UNPAR

[Drama] UNPAR: Love Me, Hate Me

(Lazy Indonesians could read the Indonesian version below the english one)

So sometime this week, a good friend of mine posted her complaint about blind proud to your almamater. Basically she complained the presence of the narcisstic Facebook group “I GO TO HI UNPAR THEREFORE I’M BETTER THAN YOU!!”

Well some of you probably aware already that I’m graduated from International Relations from Parahyangan Bandung, I had a lot of experience during my college time there, I also met wonderful people such as Andika, Edna, Sari, Atri, Yoan, Mia, Rean, etc.

I learnt a lot from my friends about multicultural environment, multi-intelligence, trust, friendship etc. I also had experienced being taught by dedicated Docents such as Prof. Alexius Jemadu (who will leave Unpar by next year for good), Mr. Adrianus (the CIA-agent in disguise), Mr. Nur (the coolest philosophy teacher eva’). Studying in Unpar was not only studying for international relations, I got much than just social science.

I learned how to socialize, know my weaknesses and my strengths, the threat and opportunity, how you deal with people, and probably endless experience managing events such as annual seminar in KSMPMI (the IR club)

Well Unpar is nowhere perfect, I have complained endlessly about how my campus still using the prehistoric technology to announce our GPA: by ordering us to go to Bandung by start of semester, yes, Unpar does not use technology called email! They think it’s too advanced for us, so they just won’t email us to report our GPA, or we are complied to come only to queue and register. Dude, they don’t have online registration technology. Disappointing? Absolutely.

The adminstration in my faculty is probably comparable to government’s bureucracy, it took 5 days and a threat to complain the entire waiting to Kompas to get authorized copy of my graduation certificates.

There are also other unpleasant dramas I couldn’t expose here because it might breach of privacy so I will just stop here.

But despite all of the unpleasant experience, I’m proud of my almamater, it’s my identity, it’s better to love than never love at all.

So here, I’m wondering whether it’s proper if alumni came to hate their almamater one-sidedly. In my opinion, our feeling to our almamater is just like how I feel to Indonesia. I love the people, I love the culture, I love everything in it but the government.

What made such rant dangerous is that it might influence the fresh students to not respecting their almamater, their identity even from start, because reading the complaint of this alumni. Well I hope it’s not happening.

I think it’s okay if you hate the institution, but would have been better if you being proud, being part of identity. There are times you proud being part of community because you know the wonderful people inside them, not because the institution itself. I’m proud sharing identity as Unpar alumni to my wonderful friends who will become someone in future.

The facebook group is just for fun anyway! I actually joined because it’s part my identity, I don’t really look down to other people or having blind proud to my almamater, it’s not really a problem anyway, people will just think we are some narcisstic students and I don’t think it will cause serious implication, unless someone brag over it naturally.

But again, if the related complaint post might cause uproar and make fresh students hate their own almamater, I guess I should congratulate because it has achieved its purpose: Hate the idea, don’t feel proud to your almamater, because it’s not worth your $h!t.

============

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman memposting komplain tentang kebanggaan buta pada HI Unpar karena adanya sebuah grup Facebook “I GO TO HI UNPAR THEREFORE I’M BETTER THAN YOU!!”

Teman-teman mungkin tahu bahwa saya lulusan jurusan Hubungan Internasional dari Univesitas Katolik Parahyangan, Bandung. Saya mengalami banyak pengalaman disana, saya bertemu dengan orang-orang hebat seperti Andika, Edna, Sari, Atri, Yoan, Mia, Rean, etc.

Dari teman-teman saya, saya belajar banyak tentang lingkungan multicultural, multi intelegensia, rasa percaya, pertemanan, etc.

Saya juga bertemu dengan pengajar-pengajar yang sangat hebat seperti Prof. Aleksius Jemadu (yang akan keluar dari Unpar), Mas Adrianus (yang katanya agen CIA), atau mas Nur (dosen pengajar filsafat terbaik dan terjayus yang pernah ada).

Belajar di Unpar bukan hanya belajar soal ilmu sosial atau hubungan Internasional. Saya mendapatkan lebih dari itu.

Saya belajar tentang memahami kelemahan dan kelebihan, melihat ancaman dan peluang, bagaimana berhubungan dengan orang lain, atau pengalaman menjadi bagian dari acara-acara tahunan HI Unpar seperti seminar tahunan KSMPMI, atau mengikuti Prakdip.

Unpar jauh dari sempurna, saya telah mengeluh mendekati tak terhingga bagaimana kampus ini masih menggunakan teknologi purba untuk mengumukan IPK: menyuruh kami ke Bandung pada awal semester, ya, Unpar tidak tahu teknologi bernama Email! Mereka rasa email terlalu canggih untuk kita, jadi kita tidak akan dikirim email untuk menginformasikan GPA kita, atau kita harus selalu datang untuk mengantri untuk registrasi. Mereka tidak punya teknologi registrasi secara online. Mengecewakan? Jelas.

Tata Usaha di fakultas kami mungkin bisa dibandingkan dengan milik pemerintah, butuh lima hari dan sebuah ancaman untuk komplain pada kompas untuk mendapatkan fotokopi legalisir dari ijazah kelulusan saya.

Ada juga drama-drama tidak menyenangkan yang tidak bisa saya tuliskan disini karena mungkin sensitif dan melanggar privasi, jadi lebih saya berhenti disini.

Tapi terlepas dari pengalaman tidak enak selama studi di Bandung, saya bangga pada almamater saya, itu identitas saya, lebih baik mencintai daripada tidak sama sekali, tapi pendapat orang lain boleh berbeda, tak masalah.

Saya mempertanyakan apakah pantas bagi alumni untuk membenci almamater mereka secara (terlalu) sepihak. Saya berpendapat bahwa perasaan kepada almamater sama seperti perasaan pada Indonesia. Saya menyukai orang-orang disini, saya menyukai budayanya, saya menyukai segalanya kecuali pemerintahnya.

Yang membuat komplain sepihak tadi berbahaya adalah kemungkinan bahwa tulisan tersebut bisa mempengaruhi murid-murid baru untuk tidak hormat pada almamater dari mereka masuk, karena telah membaca keluhan dari alumni. Yah, saya harap itu tidak terjadi.

Menurut saya, tidak apa-apa membenci institusi yang bersangkutan, tapi akan lebih baik jika merasa bangga sebagai bagian dari identitas. Ada waktu dimana kita bangga menjadi bagian dari sebuah identitas karena kita tahu orang-orang hebat yang berada disana, bukan karena institusi itu sendiri. Saya bangga menjadi bagian dari identitas dari alumni Unpar bersama teman-teman saya yang akan menjadi seseorang di masa mendatang.

Dan group facebook itu benar-benar hanya untuk lucu-lucuan. Saya bergabung karena itu bagian dari identitas saya, saya tidak akan benar-benar melihat orang lain lebih rendah karena saya lulusan HI Unpar, atau memiliki kebanggaan buta pada almamater. Itu bukan masalah, orang-orang paling melihat kita sebagai orang-orang narsis kurang kerjaan, tidak akan mengakibatkan masalah serius, kecuali dibesar-besarkan tentunya.

Tapi sekali lagi, jika tujuan dari komplain tersebut mengakibatkan efek anak-anak baru membenci atau tidak ada kebanggaan sama sekali pada unpar, saya harus menyelemati karena postingan tersebut sudah mencapai tujuannya: Jangan setujui ide tersebut, Jangan merasa (terlalu) bangga pada almamater, karena it’s not worth your $h!t.

33 Comments

speak up

Add your comment below, or trackback from your own site.

Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*Required Fields