
Bagi yang demen nonton Infotainment, mungkin mengetahui bahwa akhir-akhir ini ada perdebatan publik menarik mengenai artis-artis “Indo”. Kasus yang dialami Rianty Cartwright cukup menarik perhatian saya, soalnya saya pernah mengalami pasang surut mengenai identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya sedikit banyak mengerti kebingungan yang dialami perasaan Rianty “saya orang apaan sih? Apakah salah bila saya mencintai Indonesia karena saya berbeda dengan orang-orang lain?”
Tulisan ini berisi opini dari pengalaman pribadi keluarga saya yang sedang saya lacak genealoginya sebelum terlambat (soalnya nggak ada seorangpun yang mau memulai, iCapeD). Artikel ini mungkin agak sedikit etnosentris, tapi kalau saya menulis dengan berbau rasis, silahkan tegur saya. Saya berusaha menulis tanpa menyinggung pihak manapun (mengingat isu SARA merupakan persoalan serius disini) dan berusaha objektif. Oh ya Bila anda kebetulan memiliki informasi tentang keluarga saya yang saya sebutkan, jangan ragu untuk mengontak saya karena saat ini saya sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya. :)
Meskipun mata saya sipit, sebetulnya oma saya (dari pihak mama) keturunan Belanda-China-Jawa. opa buyut-buyut saya bernama Christiaan Laurens Willem de Wilde dan menikah dengan seorang China bernama Tan Anggoer, disinilah perpecahan dan ketidakjelasan pohon keluarga saya muncul. Menurut cerita oma saya, karena kakeknya menikah dengan orang Chinese, kakeknya diasingkan dari keluarga de Wilde. Opa buyut saya bernama Gustaaf de Wilde, lahir di tegal pada tahun 1879 dan pensiunan juru tik kepala Kementerian Dalam Negeri (pemerintahan kolonial Belanda?), beliau menikah dengan seorang Jawa bernama Soetirah.
Opa buyut Gustaaf meninggal pada 7 September 1945, akte kematiannya sendiri bernomor No. 878/1946, sedangkan oma buyut Soetirah meninggal pada 24 Juli 1939, dengan nomor akte kematian No. 68/1939. Oma saya masih memakai nama de Wilde sampai akhir hayatnya, dan fasih bahasa Belanda, Indonesia, dan Jawa. Keterangan yang saya miliki mengenai orang tua oma sangat terbatas, hanya dua akte kematian dan satu akte pernikahan Gustaaf de Wilde dan Soetirah (dalam bahasa Belanda pula).
Kalau dari pihak papa sendiri, fam keluarga saya adalah Sie, dan engkong saya masih memiliki akta kelahiran yang ditulis dalam bahasa mandarin. Saya belum menyelidiki pihak keluarga ayah dengan begitu jauh, jadi belum bisa bercerita terlalu banyak. Berhubung engkong saya orang China asli, sudah tentu dia bisa berbahasa China dengan fasih.
Nah, entah apa yang dipikirkan oleh kakek-kakek dan nenek-nenek saya, tapi disini terjadi language loss, suatu fenomena yang sering terjadi pada generasi kedua dan generasi ketiga pendatang di suatu negara. Generasi kedua keluarga saya tidak mendapat bahasa yang seharusnya menjadi bahasa ibu mereka. Dari keluarga mama saya, mereka seharusnya mendapat bahasa belanda. Dari pihak keluarga papa, mereka kehilangan bahasa hokkien. Sehari-harinya, keluarga kami hanya menggunakan bahasa Indonesia dan Makassar sebagai bahasa pengantar.
Bisa dibilang, dengan hilangnya bahasa nenek moyang yang harusnya diturunkan generasi pertama ke generasi kedua, kami merasa tidak ada bedanya dengan orang lain di negeri ini. Kami makan dan hidup dengan cara yang sama dengan orang lain, kami tidak memiliki identitas sebagai “orang keturunan Belanda” atau “orang keturunan China”. Tidak, tidak ada sama sekali.
Tapi manusia dibuat untuk berbeda, walau kita memaksa kita semua sama dan memaksa kotak-kotak itu tidak ada, pada akhirnya, kotak-kotak itu ada di mata kita, atau mungkin di mata Soeharto. Walau orang keturunan China dan keturunan Belanda dipaksa ganti nama (nama keluarga saya Sie, menjadi Sidjaja), ujung-ujungnya tetap saja ada Surat Keterangan Berkewenegaan Indonesia. Mungkin pada dasarnya pemerintah negeri ini xenophobic dan tidak percaya bahwa orang sipit pun bisa merasa sebagai orang Indonesia walau mereka sudah kehilangan identitas mereka? Mungkin kehilangan bahasa ibu saja tidak cukup? Bukankah identitas kami sebagai orang keturunan China sudah hilang? Disini terjadi kebingungan akan identitas kebangsaan.
Kenapa demikian? Ingat, nama negara ini, Indonesia, menurut saya belum bisa dijadikan “bangsa”. Rasa kesukuan orang-orang yang disini masih cukup tinggi dan tampaknya masih susah untuk dilebur menjadi satu “kebudayaan nasional” (istilahnya siapa sih nih?). Negara ini terdiri dari berbagai ratusan suku dan keanekaragaman. Apakah realistis bila semuanya dilebur dalam satu melting pot bernama “Indonesia”? Saya pesimis, setidaknya sekarang.
“Etnis Tionghoa” diakui sejajar sebagai salah satu kebudayaan Indonesia, tapi mau dipaksa bagaimanapun, pada dasarnya kebudayan Tionghoa bersumber dari China, dan bukan dari “Indonesia” (mayoritas kebudayaan Indonesia berasal dari India dan Arab).
Saya sendiri saat ini, tidak bisa benar-benar merasa sedih karena kehilangan bahasa ibu dan identitas saya sebagai China-Belanda. Saya memiliki teman dari berbagai etnis dan kami tidak pernah mendebatkan kami keturunan A, B, C. Tidak ada perasaan bahwa kita berbeda kalau kita tidak pernah diberi tahu bahwa kita berbeda. Mungkin ini karena saya mendapat bahasa Ibu yang membuat saya merasa tidak ada bedanya dengan orang lain di negeri ini. Walau saya merasa ambivalen dengan status kebangsaan saya kalau berada di Indonesia, saya senang bisa mengatakan bahwa saya orang Indonesia di Internet dan di luar negeri ini, karena bagaimanapun juga, itulah identitas yang saya miliki di era globalisasi ini.
Intinya, bagi anda yang mengalami pasang surut sebagai orang Indonesia, jangan ambil pusing. Perbedaan selalu ada, tapi anda maunya apa? Mau memperlebar perbedaan atau menerima bahwa perbedaan itu adalah bagian dari kita dan fakta yang tidak bisa ditutupi? Pada dasarnya warga keturunan memang berbeda secara fisik, jadi mau dipaksa sepaksa-paksanya pun, akan selalu ada perasaan bahwa mereka berbeda.
Mungkin 100 tahun lagi saat penduduk negara ini lebih matang, peleburan sudah sempurna, warga keturunan tidak akan pusing lagi dengan identitasnya. Lagian tempat mana lagi sih yang lebih enak daripada Indonesia? Disini kan segalanya ada, (kecuali internet murah super cepat, mungkin =)) ).
_______
Being eurasian in Indonesia means thousand problems. That’s at least what I thought about Rianty Cartwright’s problem aired in Indonesian’s infotainment channels these days. Not that I want to exaggerate anything, but I’m sort understand how Rianty feels. My lineage is actually eurasian mixture and I do know how sometime you are being confused of what ethnicity you are. The problem even bigger if you lose your ancestors’ mother language.
From my mother’s family, my family name is actually de Wilde. My great-great grandfather named Christian Laurens Willem de Wilde, he married with a Chinese woman named Tan Anggoer. Their son is Gustaaf de Wilde, born in 1879 in Tegal, married a javanese woman named Soetirah. My granny speaks fluent Dutch till her end. The problem of tracing my Dutch root is, my great-great grandfather banished from the de Wilde family because he married with a Chinese woman. It’s hard to contact the overseas family or tracing the Christians Willem Laurens Willem de Wilde’s siblings or related family.
From my father’s family, I inherit the name of Sie family. It’s probably spelled Xi/Shi in the original Chinese. I assume the original meaning is “rock” (since nobody aware the kanji of our family name anymore). My grandfather speaks fluent Mandarin and Hokkien naturally, since he was born pure Chinese.
What’s the problem here? Well, apparently, both my parents, and all of their siblings experiencing language loss. My mother and all her siblings supposedly acquired Dutch as their mother language, but apparently her parents didn’t inherit this language to them. The same goes to my father. My grandfather, for some unapparent reason, also stopped the language transfer, now, nobody in my family except my brother’s eldest sister could speak actual mandarin. They only speak only one language, Indonesia Language for daily conversation. See the point? The 2nd and 3rd generation here lose their supposedly mother language. Most grow into monoglot when they should have had grown into polyglot instead.
Since they lost their ancestor’s language, thus resulting loss of their actual identity as auslander, my family is just like everyone else in Indonesia. We never think we are different than other. We speak same language, we eat the same food. Why are we still considered different from the rest of others? Believe me, if the word “Chinese Indonesia” never arrived at my vocabulary, I would never aware that I’m actually different.
As if language loss not bad enough to forget our actual identity as Chinese and Dutch descent, these who are using “different” names must also be “indonesiasized” to ensure we are treated indifferently. My family surname was changed from Sie into Sidjaja (the old spelling name I use for my actual name). My family, just like everyone else here must change name into Indonesque ones so we aren’t glared because our original names are Chinese.
The sad fact is, I, as someone who born and grow in Indonesia, felt confused with all of these discrimination. It’s not our fault that we love this country. We have forgotten our actual identity and really think we are Indonesian just like anyone else. But why we are still treated differently? Maybe because differences, no matter how they are pushed or homogenized, they always exist. I don’t really upset about it anymore these days, I aware that I’m chinese and dutch descent, and I think it’s my very right to re-inherit the culture I supposed to have.
Sometimes I wish that I were born inheriting different or clear ethnicity, or at least I was born in non-xenophobic country unlike one that I well-know of.
Last word, are you de Wilde descent? Does your great-great grandfather or grandmother have sibling named Christians Willem Laurens de Wilde? Please contact me if you do. Who knows we if are actually related? I need all helps I could get to trace back my family, no matter how cumbersome and painstakingly difficult it is.
Popularity: 8% [?]
Tags: Genealogy, OpinionIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Koh Sidjaja,
kok masih mikirin yang gituan sih>?! noh liat yang tersangkut BLBI (sorry, mesti wa sebutin:Chinese juga). tapi ada juga macam Kwik Kian Gie, wa mah salut. tetap aja keep identity-nya doesn’t matter. kalo nyangkut mBah Harto, OK-lah nggak usah dibicarain politik, dan lagi belon tentu kebijakannya dari beliau. Gimana dengan antek-anteknya??? mereka apa memang paham betul dengan instruksinya?! dapat dipertanyakan juga.
toh, jawa, cina, batak, dll memang beda. wa salut ama komunitas cina di Sumatra dan sekelilingnya, kayaknya mereka nggak mikirin apa yang seperti lo risaukan, trims
Wah Vin, ini tulisan favorit gw, so far…[selain cerpen lo yang bisa buat gw mikir ya, haha]
Jadi terinspirasi untuk nyari sislsilah keluarga gw juga ;)
@mas ayu
saya berpikir seperti ini karena mungkin karena saya bingung saya orang apa. Bagi beberapa orang, masalah identitas mungkin hal yang tak terlalu penting, tapi bagi saya, itu agak penting. Sering orang heran saya keturunan China-Belanda, tapi sama sekali tidak bisa bahasa tersebut, itu membuat saya agak malu dan mulai berpikir “saya orang apa sih”?
@sari
hee kok bisa sar? hehehe. gw juga lagi mengdokumentasikan keluarga gw,ribet abis, apalagi buat nyari tanggal lahir tiap orang:p
Hallo , salam kenal semua…
@cap go meh
salam kenal juga