggap sebagai sesuatu yang literal, dan dibaca mentah-mentah, namun dianggap sebagai representasi archetype dalam ketidaksadaran manusia.

Mitologi tidak boleh dibaca sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Kisah epik penciptaan, kisah Prometheus yang ditolong Hercules memiliki simbolisme berlapis-lapis yang hanya bisa dimengerti dengan mengaitkan kisah tersebut kedalam kondisi diri kita.

Dalam pandangan Joseph Campbell, Archtype melambangkan sifat-sifat yang berada dalam ketidaksadaran manusia. Secara ekstrim kita bisa menginterpetasikan segala figur dalam satu kisah mitologi sebagai satu entitas yang sama, namun termanifestasi dan berinteraksi dalam ketidaksadaran manusia. Mereka hanya bisa digambarkan melalui alegori-alegori dalam mitologi. Campbell paling suka mengdefenisikan agama sebagai “misinterpretasi dari mitologi”.

Dalam interpretasi pada umumnya, kisah Adam dan Hawwa adalah sesuatu yang menyedihkan, karena digambarkan bahwa manusia tidak menuruti tuhan pencipta, melanggar larangannya dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Hawwa digoda ular (Nahash) sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk yang menjadi sumber permasalahan dunia, karena perempuan-lah, malapetaka terjadi. Setidaknya demikian pada pandangan kaum ortodoks.

Sebuah kitab yang bernama “Kesaksian Kebenaran”, salah satu dari kumpulan kitab gnostik yang ditemukan pada Nag Hammadi pada 1945 menuliskan kisah kejadian dari sudut pandang sang ular. Tidak seperti pandangan ortodoks, sang ular justru menjadi sang “penyelamat”.

Dalam kitab terjemahan Indonesia, ular digambarkan sebagai:
“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” (Kejadian 1:3 ITB)
Ini merupakan terjemahan dari kitab King James Version:
“Now the serpent was more subtil than any beast of the field which the LORD God had made” (Genesis 1:3, KJV)

cerdik dalam konteks ini adalah “licik”. Dalam bahasa aslinya ditulis sebagai arum, yang sebenarnya berarti “bijak”.

Disini juga ada poin penting yang terlewatkan. Adam dan Hawwa memiliki simbolisme sebagai “Manusia” dan “Hidup”. Jika kita tidak melihat Adam dan Hawwa benar-benar sebagai manusia literal, maka interpretasi bisa menjadi lebih kaya, karena disini adalah interaksi simbolisme dalam ketidaksadaran sang penulis kitab tersebut:
1. Tuhan sampai membohongi Adam bahwa dia akan mati setelah dia memakan buah pengetahuan baik dan jahat, karena Adam ternyata hidup sampai ratusan tahun lamanya.
2. Tuhan juga tidak maha tahu, karena dia mengatakan “dimana kau?” saat Adam bersembunyi. Dia juga bertanya siapa yang mengatakan Adam telanjang.
3. Tuhan juga tidak tahu siapa yang memberitahukan Adam siapa yang memberikan instruksi untuk memakan buah itu.
4. Dia harus menanyakan kepada sang Hawwa. Tuhan tidak tahu mereka telah memakan, sehingga bertanya “apa yang telah kau lakukan”. Hawwa memberitahukan bahwa sang Nahash telah memberikan Nakash (godaan) padanya, sehingga dia makan

Ini interpretasi yang banyak mengundang debat tentunya, karena kita bisa saja menginterpretasikan antara lain:
1. tuhan pura-pura tidak tahu adam bersembunyi dimana
2. tuhan benar-benar tidak tahu adam bersembunyi dimana
3. tuhan menipu manusia, karena kalau tidak perlu ada dosa asal, kenapa ular dan buah pengetahuan tersebut diciptakan?

Sebagian besar orang atheis yang saya kenal biasanya memilih interpretasi yang ketiga. Lingkaran setan dan debat tiada habis karena tuhan pencipta ini digambarkan sebagai sosok tidak adil dan tukang bohong. Manusia disalahkan pada apa yang apa di luar control mereka. Andaikan tuhan mampu, kenapa pohon dan ular itu diciptakan?

Jika melihat konteks tuhan di masa lampau dan masa sekarang, agaklah berbeda. Doktrin Kristen mengatakan tuhan maha baik penyayang, bla blab la, tapi faktanya dia menciptakan dunia penuh perang, penyakit, dan melakukan genosida pada bangsa lain atas namanya.

Tidak boleh dilupakan, ada gap antara tuhan dalam konteks masa lampau dan masa sekarang. Tuhan-tuhan pencipta manusia dari mesapotamia memang diperlihatkan sebagai tuhan yang ambivalen dan memiliki sifat manusia, bahkan tidak jarang pada dasarnya jahat, manusia juga digambarkan, diciptakan untuk menyembah tuhan.

Karena manusia mulai ribut dan mengganggu ketenangan tuhan di surga, maka dikirimkanlah air bah. Sifat tuhan yang destruktif di masa lampau bisa dijelaskan dengan konteks geografi mesaptomia masa itu. Air dianggap sebagai sumber kehidupan dan kematian. Alam dianggap sebagai tuhan. Jika membaca teks religi kuno, planet-planet yang ada di langit dianggap sebagai obyek sakral.

Banjir bukanlah anugrah seperti interpretasi bangsa Mesir Kuno, melainkan malapetaka. Penduduk jaman itu takut sewaktu-waktu air, yang mereka sembah sebagai tuhan, marah, dan memberikan mereka malapetaka, itu sebabnya tuhan menjadi sosok ambivalen.

Entah bagaimana ceritanya, menyembah tuhan siang dan malam berevolusi. Bukannya dianggap sebagai tirani, itu justru sebagai hal yang wajar. Apa mungkin ini akibat sinkretisasi tuhan tersebut dengan Tuhan maha pengasih yang disebutkan Yesus dalam perjanjian baru? Sebagai akibatnya pembaca biasa tidak menyadari bahwa dibalik kata “Tuhan”, ada proses sejarah begitu kompleks dan sarat politik.

Orang yang tidak peduli akan hal ini bisa menjawab dengan simpel: percaya saja. Bukankah segala hal menjadi benar andaikan orang percaya, walau fondasinya mungkin kurang tepat? Apa yang kita percayai, itulah yang benar dan terjadi. Suatu kebohongan bisa menjadi kebenaran jika tidak ada yang mau mengkritisi karena pada dasarnya kebenaran adalah konsensus bersama.

Untuk mencegah kekritisan publik karena miripnya agama kristen dengan agama pagan, maka para uskup di gereja awal cukup memberikan doktrin bahwa semua kesamaan agama terdahulu sebelum Kristen adalah perbuatan iblis.

Setelah membaca berbagai teks agama pagan dan agama-agama kuno jaman dahulu, saya menjadi heran, apa yang membuat Kristen, menjadi agama monotheistik yang menyerang agama lain? Bukankah mereka semua memiliki dasar dari hal yang sama? Pada agama pagan kuno, selalu ada ruang bagi kultus agama lain. Toleransi antar umat beragama romawi kuno, di mata kristen dianggap sebagai “pelacur”.

Jika anda membaca kitab Wahyu mungkin tahu mengenai babilon dan sang pelacur yang melacur dengan berbagai bangsa. Emporium romawi saat itu merupakan negara yang tersentralisasi. Untuk memudahkan pengaturan administrasi, agama-agama dari wilayah yang dijajah diimpor dalam kultus romawi dan disinkretisasi dengan agama lokal, sehingga para koloninya tidak merasa terasingkan. Kultus Yahweh Sabaoth pernah masuk dalam emporium romawi juga, dengan nama Zabazius.

Motif politik dari uskup-uskup yang melakukan demonisasi agama pagan kuno telah membuat pemahaman yang salah akan paganisme dan agama-agama kuno. Agama pagan yang kaya akan ilmu pengetahuan dan filosofi yang cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari, padahal banyak ilmu pengetahuan modern bersumber dari orang-orang yang dianggap uskup gereja awal “penyembah setan dan berhala”.

Interpretasi Archetype Kejadian
Psikologi analitik bisa memberikan interpretasi yang berbeda dan relevan dengan kehidupan kita. Anggaplah archetype sebagai manifestasi dari satu identitas dalam ranah ketidaksadaran:
1. Taman Eden bisa diartikan sebagai sebuah zona nyaman, dimana kita tidak mau lepas dari zona nyaman itu karena ada sebuah sosok yang mengayomi
2. Tuhan adalah Father archtype, berfungsi seperti alter ego, memberikan aturan-aturan dan kekangan pada kita
3. Adam dan Hawwa adalah simbolisme sifat dualistik manusia. Feminin dan maskulin. Anima dan Animus. Yin dan Yang. Mereka adalah satu kesatuan, bukannya dua, namun sifat perempuan digambarkan sebagai energi kreatif.
4. Buah pengetahuan adalah simbolisme pengetahuan yang lebih besar, yang untuk mendapatkanya perlu mendapat “pelatuk” karena kita harus keluar dari zona nyaman untuk mendapatknya.
5. Ular adalah sang pelatuk, sang pembebas dari zona nyaman, karena dialah Adam dan Hawwa mau melakukan perubahan dan memakan buah pengetahuan agar lari dari zona nyaman tersebut.

Jika melakukan interpretasi yang agak lebih objektif seperti ini, agak sulit dipercaya sampai sekarang sang ular dianggap sebagai sesuatu yang jahat, karena dia adalah energi kreatif. Pada perkembangannya, ular dianggap sebagai iblis, sesuatu yang eksternal, bukan berasal dari diri kita. Kita cenderung menyalahkan pihak lain atas kesalahan yang kita buat. Kisah pada kitab kejadian ini bisa menjelaskan motif dalam kehidupan kita sehari-hari.

Masih banyak interpretasi yang bisa anda gali sendiri dengan membaca teks asli dari kitab kejadian dan tidak terbatas pada apa yang saya tulis karena simbolisme dari teks ini rentangnya bisa antara sangat simpel atau sangat ribet, tergantung bagaimana anda membacanya.

Jika Anda membaca kitab kejadian tanpa melihatnya sebagai teks religi yang menjadi asal mula segala malapetaka manusia, bagaimana interpetasi Anda?

11 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields