Google
 

Credo

Calvin Michel Sidjaja on February 28th, 2006

Credo

untuk seorang kakak yang tak punya adik

Kedua kaki itu telah sampai di depan rumahnya. Dia mengambil kunci dari sakunya, dan membuka gerbang pintu berkarat itu. Derit yang memekikkan kuping memecah keheningan siang itu. Siang yang hanya ditemani desiran angin yang meniupi daun-daun pohon. Siang yang hanya ditemani daun-daun mati yang berguguran dari pohon di halaman rumahnya.

Siang hari memang sangat terik, pikirnya. Karena itu dia ingin segera mandi di siang yang panas itu. Keringat membasahi seragam sekolahnya yang berwarna putih. Lalu dia memasukkan kunci ke lubang yang ada di pintu masuk.

Aku pulang, katanya kepada foto seorang nenek yang digantung di sisi kanan tembok rumahnya. Setahun telah berlalu semenjak neneknya yang selalu menyambutnya pulang sekolah itu pergi. Di rumah itu ia tinggal sendiri, walau ia punya ayah, ibu, dan seorang kakak.

Dia melihat meja makan yang beralas kaca dan taplak meja berwana mawar berdaun darah di ruang makan. Disana terdapat sebuah piring, dan sepucuk surat yang isinya lebih dingin daripada nasi yang di meja itu.

Ibu akan pulang larut malam. Jangan telepon ibu, ibu sangat sibuk.

Dari ibumu.

Anak itu merobek surat itu sambil tersenyum. Ini surat yang keberapa? Ia tidak ingat. Dan ia tidak mau ingat. Dia lalu pergi ke dapur untuk memanaskan makanan yang ditaruh ibunya semenjak pagi itu.

[D I N G I N...]

*

Terdengar suara piano mengalun di ruang tamu. Ya, anak itu sedang bermain bersama satu-satunya benda yang bisa menemaninya. Piano tua berwarna coklat yang beberapa melodinya telah hilang ditelan waktu. Piano merek Franz Mueller itu sudah melewati satu abad, walau dia sudah memanggil ahli stemmer terbaik di dunia pun, suara piano itu tidak akan pernah seindah suaranya seratus tahun yang lalu.

Yang dimainkan kesepuluh jari itu hanyalah nada-nada minor, nada-nada yang dianggapnya pantas mewakili perasaan manusia, nada-nada yang menurutnya, sangat Chopin. Chopin banyak sekali menulis lagu indah di dalam nada minor, dan jari itu sedang memainkannya, sebuah Waltz dalam Cis Minor yang dipersembahkan Chopin kepada Baronne Nathaniel de Rothschild. Indah sekali lagu ini Chopin. Sangat indah, sampai-sampai aku mau mati saja saat memainkan lagu ini, karena musikmu sama saja seperti puisi yang tidak bisa digambarkan kata-kata.

Ya, anak itu menyukai Chopin.

Dan dia menyukai piano seperti Chopin.

[NADA VALS...]

Anak itu menghentikan permainannya. Dia membenci jika dia salah menekan tuts. Tapi tak apa, tidak ada yang akan mendengar permainan pianonya. Dia bermain seperti angin. Terdengar oleh telinga, dan dianggap seperti tidak ada.

Terdengar bunyi sepeda motor di luar rumah. Bunyi sepeda motor? Dia tahu itu siapa.

Selamat pulang kakak, katanya menyambut kakaknya pulang dari tempat yang tidak ingin ia ketahui.

Hallo, adikku, kata kakak itu.

Kau baru pulang dari tempat itu?

Ya, tidakkah kau ingin ikut bersamaku hari sabtu ini? Tanya kakak.

Anak itu menggeleng. Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa aku akan mengikuti konser piano dengan teman-temanku?

Oh, aku lupa. Sayang sekali. Baiklah kalau begitu. Lalu kakak itu pergi tanpa mengucapkan kata lebih jauh lagi.

Kata-kata itu terhalang di tenggorokonnya. Mungkin dia akan mengatakannya nanti. Mungkin.

*

Mereka berdua duduk di meja makan itu. Menunggu ibu pulang dari kantornya yang jauh dari rumah. Ya, ibu bekerja. Bekerja lebih giat dari ayahnya, karena ayahnya tidak cakap bekerja. Dia memiliki ayah yang tak dewasa, dan ibu yang lebih keras dari batu. Tapi dia tak mau berkata apa-apa. Tidak perlu. Sudah beberapa kali batu itu meneteskan air mata. Ibu sekeras batu, dan serapuh istana pasir. Dia dan kakak adalah fondasi yang menahan istana pasir itu. Dia tak mau mengatakan apa-apa pada ibu. Dia tidak bisa. Tidak boleh.

Terdengar suara klakson mobil dari gerbang.

Ibu telah pulang, untuk melanjutkan bekerja, dia berpikir, melihat ibu membawa pulang tas-tas berisi kertas yang tentunya harus ia kerjakan semuanya malam itu.

Ibu itu lalu masuk ke kamar kerjanya, tanpa memberi sapa kepada ayah yang sedang nonton TV di ruang tamu ataupun kepada kedua anaknya yang sedang menunggunya untuk makan malam bersama. Dan dia memberanikan diri untuk meminta ibunya menangguhkan pekerjaannya sementara waktu.

Ibu, katanya sambil mengetuk pintu kamar kerja berwarna putih itu.

Ada apa? Tanya sang ibu.

Maukah ibu makan malam bersama aku dan kakak? Lanjutnya.

Tentu, ibu mau. Panaskan saja makanan yang ada. Ibu akan segera keluar.

[SUARA SENDOK DAN GARPU... SUARA ORANG MENGUNYAH SANTAPAN...]

Tiga orang itu melahap makanan mereka tanpa memulai pembicaraan. Itu hal yang wajar. Tidak ada topik penting untuk diobrolkan. Ibu akan selalu bicara mengenai masa depan mereka. Dan dia akan berbicara keras-keras agar ayahnya yang tidak memiliki masa depan selain menonton TV di layar kaca tiap malam itu mendengarnya.

Dan kakak tidak punya obrolan lain selain mengajak mereka sekeluarga pergi ke gereja agar sekeluarga diselamatkan oleh sosok transenden yang ia puja puja itu, trinitas paradoksikal yang pada jaman dahulu disembah dengan simbol empat huruf.

Kakak, ibu, sabtu ini aku akan konser dengan teman-temanku di aula sekolah para auslander itu, katanya sambil mengunyah suapan terakhir makan malamnya itu.

Oh begitu? Jam berapa? Tanya ibunya yang tidak menunjukkan rasa tertarik sedikitpun.

Jam empat sore, sampai jam enam, jawab anak itu.

Ibu itu tidak menjawab. Mungkin dia sedang berpikir seberapa penting untuk menonton konser itu. Ibu tidak menyukai suara piano, terlebih lagi Chopin.

Akan ibu lihat jika ibu ada waktu. Ibu ingin bersantai di akhir pekan, kata ibu.

Ayah? Maukah kau menonton konserku bersama teman-teman? Tanya anak itu, walau ia tak terlalu berharap. Karena dia selalu teringat, ayah tidak pernah tersenyum saat menonton pertunjukan seni bersamanya. Dan ibu hanya akan sibuk menuliskan pesan-pesan singkat ke teman-temannya untuk mengusir rasa bosan.

Ayah itu menggelengkan kepalanya. Tidak, ia berkata dengan suara berat tanpa mengalihkan pandangannya dari pertandingan sepak bola yang ditayangkan salah satu TV swasta di layar kaca.

Kakak, bagaimana denganmu? Maukah kau menonton konser ini? Tanyanya penuh harap. Penuh harap agar kakak itu rela menyisakan satu hari dari 52 hari sabtu miliknya dalam setahun.

Kakak itu juga menggeleng. Maaf, aku memiliki urusan lebih penting dengan salib, katanya. Dia lalu menambahkan, maafkan aku, kamu tidak sepenting salib di gerejaku.

Anak itu mengangguk. Dia lalu menoleh ke kursi di sebelahnya. Setahun lalu, nenek pasti berkata bahwa dia ingin menonton. Tapi nenek juga tidak pernah datang. Dia tidak boleh datang. Nenek tidak boleh lelah. Karena itu dia pergi sebelum menontonku bermain piano dibawah lampu sorot, dia pergi sebelum melihatku bermain piano diiringi oleh tepuk tangan dari penonton yang ada di bawah panggung.

Dia tersenyum. Lalu dia membuat tanda salib di meja makan itu.

*

Kedua mata itu tidak bisa terpejam. Dia tidak bisa tidur. Bahkan sekejap saja ia tertidur, ia akan bangun lagi. Jam 1 malam telah tiba. Kakaknya mengatakan bahwa jika kita berdoa pada jam itu, maka pasti akan dikabulkan.

Dia lalu mengepalkan tangannya, lalu berdoa di hadapan salib yang tergantung di atas jam dinding yang berada di atas jam dinding kamarnya.

Mata itu pelan-pelan memejamkan matanya. Dan dia pun berdoa agar diberi ketenangan abadi setelah konser itu berakhir.

[REQUIEM AETERNAM DONA EIS... ]

*

Ibu bekerja. Kakak ke gereja. Dan Ayah menonton TV di rumah.

Dia duduk di kursi mobil itu bersama sopir ibu yang menyemangatinya agar bermain dengan baik. Bukankah kamu sudah latihan dengan keras? Katanya, berusaha menyemangati anak itu yang sedang gugup.

Dia mengangguk. Seberapa kerasnya pun aku bermain, aku bukan Chopin. Aku selama-lamanya hanya berada di bayang-bayang Chopin. Aku tidak bisa berpuisi seperti dirinya. Aku hanyalah aku, yang tidak terlalu pandai dan terlalu berharga.

Oh, kakakmu menitipkan ini. Pak supir lalu memberikan sepucuk surat yang digulung bersama coklat.

Adikku, aku tidak menonton konsermu bukan karena aku menganggap kau tak berharga. Ini semua hanya karena kau tidak lebih penting dari salibku. Dan aku ada adik orang lain yang harus kuurus.

Tertanda, kakakmu.

Terima kasih atas coklat ini, kakak. Dia lalu merobek surat itu, dan membuang coklat itu ke tempat sampah yang ada didekat kakinya.

Dia tersenyum.

Berilah aku ketenangan abadi.

[ET LUX PERPETUA LUCEAT EIS, TE DECET HYMNUS...]

Jangan khawatir. Ibumu menitip pesan bahwa ia akan datang setelah ia selesai bekerja. Mungkin dia akan datang saat giliranmu tiba.

Anak itu tersenyum. Mungkin, jawabnya.

*

Panggung itu disorot oleh delapan buah lampu gantung yang akan membuat seluruh pianis yang duduk di kursi piano itu merasa kepanasan dan grogi.

Dan ia tahu, gilirannya telah tiba.

Guru piano dan teman-temannya tampak tegang. Konser hampir berakhir, dan dia tahu ibu belum datang. Karena ibu akan datang untuk memberi tepuk tangan. Dia tersenyum lagi.

Sekarang giliranmu, kata guru pianonya, sambil membuka pintu menuju panggung.

Dia berjalan dengan canggung, tidak berani menatap tiga ratus pasang mata penonton yang menghadiri resital itu.

Dia lalu membungkuk memberi hormat kepada penonton, dan segera duduk di kursi grand piano itu. Dia lalu mempersiapkan kesupuluh jarinya untuk mulai berpuisi

[bawalah kupergi]

[dimana tak ada bumi dipijak

dan bintang tuk bermimpi]

[biarkan bulan tidur

dan matahari tak bersinar lagi]

[karena aku bersamamu

menikmati sepi sendiri]

[karena aku mati sendiri

bermimpi sebuah ciuman lagi]

Ya, dia bisa merasakannya. Dia bisa merasakan keindahan puisi itu. Kesepuluh jarinya menyanyikan puisi yang tak akan pernah terdengar oleh telinga manusia jika menggunakan huruf dan kata.

Dan tangan kanannya menekan nada terakhir. Nada terakhir yang akan ia bunyikan. Nada yang menandakan akhir konser itu. Lalu dari panggung itu, ia bisa melihat dari jauh, ibunya yang datang tergesa-gesa baru saja datang dari pintu keluar penonton. Terdengar bunyi tepuk tangan menggema di ruang konser itu

Ibu kau datang? Terima kasih kau terlambat.

Dia lalu melihat ke atas, ke lampu sorot itu. Hanya Tuhan yang tahu kenapa.

Kabel aus yang menahan lampu itu putus karena tidak kuat lagi menahan bebannya. Dan lampu berat itu jatuh ke kepalanya. Grand piano hitam itu menjadi warna merah darah.

Dia masih bisa mendengar jeritan, dan tepuk tangan. Mungkin penonton menyukai akhir dari konser itu. Dan mungkin ibunya adalah salah satu yang memberi tepuk tangan seperti penonton-penonton itu.

Sakit yang amat sangat. Dia tahu, dia mati. Dia bisa melihat cairan berwarna seperti mawar merah itu menggenangi panggung. Dan dia masih bisa mendengar tepuk tangan yang makin kencang.

Sekuntum bunga indah lahir untuk mati. Seperti seonggok mawar berhias darah.

Kakakku-kakakku, lihatlah aku, aku seperti dia, yang memanggul salib berdarah itu di Golgotha. Lihatlah, aku sama seperti salib berdarahmu. Lihatlah aku yang kau katakan tidak lebih penting dari salib itu.

Dan dia mulai tertidur. Suara tepuk tangan itu mulai hilang.

Tidur yang tak ditemani alfa dan omega. Tidur tanpa awal tanpa akhir

Lalu mata itu tertutup.

[AMEN...]

Bandung, 28 Februari 2006

Selamat ulang tahun yang ke-24.

Popularity: 5% [?]

Tags:

Related posts

2 Responses to “Credo”

  1. BrahmApril 2nd, 2008 at 5:15 pm

    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.5 on Windows Windows XP

    Wuah, keren! Aku kok lebih suka cerpen Credo ini ya ketimbang Republik Babi. Penjiwaannya lbh natural dan dalem, menurutku.

  2. Calvin Michel SidjajaApril 2nd, 2008 at 5:29 pm

    Using Opera Opera 9.25 on Windows Windows XP

    @brahm
    terima kasih komentarnya mas. Kalau anda punya lagu Requiem K.626-nya Mozart dan Waltz Op. 64 no. 2-nya Chopin, anda bisa ikut membayangkan lagu apa yang saya dengar pada saat bikin cerpen ini :)

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>