(Lazy Indonesians could read the Indonesian version below the english one)
![]()
So sometime this week, a good friend of mine posted her complaint about blind proud to your almamater. Basically she complained the presence of the narcisstic Facebook group “I GO TO HI UNPAR THEREFORE I’M BETTER THAN YOU!!”
Well some of you probably aware already that I’m graduated from International Relations from Parahyangan Bandung, I had a lot of experience during my college time there, I also met wonderful people such as Andika, Edna, Sari, Atri, Yoan, Mia, Rean, etc.
I learnt a lot from my friends about multicultural environment, multi-intelligence, trust, friendship etc. I also had experienced being taught by dedicated Docents such as Prof. Alexius Jemadu (who will leave Unpar by next year for good), Mr. Adrianus (the CIA-agent in disguise), Mr. Nur (the coolest philosophy teacher eva’). Studying in Unpar was not only studying for international relations, I got much than just social science.
I learned how to socialize, know my weaknesses and my strengths, the threat and opportunity, how you deal with people, and probably endless experience managing events such as annual seminar in KSMPMI (the IR club)
Well Unpar is nowhere perfect, I have complained endlessly about how my campus still using the prehistoric technology to announce our GPA: by ordering us to go to Bandung by start of semester, yes, Unpar does not use technology called email! They think it’s too advanced for us, so they just won’t email us to report our GPA, or we are complied to come only to queue and register. Dude, they don’t have online registration technology. Disappointing? Absolutely.
The adminstration in my faculty is probably comparable to government’s bureucracy, it took 5 days and a threat to complain the entire waiting to Kompas to get authorized copy of my graduation certificates.
There are also other unpleasant dramas I couldn’t expose here because it might breach of privacy so I will just stop here.
But despite all of the unpleasant experience, I’m proud of my almamater, it’s my identity, it’s better to love than never love at all.
So here, I’m wondering whether it’s proper if alumni came to hate their almamater one-sidedly. In my opinion, our feeling to our almamater is just like how I feel to Indonesia. I love the people, I love the culture, I love everything in it but the government.
What made such rant dangerous is that it might influence the fresh students to not respecting their almamater, their identity even from start, because reading the complaint of this alumni. Well I hope it’s not happening.
I think it’s okay if you hate the institution, but would have been better if you being proud, being part of identity. There are times you proud being part of community because you know the wonderful people inside them, not because the institution itself. I’m proud sharing identity as Unpar alumni to my wonderful friends who will become someone in future.
The facebook group is just for fun anyway! I actually joined because it’s part my identity, I don’t really look down to other people or having blind proud to my almamater, it’s not really a problem anyway, people will just think we are some narcisstic students and I don’t think it will cause serious implication, unless someone brag over it naturally.
But again, if the related complaint post might cause uproar and make fresh students hate their own almamater, I guess I should congratulate because it has achieved its purpose: Hate the idea, don’t feel proud to your almamater, because it’s not worth your $h!t.
============
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman memposting komplain tentang kebanggaan buta pada HI Unpar karena adanya sebuah grup Facebook “I GO TO HI UNPAR THEREFORE I’M BETTER THAN YOU!!”
Teman-teman mungkin tahu bahwa saya lulusan jurusan Hubungan Internasional dari Univesitas Katolik Parahyangan, Bandung. Saya mengalami banyak pengalaman disana, saya bertemu dengan orang-orang hebat seperti Andika, Edna, Sari, Atri, Yoan, Mia, Rean, etc.
Dari teman-teman saya, saya belajar banyak tentang lingkungan multicultural, multi intelegensia, rasa percaya, pertemanan, etc.
Saya juga bertemu dengan pengajar-pengajar yang sangat hebat seperti Prof. Aleksius Jemadu (yang akan keluar dari Unpar), Mas Adrianus (yang katanya agen CIA), atau mas Nur (dosen pengajar filsafat terbaik dan terjayus yang pernah ada).
Belajar di Unpar bukan hanya belajar soal ilmu sosial atau hubungan Internasional. Saya mendapatkan lebih dari itu.
Saya belajar tentang memahami kelemahan dan kelebihan, melihat ancaman dan peluang, bagaimana berhubungan dengan orang lain, atau pengalaman menjadi bagian dari acara-acara tahunan HI Unpar seperti seminar tahunan KSMPMI, atau mengikuti Prakdip.
Unpar jauh dari sempurna, saya telah mengeluh mendekati tak terhingga bagaimana kampus ini masih menggunakan teknologi purba untuk mengumukan IPK: menyuruh kami ke Bandung pada awal semester, ya, Unpar tidak tahu teknologi bernama Email! Mereka rasa email terlalu canggih untuk kita, jadi kita tidak akan dikirim email untuk menginformasikan GPA kita, atau kita harus selalu datang untuk mengantri untuk registrasi. Mereka tidak punya teknologi registrasi secara online. Mengecewakan? Jelas.
Tata Usaha di fakultas kami mungkin bisa dibandingkan dengan milik pemerintah, butuh lima hari dan sebuah ancaman untuk komplain pada kompas untuk mendapatkan fotokopi legalisir dari ijazah kelulusan saya.
Ada juga drama-drama tidak menyenangkan yang tidak bisa saya tuliskan disini karena mungkin sensitif dan melanggar privasi, jadi lebih saya berhenti disini.
Tapi terlepas dari pengalaman tidak enak selama studi di Bandung, saya bangga pada almamater saya, itu identitas saya, lebih baik mencintai daripada tidak sama sekali, tapi pendapat orang lain boleh berbeda, tak masalah.
Saya mempertanyakan apakah pantas bagi alumni untuk membenci almamater mereka secara (terlalu) sepihak. Saya berpendapat bahwa perasaan kepada almamater sama seperti perasaan pada Indonesia. Saya menyukai orang-orang disini, saya menyukai budayanya, saya menyukai segalanya kecuali pemerintahnya.
Yang membuat komplain sepihak tadi berbahaya adalah kemungkinan bahwa tulisan tersebut bisa mempengaruhi murid-murid baru untuk tidak hormat pada almamater dari mereka masuk, karena telah membaca keluhan dari alumni. Yah, saya harap itu tidak terjadi.
Menurut saya, tidak apa-apa membenci institusi yang bersangkutan, tapi akan lebih baik jika merasa bangga sebagai bagian dari identitas. Ada waktu dimana kita bangga menjadi bagian dari sebuah identitas karena kita tahu orang-orang hebat yang berada disana, bukan karena institusi itu sendiri. Saya bangga menjadi bagian dari identitas dari alumni Unpar bersama teman-teman saya yang akan menjadi seseorang di masa mendatang.
Dan group facebook itu benar-benar hanya untuk lucu-lucuan. Saya bergabung karena itu bagian dari identitas saya, saya tidak akan benar-benar melihat orang lain lebih rendah karena saya lulusan HI Unpar, atau memiliki kebanggaan buta pada almamater. Itu bukan masalah, orang-orang paling melihat kita sebagai orang-orang narsis kurang kerjaan, tidak akan mengakibatkan masalah serius, kecuali dibesar-besarkan tentunya.
Tapi sekali lagi, jika tujuan dari komplain tersebut mengakibatkan efek anak-anak baru membenci atau tidak ada kebanggaan sama sekali pada unpar, saya harus menyelemati karena postingan tersebut sudah mencapai tujuannya: Jangan setujui ide tersebut, Jangan merasa (terlalu) bangga pada almamater, karena it’s not worth your $h!t.

Wait for mine….hwaha!!
Anyway..when I read that post, Vin, I can only sense a feel of HATRED in it.. Well, let me put my minds together and I’ll post mine..
hahahhaa
definately agree with u, vin!
bangga sebagai identitas, bukan institusi…
yippie!
great article,calvin! xD
so, ada yg bisa kasih SOLUSI ?
ya, solusi. titik.
terima kasih,
solusi yaa…
gue rasa solusi yg bisa kita lakukan adalah solusi sbg mahasiswa. dan solusi2 itu uda kita lakukan kok. kyk ya sama2 memperjuangkan mas alex, ningkatin kualitas personal kita sbg mahasiswa HI bnran, bukan HI ecek2 (yg bahkan ga punya matakuliah NGO di dlm kurikulumnya), n even tebar pesona kemana2 untuk menunjukkan identitas ’saya anak HI Unpar’.
klo berdasarkan blog yg dmaksud calvin itu ya, solusinya hanya bisa dilakukan sm kalangan petinggi2 di unpar. krn itu sngat institusional skali. soal administrasi n birokrasi di unpar apalagi. kita (mahasiswa) uda kasi uang +/- 5-6juta per semester nya ke unpar. masa’ dr situ aja ga bikin networking nilai+jadwal kuliah yg gampang diakses mahasiswa.
nway, kmrn gue yman dgn salah seorang alumni HI ‘81 yg juga aktif di IKA Unpar. salah satu solusi untuk ketidaknyamanan kita adalah dgn berbicara kepada IKA Unpar. krn merekalah yg punya akses langsung yg juga punya wewenang untuk langsung mengkritik kpd institusi (baca: yayasan). atleast, orang2 dari IKA itu power mrk sndr lah yang tidak hanya dipandang sebelah mata oleh institusi. gituu…
cukup puas sodari Debol?
solusi dari gw… benci boleh, tapi jangan ga ada cinta sama sekali. Toh semua hal punya dua sisi, misalnya orang buang angin, perutnya jadi seger, tapi orang lain jadi korban.
nice article Vin,pleasant as always
Solusi dari gw,terlepas dari langkah2 teknis yang pastinya bakal banyak yang nulis dan (semoga bener2) dikerjakan yaaa,,disyukuri aja lah yaa kita udah bisa kuliah+ bonusnya dapat gelar sarjana, Hehe..
Kalau menurut gw susah juga kan yaa kalau mau memajukan almamater tapi dimulai dengan tidak menyukai almamater sendiri yang berdampak (baik membangun atau malah merusak) pemikiran orang lain terutama mahasiswa baru.hehe. Intinya sih,buat orang2 yang ngeliat HI Unpar sekarang jauh dari versi terbaik dan jadi kecewa, yaa mungkin bisa diinget, bukannya ga ada usaha di balik semua itu. Pasti usaha ada buat bikin HI Unpar lebih baik, tapi mungkin aja masih kurang atau kurang lama..Meminjam istilah calvin,buang angin,perut seger tapi orang lain jadi korban,nah mungkin disini korbannya ya orang2 yang sedang berusaha tadi. Lagi lieur2nya kerja kok malah dapat bau. Berasa ga dihargain dong kerja kerasnya..
Yeah I believe one day students will come here to be personally challenged and engaged. They will come for the great college experience, they will come because Unpar will offer a high quality academic program with a great deal of personal attention at an affordable price..
Till that day, just be positive
edna, plok plok plok ~tepuk tangan maksudnya,hehehehe. xD
calvin, lucu bgt itu ttg si “kentut”, hihihihihi.
selamat berdiskusi semuanya,
yihaaa!
Calvin, Thanks for your opinion. Aku lebih senang memberi komentar disini, diskusinya lebih konstruktif. Sepakat dengan teman-teman bahwa banyak yang harus dibenahi dari (HI) Unpar, dan setiap input yang masuk akan sangat dihargai. Bagaimanapun komentar dari teman-teman baik maupun buruk, HI Unpar tetap mempunyai komitmen untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi mahasiswa-mahasiswanya. All the best Guys…
first of all, thanks to mas andre, yg menginformasikan adanya tulisan ttg hi unpar…
apa ya? komen gw sih simple aja, klo lo benci, ngapain lo kuliah di sini? and well, apakah selama lo kuliah, gada satupun hal baik yg bisa lo temuin dr hi unpar? yaaa, klo gada, berarti lo anomali atau autis..
nah gw curiga jgn2 autis.. *peace ahhhh*
wow, sampe ke telinga mas andre? kayanya gw bisa nebak gosip apa yang lagi merebak di seputar dosen dan mahasiswa. tapi gpp la
yeah i do like ur blogs better. it seems safer, u know. ga kaya ada aura “awas anjing galak” gitu. gw ud lama ga ke kampus jd agak out of touch gtu. kynya emg si mbak itu marah bgt ya sm HI Unpar. however, if she hated it so much, why did she stay there for the entire course? she could’ve moved out to one of those other uni’s that she spoke so highly abt, & nobody would’ve stopped her. jadi? milk unpar for all it’s worth n then trash it when it’s no longer of any use? hmph. yg jelas, dgn segala kekurangannya, gw enjoy kuliah di unpar. lingkungannya asik, bebas, & santai. emg ga spt binus ato uph yg sangat high-tech, tp lingkungannya lbh relaks. byk pohon, adem, angin sepoi2, nikmat utk tidur di kelas. hahaha… hubungan mahasiswa-dosen jg asik, akrab, bahkan ada yg SANGAT akrab, hohoho. *ya ga ci??* maybe i’m not one to speak cos i don’t really care that much abt unpar’s academic achievements. i did my part as best as i could, n i’ll leave it at that. perkara scr institusi unpar itu busuk, itu ud d luar jangkauan kemampuan gw & really gw ga bisa membuat perubahan apa2 di bidang itu jd ngapain jg gw maki2 doang. altho it does make for a good gossip, yes it does. i made the decision to come to Unpar becos i trusted it to shape me so i can achieve good things in my future, n i don’t & will not ever regret that decision.
kayaknya gw lagi ga lemot..dna tau syapa yg hubungan sangat akrab itu..
for your information, gw kenal istrinya dan anaknya…
hehehehe, jadi udah clear kan..kyk shampoo…*clear*
ampun… dia ngegaring di sini… oh Tuhaaaaaaaan!!!!
cil, garing sekali lagi, dan loe diban :<
This is an excerpt from my comment on Tephy’s blog, which for some reason had not been approved yet. Well, I had a newsflash for them: Life is not a fairytale, get used to it.
I mean, come on! When all that junior do here is expressed their proud towards their alma mater! And all of the sudden, some of them using this opportunity to express their disappointments?
I want to say something to one of them who was dissing some of our lecturers here:
hahaha… thx vin… bener sih disini lebih membangun..
tapi gw bingung sih sama statement yg bilang HI Unpar B emg iya ya? setau gw Unpad.. ga tau deh kalo rubah.. anyways..
Solusi mas bonggas/jurusan:
Himpunan/Ksmpmi/irec/wh kayaknya harus trus menerus di latih apapun itu bentuknya karena nampaknya HI Unpar kuat karena semua dimensi jalan.. ga cuma dosen tapi mahasiswa-nya..tantangan-nya balik lagi ke dosen gimana dosen itu bisa ngebuat mahasiswa jadi suka sama pelajaran-nya mengingat beberapa dosen yang yah..nampak ke kelas ga dapet apa2.. hehe aduh harusnya sih sebut merek cuma pasti bisa menangkap..
Pelajaran2 yg bener2 ikutin perubahan era juga nampaknya bisa menjadi menarik, hm sharing aja sih di Flinders tuh ada beberapa pelajaran yg bikin gw “SHIT!!!” –) artikan dalam denotatif haha.. kaya International Security&Wmd, politic through films, debate of human rights, peace and war (bahas mendalam UN).. mungkin bisa mancing minat anak2..
saling men-copy sih.. prakdip udah di copy sama beberapa UNI, ya kita copy balik dr universitas lain, kaya think-thank yg diusulin Tephy kaya nya juga make sense dan mungkin bisa jadi maksimal kalo diberdayakan..
hahahah mungkin bermanfaat..
@calvin: thx really nice blog!! =p
oh kayanya ada debat soal akreditasi Unpar, bagi yang penasaran silahkan lihat disini:
http://www.unpar.ac.id/print.php?sub=110&PHPWEBMAILSESSID=6704a5f845c1a43f1d017aed75320af7
Hubungan Internasional: 016/BAN-PT/Ak-VII/S1/V/2004 = A (sampai mei 2009)
tapi mata kuliah yang dikatakan Rean emang… sounds delicious.
*tiba-tiba jadi teringat*
Ah sayang kenapa mata kuliah yang disuruh pake metode hapal mati seperti Tepol ama Perpol dulu ga diganti. (sebut nama nih)
Ini kritikan terpedes gw mengenai kualitas pendidikan unpar, mudah2an ada yang bisa ngaca:
Murid-murid sudah tahu (jelas), tapi sebenarnya dosen udah tahu blom ya? Mata kuliah tepol dan perpol sedari dulu kan adalah mata kuliah paling anomali diantara semua mata kuliah HI unpar? gw ulang tulisan gw mengenai teknik dapat A untuk mata pelajaran bersangkutan:
Sumpah, perpol dan tepol, dua mata kuliah yang (sebenarnya) penting jadi “masuk kuping kiri keluar kuping kanan” karena metode pengajaran yang seperti ini. Gw sedari dulu ga habis pikir kenapa sang pengajar ga ngubah gaya mengajarnya. Ujung-ujungnya? ini jadi rahasia umum, semua orang tahu ini salah, tapi ga ada yang mau protes. Ya iyalah, siapa yang meresikokan diri kalau tiba-tiba ujiannya jadi super sulit dan semua orang dapat CDE?
Plus fotokopian jawaban dan soal-soal biasanya dipake buat acara panitia (biasanya Intrex?), buat short term ga masalah. Buat long term? Yah, ga dapat ilmu. Sia-sia deh bayar uang SKS, cuma belajar teknik short term memory buat dapat A dalam 1 jam.
Beberapa mata kuliah MKU layak mendapat gelar “Orde Baru Award” karena proses mengajar yang amat sangat orde baru, jangan bertanya, biar cepat pulang.
Mata kuliah Kewarganegaraan adalah mata kuliah dimana dosennya ngajar tembok. Bla bla bla bla tanpa henti, datar, tak ada gairah, menumpulkan pikiran, tanpa henti ngomong nasionalisme pancasila, lalalalala… Oh Shi-.
Kalau ada anak HI yang kritis biasanya anak2 dari jurusan lain kesel karena mereka sudah mau pulang, tapi beberapa orang yang mau berusaha dapat ilmu pun akhirnya diam, karena dosennya ga bisa ngajar, bisanya ngomong di depan, ga bisa bikin orang mendengarkan.
Yah untungnya ada juga dosen MKU yang emang bagus, misalnya dosen estetika gw, walau awal2nya killer, ternyata beliau orangnya hebat banget dan gw dapat ilmu banyak. Tapi beberapa lagi… gila kok bisa dapat gelar “dosen” ya? Beneran mereka dosen?
Teman gw bahkan punya cerita lucu soal dosen MKU, ada satu dosen Orde Baru yang mengidolakan Orde Ba*u, muja-muja Soehar*o. Ada pesan dari anak-anak yang ngambil mata kuliah ama dia: Jangan pernah kritis, atau loe ga akan dapat A.
Untungnya pengajar yang amat sangat-sangat tidak berkualitas seperti itu jumlahnya sedikit, dan jumlah pengajar yang lebih berdedikasi lebih banyak, tapi buat gw, mereka seperti kanker, untung dosen lain gak ketularan, akan menjadi neraka deh kalau anak HI disuruh diam, mendengarkan, ga boleh nanya.
Itu sebabnya gw sangat menghormati dosen-dosen yang ngajar gw, mereka membuat kelas interaktif, komunikasi dua arah, ga bikin orang kaya diajar ama kaset. Untung MKU bukan jurusan tersendiri, ga bisa kebayang deh stressnya kaya apa.
Cerita yang gw sampaikan bukan bohong, itu gw alami sendiri, dan gw yakin anak-anak lain punya pengalaman yang kurang lebih serupa.
I put some of my thoughts here in response to this post…
http://putraditama.com/?p=256
Btw, Rean, the idea of think-tank is actually a good one. Why don’t we create a KSMPMI-like organization? Or to upgrade KSMPMI into a real think-tank?? Gimana mas Bonggas?
atau ksmpmi bikin mekanisme dimana alumni ksmpmi yang udah jadi s2 pun tetap menjadi member, sehingga bisa berfungsi sebagai organisasi mahasiswa ataupun think tank.
Nah ini dia nih yang saya suka(Ryan, Calvin dan Andika)..wild idea yang konstruktif..
Waktu dulu memimpin KSMPMI, kita pernah buat apa yang namanya ‘Deklarasi Lembang’, dimana salah satu pointnya menyatakan bahwa anggota KSMPMI bersifat seumur hidup. Maksud besar didalam point tersebut adalah menjaga silaturahmi, membentuk network dan membangun ide-ide besar. Nah kalau sekarang mau membangun think tank, why not. Saya juga bergabung di Lead Institute, institusi think tank yang dibuat Bima, alumnus HI Unpar juga. It’s not impossible idea…let’s do it.
Yang lainnya…ini saya akan usulkan kepada Pak Mangadar dan Mas Bob agar PACIS dan PACES (dan mungkin yang berikutnya PASEANS) untuk bisa semakin luas melibatkan mahasiswa dalam project-project penelitiannya.
Kalau kita tahu dunia diluar ‘kejam’ mari kita meningkatkan segala skill dan kapabilitas kita untuk selalu menjadi yang terbaik. Untuk Calvin, We are aware of the issues that you stated and discussed it in our meeting. Thank you for that..
Hi Calvin,
Thank you for informing me about this entry. I’ve read your post here and Tephy’s post at her blog. I must say that the two of you love HI Unpar very much, although you both are showing it in different ways. Nonetheless, I think that the discussion here (and there, and other places if any) is great as an effort to make HI Unpar better and better.
With people like you and Tephy as alumnus, I think HI Unpar can only get better over the time, because you two care about your alma mater:).
@Mas Bonggas:
Salam buat Mas Nyoman sama Mas Nur ya Mas.
Halo Mas, apa kabar?
dear calvin..
like i said b4 in one of ur facebook notes “WHO U ARE NOW ITS BCOZ WAT U WERE IN THE PAST”! masa sih lu ga bisa dapet apa2 dr almamater lu? Bahwa unpar itu akreditasi A B C D ato bahkan Z… I dont give a damn about it!!! I dont care at all. Yang gw liat dgn mata kepala gw sendiri adalah bahwa mahasiswa HI unpar berkualitas dan beragam (of course). Ada yg pinter,ada yg menyebalkan, ada yg rajin, ada yg kerjaannya cm maeen aja, ada yg kupu-kupu, ada yg nerd, ada yg oportunis, ada yg backstabber, ada yg tukang gosip, ada yg tukang party, ada…. semuanya deh. But one thing for sure is tat I’m pround being a part of these department. Ga ada institusi yg perfect, bahkan universitas2x yg T.O.P B.G.T (nationally and internationally speaking) pasti ada cacatnya, ntah tuh birokrasi, korupsi and bla bla…
@calvin: Ttg tepol dan perpol neh, gw inget bgt sang dosen pernah nanya gini: “apakah kalian pengen menggunakan metode lama ato metode baru?” dan semua dengan kompaknya jawab: “METODE LAMAAAA……” Menurut gw, dosen tersebut sadar bahwa metode “pembagian kelompk itu” sudah banyak mendapat kritikan tp itu kan krn kita jg selalu pengen menemukan jalur termudah utk mendapatkan nilai yang baik. We can not fully blame that lecturer! Eventhough I, myself didnt understand those 2 subjects but anyways… Gw ga bermaksud memojokkan dosen tersebut bcoz he is a great guy (best friend of mas nur), stidaknya bukan kyk bu tien yg kerjaannya marah-marahin orang trus (curhat colongan) hehehehehehe…
@bunga mawar: kenapa harus bunga mawar?? funny nickname =P
For all IR lecturers: thanks for making us, not just ur “students” but also ur PARTNERS!! Thanks for the so-called-concept MAS/BANG/MBAK! I think thats one of ur ways to show us tat we are ur partners =P
see how much I love ya? I broke my vow to spread some hippie loving here! haha..
and boy was it worth it! I see my name in this post of yours, yay! *big grin* Thanks Vin =] right back at you!
anyways,, you deserve a standing ovation for putting your thoughts in such an elegant way –> an art I myself find hard to master.
As for other posts on this matter, it’s always refreshing to see someone who doesn’t care about how people think about them –> again, an art I find hard to master.
I have learn so much from all of you, and I plan on learning some more. So, Happy Blogging! ^^
PS. I thank you for giving some time to write on this matter. You have your very own writing style and I admire you for that. Good luck with the second novel yaa!
…untung gw belum kuliah
*ga ngerti postingan*
nah al, sekarang bisa ditanya lebih jauh lagi… kenapa dari awal yang bersangkutan ngajarnya dengan metode itu? kenapa ga ngajar dengan metode biasa? tanya kenapa… yah manusia kalau udah dapat yang gampang dapat A mau gimana lagi. terus kalau ada satu orang yang bilang mau metode baru, kira2 itu orang bakal dikucilin atau dipanggil teacher’s pet ngga?
yang sudah terjadi yah terjadi, toh gw udah lulus (ngehindar)
well, gw setuju kalau semuanya punya dua sisi mata uang… well, berarti kita juga tidak boleh melihat kalau mereka yang menulis di blog tephy adalah “penghianat” bukankah itu juga sudah merupakan keberpihakan ke satu arah?? mungkin mereka merupakan sebagian orang yang telah memiliki pengalaman dengan hal tersebut.. buat yang belum mungkin mereka akan santai-santai aja… gak segitunya.. atau ada yang hanya berkomentar dibelakang then apa bedanya.. menurut gw kebebasan untuk mengungkapkan kebebasan adalah sangat penting dan patut dihargai..
well, mengingat efek pada adik kelas, well, menurut gw adik kelas itu juga tidak akan menelan mentah-mentah mengenai pernyataan dari blog tephy justru mereka akan melihat apakah benar atau tidak then kalau benar mereka harusnya menjadi agent of chance berikutnya… dan blog-blog seperti ini sangat bagus.. thanks calvin!! karena ini membuka kesempatan orang untuk berpikir dan menghargai pendapat orang lain..
gw percaya Dialog adalah sebuah wadah untuk membangun UNPAR ke arah yang lebih baik.. dan melalui fakta-fakta yang ada diharapkan ditemukan sebuah solusi yang diselipkan melalui pembicaraan yang ada..
Jia You UNPAR!!! Jia You HI UNPAR!!!
Ya..setuju sekali dengan point teman-teman yang menyatakan semua masukan itu pada dasarnya berasal dari motivasi kecintaan dan semangat perbaikan. Oleh karena itu kenapa saya rajin juga mengikuti blog teman-teman dan memberi komentar juga. Bahwa ’semakin di atas maka akan semakin banyak angin yang menerpa’ itu adalah idiom klasik yang menunjukkan posisi HI Unpar sekarang. We are eagerly waiting for your next comments wherever you want to deliver it.
@Arya, kabar baik..salam nanti disampaikan..apa kabar Singapur?
@Alicia: sepakat sekali dengan Alicia..salah satu motivasi program-program ‘keluar” adalah untuk menyadarkan kita/dosen HI dan mahasiswa kita untuk tidak cepat puas. Jangan cuma puas jadi ‘jago kandang’. Jangan cuma puas hanya dengan mendapatkan akreditasi A. Terus memperbaiki kualitas diri dan memberikan yang terbaik kepada student
@ Santi…apa kabar? teman-teman juga mungkin perlu tahu bahwa Santhi sekarang ada di Jerman untuk beberapa bulan karena adanya program kerjasama antara HI Unpar dengan Giessen. You may share your experience, Santi…
OK Guys..HI Unpar sangat bangga mempunyai mahasiswa2 dan alumni2 yang bangga dan peduli dengan almamaternya. So C U all at the Top…
ternyata disini kondisinya lebih kondusif buat ngomong. wekekeke.
maklum, biasanya begitu orang beranjak dewasa dan melihat kerasnya dunia serta menimba pengalaman, maka mereka akan mulai terbagi menjadi dua.
ada yang sadar bahwa pengalaman yang mereka miliki belum cukup, sehingga mereka lalu terus berusaha menambah pengalaman dan kemampuan. mereka inilah yang merasa mereka tidak pantas mengkritik orang dan hanya memberi saran.
tapi ada juga yang merasa mereka telah memiliki pengalaman (sekalipun minim), sehingga merasa mereka lebih hebat dari orang lain. mereka inilah yang hanya bisa memberi kritik dan lupa memberi saran dan masukan.
begitu sih cara pandang gw terhadap orang yang lebih tua. karena usia sekali lagi tidak pernah menentukan kedewasaan seseorang.
@Cecil: arghhhhh!!!
@Utami: tabah. wekekeke.
@Calvin: perihal Tepol dan Perpol, kita bukannya pernah coba bayangin dia ngajarnya kayak dosen2 lain? dan kita sendiri yang merasa ngeri… wakakaka.
dan dia ngajar normal kok di seminar.
Oops sorry ralat…komentar yang untuk Alicia, sebetulnya ditujukan untuk Anggun di blog sebelah he..he..maklum dipantau pada saat bersamaan..maaf.
@Untuk Alicia, sepakat sekali kalau memang Jurusan HI Unpar beruntung karena seleksi masuk Unpar agak ketat dan peminatnya cukup banyak sehingga mahasiswa yang masuk Unpar sudah lebih baik kualitasnya. Saya pernah ketemu dengan seorang Kajur Universitas X yang katanya juga terbaik di Indonesia, dan saya menyatakan kekaguman saya dengan kualitas dan achievement mahasiswa mereka. Dia mengatakan kurang lebih begini “Itu yang pinter mahasiswanya Mas, bukan dosennya…lha wong kita hanya mengambil 60 dari kl 4000 calon student. Jadi pasti kita dapat 60 yang terbaik”. Ini cuma salah satu ilustrasi untuk menunjukkan bahwa output student juga penting dan sekali lagi We’re lucky to have you all.
@alicia
well, gw ter-influence dgn koran macem Lampu Merah gt, jadi sounds like korban perkosaan, waahahahaha….
untuk semuanya:
we have to admit klo HI unpar punya banyak kekurangan, tapi saya rasa itu normal2 aja, jika dibarengin dgn perubahan2 ke arah yg lebih baik.. toh dosen2 unpar sendiri kualitasnya ga kalah dgn HI UI, HI UGM. HI UNPAD *i don’t want to put HI UPH ya krn baru, sorry..hehehehe*
but anyway, klo ada kekurangan di sana-sini, ya kita2 kan bisa kasih masukan dgn bhs yg INTELEK, scr udah mahasiswa kan lo semua *malah ada yg udah lulus toh*, masa berbahasa santun aja kaga tau gimana caranya..
well vin, mulutmu harimaumu, dan pepatah ini bakal berlaku selama lo idup, jadi yaa..better pikir2 dulu deh sebelum submit comment-nya, apalagi klo ternyata kalian mengkritik tanpa mau dikritik balik…
salam damai…
kata2 yang bagus bunga (aduh nicknya)
kalau menurut kata ahli, hari gini yang penting adalah EQ, bukan cuma IQ. sepintar apapun orang, kalau ga bisa berhubungan dengan orang lain kayanya hidup sosialnya bakal bermasalah deh, tapi ada juga tipe orang yang pinter, walau nyebelin, tapi tetep bisa sukses. yah apapun pemilihan katanya, itu udah keputusan mereka, untuk bersikap seperti itu. karena itu pilihan jadi yaaa, ya sudahlah ya!
klo pake nick ini berasa pinter dan bijak bgt gw ya..hehehehe..
ioya gw cuma mau nambahin, gw tidak ‘menjilat’, even terdengar bahwa gw membela HI Unpar, tapi yg mau gw tekankan di sini adalah ‘rasa memiliki’ sbg bagian dari Unpar, khususnya di HI itu sendiri..
untuk alumni2 di luar sana, yg mungkin mengkritik tempat anda pernah menimba ilmu, dan membayar mahal untuk itu, menurut saya, apakah salah HI unpar apabila anda tidak berhasil skrg? apakah salah jurusan yg sudah anda pilih apabila anda saat ini tidak menjadi diplomat? atau cuma buka toko?
ya, tolong direnungkan aja deh…
salam damai lagiii… ^_^