Google
 

Drama Defisit Perdagangan AS

Calvin Michel Sidjaja on December 14th, 2007

Ekonomi AS sedang mengalami defisit perdagangan besar dengan China. Defisit perdagangan sendiri bisa diartikan sebagai kondisi dimana impor melebihi ekspor suatu negara. Pada saat ini, defisit perdagangan AS sudah� mencapai 230 Triliun dengan China pada tahun 2007.

Salah satu yang menjadi sumber permasalahan AS adalah murahnya nilai tukar Yuan pada Dollar, sehingga produk AS menjadi kalah bersaing dengan China. AS mengadakan dialog dengan China selama tiga hari (ngakunya sih dialog) agar China merevaluasi Yuan-nya, sehingga lebih mahal dan membuat produk AS lebih bisa bersaing. Tapi China jelas menolak, logikanya, untuk apa menaikkan kurs mata uang mereka jika barang mereka memang laku?

Sebenarnya keinginan AS untuk mereveluasi Yuan tidaklah realistis, mengingat industri AS saat ini berorientasi ke produk-produk hi-tech. Impor AS dari China umumnya adalah produk-produk non-hi-tech seperti makanan, payung, baju, dst., dengan kata lain, AS sebetulnya diuntungkan oleh impor ini. Bukankah dengan murahnya produk impor untuk peralatan sandang dan pangan dari China, AS bisa mengfokuskan pembangunan industri semikonduktornya?

Jika Yuan menguat, bukankah industri AS yang memproduksi barang di China juga bisa terkena imbasnya? Selama ini kita bisa menikmati berbagai produk-produk telepon genggam, iPod, playstation, komputer, prosesor dengan harga lebih murah karena diproduksi di China. Kalau kurs Yuan dinaikkan, saya rasa konsumen yang terkena imbasnya.

Sebetulnya drama ini menarik disimak karena memperlihatkan bagaimana perang dagang juga bisa lebih seru daripada perang militer. AS tidak bisa dengan mudah mendikte China hanya untuk melindungi kepentingan ekonominya, China memiliki posisi tawar yang kuat untuk bisa berkata tidak pada AS. Lain halnya dengan Jepang, yang pada 22 September 1985 terpaksa menandatangani Plaza Accord.

Hasilnya? Yen sekarang jadi muahal, andaikan Jepang tidak menandatangani perjanjian tersebut, sekarang kita bisa menikmati produk-produk Jepang dengan harga lebih murah lagi.

Bisa dikatakan, sistem perdagangan bebas yang ditujukan untuk membuat perdagangan global lebih fair, malah merugikan pihak-pihak yang berada di posisi tawar lebih rendah. Ekonomi AS memang pada dasarnya berada pada kondisi bobrok, saat ini juga, AS masih mengalami defisit perdagangan dengan Jepang (terutama dalam bidang otomotif, saat ini Toyota adalah pemimpin pasar di AS).

Walau setelah Plaza Accord, Jepang dihadapkan masalah baru, yakni deflasi, setelah Plaza Accord, jepang mengalami stagnansi ekonomi dalam jangka panjang. Produk dalam negeri di Jepang menjadi lebih mahal, diperparah dengan rantai distribusi yang tidak efisien (Declan Hayes menulis dalam Japan’s Big Bang, harga 1 melon bisa mencapai $100 gara-gara rantai logistik yang panjang ini). Walau dampaknya tidak selalu buruk, dengan menguatnya Yen, Jepang bisa mengimpor dengan� lebih murah. Hal ini tentu menguntungkan untuk negara yang miskin sumber daya alam seperti Jepang.

Jika AS menginginkan “keadilan” dalam perdagangan global, mungkin ada baiknya AS berhenti berperang dan memang mengfokuskan dirinya pada perekonomian, kalau tidak, mungkin perlu dipertanyakan lagi apakah AS sendiri memang siap berkompetisi di perdagangan bebas.

Referensi:
US-Japan Trade Relationship
Neraca Perdagangan AS-China

Popularity: 13% [?]

Tags: , , , ,

Related posts

2 Responses to “Drama Defisit Perdagangan AS”

  1. bagus yah sistem proteksi US tidak mempan lawan china, disatu sisi hasil negatif perdagangan dengan china bisa tertutupi dengan perdagangan US dengan negara lain Pakistan atau arab saudi. terutama brg2 Militer
    US lebih menggiatan Industri Hi tech dan berbisnis dengan negara2 Berkembang yg lebih gampang “dibodohi” (indonesia bebas embargo)
    Perusahan2 US lebih banyak membuka Basis di negara2 dunia ke3 “buruh lebih murah” Indonesia termasuk ga yah ???
    dalam era Globalisasi lebih dikenal dengan perang Asimetris dimana Negara menggunakan kekuatan ekonominya dalam mempengaruhi suatu negara.
    China-US
    Singapur-Indonesia
    Taiwan-China
    Pakistan-India

  2. Artikel menarik. Amerika memang defisitnya tinggi namun juga persoalannya Amerika sejauh ini ekonominya sehat sehingga belum menimbulkan bencana besar. Berbeda dengan Indonesia defisit besar, utang besar dan beban juga besar.

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>