Google
 

[Cerpen] Dunia Menurut Sanctus

Calvin Michel Sidjaja on May 24th, 2008

Dunia Menurut Sanctus

Untuk dua orang, yang sedang merasa kesepian di dunia ini

Sanctus terbangun dari tidurnya. Dia berusia tujuh tahun, seorang anak kecil yang belum berarti apa-apa, dan belum dikenal siapa-siapa. Sanctus tinggal di sebuah rumah sangat besar, yang belum pernah lihat seluruhnya dengan kedua mata kecil itu.

Sanctus sebenarnya tinggal dengan seorang ibu, seorang ayah, seorang kakak, dan seorang nenek. Dari semua anggota keluarga yang ia ingat, hanya nenek yang paling dekat dengan Sanctus. Tapi nenek sudah lama meninggal, tidak ada yang membangunkan Sanctus di pagi hari, suara nenek sekarang digantikan suara weker.

Pagi hari. Masih jam enam pagi, tapi sudah tidak ada orang di rumah. Ayah, ibu, dan kakak juga sudah berangkat kerja. Di meja makan ada sepotong roti panggang dan susu hangat. Ibu sudah menyiapkannya sebelum Sanctus terbangun.

Sanctus menghabiskan sarapan itu, lalu memulai harinya dengan mandi pagi. Dia harus berangkat ke sekolahnya, St. Lucas.

*

Antar jemput menurunkan Sanctus di sekolahnya. Dia bersama anak-anak lain pergi ke gedung SD. Sanctus kelas dua SD, tapi otak Sanctus mungkin lebih besar dari usianya. Ya, Sanctus selama ini selalu berimajinasi, betapa menyenangkannya jika ia bisa melihat alam semesta dengan kedua matanya.

Sanctus sering berfantasi, andaikan ia memiliki sebuah bola mata yang dapat melihat seluruh dunia. Kenapa? Karena Sanctus merasa dia tidak signifikan, dia merasa kesepian. Sanctus sering membaca, mendengar, bahwa di dunia ini ada enam milyar manusia.

Jumlah yang menurut Sanctus fantastis, bahkan terlalu banyak. Tapi kenapa ya? Sanctus sering berpikir. Jika di dunia ada enam milyar manusia, bukankah dunia ini harusnya ribut, berisik, dan begitu ramai? Tapi kenapa Sanctus merasa, dunia ini begitu sepi? Apakah Sanctus berada di dunia yang salah? Apakah sebenarnya dunia ini memiliki sangat sedikit orang, sehingga dunia ini sebenarnya… sangat sepi?

Sanctus sering bertanya begitu.

Dia ingin berada di dalam segalanya, dia ingin tahu apakah di dunia ini betul-betul dipenuhi manusia?

Tanpa sadar, Sanctus berjalan melewati hutan kecil yang ada memagari gedung SMU dengan gedung SD. Hutan kecil St. Lucas, penuh dengan cerita-cerita dan legenda yang tersebar dari mulut ke mulut.

Salah satu cerita yang paling diingat Sanctus adalah bahwa hutan itu sebetulnya tersambung ke dunia lain. Dunia lain? Dunia hantu-kah? Dunia arwah? Sanctus ingin tahu.

Masih ada waktu lima belas menit sebelum bel berbunyi, dan Sanctus sebenarnya tidak terlalu ingin cepat-cepat sampai ke bangku sekolahnya pagi itu. Dia ingin melihat hutan itu sekilas. Sebetulnya, dia belum pernah melihat hutan itu dari dekat, jadi ini kesempatan yang bagus, pikirnya.

Sanctus berlari kecil ke arah hutan itu. Tidak ada jalan setapak untuk masuk kesana. Hutan itu memang dibuat agar tidak ada yang bisa masuk kesana. Jarak antara ranting, pohon, dan rumput sangat rapat, membuat seolah hutan itu terus menerus ditutupi malam. Sanctus meletakkan tas sekolahnya di depan hutan itu, dengan tubuh kecilnya, dia bisa masuk ke dalam hutan itu dengan mudah.

Sanctus hampir mengira pagi adalah malam. Hutan kecil itu gelap sekali. Ranting-ranting pohon begitu besar, menempel sangat erat, menghalangi cahaya matahari masuk. Padahal masih pagi.

Sanctus termakan imajinasinya. Dia tidak bisa tidak memikirkan bahwa hutan itu adalah gerbang ke dunia lain. Ya benar, pada saat di luar masih terang, hutan itu terasa masih malam. Cahaya matahari mungkin masuk, tapi lebih mirip seperti cahaya bulan. Dedaunan yang bergantung disana begitu tebal, begitu lebar, seolah-olah melarang ada cahaya masuk di tempat ini.

Sanctus berjalan semakin dalam, dia lupa waktu, dia lupa bahwa sebentar lagi bel berbunyi, dan harusnya dia masuk ke kelas untuk mendengarkan pelajaran PPKN. Tapi Sanctus tidak peduli, dia bisa membaca PPKN nanti. Dia bisa mengarang alasan terlambat kapan saja. Dia bisa menyusul pelajaran yang terlambat esok hari, baginya yang penting adalah, pergi ke tengah-tengah hutan itu.

Ada apa disana? Apakah ada sesuatu yang ajaib? Apakah benar ini dunia lain?

Sanctus berjalan, berjalan dan berjalan. Semakin ke dalam, hutan itu semakin gelap, seperti tengah malam, padahal harusnya pagi.

Mata Sanctus bisa melihat ada pilar cahaya di tengah hutan. Itu pasti jantung hutan ini, pikir Sanctus. Dia lalu berlari-lari ke tengah hutan, melihat dirinya dibalut oleh pilar cahaya yang menyinari dari lubang yang dibentuk oleh ranting-ranting pohon.

Sanctus menghadap ke lubang itu, melihat ke arah sumber cahaya. Betapa kagetnya dia… disana… ada matahari.

Bukankah hari masih pagi? Kenapa matahari sudah terlihat begitu jelas?

Sanctus menyiptkan matanya.

Matahari itu aneh.

Mata Sanctus terasa sakit karena kilauan cahaya, tapi samar-samar, dia bisa melihat sesuatu di matahari… seaakan itu benar-benar… Mata.

Ya, disana ada sesuatu, sesuatu… seperti… gigi.

Tubuh Sanctus terasa melayang. Dia bisa merasakan hembusan angin meniup dari bawah, seakan dia adalah kertas yang begitu ringan.

Lalu detik berikutnya seperti mimpi. Ya, Sanctus merasakan dirinya benar-benar melayang. Tubuhnya perlahan ditolak oleh gravitasi, tubuh Sanctus perlahan-lahan melayang ke lubang yang mengalirkan pilar cahaya itu.

Helaian daun teratai yang tak terhingga jumlahnya mengitari matahari itu, mungkin ini mirip seperti gambaran Dante sewaktu ia melukiskan pengalamannya bertemu makhluk tersuci alam semesta di La Divina Comedia.

Tapi tidak mungkin ada surga disini, pikir Sanctus.

Tubuhnya semakin mendekati matahari, dan sosok itu makin jelas. Ada gigi sebuah makhluk di matahari itu. Tapi gigi itu tidak terbuka atau tertutup seperti yang ia kira. Pemilik gigi itu seperti… tidur.

Sanctus ingin mendekat, tapi tiba-tiba, dia bisa merasakan lilitan rantai mengikat tubuhnya dari belakang. Tapi rantai itu bukan rantai biasa. Di mata-mata rantai itu, ada banyak gigi, begitu tajam, seolah bersiap-siap mau memakan tubuh Sanctus.

Tapi tidak, rantai itu justru menarik tubuh Sanctus dari matahari.

Sanctus merasakan tubuhnya seperti jatuh bebas. Dia berdoa semoga masuk surga saat tubuhnya akan menghantam tanah. Dia menutup matanya. Pasrah, berdoa.

Sanctus yakin, dia akan mati.

…Mungkin akan mati.

Sanctus membuka matanya. Tubuhnya tidak remuk seperti yang ia kira. Dia baik-baik saja.

Sanctus melihat jam tangannya. Astaga, ternyata dia sudah terlambat untuk masuk kelas. Bel sudah berbunyi lima belas menit yang lalu.

Sanctus keluar dari hutan itu, terburu-buru. Dia berlari secepat yang bisa, melewati kegelapan hutan, dan akhirnya dia melihat cahaya.

Tasnya masih ada disana. Sanctus mengambilnya, dan segera berjalan ke arah gedung SD. Lalu Sanctus sekarang terheran-heran. Ada apa dengan sekolah St. Lucas? Ada apa dengan dunia? Kenapa rasanya dia rasanya bisa melihat ada rantai dimana-mana? Di udara, di pohon, di batu, di air. Semuanya terlilit oleh ratusan, bahkan ribuan rantai yang bercabang.

Apa ada pabrik rantai yang baru meledak? Kenapa ada rantai di sekelilingnya?

Sanctus menghentikan langkahnya sejenak. Rasanya aneh. Rantai-rantai itu begitu panjang, melilit kesana kemari, dan semuanya bergerak, seakan menarik sesuatu.

Tapi Sanctus tidak terlalu merasa terganggu oleh rantai-rantai itu, dia lalu sampai ke gedung SD.

Ada seorang guru piket disana, sedang duduk membelakangi meja piketnya. Sanctus lalu menyapa guru itu, ingin meminta pertolongannya agar mendapat ijin untuk masuk kelas. Guru itu lalu berbalik, memperlihatkan sosok tubuhnya… yang ternyata juga penuh lilitan rantai dan benang.

Sanctus nyaris menjerit atas keanehan lain yang ia lihat. Tapi ia menahan mulutnya rapat-rapat. Matanya… mata guru itu tertutupi oleh benang yang cukup tebal. Bagaimana ia bisa melihat Sanctus?

Sanctus tidak berani untuk bertanya. Mungkin benang itu tipis, jadi guru itu bisa melihat Sanctus. Tapi semakin lama ia melihat guru itu, Sanctus menyadari, benang itu semakin membungkus tubuhnya, sampai ia terlihat seperti kepompong.

Sanctus menelan ludahnya, tapi dia terus saja berbicara, meminta tolong pada guru piket untuk mengantarkannya ke kelas. Sanctus memberikan alasan bahwa tadi dia sakit perut, sehingga dia berangkat ke sekolah lebih lama. Guru piket itu mengangguk, lalu dia keluar dari meja piket.

Perlahan-lahan, benang-benang yang melilit tubuh itu mulai hilang saat dia mengajak Sanctus menggenggam tangannya. Ya, benang itu tampak menjadi lemas, lama-lama terpilin, dan akhirnya memperlihatkan tangan sang guru.

Sanctus sekarang bisa melihat sosok guru itu sepenuhya, tersenyum ramah.

Sanctus masih belum mau berkomentar. Mungkin dia hanya salah lihat. Mungkin ini bagian dari sebuah acara?

Atau mungkin juga tidak, pikir Sanctus saat duduk di bangkunya. Teman-teman sekelasnya tidak memakai benang itu. Tapi guru-guru yang mengajar Sanctus, nyaris semuanya memakai benang itu untuk menutupi diri mereka sewaktu-waktu. Bersembunyi seperti kepompong.

Apakah orang dewasa memang suka melakukan hal itu? Apakah saat aku besar nanti, aku bisa membuat benang seperti itu tumbuh dari hatiku? Betapa anehnya manusia kalau begitu, pikir Sanctus.

*

Dua hari. Tiga hari.

Pemandangan yang sama masih sama terlihat di mata Sanctus.

Sanctus semakin bisa melihat dimana dan kapan mereka muncul. Ada yang memiliki dan tidak memiliki benang itu.

Benang itu lebih banyak terlihat di orang-orang dewasa. Orang-orang yang sehari-harinya tampak murah senyum, tampak berbahagia. Tapi, dari hati mereka sering muncul benang, benang yang sewaktu-waktu membungkus mereka seperti kepompong kupu-kupu. Tapi sewaktu-waktu juga, benang itu bisa hilang dan dipilin masuk ke dalam hati mereka.

Selain benang, Sanctus juga melihat bahwa dunia ini aneh. Ada rantai dimana-mana. Tapi rantai-rantai itu hanya melillit manusia. Binatang, tumbuhan, dan benda mati hanya terlewati. Sanctus ingin tahu, kenapa dia dan teman-temannya tidak terlilit rantai itu? Kenapa ada beberapa orang yang terlilit, namun ada beberapa yang tidak? Sanctus tidak mengerti, dan makin tidak mengerti.

Sanctus pulang sekolah dengan penuh pertanyaan. Pertama, kenapa dia bisa melihat hal-hal aneh itu? Dan kedua, apakah mereka? Kenapakah ada benang dan rantai dimana-mana?

Tanpa sadar Sanctus sudah berdiri lagi di depan hutan kecil itu.

Ah, ya, pikir Sanctus teringat lagi. Bukankah semenjak dia ke hutan itu, melihat makhluk aneh di matahari, dia menjadi melihat hal-hal aneh?

Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak.

Kaki Sanctus baru saja mau melangkah masuk, saat ia merasakan ada sebuah tangan memegang pundaknya. Sanctus membalikan mukanya. Dia melihat seorang anak perempuan, lebih dewasa darinya, memakai baju seragam SMP. Kulitnya coklat, rambutnya panjang sebahu, dan Sanctus tidak mengenalnya.

Sanctus tidak melihat ada rantai atau benang yang melilit tubuh anak perempuan itu, dia ingin tahu kenapa.

“Kamu ingin masuk ke hutan itu?” tanya anak perempuan itu padanya.

Sanctus mengangguk.

“Apa kakak juga ingin masuk bersamaku?” tanya Sanctus.

Anak perempuan itu menggeleng.

“Aku tidak perlu masuk, kamu tidak perlu kembali. Kenapa kamu ingin kembali?” tanya anak perempuan itu lagi, sekarang berjongkok di depan Sanctus agar bisa bicara lebih nyaman.

“Tiga hari yang lalu aku masuk ke hutan ini, didalam sana ada pilar cahaya yang membawaku melayang bertemu matahari. Kakak percaya padaku?” tanya Sanctus.

Tidak Sanctus sangka, kakak itu tersenyum.

“Tentu saja aku percaya. Apa yang kamu lihat disana?” tanya anak perempuan itu.

“Matahari seperti mata. Apakah disana ada makhluk? Apakah memang matahari memang artinya Mata Hari? Apakah Mata itu sebuah penjara?” tanya Sanctus.

Anak perempuan itu tampak terkejut, tapi dia lalu tersenyum.

“Sanctus, apa yang kamu lihat dengan matamu?” tanya lawan bicaranya.

“Benang dan Rantai. Mereka semua ada dimana-mana. Apakah kakak juga bisa melihatnya?” tanya Sanctus.

Tidak disangka Sanctus, dia mengangguk.

“Kakak juga bisa melihatnya? Kakak tahu mereka apa?”

“Tentu saja Sanctus, dan kamu pun harus tahu, agar kamu tidak pernah lupa, bahwa benang dan rantai itu ada karena apa.”

Dia lalu menggenggam tangan Sanctus.

Anak kecil itu sekarang merasakan sensasi yang serupa, sensasi yang ia rasakan sewaktu berdiri di bawah pilar cahaya.

Tapi kali ini berbeda. Sanctus merasa… terbang.

Ya, dia merasa… ada dalam segalanya.

Dia merasa impiannya terkabul, dia merasa bisa melihat alam semesta.

Sanctus merasa tubuhnya tak ada lagi. Dia seperti sebuah jiwa yang melayang-layang, bisa berlari tanpa batas, melewati batas jarak, ruang, dan waktu. Sanctus merasa dirinya sudah tidak ada lagi, melebur dengan alam semesta, merasa bahwa dia ada dalam segalanya, dan segalanya ada dalam dia.

Lalu di mata Sanctus, ada bumi. Seluruh bumi.

Dia melihat bahwa ada banyak sekali manusia di bumi. Mungkin ada enam milyar, seperti yang ia ingat. Sanctus ingin mengetahui perasaan enam milyar manusia itu, dia lalu terbang ke seluruh penjuru arah.

Tapi Sanctus kaget.

Ada enam milyar manusia, dan nyaris semuanya tidak seperti manusia. Mereka berjalan, hidup, dalam kepompong benang yang mereka hasilkan dari hati mereka sendiri. Bahkan pada saat kekasih bergandengan, mereka masih terlihat seperti kepompong. Hanya tangan mereka yang bebas dari benang, sementara yang lainnya, tertutup dengan sangat rapat.

Lalu masih banyak lagi yang Sanctus lihat.

Sanctus melihat manusia satu persatu. Banyak orang yang saling berciuman dengan orang yang mereka cintai. Tapi hanya bibir mereka yang terlihat, sisanya tertutup rapat.

Atau ada sekelompok orang, mereka semua tertawa bersama-sama, menghabiskan waktu bersama-sama, tapi mereka tertawa tanpa melihat wajah satu sama lain. Karena semuanya seperti kepompong, tertutup benang.

Lalu rantai itu, rantai itu hal yang mengerikan, menurut Sanctus.

Dia melihat rantai-rantai itu ada di… seluruh alam semesta. Ya, tumbuhan, hewan, dan benda mati, semuanya tak sengaja terikat, karena ada manusia yang melewati mereka, dan manusia itu terlilit oleh rantai-rantai itu.

Menurut Sanctus, rantai itu begitu sesak, begitu mencekik. Bagaimanakah manusia bisa bernapas saat kepala mereka, tubuh mereka, tangan mereka, semuanya terikat rantai, berjalan ke arah rantai itu menuju, dan mereka juga tertutup oleh kepompong?

Rantai itu apa? Pikirnya.

Kenapa ada orang yang mau jatuh ke jurang hanya karena mengikuti arah rantai itu?

Kenapa ada orang yang membunuh dirinya sendiri karena diarahkan rantai itu?

Rantai itu… apa…?

Sanctus merasa dirinya semakin membesar, membesar, dan membesar, lebih besar dari alam semesta, dan sekarang ia bisa memegang bumi di telapak tangannya. Sanctus memperhatikan bumi yang indah itu, matanya tidak salah. Bumi pun terikat rantai, walau mungkin ia tidak mau.

Rantai-rantai itu hanya mengikat manusia, tapi mereka lalu menyeret dan mengikat hal lain bersama-sama selama mereka hidup.

Jika rantai itu mengarahkan mereka untuk mati, mereka akan mengikutinya. Jika Rantai itu mengarahkan mereka untuk membunuh anak mereka, mereka akan mengikutinya. Seakan… rantai itu…

“Memiliki pikiran sendiri.” Terdengar suara menyadarkan Sanctus.

Sanctus membuka matanya, dia berdiri di depan hutan kecil, masih menggenggam tangannya dengan anak perempuan itu.

“Rantai itu, bisa berpikir sendiri?” tanya Sanctus, melepaskan genggamannya. Dia sekarang dipenuhi berbagai pertanyaan yang ingin dijawab. Pertanyaan yang tidak mungkin dipikirkan oleh anak 7 tahun maupun manusia yang sudah berumur 70 tahun.

“Apakah rantai-rantai itu hal jahat? Apakah rantai itu ada untuk membunuh manusia? Apakah rantai itu ada untuk menipu manusia? Kenapa ada manusia yang mau ditarik rantai itu, walau tampaknya begitu sakit?” tanya Sanctus tanpa henti.

“Karena rantai itu tidak jahat, tidak juga baik. Dia hanya ada bagi yang menginginkannya, sama seperti benang itu.” Jawabnya.

“Apa maksud kakak? Rantai itu… rantai itu… bukankah rantai itu… jahat? Bukankah rantai-rantai itu membunuh manusia? Kenapa manusia ingin mati?” tanya Sanctus.

“Karena ada manusia yang ingin mati. Rantai itu hanya menuntun mereka, karena mereka percaya, mereka lahir untuk mati.” Jawab anak perempuan itu lagi, tersenyum dengan sedikit ironi.

Kalimat terakhir itu membuat Sanctus ingin menangis. Dia masih kecil. Dia tahu hidupnya akan panjang. Dia… dia tidak lahir untuk mati. Dia tidak mau percaya bahwa diapun, mungkin sedang ditarik oleh rantai-rantai itu.

Tapi tangan gadis itu mengelus kepala Sanctus.

“Jangan khawatir Sanctus. Kita berbeda, kita tidak sama dengan yang lain. Kamu lihat kan? Kamu tidak memiliki benang maupun rantai itu.” Katanya lagi.

Sanctus mengamati tubuhnya dan tubuh kakak di hadapannya itu. Ya, mungkin dia menginjak rantai yang menyeret orang lain. Tapi tubuhnya… tubuhnya tidak terlilit satupun benang dan rantai bermulut itu.

Tapi kenapa? Kenapa Sanctus berbeda? Kenapa yang lainnya tidak sama dengannya? Apa yang membuat Sanctus berbeda?

“Aku dan kamu sama Sanctus. Kita berdua sama-sama percaya, bahwa kita lahir untuk hidup, dan kita tidak membutuhkan rantai untuk mencekik kita, kita tidak butuh rantai untuk menuntun kematian kita. Bukankah kamu berpikir begitu? Bukankah kamu merasa hidupmu adalah milikmu?” anak perempuan itu mengelus kepala Sanctus, menenangkannya.

Sanctus memikirkan pertanyaan itu dalam-dalam.

Benarkah? Sanctus tidak pernah berpikir hal-hal berat. Dia menikmati dunia ini apa adanya, dia menikmati apa yang ia pikirkan, apa yang ia cicip, apa yang ia rasakan. Mungkin karena Sanctus menikmati hidup ini, itu sebabnya dia tidak terikat rantai itu?

“Ya Sanctus, itulah yang membuat kamu berbeda. Kamu tidak merasa kamu dikekang. Kamu merasa kamu bebas, hidupmu terbatas, tapi kamu tidak memikirkan bahwa kamu lahir untuk mati. Itulah sebabnya kamu tidak tercekik oleh rantai itu. “ anak perempuan itu tersenyum, menyejukkan hati Sanctus.

Tiba-tiba Sanctus baru saja menyadari. Kata-kata ambigu kakak itu, seolah… dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak mau. Dia masih belum tahu rantai itu apa, dan kakak itu tampak tak mau menjawabnya.

Tapi Sanctus pernah mendengar kata itu… kata yang membuat manusia merasa terikat dengan satu kepastian… kata yang membuat seolah segala hal didunia ini diatur oleh rantai itu…

Tapi Sanctus tidak tahu kata-kata itu. Kata-kata itu terlalu sulit untuk ia ingat.

“Aku senang kamu sepertiku, kita berdua tidak diikat rantai atau benang apapun.” Kata kakak itu lagi, tersenyum, seolah bersyukur bahwa Sanctus eksis di dunia ini.

Tapi bagaimana dengan benang itu? Kenapakah begitu banyak manusia yang membungkus dirinya dalam kepompong, dalam benang yang mereka hasilkan sendiri? Kenapa manusia menutup dirinya kepada orang lain?

“Benang itu diciptakan bukan untuk menutupi diri dengan kepompong, Sanctus.” jawabnya.

Tapi Sanctus tidak percaya. Dia sudah melihat enam milyar manusia. Sebagian besarnya menggunakan benang untuk menutupi diri mereka. Mereka semua melihat manusia lain dalam kepompong itu. Semakin dekat manusia lain ke jarak mereka, mereka akan menciptakan kepompong, seolah mereka harus melindungi diri sendiri.

Gadis itu tersenyum sedih.

“Benang itu sebenarnya bukan untuk dililit pada diri sendiri. Benang itu ada… untuk dihubungkan dengan orang lain.” Katanya lagi.

Sanctus tidak mengerti, untuk apa melilitkan benang itu pada orang lain? Mencekik mereka?

“Benang itu ada agar manusia bisa saling mempercayai orang lain. Jika kau terbuka untuk orang lain, kau melilitkan benang itu padanya. Tapi mungkin kau terlalu banyak melihat manusia melilitkan benang itu pada diri mereka sendiri, mereka terlalu takut melilitkan benang itu kepada orang lain. Aku juga tak mengerti.”

Sanctus mencoba mengerti kata-kata itu, lalu dia bertanya lagi.

“Apa mereka… tidak… kesepian?” tanya Sanctus.

“Mungkin ya, mungkin tidak. Karena mereka memutuskan untuk menutup diri, tidak mau berhubungan atau membuka diri mereka sendiri pada orang lain. Kamu tahu? Beberapa orang bahagia karenanya. Bahagia yang palsu dari sudut pandang kita, tapi bahagia yang nyata untuk mereka.” Jawabnya.

Sanctus tiba-tiba teringat pada mamanya, papanya, dan kakaknya.

Sanctus juga melihat mereka, diantara 6 milyar manusia itu. Mereka juga terbungkus oleh kepompong benang itu, tidak mau membuka diri mereka, tidak mau menjalin hubungan dengan orang lain.

Mereka bahkan tidak mau dikenal oleh Sanctus. Tapi kenapa…?

“Kakak, apakah orang-orang di dunia ini… kesepian? Kenapakah mereka tidak mau membuka diri pada orang lain? Begitu sulitkah orang lain mempercayai orang lain? Begitu sulitkah untuk memperlihatkan diri sendiri apa adanya? Apakah orang dewasa selalu berpikir negatif akan dirinya sendiri?” tanya Sanctus tanpa henti.

“Mungkin orang-orang di dunia ini terlalu kesepian. Mereka lupa mereka bagian dari dunia ini. Mungkin mereka lupa bahwa orang lain juga kesepian.” Katanya.

Sanctus meresapi kata itu dalam-dalam di benaknya. Orang-orang kesepian, mungkin lupa bahwa orang lain pun kesepian? Tapi jika demikian, siapa yang dapat keluar dari lingkaran kesepian itu? Jika semua orang kesepian… siapa yang dapat mulai berpikir bahwa sebenarnya, ada orang lain di luar sana?

“Mungkin kamu yang bisa memulai, Sanctus.” Kata kakak itu.

“Aku?” Sanctus bertanya, apa yang bisa ia lakukan? Bagaimana mungkin ia bisa merubah dunia? Bukankah dia tidak signifikan? Bagaimana dia bisa mengubah orang lain saat mungkin dunia, dan orang lain bahkan tidak tahu dia siapa.

“Suatu saat kamu akan signifikan, Sanctus. Suatu saat kamu akan menjadi berarti.”

Gadis itu mengenggam tangan Sanctus, sekali lagi. Tanpa Sanctus sadari, ada benang yang tiba-tiba keluar dari hatinya, perlahan-lahan merambat di antara kedua jemarinya, dan akhirnya saling melilit di antara tangan mereka berdua.

Benang itu hilang tak lama kemudian, seakan tak pernah ada disana. Tapi Sanctus tak mengerti artinya.

Kenapa…?

“Itu berarti kita berdua sekarang teman. Kita tidak perlu sebuah benang, atau sebuah pembatas bahwa kita teman. Kamu mengerti maksudku Sanctus? Kita berdua, kamu dan aku, kita sudah saling terbuka tanpa kita sadari, dan kita tidak butuh mengingat bahwa kita pernah tidak saling mengenal, kita tidak perlu mengingat bahwa kita dulunya orang asing.” Katanya lagi.

Sanctus mengangguk. Dia tersenyum, mengerti apa maksud kata kakak itu.

Sanctus lalu berpikir untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan. Dia ingin melilitkan benang ini pada mamanya, papanya, dan kakaknya. Dan mungkin, suatu saat nanti, pada teman-temannya yang lain.

Suatu saat nanti, Sanctus akan menjalin hubungan dengan orang-orang lebih banyak lagi, dan dia berharap, walau mungkin dia tidak signifikan, walau mungkin dia akan dilupakan orang, setidaknya dia berhasil membuat orang-orang itu teringat, bahwa mereka tidak sendirian di dunia ini.

Sanctus ingin mengingatkan apa yang manusia lupa, bahwa hanya butuh keberanian untuk melihat bahwa orang lain juga kesepian, sehingga kita tidak perlu merasa kesepian dan menutup diri dari orang lain.

“Kakak, aku boleh bertanya lagi?” tanya Sanctus.

“Ya, tentu saja.”

“Namamu siapa?” tanya Sanctus.

Gadis itu tersenyum lagi.

“Namaku tidak bisa diketahui sembarang orang, tapi hanya pada kamu akan kuberitahukan. Ini rahasia kita berdua, oke?” tanyanya dengan penuh nada rahasia. Dia lalu membisiki kuping Sanctus.

Sanctus tersenyum, dia mendengar nama anak perempuan itu.

“Kamu bisa panggil aku אשר ” jawab anak itu.

אשר? Nama yang unik sekali kak.” Jawab Sanctus.

Nama yang indah sekali, penuh misteri, karena artinya bisa dibaca sebagai, sebuah adalah, sebuah setan, dan sebuah angka sepuluh. Namun orang-orang tidak akan tahu, karena mengetahui nama anak itu, sama dengan mengetahui rahasia terbesar alam semesta.

Sanctus sama seperti anak perempuan itu. Mereka berdua berbeda dengan orang lain. Rantai itu tidak akan mencekik mereka, dan benang itu tidak akan menutup diri mereka.

Aku berharap, kamu akan sama seperti Sanctus. Aku berharap kamu juga percaya bahwa kita lahir untuk hidup, dan memiliki keberanian bahwa semua orang kesepian, karena terlalu lama mengira mereka sendiri.

Benang di hatimu.

Benang itu ada bukan untuk membuat kepompong.

Kau tahu bagaimana cara memintal benang itu.

Kau tahu. Aku tahu.

Bandung, 24 Mei 2008

Popularity: 29% [?]

Tags:

Related posts

11 Responses to “[Cerpen] Dunia Menurut Sanctus”

  1. michaeljubelMay 24th, 2008 at 6:00 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows Vista

    wow. sebenernya ada hal lain yang terpikir setelah baca cerita pendek lu ini.

    pertama lu memberikan nama “Sanctus” pada tokoh utamanya.. Latin word for “saint”? hehe.. dan elu memberi nama [EDITED for spoiler] untuk nama perempuannya.. bener kan? elu bener2 tau banyak ya.. ckckck..

    Christianity and Catholicisms (masih) sangat mempengaruhimu ya, vin.. hehe..

    tapi bagus lho ceritanya.. jd penasaran ama novelmu.. bisa lebih gila lg kali ya.. mana ada YHWH segala kan? hahaha..

  2. michaeljubelMay 24th, 2008 at 6:15 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows Vista

    btw jd kepikiran.. pas perempuannya ditanyain siapa namanya, kenapa responnya gak sekalian aja [Edited for spoiler] hehehe..

    dan boleh kasi penjelasan kenapa engkau mewujudkan sosok “itu” dalam bentuk sebuah perempuan? dan gw baca dikit postingan elu tentang novel jukstaposisi mu.. dan nampaknya sosok “itu” juga digambarkan sebagai perempuan.. ada apa dengan perempuan? emang sih sosok “itu” gak pernah dijelaskan apakah “dia” laki-laki atau perempuan. tapi boleh tau gak knp elu milih perempuan?

  3. Calvin Michel SidjajaMay 24th, 2008 at 6:29 pm

    Using Opera Opera 9.25 on Windows Windows XP

    whoops bel, spoiler berat tuh! ntar gw edit ya komen loe kalau terlalu spoiler :D. gw seneng banget loh loe tahu simbolisme2 karakter dalam cerpen ini. Yap, karakter perempuan tadi adalah [Edited]. Loe orang pertama yang tahu hal ini, hahaha! salut. :))

    Berhubung gw uda punya universe sendiri, terkadang gw menulis cerpen yang berhubungan dengan novel gw, supaya memberikan gambaran dunia dalam novel gw kaya apa. Bisa menjadi cerita lepas, bisa juga menjadi cerita yang non-canonical. Di novel gw YHVH hanya muncul sepintas.

    Gw selalu pakai tuhan sebagai sosok perempuan karena menurut sejarah, tuhan pencipta itu adalah sosok feminin. Gw lupa bagaimana ceritanya, tapi setelah abraham, semua sosok tuhan menjadi maskulin. Intinya, hal2 yang disekitar kita mungkin perlu kita kaji lagi, karena apa yang kita terima, mungkin sebetulnya sangat berbeda dengan apa yang “seharusnya”.

    Thanks udah baca bel

  4. Hm…
    Inspirasi buat novel kedua?

    Itu bahasa apa yak?

  5. michaeljubelMay 25th, 2008 at 8:05 am

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.7 on Windows Windows Vista

    yah, vin.. masa gua ampe gatau.. hehe.. rasa ingin tahu gua terhadap sejarah agama tuh cukup besar.. yah, walaupun pengetahuan yang gua miliki masih sangat dangkal..

    tapi gua agak kurang ngerti ama huruf-huruf Hebrew itu sih.. sempet liat2 literatur dan angka sepuluh itu bahasa Hebrewnya ialah “essar” dan “assara”.. dan “אשר” itu artinya “adalah”.. tapi ternyata yang lu maksud ialah [Edited for spoiler].. itu kenapa bisa gitu ya? ada suatu aturan di tatabahasa Hebrew yang menjadikannya demikian?

    dan tentang matahari di tengah hutan.. itu apa?

    oh iya.. elu udah nonton/baca The Chronicles of Narnia? Setelah gua melihat sosok Aslan yang agak seperti tuhan dan gua menyimpulkan itu semua ialah konsep ketuhanan versi novel, ehh tau2nya The Chronicles of Narnia emang doktrin Kristianitas yang diturunkan dalam bentuk novel. hahahaha.. dugaan gua benar. son of God dalam bentuk singa? menarik. hehe..

  6. Calvin Michel SidjajaMay 25th, 2008 at 9:11 am

    Using Opera Opera 9.25 on Windows Windows XP

    @ivan
    yup, ini buat novel kedua. ini cerita dari fragmen novel2 enshao anadi. :)

    @jubel
    whoops yang itu gw jelasin ntar yah. mungkin kapan2 kalau mau posting mengenai hebrew. untuk sementara jadikan misteri dulu, hehehe. :D

    matahari di tengah hutan? itu berhubungan dengan novel kedua juga, ada cerita lain yang gw masukin fragmennya disini

    narnia gw blom nonton/baca… pengen sih, tapi ya itu dia, 7 buku, malas ahhh :))

    btw gw edit komen loe yah, untuk sementara aja, biar orang lain ga kespoiler, ntar kalau ada yang berhasil nebak lagi gw buka sensornya, hahahah :))

  7. hapsariMay 29th, 2008 at 4:37 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP

    “Bukankah kamu merasa hidupmu adalah milikmu?”

    Kadang ngerasa hidup ini milik bersama, karena itu nggak bisa seenaknya ngambil uang tabungan terus backpacker-an :(

    ps. jadi tak sabar menunggu novel ke-dua-nya. hmm jadi inget postingan gw yang http://hapsarisekaradi.wordpre.....duk-gagal/

    btw, ngasih spoiler kok cuma ke jubel [kenal juga nggak, hahaha]

  8. Calvin Michel SidjajaMay 29th, 2008 at 5:04 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows XP

    ah sar, mungkin ada kalanya terasa seperti itu, tapi selama kita punya mimpi, punya tujuan, jangan pernah membuat rantai itu mengikut loe… bila tidak sekarang, nanti! :D

    makasih udah baca sar!

  9. dina oktavianiMay 30th, 2008 at 12:12 am

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Windows Vista

    calvin adalah salah satu penasihat spiritual saya (temani aku selalu, ya:))
    buat orang kesepian seperti saya, dunia sanctus bukan hanya genius, tapi juga memanjakan lewat cara bertuturnya yang lancar dan jernih. dunia sanctus terasa seolah-olah ditulis untuk saya seorang, seperti setiap karya yang berhasil. saya ingin semua orang membacanya!

  10. whimJune 6th, 2008 at 12:55 am

    Using Opera Opera 9.26 on Windows Windows XP

    tentang novel “juksta posisi” ……,
    kenapa aku bayangin anime jepang ya………??????
    sori kalo telat komen’e soale aku baru baca tadi.
    apa emang inspire dari situ….?????????
    bls…….ya…thx u …….

  11. Calvin Michel SidjajaJune 6th, 2008 at 7:38 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

    @Whim
    begitu? semoga saja itu bukan berarti negatif. Atau mungkin karena di Indonesia, cerita2 berbau2 fantasi identik dengan manga/anime, sehingga terasa aneh saat dijadikan novel?

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>