Kitab bereshit, atau yang kita kenal sebagai Kejadian dari Torah merupakan salah satu teks terpenting dalam sejarah umat manusia, karena kisah penciptaan ini diadopsi menjadi salah satu norma dan peganan nilai moral bagi masyarakat Eropa dan pemeluk agama Kristen selama berabad-abad lamanya. Namun interpretasi kitab kejadian selama ini, menariknya, masih dianggap literal, dalam artian, masih dianggap sebagai kejadian nyata dan benar-benar terjadi.
Tidak sedikit orang ultra konservatif di jaman sekarang masih mempercayai bahwa dunia benar-benar diciptakan dalam tujuh hari (7×24 jam?), dan menolak keras bahwa manusia berasal dari monyet. Namun orang-orang tersebut tidak menolak untuk mengakui bumi bulat, walau menurut kisah kejadian bumi adalah datar dan langit pipih.
Seiring dengan kemajuan teknologi internet, kemudahan mengakses data manuskrip kuno, kita sekarang bisa melakukan interpretasi pada berbagai teks religi tanpa rasa takut dibayang-bayangi oleh “orang lebih ahli” atau “lebih kenal Tuhan”. Dalam pandangan pribadi saya, hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat pribadi.
Orang boleh menginterpretasikan teks religi menurut caranya masing-masing. Sangat umum jika seseorang yang tidak setuju akan konsep dalam agamanya akan menolak mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka.
Hal inilah yang membuat banyak orang yang beragama, mungkin akan terheran-heran kenapa interpretasi pemuka agamanya sangat berbeda dengan interpretasinya secara pribadi, karena Tuhan adalah sebuah berlian tanpa batas. Tiga puluh orang berdiri melihat dari sudut yang berbeda-beda, tapi tidak ada yang bisa melihatnya dengan cara yang sama karena sudut pandang mereka berbeda.
Tulisan ini adalah sedikit interpretasi saya pada kitab kejadian. Penelitian saya pada mitologi Sumeria-Babilonia ternyata tidak sengaja menyempret ke ranah teologi komparatif. Saya tidak mengatakan saya ahli teologi atau mitologi, karena sekali lagi, hubungan Tuhan dan Anda adalah sesuatu yang sangat pribadi. Jangan biarkan saya atau orang lain mengusiknya. Anggap aja ini sebagai tambahan informasi yang bisa membantu anda memahami makna Tuhan bagi pribadi anda.
Buddha pernah mengatakan bahwa kita jangan pernah melakukan idolisasi. Seseorang harus mencari kebenaran dimulai dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain.
Bereshit dan Enuma Elish
Menurut Julius Wellhausen dalam bukunya, Prelegomena zur Gesichte Israels (Prelegomana Sejarah Israel), kitab kejadian diperkirakan ditulis pada jaman pembuangan banga Yahudi ke Babilonia, sekitar 500 BCE. Hal ini terlihat dari kemiripan kitab kejadian (bereshit) dengan penciptaan menurut sumeria-babilonia, Enuma Elish.
Penciptaan menurut Enuma Enlish adalah:
Sewaktu ketinggian dari surga belum bernama
Bumi yang dibawah tidak bernama
Dan Apsu yang pertama kali melahirkan mereka
dan kekacauan, Tiamat, ibu dari mereka berdua
Air mereka bercampur bersama
dan tidak ada dataran yang terbentuk maupun rawa yang bisa dilihat
Sewaktu para tuhan belum tercipta
Sewaktu tiada yang lahir memiliki nama dan takdir
Dan terciptalah tuhan di tengah surga
Paralel dari kitab kejadian adalah kemiripan beberapa konsep kosmologinya, antara lain:
Keberadaan air primordial, sebuah substansi yang sudah ada sewaktu dunia materi belum tercipta. Prima materia.
Kisah penciptaan ini memiliki kemiripan dalam hal persepsi terhadap bentuk dunia. Dunia menurut penduduk mesapotamia adalah sebuah piringan yang datar yang dikelilingi oleh air asin. Bumi yang ditempati masyarakat Mesopotamia melayang dalam laut kedua, sebuah air segar yang mengsuplai air untuk sungai dan tanah, dan menyambung ke air asin.
Langit dianggap sebagai piringan yang melayang di atas langit, dimana ujungnya melekuk dan menyentuh bumi, dan para tuhan (Dingir/El/Il) tinggal di atas sana.
Salah satu motif mitologi penciptaan adalah adanya pertempuran antara tuhan primordial (yang tercipta saat dunia pertama kali tercipta) dengan tuhan-tuhan yang lebih muda.
Hal ini dapat dijelaskan dengan melihat pola evolusi religi manusia purba. Pada mulanya manusia menganggap bahwa langit adalah tuhan yang harus disembah. Namun lama kelamaan tuhan ini tak terjangkau dan tidak dikenal, tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mereka menyembah tuhan-tuhan lain yang lebih bisa membantu kehidupan mereka sehari-hari.
Namun tidak seperti Enuma Elish, kitab kejadian tidak menggambarkan terjadinya pergulatan dan pertempuran antara tuhan-tuhan muda Babilonia dengan tuhan penciptanya. Para rabbi menginterpretasikan bahwa tuhan yang disembah bangsa Babilonia (bangsa Akkadia) adalah sesuatu yang inferior dibandingkan tuhan mereka, Yahweh.
Menurut Karen Armstrong, ini dikarenakan kondisi bangsa Israel saat itu. Yahweh telah mengirimkan bangsa Israel ke pembuangan. Mereka telah dibuang oleh tuhan mereka sendiri ke tanah asing yang tidak dikenal, walau demikian, perlakuan bangsa Israel tidak seburuk yang kita bayangkan. Mereka masih bisa berdagang dan hidup layak di Babilon walau mereka hidup sebagai bangsa kelas dua. Bangsa Israel perlu menyembah Yahweh secara ekslusif, itu sebabnya para pendeta menulis kisah penciptaan dimana tuhan mereka lebih superior dibandingkan segala tuhan babilonia.
Elohim: Tuhan atau Tuhan-Tuhan atau tuhan-tuhan?
Di dalam agama babilonia kuno, terdapat dewan tuhan. Council of gods. Council of el. Plural.
Ini menjelaskan kenapa kitab kejadian tidak ditulis dengan nama Yahweh sebagai penciptanya, melainkan Elohim, yang bisa diinterptasikan sebagai tuhan yang bersifat pluraslitik. Interpretasi kata Elohim tidak akan habis sepanjang jaman. Anda sendiri yang bisa menginterpretasikan kenapa Tuhan pencipta digambarkan sebagai pluralistik. Para sejarahwan mengatakan ini adalah pengaruh dari agama timur tengah, karena para tuhan memang digambarkan sebagai council of gods. Para uskup Kristen awal menghubungkan konsep Elohim dengan konsep Trinitarian mereka.
Alkitab bahasa jepang menerjemahkan tuhan sebagai “kami”, yang pada definisi bahasa jepangnya tidak melulu tuhan, tapi bisa berarti makhluk spiritual yang lebih rendah.
Nahash
Dalam pandangan psikologi Analitis yang dipelopori oleh Karl Gustaf Jung, teks religi tidak dianggap sebagai sesuatu yang literal, dan dibaca mentah-mentah, namun dianggap sebagai representasi archetype dalam ketidaksadaran manusia.
Mitologi tidak boleh dibaca sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Kisah epik penciptaan, kisah Prometheus yang ditolong Hercules memiliki simbolisme berlapis-lapis yang hanya bisa dimengerti dengan mengaitkan kisah tersebut kedalam kondisi diri kita.
Dalam pandangan Joseph Campbell, Archtype melambangkan sifat-sifat yang berada dalam ketidaksadaran manusia. Secara ekstrim kita bisa menginterpetasikan segala figur dalam satu kisah mitologi sebagai satu entitas yang sama, namun termanifestasi dan berinteraksi dalam ketidaksadaran manusia. Mereka hanya bisa digambarkan melalui alegori-alegori dalam mitologi. Campbell paling suka mengdefenisikan agama sebagai “misinterpretasi dari mitologi”.
Dalam interpretasi pada umumnya, kisah Adam dan Hawwa adalah sesuatu yang menyedihkan, karena digambarkan bahwa manusia tidak menuruti tuhan pencipta, melanggar larangannya dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Hawwa digoda ular (Nahash) sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk yang menjadi sumber permasalahan dunia, karena perempuan-lah, malapetaka terjadi. Setidaknya demikian pada pandangan kaum ortodoks.
Sebuah kitab yang bernama “Kesaksian Kebenaran”, salah satu dari kumpulan kitab gnostik yang ditemukan pada Nag Hammadi pada 1945 menuliskan kisah kejadian dari sudut pandang sang ular. Tidak seperti pandangan ortodoks, sang ular justru menjadi sang “penyelamat”.
Dalam kitab terjemahan Indonesia, ular digambarkan sebagai:
“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” (Kejadian 1:3 ITB)
Ini merupakan terjemahan dari kitab King James Version:
“Now the serpent was more subtil than any beast of the field which the LORD God had made” (Genesis 1:3, KJV)
cerdik dalam konteks ini adalah “licik”. Dalam bahasa aslinya ditulis sebagai arum, yang sebenarnya berarti “bijak”.
Disini juga ada poin penting yang terlewatkan. Adam dan Hawwa memiliki simbolisme sebagai “Manusia” dan “Hidup”. Jika kita tidak melihat Adam dan Hawwa benar-benar sebagai manusia literal, maka interpretasi bisa menjadi lebih kaya, karena disini adalah interaksi simbolisme dalam ketidaksadaran sang penulis kitab tersebut:
1. Tuhan sampai membohongi Adam bahwa dia akan mati setelah dia memakan buah pengetahuan baik dan jahat, karena Adam ternyata hidup sampai ratusan tahun lamanya.
2. Tuhan juga tidak maha tahu, karena dia mengatakan “dimana kau?” saat Adam bersembunyi. Dia juga bertanya siapa yang mengatakan Adam telanjang.
3. Tuhan juga tidak tahu siapa yang memberitahukan Adam siapa yang memberikan instruksi untuk memakan buah itu.
4. Dia harus menanyakan kepada sang Hawwa. Tuhan tidak tahu mereka telah memakan, sehingga bertanya “apa yang telah kau lakukan”. Hawwa memberitahukan bahwa sang Nahash telah memberikan Nakash (godaan) padanya, sehingga dia makan
Ini interpretasi yang banyak mengundang debat tentunya, karena kita bisa saja menginterpretasikan antara lain:
1. tuhan pura-pura tidak tahu adam bersembunyi dimana
2. tuhan benar-benar tidak tahu adam bersembunyi dimana
3. tuhan menipu manusia, karena kalau tidak perlu ada dosa asal, kenapa ular dan buah pengetahuan tersebut diciptakan?
Sebagian besar orang atheis yang saya kenal biasanya memilih interpretasi yang ketiga. Lingkaran setan dan debat tiada habis karena tuhan pencipta ini digambarkan sebagai sosok tidak adil dan tukang bohong. Manusia disalahkan pada apa yang apa di luar control mereka. Andaikan tuhan mampu, kenapa pohon dan ular itu diciptakan?
Jika melihat konteks tuhan di masa lampau dan masa sekarang, agaklah berbeda. Doktrin Kristen mengatakan tuhan maha baik penyayang, bla blab la, tapi faktanya dia menciptakan dunia penuh perang, penyakit, dan melakukan genosida pada bangsa lain atas namanya.
Tidak boleh dilupakan, ada gap antara tuhan dalam konteks masa lampau dan masa sekarang. Tuhan-tuhan pencipta manusia dari mesapotamia memang diperlihatkan sebagai tuhan yang ambivalen dan memiliki sifat manusia, bahkan tidak jarang pada dasarnya jahat, manusia juga digambarkan, diciptakan untuk menyembah tuhan.
Karena manusia mulai ribut dan mengganggu ketenangan tuhan di surga, maka dikirimkanlah air bah. Sifat tuhan yang destruktif di masa lampau bisa dijelaskan dengan konteks geografi mesaptomia masa itu. Air dianggap sebagai sumber kehidupan dan kematian. Alam dianggap sebagai tuhan. Jika membaca teks religi kuno, planet-planet yang ada di langit dianggap sebagai obyek sakral.
Banjir bukanlah anugrah seperti interpretasi bangsa Mesir Kuno, melainkan malapetaka. Penduduk jaman itu takut sewaktu-waktu air, yang mereka sembah sebagai tuhan, marah, dan memberikan mereka malapetaka, itu sebabnya tuhan menjadi sosok ambivalen.
Entah bagaimana ceritanya, menyembah tuhan siang dan malam berevolusi. Bukannya dianggap sebagai tirani, itu justru sebagai hal yang wajar. Apa mungkin ini akibat sinkretisasi tuhan tersebut dengan Tuhan maha pengasih yang disebutkan Yesus dalam perjanjian baru? Sebagai akibatnya pembaca biasa tidak menyadari bahwa dibalik kata “Tuhan”, ada proses sejarah begitu kompleks dan sarat politik.
Orang yang tidak peduli akan hal ini bisa menjawab dengan simpel: percaya saja. Bukankah segala hal menjadi benar andaikan orang percaya, walau fondasinya mungkin kurang tepat? Apa yang kita percayai, itulah yang benar dan terjadi. Suatu kebohongan bisa menjadi kebenaran jika tidak ada yang mau mengkritisi karena pada dasarnya kebenaran adalah konsensus bersama.
Untuk mencegah kekritisan publik karena miripnya agama kristen dengan agama pagan, maka para uskup di gereja awal cukup memberikan doktrin bahwa semua kesamaan agama terdahulu sebelum Kristen adalah perbuatan iblis.
Setelah membaca berbagai teks agama pagan dan agama-agama kuno jaman dahulu, saya menjadi heran, apa yang membuat Kristen, menjadi agama monotheistik yang menyerang agama lain? Bukankah mereka semua memiliki dasar dari hal yang sama? Pada agama pagan kuno, selalu ada ruang bagi kultus agama lain. Toleransi antar umat beragama romawi kuno, di mata kristen dianggap sebagai “pelacur”.
Jika anda membaca kitab Wahyu mungkin tahu mengenai babilon dan sang pelacur yang melacur dengan berbagai bangsa. Emporium romawi saat itu merupakan negara yang tersentralisasi. Untuk memudahkan pengaturan administrasi, agama-agama dari wilayah yang dijajah diimpor dalam kultus romawi dan disinkretisasi dengan agama lokal, sehingga para koloninya tidak merasa terasingkan. Kultus Yahweh Sabaoth pernah masuk dalam emporium romawi juga, dengan nama Zabazius.
Motif politik dari uskup-uskup yang melakukan demonisasi agama pagan kuno telah membuat pemahaman yang salah akan paganisme dan agama-agama kuno. Agama pagan yang kaya akan ilmu pengetahuan dan filosofi yang cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari, padahal banyak ilmu pengetahuan modern bersumber dari orang-orang yang dianggap uskup gereja awal “penyembah setan dan berhala”.
Interpretasi Archetype Kejadian
Psikologi analitik bisa memberikan interpretasi yang berbeda dan relevan dengan kehidupan kita. Anggaplah archetype sebagai manifestasi dari satu identitas dalam ranah ketidaksadaran:
1. Taman Eden bisa diartikan sebagai sebuah zona nyaman, dimana kita tidak mau lepas dari zona nyaman itu karena ada sebuah sosok yang mengayomi
2. Tuhan adalah Father archtype, berfungsi seperti alter ego, memberikan aturan-aturan dan kekangan pada kita
3. Adam dan Hawwa adalah simbolisme sifat dualistik manusia. Feminin dan maskulin. Anima dan Animus. Yin dan Yang. Mereka adalah satu kesatuan, bukannya dua, namun sifat perempuan digambarkan sebagai energi kreatif.
4. Buah pengetahuan adalah simbolisme pengetahuan yang lebih besar, yang untuk mendapatkanya perlu mendapat “pelatuk” karena kita harus keluar dari zona nyaman untuk mendapatknya.
5. Ular adalah sang pelatuk, sang pembebas dari zona nyaman, karena dialah Adam dan Hawwa mau melakukan perubahan dan memakan buah pengetahuan agar lari dari zona nyaman tersebut.
Jika melakukan interpretasi yang agak lebih objektif seperti ini, agak sulit dipercaya sampai sekarang sang ular dianggap sebagai sesuatu yang jahat, karena dia adalah energi kreatif. Pada perkembangannya, ular dianggap sebagai iblis, sesuatu yang eksternal, bukan berasal dari diri kita. Kita cenderung menyalahkan pihak lain atas kesalahan yang kita buat. Kisah pada kitab kejadian ini bisa menjelaskan motif dalam kehidupan kita sehari-hari.
Masih banyak interpretasi yang bisa anda gali sendiri dengan membaca teks asli dari kitab kejadian dan tidak terbatas pada apa yang saya tulis karena simbolisme dari teks ini rentangnya bisa antara sangat simpel atau sangat ribet, tergantung bagaimana anda membacanya.
Jika Anda membaca kitab kejadian tanpa melihatnya sebagai teks religi yang menjadi asal mula segala malapetaka manusia, bagaimana interpetasi Anda?

asyik bahas kitab kejadian. wekeke.
hmm, pendapat loe menarik juga Vin.
Tapi gw ndak melihat kitab Kejadian cuma dengan interpretasi yang loe bilang. Gw kan orang yang beranggapan dan memandang Dunia kita ini sudah pernah musnah dan kiamat beberapa kali namun selalu manusia bisa kembali bangkit sebelum kembali dimusnahkan. (gw lupa nama teori ini. padahal dulu sempet tahu)
Dan hal ini ada di beberapa mitiologi, baik dalam mitiologi Yunani, Hindu dan juga Aztec. Dimana setiap periode manusia berkuasa disebut dengan istilah Ages of Man. dan umumnya menurut mitiologi ini, ada 4 Age of Man.
Dimulai dari Golden Age, dimana manusia dipercaya hidup berdampingan bersama Dewa dan memiliki usia ratusan tahun. Manusia pada masa ini musnah karena mereka mencoba mengontrol sesuatu yang tidak bisa mereka kontrol, Api.
Lalu ada yang disebut Silver Age, dimana manusia hidup dengan masa kanak2 mereka sekitar 100 tahun sebelum menjadi dewasa. Disini mereka mulai hidup menjauhi Dewa. Manusia pada masa ini musnah karena ketidakpedulian mereka terhadap dewa, sehingga dewa memusnahkan mereka dengan Banjir besar.
Lalu memasuki Bronze Age, dimana manusia adalah makhluk barbar yang menyukai peperangan dan sangat kasar. Manusia pada masa ini musnah karena peperangan diantara mereka sendiri.
Dan masuklah manusia pada jaman sekarang, Iron Age. Dimana manusia benar-benar sudah putus hubungan dengan Dewa, sehingga Manusia bisa melakukan segalanya dengan penuh kebebasan.
Memang semua jaman ini terdengar aneh dan tidak masuk akal. Tapi seperti pendapat gw tentang mitiologi dan legenda, selalu ada nilai fakta yang bisa ditarik dari mereka. Mungkin ciri2 semua manusia tadi sedikit berlebihan (hidup ratusan tahun?) tapi dari cerita ini ada dua poin penting yang bisa ditarik, Pertama, bisa dibilang manusia sudah mengalami kemusnahan besar atau kiamat minimal TIGA kali, dan semua manusia dari tiap jaman selalu berbeda-beda. Kedua, manusia selalu musnah karena tingkah dan perbuatan mereka sendiri.
Kita lihat dari Golden Age, mereka musnah karena mencoba mengontrol api, dan seperti kita tahu Api adalah lambang sumber hidup dan energi, dan jangan lupa, Api juga sering diasosiasikan dengan pengetahun, karena berkat api manusia bisa mempelajari berbagai hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Di kitab kejadian, hal ini digambarkan dengan manusia yang memakan buah pengetahuan. Pendapat gw, manusia pada Golden Age musnah karena mereka mencoba mengontrol atau menciptakan sumber energi yang terlalu hebat hingga mereka sendiri yang musnah.
Lalu Silver Age, mereka musnah karena tidak memperdulikan dewa-dewa, dimana dewa-dewa itu sendiri adalah pralambang dari Alam. pendapat gw, manusia Silver Age musnah karena mereka tidak memperdulikan alam, sehingga terjadi banjir besar yang memusnahkan mereka, seperti apa yang terjadi sekarang. Dimana kalo es di kutub meleleh maka akan terjadi banjir yang menenggelamkan seluruh dunia bukan? Dan dalam kitab kejadian hal ini digambarkan dengan kisah Nuh (Noah’s Ark), yang mana cukup umum ditemui dalam beberapa mitiologi dunia sebagai Great Flood.
Lalu Bronze Age, ndak usah dijelasin, manusia pada era ini musnah karena saling perang diantara mereka sendiri hingga musnah. dan dalam kitab Kejadian hal ini dilambangkan dengan menara babel dan tepecah belahnya bahasa manusia. dan bukankah ketidakpahaman mereka satu dengan yang lain yang akhirnya memicu pertikaian diantara mereka terjadi akibat kesalahpahaman? dimana pada akhirnya menyebabkan seluruh manusia yang ada lalu berpencar ke segala arah.
Dan sampailah pada masa kita sendiri, Iron Age. dan kalo Tuhan memang ada, dia nggak perlu repot-repot kok. Karena kita pasti akan musnah karena ulah kita sendiri tanpa perlu bantuan dari pihak lain seperti manusia pada generasi sebelumnya, walau memang kapan akan terjadi kita enggak tahu. wekekeke. dalam Alkitab sendiri kita juga tidak tahu bagaimana manusia pada jaman ini akan musnah. kecuali gambaran-gambaran dari Kitab Wahyu.
Jadi kalo menurut gw, Kitab Kejadian itu bagaimana agama kristiani memandang kejadian pemusnahan manusia yang terjadi berkali-kali dengan bahasa mereka sendiri dan ditambahkan dengan kepercayaan yang mereka anut dan percayai. Dan kita semua manusia jaman sekarang adalah manusia generasi keempat (baik dari Yunani, Hindu dan Aztec) yang memiliki kebebasan paling bebas dari Tuhan karena Tuhan sudah benar-benar putus hubungan dengan manusia.
ah buset panjang banget. *baca bentar komen loe, udah kaya esai aja nih*
gw ga terlalu paham ama mitologi suku aztec (secara gw blom baca popol vuh), yang gw baca pun dikit banget, yaitu mengenai siklus2 yang tadi loe bilang ya, pada awalnya manusia hidup ratusan tahun lalu lama lama lama hidupnya makin singkat, terus akan ada masa dimana hidup mereka makin singkat lagi kemudian hancur, lalu kembali ke masa pertama dimana mereka hidup ratusan tahun lamanya dan bisa berinteraksi dengan dewa2. tapi pendapat loe menarik. bahkan kita bisa menarik benang merah antara narasi pada genesis dan apa yang loe bilang. pada dasarnya mereka adalah memori tentang kemusnahan dunia?
air bah sendiri muncul di mitologi kayanya sering banget. ini persepsinya bisa macem2, antara seperti yang loe bilang tadi (dunia ancur berkali2… tapi apa karena akibat banjir semua?). di mitologi tertua sumeria ada ziusudra, lalu di babilonia ada utnapishtim, di torah ada nuh, dan di yunani juga ada.
mungkin juga seperti yang dibilang Jung: memori nenek moyang bisa jadi memang tertransfer ke alam ketidaksadaran kita. atau bisa juga karena memang orang jaman dahulu selalu ada masalah dengan banjir? interpretasi ini bisa cukup beragam emang…
btw menarik tuh tentang paralelisme jaman2 itu dengan mitologi yang udah ada:
-api ->prometheus
-air -> ziusudra, utnapishtim, nuh
loe bocorin background novel loe ya, hohohoho.
kalo menurut gw sih begitu, Kejadian ato Genesis adalah catatan akan sejarah kemusnahan dan penciptaan kembali manusia. apalagi kalo kita lihat, susunan di Alkitab pun juga begitu, Pengusiran Manusia dari Eden (Golden Age), Great Flood (Silver Age), dan menara Babel (Bronze Age). wekekeke.
Hmm, benernya kalo gw sih ada pendapat yang rada rmirip gitu juga. gimana kalo sebenarnya cerita mitiologi itu pada dasarnya bersumber dari satu kejadian sama yang diterima oleh nenek moyang dari semua bangsa didunia (contohnya Great Flood). Tapi karena peristiwa Babel, semua manusia yang ada lalu menjadi memiliki bahasa yang berbeda-beda. Dimana menyebabkan tercerai berainya manusia ke seluruh dunia. Dan hal ini mengakibatkan satu kejadian yang benernya memiliki dasar dan alasan yang sama (kembali contohnya Great Flood) menjadi dipandang berbagai suku dan budaya di dunia sebagai kejadian yang berbeda-beda.
yah sekali lagi ini semua adalah pendapat. coba kita punya mesin waktunya Doraemon, trus kita bisa lihat apa yang sebenarnya terjadi. pasti seru tuh. wekekeke.
Yg perlu diluruskan di sini mengenai Tuhan yang baik/jahat adalah BUKAN KBAIKAN MNRT VERSI MASING2 dr kita krn apa yg baik mnrt kita blom tentu baik mnrt org laen. Itulah pengertian kebaikan yg relatif.
yg jlas knapa org mrasa Tuhan ga baik adl krn kjadian2 yg dialaminya tdk ssuai dg yg diinginkannya pdhl klo kita bs liat ke dpnnya pnglmn2 yg tdk kita inginkan itulah yg bisa membuat kita smkn kuat & dewasa.
Kalo manusia bs liat spt itu bknkah Tuhan itu baik??
Kita ga bs memungkiri bhw manusia itu berharga jika bs menunjukkan eksistensinya. Eksistensi itu bgmn bs twujud jk tdk ada mslh/tantangan yg kita hadapi?
Trus bknkah yg dimusnahkan dr agama pagan adalah hal2 yg btentangan dg ajrn Kristen aja vin?sdgkn ilmu pngetahuan modern jg ttap dilestarikan sampai skrg?
Klo smua dimusnahkan, ga mungkin donk skrg kita hidup dlm dunia pengetahuan??
Klo kita tdk bs mwujudkan eksistensi kita apa bedanya kita MANUSIA dg HEWAN??
ya, kebaikan memang relatif. Satu kelompok agama berperang atas nama tuhan karena mereka perlu mengkoreksi agama lain yang salah. lalu agama lain yang dianggap salah ini menganggap diri benar dan perang lagi atas nama tuhan karena agama lain yang menganggap diri mereka benar, “salah” di mata mereka. ya, tentu saja pendapat ririn bisa diterima. pada umumnya memang ada anggapan Tuhan itu baik sehingga memberikan cobaan pada manusia sehingga mereka bisa menunjukkan eksistensi dirinya. Pada beberapa orang ini menjadi hal positif dan membuat ia merasa makin mengenal Tuhan (sosok eksternal) dan yang lain merasa tuhan ini tidak adil sehingga menjadi pesimis, skeptis. saya rasa tiap orang memiliki pengalaman pribadinya sendiri berhadapan dengan Tuhan dan agama. Agama pagan tentu saja perlu dimusnahkan, karena unsur-unsur Kristen terlalu banyak mengadopsi agama pagan. karena memerlukan agama yang dapat mengunifikasi seluruh emporium, maka agama pagan dihancurkan agar tak terjadi resiko desentralisasi. Kaum ortodoks memang biasanya tidak mau mengakui bahwa agamanya memiliki unsur pagan dan agama kuno masa lampau. entah kenapa demikian. Ah ya, mungkin jika ada yang memiliki teman muslim, tidak perlu kaget jika ada beberapa yang menganggap kristen adalah agama politeistik, bukan monoteistik seperti yang kita sangka selama ini. Dimata kristen, Bapa, Putra dan Roh kudus dianggap sebagai satu eksatuan, tapi saya cukup kaget saat seorang muslim tenryata mengatakan kristen tidak ada bedanya dengan agama pagan karena melakukan penyembahan pada tiga Tuhan.
Salam.
Gini bro, gw mau ngasi pointer ke lu mengenai estimasi kapan sebenarnya kitab2 dalam Alkitab itu ditulis. coba liat sini deh:
http://www.carm.org/kapankah-alkitab-ditulis-dan-oleh-siapa
While you’re not at it yet, gw mau nerangin juga mengenai kekerasan hati orang2 Yahudi mengenai asal-usul, ideologi, kepercayaan dan hal2 lain yang mempertegas pribadi mereka. Menurut sejarah, dalam sejarah umat Israel selama ribuan tahun, kira2 setiap 500 tahun sekali mereka pasti kebagian dijajah sama bangsa lain (bergantian). Yang mengherankan, biarpun yg mereka dijajah secara bergantian dalam masa itu, anda masih bisa melihat tradisi2, kepercayaan2 mereka yang masih ada sampai sekarang (tidak tersentuh sama tradisi dan ideologi para penjajah mereka). Hal ini membuat saya berpikir, siapa yg mencontek siapa?
Kalau anda sudah sampai pada tulisan berikut, coba gw jelasin lagi deh, sedikit bocoran nubuat Alkitab. Apa yg terjadi sama bangsa Israel dari dulu sampai sekarang sudah dinubuatkan dalam Alkitab. Dulunya yang tercerai berai, sekarang anda ingat peristiwa kembalinya orang2 Yahudi ke Israel dari seluruh penjuru dunia setelah bertahun-tahun hidup di negeri orang? Hati banyak orang akan membenci umat Yahudi sehingga dengan demikian mereka kembali lagi ke tanah perjanjian. lu tahu jg gimana sikap dunia sama Yahudi akhir2 ini…
Faktor migrasi jutaan Yahudi dari Soviet (pasca holocaust) diduga menjadi salah satu penyebab hancurnya Soviet. Demikian juga peristiwa cabut besar2annya orang Yahudi dari Spanyol pada abad 16 (lu tau kan dulunya spanyol salah satu negara besar penguasa dunia? sekarang jadi apaan coba? Masuk G8 aja kagak!). dan banyak lagi…
Lu liat juga Amerika Serikat sebagai salah satu negara super power di dunia. Ingat, AS adalah negara terbesar didunia yg dihuni oleh orang Yahudi (setelah Israel tentunya. Cuman beda ratusan ribu jiwa).
Yg gw tekanin disini, selain merupakan bangsa pilihan TUHAN & besar tentunya, dimanapun umat Yahudi berada, mereka tetap setia pada kepercayaan & keyakinan mereka. Ketegaran hati mereka itulah yang membuat mereka tidak bisa menerima Yesus sampai sekarang. Kenapa? Karena itu memang salah satu rencana Tuhan (yg suka baca Alkitab pasti tahu rencana ini). Karena Tuhan pengen mereka nantinya bakal menerima dengan hati yang tulus dan bukan dengan akal & pikiran mereka sendiri. Sehingga Tuhan akan berbalik dan menolong mereka.
Anda biasa liat jg peristiwa Aliyah lainnya disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Aliyah#Pre-Zionist_aliyah
Gw bukan seorang Israel/Yahudi freak, tapi kalau ada orang yg ngomong sesuatu tanpa dasar yg jelas, gw bisa ikutan ngomong donk? yes?
Cuman nasihatin sedikit aja ya Oom, lebih berbahaya orang yang memiliki sedikit pengetahuan mengenai suatu hal tapi tetap rajin berkoar-koar seakan-akan dia tahu banyak ketimbang orang yang tidak tahu apa2 tapi tetap diam melihat & mendengar. Karena dengan melihat dan mendengar, kita bisa tahu & pelajari banyak hal.
Oh iya, gw pernah ingat juga baca postingan lu yg ingin coba nerangin siapa itu TUHANnya orang Kristen dan Yahudi dengan menggunakan Karen Amstrong sebagai sumbernya (tulisannya dari JIL ya?). Jangan bikin malu gw ah. Dia itu punya banyak proyek yg didanai sama Arab Saudi. Anda harus hati2 dalam memilih sumber yg ujung2nya bisa biased seperti dia. Sama halnya orang kayak John Esposito dalam nerangin Islam. lu bisa cari tahu lagi deh kalau ga percaya sama gw.
Maaf kalau ada kata2 gw yg nyinggung lu.
Salam.
Wah, org yg di atasku ini kasar sekali! Klo mau kshtau kan bs dg baik kawan! btul ga vin?
tp uda vin jgn dimasukin hati kt2nya! liat aja mksdnya yaitu spy kamu bs baca lbh byk lg jd kamu bs bpikir lbh luas lg.. ok??
eh, gmn vin ga ada rencana kluarin novel lg? JIA YOU VIN!
berhubung orang diatas itu bahkan tidak mau menyebutkan nama aslinya, saya agak malas menjawab. tapi ya sudahlah.
sudut pandang yang dia pakai tidak salah, karena memang secara tradisional kitab Pentateuch ditulis oleh musa… yang masih diperdebatkan keberadaannya. Jika melihat sejarah mesir kuno, kisah eksodus harusnya ada catatan, tapi anehnya, sama sekali tidak ada. Argumen yang mendukung eksodus adalah, mesir tidak mau mencatatnya sebagai bagian sejarah karena “malu”, karena tuhan mereka dikalahkan tuhan bangsa Israel.
Pihak kontra mengatakan cerita eksodus adalah legenda dari bangsa lain yang diadopsi oleh para rabi israel. yang mana yang benar? siapa yang tahu? tinggal memilih mana yang menurut kita benar atau yang menurut orang lain benar karena sejarah ditulis oleh yang menang.
“Yang mengherankan, biarpun yg mereka dijajah secara bergantian dalam masa itu, anda masih bisa melihat tradisi2, kepercayaan2 mereka yang masih ada sampai sekarang (tidak tersentuh sama tradisi dan ideologi para penjajah mereka). Hal ini membuat saya berpikir, siapa yg mencontek siapa?”
>kalau anda membaca perjanjian lama, mungkin anda masih ingat cerita bahwa bangsa israel melakukan penyembahan pada tuhan bangsa lain seperti Ashera? Lembu emas? Baal? tidak ada contek menyontek, karena sekali lagi, terjadi interaksi budaya antara satu bangsa dan bangsa lainnya. wajar saja kalau terjadi sinkretisasi.
Contoh yang bisa diambil adalah sejarah saat kristen menjadi agama resmi romawi.
Para uskup gereja awal misalnya, melakukan penghancuran sistematis pada agama pagan karena kemiripan agama pagan pada agama kristen. Setelah sukses menghancurkan agama pagan, mereka lalu dicap sebagai agama mati agar dianggap sebagai sesuatu yang inferior. Untuk membuat kristen menjadi agama paling benar, paus pun mengatakan tiada kebenaran di luar gereja, hal ini penting, agar membuat agama lain menjadi lebih inferior dibandingkan agama kristen sehingga mereka memiliki justifikasi untuk melakukan proselitisasi.
kembali ke topik sebelumnya, Yahweh adalah dewa perang, pada saat bangsa Israel melakukan perang, mereka akan mencari Yahweh, tapi karena secara tradisional bangsa mesapotamia melakukan penyembahan pada dewi kesuburan, mereka mengambil asumsi bahwa yahweh pun memiliki istri bernama Ashera. Agama2 kuno di dunia memiliki sifat dualistik, tuhan dianggap berpasangan, laki-laki dan perempuan.
Tapi maskulinisasi pada kultus yahweh dan dominasi rabi laki-laki membuat peran perempuan menipis dan akhirnya “tuhan” menjadi laki-laki, walau pada masa awalnya pernah dianggap sebagai perempuan, sebagai akibatnya, perempuan termarganalisasi dan dijadikan sebagai yang jahat dalam kitab suci (coba lihat kasus Hawwa).
“Gw bukan seorang Israel/Yahudi freak, tapi kalau ada orang yg ngomong sesuatu tanpa dasar yg jelas, gw bisa ikutan ngomong donk? yes?”
>sekali lagi seperti yang sudah bilang di awal post. saya bukan ahli agama, saya bukan ahli mitologi, saya hanya menyukai mitologi, melakukan riset, dan tidak sengaja menemukan hal seperti ini. jika anda mengatakan saya menulis sesuatu tanpa dasar yang jelas, anda tidak salah, karena memang saya bukan seorang ahli. kalau anda merasa lebih ahli, tidak masalah. kalau anda merasa saya asal ngomong, anggap saja tulisan saya bohong dan tak berguna.
“Cuman nasihatin sedikit aja ya Oom, lebih berbahaya orang yang memiliki sedikit pengetahuan mengenai suatu hal tapi tetap rajin berkoar-koar seakan-akan dia tahu banyak ketimbang orang yang tidak tahu apa2 tapi tetap diam melihat & mendengar. Karena dengan melihat dan mendengar, kita bisa tahu & pelajari banyak hal.”
>saya kembalikan kalimat ini pada anda
“Karen Amstrong sebagai sumbernya (tulisannya dari JIL ya?). Jangan bikin malu gw ah. Dia itu punya banyak proyek yg didanai sama Arab Saudi. Anda harus hati2 dalam memilih sumber yg ujung2nya bisa biased seperti dia. Sama halnya orang kayak John Esposito dalam nerangin Islam. lu bisa cari tahu lagi deh kalau ga percaya sama gw.”
>Karen Armstrong… didanai oleh saudi… apa anda bisa memberikan link sumber artikel/opini seputar ini? Agak sulit saya percaya, karena Karen Armstrong sangat mengedepankan toleransi antar umat beragama, dan berusaha memperbaiki citra Islam di mata dunia. Karen Armstrong adalah tokoh yang sangat pantas ditiru, saya agak susah percaya jika dia memiliki agenda terselubung. Agenda apakah yang mungkin dia bawa? Apa anda tidak keberatan mengshare-nya?
“Maaf kalau ada kata2 gw yg nyinggung lu.”
>tidak masalah, akan lebih baik lagi kalau anda bisa mengposting tulisan balasan ketimbang membalas komen.
yah, koq jadi emosi vin? aku kan cm blg jgn masukin ke hati..
udah sabar aja vin! ok??
btw memang kamu mau cari & baca di mana kalo seandaninya tuh org posting tulisan? Memang kamu tahu dia siapa? punya blog/website sendiri ato tidak??
tidak ada blog, tapi hari begini membuat blog gampang sekali, jadi siapa tahu dia akan membuat permalink ke postingan ini kalau memang berniat memberikan tulisan balasan.