Opinion

Saat Pendidikan Menjadi Industri dan Komoditi

Saya membaca artikel yang ditulis Ivan beberapa saat yang lalu mengenai nilai uang pangkal sekolah yang sudah mendekati nilai absurd, kemarin saya juga melihat tulisan Evan mengenai betapa menyedihkannya pemerintah negara kita, tidak mau memberikan prioritas lebih pada pendidikan untuk kepentingan jangka panjang.

Pada semester 7 kemarin, saya mendapatkan sebuah mata kuliah bernama “Ekonomi Politik Pembangunan” (biasa disingkat EPP), sebuah mata kuliah yang diberikan untuk memberikan pemahaman pada mahasiswa mengenai teori dan kebijakan pembangunan.

Mungkin tidak ada salahnya saya membagi ilmu yang saya pelajari kemarin kalau anda ingin melihat situasi ini melalui pendekatan teoritis.

Ekonomi Politik Pembangunan: Tiga Komponen Negara

Saya masih ingat salah satu penjelasan sang dosen saat menerangkan kenapa pendidikan Indonesia mahal sekali. Dalam studi ekonomi pembangunan, kita menemukan konsep bahwa di dalam negara ada tiga komponen: pemerintah, swasta, dan pasar. (Bagi yang lebih mengerti, silahkan mengkoreksi, karena saya lupa-lupa ingat, maklum, pelajaran 6 bulan yang lalu)

Pada dasarnya ketiga komponen ini secara ideal berjalan bersama-sama dan menjalankan fungsinya masing-masing. Pemerintah memberikan regulasi, subsidi, dll. Swasta menjadi menjadi tulang punggung perekonomian, menyediakan layanan, komoditas, jasa, dll. Pasar, tentu saja, adalah kita, masyarakat pada umumnya.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika salah satu dari komponen tersebut tidak jalan. Kalau pemerintah tidak jalan, maka yang tersisa adalah swasta dan pasar, berpotensi mengakibatkan monopoli. Atau bayangkan skenario dimana hanya ada pemerintah dan pasar tanpa swasta, seperti negara-negara sosialis, masyarakat hanya dapat membeli jasa dan barang-barang dari pemerintah.

Pendidikan Sebagai Industri dan Komoditi

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Jika kita mengikuti logika segitiga ini, maka kondisinya adalah, pemerintah gagal memenuhi perannya, sehingga yang tersisa adalah swasta dan pasar. Hal ini menjadikan pendidikan sebagai industri atau komoditi. Mungkin sudah saatnya memandang pendidikan sudah berada pada kategori yang sama seperti cabe merah, bawang, telur, BBM, dll..

“Industri pendidikan” adalah istilah yang ironis karena pada dasarnya pendidikan tidak boleh dijadikan industri. Kenapa demikian? Tentu saja karena faktor supply dan demand. Masyarakat mengetahui pendidikan sangat penting, karena itu demand-nya tinggi, demand yang tinggi ini dibarengi dengan supply yang sedikit, disini kita bisa berasumsi, bahwa jumlah sekolah yang mau menampung masyarakat lebih sedikit daripada jumlah masyarakat itu sendiri, sehingga mereka bisa menaikkan harga.

Ilustrasinya bisa kita temukan sehari-hari. Institusi pendidikan di Indonesia dewasa ini, entah kenapa dengan sangat percaya diri mematok harga uang sekolah dan uang pangkal yang amat sangat tinggi. Saya ingat dulu sewaktu masuk HI Unpar, uang pangkalnya sekitar 10 juta, uang kuliah dan pembangunan per semester seharga 1.5 juta, dan naik 10% per tahun. Sekarang sewaktu saya semester 8, uang pembangunan tampakanya sudah naik 40% (akumulatif) semenjak tahun 2004, saat saya masuk. Saya tidak bisa membayangkan angkatan baru deh.

Mungkin karena saya dari golongan menengah, seberat apapun biaya pendidikan, setidaknya bisa ditutupi oleh orang tua. Tapi bagaimana dengan golongan menengah kebawah? Golongan orang-orang yang buat makan sehari saja sulit. Di momen dimana industri jadi pendidikan, yang ada adalah ketidakadilan, itu sebabnya hal ini jadi tidak benar.

Pendidikan Mahal, Kenapa Gaji Elit Politik Tinggi?

Apakah impian pendidikan gratis/murah hanya akan menjadi wacana abadi? Kenapakah pemerintah dan DPR tidak bisa menurunkan gaji elit politiknya dan memberikan subsidi lebih untuk pendidikan? Saya miris sekali saat membaca DPR yang digaji sekitar 700 juta per tahun, walau mereka mungkin tidak pernah memperjuangkan aspirasi kita, dan bisanya cuma tidur pas sidang.

Evan mengatakan, yang dibutuhkan penduduk negeri ini bukanlah pemimpin yang berpikiran jangka pendek, tapi orang yang memiliki visi untuk negeri ini 50 tahun lagi, ya saya setuju, tapi sayangnya, itu tampaknya mustahil, atau seperti mencari jarum dalam jerami.

Menurut saya, pemimpin seperti itu hanya bisa lahir dari kalangan muda yang pernah ditindas sistem ini, sehingga menginginkan perubahan. Tapi sayangnya, banyak orang muda yang bersifat apatis dan apolitik.

Kenapa? Tentu saja karena sistem. Sistem perpolitikan Indonesia pada dasarnya feodal, dan memperhitungkan faktor senioritas. Tidak heran banyak yang kesulitan bisa mendapatkan kekuatan politik tanpa memperhitungakan kekuatan politik lokal.

Dan jika saya ditanya, apakah saya apolitik? Ya, saya tidak terlalu berminat masuk dalam sistem.

Kenapa demikian? Tentu saja karena menurut saya, saya hanya sebuah roda dalam sebuah sistem yang telah berjalan selama 60 tahun, jika roda itu berputar tidak sama dengan roda-roda lain, maka saya akan dianggap pengkhianat. Kedengarannya memalukan, tapi itulah persepsi saya terhadap pemerintah, mereka tidak mau berubah, dan tidak akan berubah. Saya tidak cukup signifikan untuk merubah negara ini.

Ada istilah, sebelum merubah orang lain, rubahlah diri sendiri. Ya, itu yang saya lakukan, saya mencoba berpikir dan melihat masalah dari perspektif lain, tapi bagaimana kalau orang lain tidak berubah? Mungkin lebih baik kita tinggalkan mereka agar kita tidak merasa frustasi karena usaha kita seakan jalan ditempat? Ironinya adalah, ada yang menginginkan perubahan, namun sistem tak menanggapi perubahan tersebut.

Jika kita membahas mengenai karakteristik pemerintah, maka tentu saja kita bisa mengambil pengaruh dominasi kultur pada sifat elit politik (sebuah pandangan yang katanya etnosentris dan cenderung rasis, namun tidak bisa disepelekan).

Berbicara mengenai  ironi pendidikan tak akan habis dan hanya akan membuat sakit hati, tapi sebenarnya, apakah yang harus dilakukan? Benarkah pemerintah tidak mampu memberikan pendidikan murah? Jika iya, kenapa kabupaten Muba dan Jembrana bisa? Ini tidak mampu, atau tidak mau?

13 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields